Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 658. Melayang Di Udara

Share

658. Melayang Di Udara

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-10-28 11:09:26

Teja membalas lemparan bantal kecil itu dengan senyuman tipis. Ia merentangkan tangan kekarnya, membiarkan Panda beringsut mendekat dan menyandarkan kepala mulusnya di atas dada bidangnya.

Detak jantung Teja bergema stabil dan tenang, berbanding terbalik dengan napas Panda yang masih tersengal-sengal usai pelepasan pertamanya.

"Gimana, Nda? Masih sanggup lanjut atau mau istirahat dulu?" tanya Teja seraya membelai lembut helai rambut hitam panjang Panda yang terurai acak.

Panda mendongakkan kep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   672. Oke Sekali Kan?

    Linda menggenggam erat jemari Teja, merasakan kehangatan Murni Qi yang mengalir halus dari kulit pria terkasihnya. Rona merah merona merekah indah di kedua pipinya yang mulus."Kamu ini bicara apa sih, Ja?" tutur Linda dengan nada suara yang amat manja penuh kelembutan. "Keluarga Sanjaya itu sudah menganggap kamu seperti bagian inti dari keluarga kami sendiri. Semua yang Ayah dan aku siapkan itu tidak ada artinya dibanding perlindungan, cinta, dan keselamatan yang selalu kamu berikan buat kami."Linda memelankan laju mobilnya sedikit tatkala memasuki gerbang keluar tol Sidoarjo, lalu melanjutkan percakapan mereka dengan binar mata yang memancar kesetiaan."Lagipula... aku kan wanitamu juga. Aku mau memberikan yang terbaik buat mendukung semua impian kamu, Ja. Baik dalam hal pendamping hidup, maupun dalam mengelola kerajaan bisnis yang sedang kamu bangun," tambah Linda jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam.Teja mengusap lembut punggung tangan Linda, meresapi setiap kata tulus yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   672. Lahan Bisnis

    Setelah cukup lama bercengkrama dan menikmati kehangatan hidangan sarapan bersama keluarga Liong To, Teja dan yang lainnya berpamitan.Suasana keakraban yang hangat masih menyelimuti ruang tamu saat Teja menyalami Liong To dan istrinya. Bintang, Pedro, Lincan, serta pasukan Geng Surya sudah lebih dulu bergerak kembali ke markas untuk merapikan barisan dan memastikan situasi kawasan industri Margomulyo benar-benar steril. Panda menatap Teja dengan sepasang mata sipitnya yang berbinar penuh rasa kasih, melepaskan kepulangan pria terkasihnya dengan senyuman anggun di samping kedua orang tuanya."Pak Liong, Bu, Panda... Kami pamit pulang dulu. Kalau ada perkembangan apa pun dari lapangan, segera hubungi saya," ucap Teja tegas seraya menangkupkan kedua tangannya di dada."Hati-hati di jalan, Guru Besar Teja, Pak Toni, Linda. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kalian kapan saja," balas Liong To penuh hormat seraya membungkukkan badannya.Pajero Sport putih milik Teja kembali membe

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   671. Sup Herbal

    Linda sebagai kekasih kedua Teja setelah Nana tampak ikut bahagia.Melihat Panda yang sudah kembali segar bugar dan bisa tertawa ceria di dalam dekapan Teja, rasa cemas yang sempat menghimpit dada Linda seketika meluap sirna. Wanita berparas tegas yang menguasai keahlian silat tradisional itu menyunggingkan senyuman manis. Langkah kakinya yang anggun mendekati tepi tempat tidur ukir, lalu tanpa ragu ia mengulurkan kedua tangannya untuk merengkuh raga Panda ke dalam pelukan hangatnya.Panda membalas pelukan Linda dengan sangat erat. Kedua wanita yang sama-sama telah mengikatkan raga dan jiwanya kepada Teja itu saling mengusap punggung satu sama lain, memancarkan pendar keharmonisan yang amat sejuk di tengah keheningan kamar."Panda, syukurlah kamu dan Pak Liong sudah pulih total," tutur Linda dengan suara lembutnya yang sarat akan rasa lega yang mendalam. "Semalam waktu aku lihat kalian terdesak di gudang Margomulyo, rasanya jantungku mau copot."Panda melepaskan tautan pelukannya per

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   670. Harmonisasi

    Panda menyunggingkan senyuman tipis dan manja dari atas tempat tidur ukirnya. Sepasang mata sipitnya yang bening menatap lurus ke dalam binar mata keemasan Teja. Tangan halusnya yang sedikit gemetar merayap perlahan, mencoba meraih jemari kekar Teja yang berdiri tegap di samping ranjangnya."Teja... kamu benar-benar sudah pulih? Semalam kamu ambruk sampai bikin aku takut setengah mati..." bisik Panda mengulang kalimatnya."Kalau aku nggak sembuh duluan, gimana bisa mengobati kamu dan papamu!" jawab Teja lembut.Teja lantas menyambut uluran tangan Panda, menggenggam jemari lentik dan mulus wanitanya dengan kelembutan yang tiada tara. Binar mata keemasannya memancar kilat perlindungan, mengikis seluruh rasa cemas yang sempat membayangi dada gadis keturunan Tionghoa tersebut.Panda terkekeh pelan, rona merah merona mulai merekah indah di kedua pipinya yang mulus. "Dasar... selalu saja bisa bikin aku tenang.""Sudah, jangan banyak bicara dulu. Tidur yang rileks, aku bersihkan sisa racun

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   669. Sembuh Lebih Cepat

    "Ayah hanya memberikan penguatan organ dalam pada Pak Liong To dan Panda, energi Qi Ayah sangat terbatas," tutur Pak Toni seraya menyapu keringat di dahinya dengan lengan kaosnya.Pria tua itu menghembuskan napas panjang, menunjukkan betapa terkurasnya tenaga dalam yang ia miliki usai menstabilkan kondisi fisik Teja dan sebelumnya sudah memberikan pertolongan darurat pada Liong To serta Panda sepanjang malam tadi."Biar aku lanjutkan, Ayah," ucap Teja tenang.Rasa lemas di persendian kakinya perlahan-lahan sirna seiring berputarnya Murni Qi tingkat tujuh setengah di dalam pembuluh darahnya. Binar mata keemasannya memancar tenang, mengalirkan keyakinan tinggi bahwa seluruh penanganan medis internal selanjutnya berada di dalam kendali penuh kekuatannya.Teja menggeser langkah kakinya mendekati tempat tidur ukir berukuran sedang tempat Liong To terbaring. Wajah tua berjenggot putih milik praktisi herbal senior itu tampak amat pucat pasi, dengan napas yang tersengal-sengal pendek dan bi

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   668. Bantuan Sang Ayah

    Cahaya keemasan menerobos masuk melintasi sela-sela tirai bambu yang tergantung anggun di jendela kayu, menyinari sekeliling ruangan yang hangat dan beraroma semerbak minyak cendana. Kelopak mata Teja terbuka pelan-pelan, menyesuaikan ketajaman penglihatannya dengan pendar sinar pagi yang menerangi kamar. Seluruh persendian di raganya terasa teramat kaku, dan setiap kali ia mencoba menghela napas, dada bidangnya berdenyut nyeri akibat sisa-sisa pendar racun Qi A Shiang yang sempat menghantam organ dalamnya.Teja memutar kepalanya perlahan ke sisi kiri. Tak jauh dari tempat tidurnya, dua ranjang ukir berukuran sedang tampak terisi. Panda terbaring berbalut selimut sutra merah dengan raut wajah yang masih agak pucat, sementara di ranjang sebelahnya, Liong To tidur terlentang dengan dada yang dibalut perban kain putih.Ornamen naga dan burung phoenix yang terukir halus di tiang-tiang kayu jati, dipadu dengan langit-langit berarsitektur Tionghoa klasik, mengonfirmasi keberadaannya. Ia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status