Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 571. Rindu Padanya

Share

571. Rindu Padanya

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-10-11 10:25:22

Teja melanjutkan aksinya dengan menambahkan sesapan bibir.

Hisapan lembut namun bertenaga itu mendarat tepat di bibir-bibir sensitif kemaluan Bianca, menariknya pelan gelambir luarnya dan melumatnya bergantian.

Semua area kewanitaan Bianca tak luput dari eksplorasi lidah dan bibirnya.

Dari bagian teratas dimana klitorisnya berada, hingga lipatan terbawah yang sudah dipenuhi cairan pelumas alami, lidah Teja terus menari lincah, menyapu setiap inci permukaan kulit halus yang kian memerah dan ha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   573. Bersama-sama

    Bianca lemas terkulai di atas permukaan meja keramik dapur. Dadanya kembang kempis memburu udara, sementara napasnya tersengal parau usai dihantam dua kali gelombang orgasme berturut-turut. Tubuh seputih pualam milik putri pengusaha hotel itu tampak terkulai tanpa daya dengan kedua lengan yang melentur lemas di samping kepalanya, tak lagi memiliki tenaga untuk menopang beban tubuhnya sendiri.Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia melirik Teja."Kamu... kamu gila, Ja..." bisik Bianca tersengal-sengal, matanya yang redup dan dipenuhi kabut gairah menatap ke belakang, memandangi sosok Teja yang masih berdiri tegap tanpa memperlihatkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun. "Kuat banget daya tahan kamu... aku udah dua kali keluar, tapi punya kamu masih keras kaku begini..."Teja menyunggingkan senyum tipis, menyapu sisa keringat di dahi Bianca sembari tetap memegang kedua sisi pinggul padat sang kekasih. Aliran hawa murni Qi tingkat tujuh yang bersirkulasi sempurna di dalam pembuluh darah T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   572. Tulang Melunak

    Teja memegang erat kedua paha mulus Bianca, mengunci posisi tubuh wanitanya di tepi meja keramik dapur. Dengan dorongan perlahan namun bertenaga, Teja mulai melakukan proses penetrasi milikmya ke dalam liang legit milim sang kekasih cantik."Pe-pelan dulu, Ja. Punyamu ini gedenya nggak karuan soalnya. Nanti sobek kalau dipaksain. Ohhh-shh,” bisik Bianca sembari meringis tegang.Teja mengangguk dan menek miliknya yang super besar itu secara hati-hati.Lesakan batangnya terus menggelepar masuk hingga mentok ke dinding terdalam dari rahim sang kekasih.Meski telah penuh membentur bagian paling dalam, panjang milik Teja hanya bisa terendam sepertiganya saja.Meski begitu, iru sudah jauh lebih baik daripada para wanita Teja lainnya yang hanya mampu menampung setengah batangnya.Rekor terdalam dalam penyatuan tetap dipegang janda muda berusia dua puluh tahun, bernama Sari Okta. Ia lah satu-satunya wanita Teja yang mampu menelan utuh seluruh panjang dari batang besar Teja."Nghh... haah...

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   571. Rindu Padanya

    Teja melanjutkan aksinya dengan menambahkan sesapan bibir. Hisapan lembut namun bertenaga itu mendarat tepat di bibir-bibir sensitif kemaluan Bianca, menariknya pelan gelambir luarnya dan melumatnya bergantian.Semua area kewanitaan Bianca tak luput dari eksplorasi lidah dan bibirnya. Dari bagian teratas dimana klitorisnya berada, hingga lipatan terbawah yang sudah dipenuhi cairan pelumas alami, lidah Teja terus menari lincah, menyapu setiap inci permukaan kulit halus yang kian memerah dan hangat tersebut.“Ja, Hkkk-uh! Ssshh-hh... nikmat banget, Sayang... oohh!" racau Bianca dengan kepala mendongak kaku.Kedua tangannya mencengkeram erat tepi meja keramik dapur yang dingin, sementara pinggul mulusnya terangkat otomatis dari atas meja, pasrah menyerahkan seluruh kendali raganya pada eksplorasi mulut Teja.Teja menambahkan dengan gosokan jari jempol di klitoris dan tusukan jari tengahnya ke dalam liang intim Bianca.Ibu jari tangan kanan Teja bergerak memutar cepat, memberikan tekana

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   570. Tegangan Tinggi

    Teja mendorong tubuh Bianca hingga rebah di meja keramik dapur.Permukaan keramik yang dingin menyentuh kulit mulus punggung Bianca, menciptakan sensasi kontras yang serta merta mengirimkan getaran kepekaan di sepanjang tulang belakangnya. Pria berambut gondrong itu langsung merapat, mengungkung tubuh molek seputih salju milik kekasih ketujuhnya tersebut di antara kedua lengan kekarnya yang berurat besar.Teja perlahan melumat bibir kekasihnya dengan penuh kehangatan.Pertautan bibir mereka kembali meletus dengan tensi yang jauh lebih liar dan bergairah.Teja menekan tubuh polosnya tanpa jarak ke atas tubuh Bianca, membiarkan keperkasaannya yang keras seperti pentungan hansip menekan rapat di lipatan paha sang dara. Bianca membalas lumat basah itu dengan penuh semangat, mendongakkan leher mulusnya seraya melingkarkan kedua paha jenjangnya di pinggul kekar Teja.Sekitar lima menit kemudian Teja menggeser bibirnya ke leher untuk memberikan lumatan basah di sana.Ia kemudian kembali me

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   569. Dahaga Asmara

    Gadis bertubuh sintal dan berambut bob itu membuka lebar-lebar mulutnya, siap melumat milik Teja yang panjang dan berdiameter lebar.Rona merah semakin pekat melingkupi paras ayu Bianca tatkala uap hangat dari keperkasaan Teja menerpa wajahnya dari jarak sedekat itu. Dengan penuh gairah, putri pengusaha hotel ternama itu memajukan paras cantiknya, mengarahkan bibir merah meronanya tepat di depan ujung tumpul kejantanan Teja yang membara dan keras seperti tiang beton.Kelamut bibir halus Bianca menyelimuti bagian kepala kejantanan Teja. Sentuhan pertama antara rongga mulutnya yang hangat dan licin dengan keperkasaannya yang keras bak baja seketika memicu getaran kenikmatan yang menyengat halus hingga ke tulang belakang Teja. Pemuda berambut gondrong itu mendesah rendah, membiarkan jemari tangan kanan-nya merayap menyusup ke sela-sela helai rambut bob hitam dan halus milik sang kekasih.Kelenturan bibir mungil Bianca diuji hingga batas terluarnya. Lingkar diameter keperkasaan Teja ya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   568. Selalu...

    "Aku terbang tadi," canda Teja dengan nada suara penuh akan godaan.Binar mata keemasan sang pemuda menyala hangat tatkala menghirup aroma wewangian manis yang keluar dari ceruk leher Bianca. Kehangatan kulit mulus sang dara berpadu dengan sejuknya udara sore dataran tinggi Puncak yang mulai merayap masuk ke dalam area dapur tersebut.Ia kemudian memutar tubuh Bianca hingga berhadapan..Jemari kekar Teja bergerak terampil melepas ikatan tali celemek bergaris tipis di belakang pinggang ramping Bianca. Kain pembungkus bagian depan itu terlepas dan terjatuh begitu saja ke lantai granit, membebaskan sepenuhnya tampilan bentuk raga indah putri pengusaha hotel ternama tersebut.Kini, di bawah pendar lampu gantung, Bianca berdiri pasrah hanya dengan balutan bra minim serta g-string renda terawang berwarna putih bersih yang nyaris tak bisa menyembunyikan keindahan raga seputih saljunya."Kamu kayaknya udah persiapan banget nih kostumnya?" goda Teja seraya memindai sekujur tubuh indah di had

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status