Share

651. Masakan Khas

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-10-27 11:38:50

Melihat kondisi istrinya yang telah pulih total dan penuh kebugaran, Liong To menghembuskan napas lega dengan binar mata yang memancarkan rasa syukur tiada tara. Pria tua itu memutar badannya menatap putri tunggalnya dengan raut wajah bersemangat.

"Panda! Cepat kamu pergi ke dapur utama dan minta para juru masak menyiapkan hidangan khas Tionghoa terbaik yang kita miliki! Hari ini adalah hari besar bagi keluarga kita. Kita harus menyambut Guru Besar Teja dengan pesta penyambutan yang paling isti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   678. Kelincahan Ahli Silat

    “Enak... enak banget, Sayang... aku bakal bikin kamu puas tanpa perlu keluar tenaga sedikit pun," sahut Linda seraya membuka matanya, menatap lurus ke dalam binar keemasan mata Teja dengan raut wajah yang penuh akan gelora asmara.Linda mulai memompa dan menggerakkan pinggulnya secara mandiri. Dengan daya tahan fisik praktisi silat yang lentur dan kuat, Linda mengangkat pinggulnya naik beberapa sentimeter, membiarkan keperkasaan Teja terlepas sebagian, lalu menghujamkan kembali raganya turun dengan hentakan halus yang kuat.Gerakan naik turun yang teratur itu menciptakan alunan kecipak basah yang kian nyaring di dalam kamar. Linda memiringkan pinggulnya sedikit ke kiri dan ke kanan, menggesekkan simpul sensitif di perut bawahnya pada batang kekar Teja, memicu gelombang kenikmatan tiada tara yang merayap di sepanjang tulang belakangnya."Ahhh... Ja... ini nikmat sekali..." lenguh Linda seraya mendongakkan kepalanya ke atas. Rambut hitam panjangnya yang terurai bergerak-gerak indah sei

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   677. Pegang Kendali

    Lidahnya yang lincah menari-nari membelai permukaan ujung keperkasaan sang pemuda, menyalurkan kenikmatan serviks hangat yang membuat desakan Murni Qi di dalam dada Teja kian bergejolak hebat.Suara kecipak basah dari adu kuluman bibir dan keperkasaan Teja bergema halus memecah keheningan rumah singgah tua di tengah kebun tebu tersebut. Linda terus memaksakan diri untuk mengulum lebih dalam, meskipun ujung keperkasaan Teja yang terlalu besar membuat pipinya yang mulus menggembung kencang dan sudut bibirnya tertarik ketat.Teja menyandarkan kepalanya di sandaran sofa kulit, meresapi sensasi pijatan hangat dan basah dari rongga mulut wanita keduanya tersebut. Namun, melihat betapa kerasnya usaha Linda dan raut wajah wanitanya yang mulai agak kesusahan bernapas akibat menampung ukuran raksasa miliknya, rasa tidak tega seketika menyusup di dalam dada Teja.Teja merayapkan telapak tangan kekarnya ke atas kepala Linda, mengusap lembut helai rambut hitam panjang sang wanita seraya memegang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   676. Mata Berair

    "Hari ini kamu tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga, Sayang. Biar aku yang melayani kamu sepenuhnya," bisik Linda dengan napas yang mulai tersengal-sengal di sela-sela pagutan bibir mereka.Sepasang mata indah wanita cantik berparas tegas itu memancar pendar kepasrahan dan perhatian yang teramat mendalam. Linda menarik sedikit badannya ke belakang, menatap lurus ke dalam binar mata keemasan Teja seraya menyunggingkan senyuman manis nan menggoda.Teja menatap raga molek nan padat milik wanita keduanya tersebut dengan desakan Murni Qi yang mulai bergejolak hangat di dalam pembuluh darahnya. Jemari kekar Teja merayap perlahan menyusuri pinggul Linda, lalu menarik bagian bawah kaos ketat berpotongan sporty yang dikenakan sang wanita.Dengan gerakan yang sangat halus dan teratur, Teja mengangkat kaos ketat hitam milik Linda melewati kepalanya, membiarkan helai rambut panjang Linda terurai indah menutupi sebagian bahunya yang mulus seputih salju. Tak berhenti di situ, jemari Teja

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   675. Segera Sibuk

    Teja sebenarnya merasa cukup frustrasi dengan padatnya kegiatan ranjangnya akhir-akhir ini.Dengan memiliki sembilan wanita yang cantik-cantik, ditambah target sepuluh kuota dari warisan lilitan kain leluhurnya, hampir dapat dipastikan bahwa Teja tidak akan bisa istirahat dengan santai. Setiap kali pertempuran fisik atau masalah lain selesai, jalur takdir selalu membimbingnya kembali pada lingkaran pergumulan asmara yang tak pernah usai.Jika saja tubuhnya tidak diperkuat oleh daya tahan dari warisan lilitan kain itu, mungkin ia sekarang sudah pingsan atau bahkan lumpuh karena terlalu banyak menggenjot wanita.Warisan pusaka kain leluhur dan pusaran Murni Qi yang mengalir di dalam pembuluh darahnya memang memberi stamina serta daya regenerasi sel fisik yang luar biasa. Namun secara mental, gempuran gairah dari para wanita tercantik di sekelilingnya tetap saja menguras energi fokus dan kedamaian pikirannya.Teja menarik napas panjang, menghembuskan hawa hangat di dalam dadanya seraya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   673. Gawang Sepak Bola

    "Terima kasih Pak Sanjaya, Linda... Kalian sudah membukakan usaha perkebunan dan peternakan ini buat aku," ucap Teja penuh rasa sopan.Suara bariton rendah Teja mengalun sangat tulus. Binar mata keemasannya menyapu sejauh mata memandang, menatap hamparan hijau padang rumput peternakan sapi perah serta barisan pepohonan subur yang membentang luas di bawah langit Kabupaten Sidoarjo. Rasa hormat dan apreasiasi mendalam terpancar jelas dari raut wajah tegap pemuda berambut dreadlock tersebut."Eh, Teja! Kamu ini kan pasangannya putriku. Mana mungkin aku membiarkan kalian kekurangan? Setidaknya hasil perkebunan dan peternakan di sini bisa untuk menunjang kehidupan kalian," jawab Sanjaya seraya terkekeh.Guru besar perguruan bela diri silat itu menepuk-nepuk bahu kekar Teja dengan kehangatan seorang ayah. Wajah tuanya yang penuh wibawa tampak sangat bahagia memandangi calon menantunya."Bukan hanya menunjang, Pak. Dengan areal perkebunan seluas ini, dan peternakan sapi perah yang besar, oms

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   672. Oke Sekali Kan?

    Linda menggenggam erat jemari Teja, merasakan kehangatan Murni Qi yang mengalir halus dari kulit pria terkasihnya. Rona merah merona merekah indah di kedua pipinya yang mulus."Kamu ini bicara apa sih, Ja?" tutur Linda dengan nada suara yang amat manja penuh kelembutan. "Keluarga Sanjaya itu sudah menganggap kamu seperti bagian inti dari keluarga kami sendiri. Semua yang Ayah dan aku siapkan itu tidak ada artinya dibanding perlindungan, cinta, dan keselamatan yang selalu kamu berikan buat kami."Linda memelankan laju mobilnya sedikit tatkala memasuki gerbang keluar tol Sidoarjo, lalu melanjutkan percakapan mereka dengan binar mata yang memancar kesetiaan."Lagipula... aku kan wanitamu juga. Aku mau memberikan yang terbaik buat mendukung semua impian kamu, Ja. Baik dalam hal pendamping hidup, maupun dalam mengelola kerajaan bisnis yang sedang kamu bangun," tambah Linda jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.Teja mengusap lembut punggung tangan Linda, meresapi setiap kata tulus yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status