Início / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 567. Sangat Pengertian

Compartilhar

567. Sangat Pengertian

Autor: Leva Lorich
last update Data de publicação: 2026-10-10 13:26:27

Mereka kemudian masuk ke kamar di lantai dua.

Suasana kamar tidur di lantai dua vila mewah itu amat tenang dan privat.

Jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit menyajikan pemandangan hamparan lereng perbukitan Puncak yang mulai tersapu kerapatan kabut.

Di tengah ruangan berlantai kayu hangat dengan ranjang king size bernuansa putih bersih itu, Teja dan Bianca saling merapatkan raga, membiarkan dekapan hangat mengikis sisa-sisa jarak dan keletihan.

Teja mengelus pung
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   568. Selalu...

    "Aku terbang tadi," canda Teja dengan nada suara penuh akan godaan.Binar mata keemasan sang pemuda menyala hangat tatkala menghirup aroma wewangian manis yang keluar dari ceruk leher Bianca. Kehangatan kulit mulus sang dara berpadu dengan sejuknya udara sore dataran tinggi Puncak yang mulai merayap masuk ke dalam area dapur tersebut.Ia kemudian memutar tubuh Bianca hingga berhadapan..Jemari kekar Teja bergerak terampil melepas ikatan tali celemek bergaris tipis di belakang pinggang ramping Bianca. Kain pembungkus bagian depan itu terlepas dan terjatuh begitu saja ke lantai granit, membebaskan sepenuhnya tampilan bentuk raga indah putri pengusaha hotel ternama tersebut.Kini, di bawah pendar lampu gantung, Bianca berdiri pasrah hanya dengan balutan bra minim serta g-string renda terawang berwarna putih bersih yang nyaris tak bisa menyembunyikan keindahan raga seputih saljunya."Kamu kayaknya udah persiapan banget nih kostumnya?" goda Teja seraya memindai sekujur tubuh indah di had

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   567. Sangat Pengertian

    Mereka kemudian masuk ke kamar di lantai dua.Suasana kamar tidur di lantai dua vila mewah itu amat tenang dan privat. Jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit menyajikan pemandangan hamparan lereng perbukitan Puncak yang mulai tersapu kerapatan kabut. Di tengah ruangan berlantai kayu hangat dengan ranjang king size bernuansa putih bersih itu, Teja dan Bianca saling merapatkan raga, membiarkan dekapan hangat mengikis sisa-sisa jarak dan keletihan.Teja mengelus punggung mulus Bianca yang terbalut blazer, menyandarkan dagunya di bahu sang kekasih."Bi, kamu tahu kan kalau aku butuh kamu buat ngisi kuota wanita menuju energi Qi tingkat delapan? Sejauh ini aku baru melakukannya sama Berliana, masih kurang 9 lagi," tutur Teja lembut, menyampaikan kebutuhan dukungan untuk peningkatan tenaga dalam murninya dengan jujur.Bianca mendongak sedikit, menyunggingkan senyuman manis dan menggoda dari bibir merahnya. Binar mata jelita milik mantan teman SMA Teja itu te

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   566. Vila Pribadi

    Bianca mengemudikan mobil mewahnya. Deru mesin halus dari sedan eropa berwarna hitam mengkilap itu menyusuri jalanan kota yang kian renggang. Bianca duduk di balik kemudi dengan begitu anggun, sepasang matanya fokus menatap jalanan di depan, sementara kemeja hijau dan blazer terangnya menambah kesan elegan pada putri pengusaha hotel ternama tersebut. Di sampingnya, Teja menyandarkan punggung tegapnya pada jok kulit yang empuk dan nyaman."Kamu santai aja duduk di situ, Ja. Kamu kan katanya lelah tadi," ujar Bianca lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan."Makasih, Bi. Kamu pengertian sekali," sahut Teja tulus, membalas kebaikan hati kekasih ketujuhnya itu dengan senyuman hangat."Hahaha, cuma nyetir ini, Ja. Bukan hal yang spesial. Justru kamu yang sudah banyak membantu aku dan ayahku sejauh ini," tawa Bianca renyah memecah keheningan ruang mobil yang sejuk.Sentuhan dingin dari penyejuk udara mobil berpadu dengan aroma wewangian parfum Bianca yang menenangkan, membuat ra

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   565. Terlihat Penat

    Mendekati tengah hari, Teja tiba di kamar hotelnya.Langkah kaki tegap pemuda berambut gondrong itu melintasi koridor karpet tebal tempat ia menginap. Rasa kantuk yang menggantung di pelipis serta keletihan fisik usai memandu operasi penyergapan maraton semalaman membuat tubuhnya merindukan siraman air segar dan pembaringan yang empuk.Ia segera menempel kartu akses dan masuk.Gagang pintu terbuka. Teja mendorong pintu tebal itu hingga terbuka, lalu menutupnya kembali rapat-rapat dari dalam. Bunyi pengunci otomatis terdengar halus, menyisakan keheningan kamar ber-AC yang sejuk dan nyaman.Tanpa membuang waktu, Teja menanggalkan kemeja kasual gelap dan celana panjangnya satu per satu, disusul celana dalamnya pula.Kain-kain itu dibiarkan tergeletak santai di atas sofa ruang tengah. Raga tegap Teja terpampang polos tanpa sehelai benang pun, memamerkan lekuk otot dada serta perut enam perseginya yang keras dan kokoh.Namun, langkah kakinya langsung terhenti saat melihat sesosok yang b

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   564. Ngantuk Berat

    Ketika matahari sudah menanjak tinggi, Teja dan Berliana kembali ke pusat kota.Sinar mentari pagi yang terik menerobos kaca depan kendaraan, membiaskan pendar hangat di dalam mobil. Suasana jalanan protokol ibu kota tampak mulai padat oleh hiruk-pikuk aktivitas masyarakat yang memulai hari. Di dalam mobil yang sejuk, keletihan fisik akibat operasi penyergapan maraton dari tengah malam hingga dini hari tadi terpancar tipis dari raut wajah kedua sejoli tersebut.Meski cukup lelah karena harus begadang demi meringkus Blackviper, Berliana tetap harus berangkat ke markas untuk memberikan laporan.Sebagai perwira intelijen militer yang memegang kendali penuh atas operasi penangkapan gembong internasional tersebut, tugas Berliana belum sepenuhnya usai. Ia harus segera menyusun Laporan Informasi resmi, menyerahkan berkas berita acara pemeriksaan, serta mengoordinasikan penanganan puluhan korban wanita yang telah diselamatkan kepada pihak terkait.Mini Cooper Berliana menurunkan prianya di

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   563. Menyayat Hati

    Namun, meski terlihat pelan dan lembut, dampak yang terjadi sangat mencengangkan.Hawa murni Qi tingkat tujuh yang disuntikkan Teja ke dalam kerikil kecil itu meledak secara internal begitu menyentuh tubuh musuh. Gesekan energi tersebut melipatgandakan daya hantam hingga beribu-ribu kali lipat.Tubuh tegap sang gembong internasional terlempar kencang ke belakang, melayang melintasi udara malam menembus kegelapan pelabuhan. Mantel cokelatnya robek hancur di bagian dada, sementara seluruh pertahanan hawa murni di dalam tubuhnya jebol total dalam satu tarikan napas.Ia kemudian terhempas berkalang tanah sekitar sepuluh meter di belakang sana.Tubuh Blackviper menabrak tumpukan kayu tua dan lantai semen hingga memercikkan tanah berdebu, lalu berguling beberapa kali sebelum akhirnya terhenti dalam posisi terlentang tak berdaya."Ughh! Ahhh!"Suara erangan samar dan napas terengah-engah yang sangat serak lolos dari tenggorokan Blackviper. Mulutnya memuntahkan lelehan darah segar yang memb

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status