Partager

71. Lembaran Kertas

Auteur: Leva Lorich
last update Date de publication: 2026-06-24 23:08:47

Pedro melambaikan tangannya dengan santai pada dua anak buah di kanan kirinya untuk maju lebih dulu untuk menghabisi pemuda gondrong itu.

Kedua anak buah berbadan kekar itu langsung merangsek maju ke arah Teja sembari mengayunkan pipa besi tebal milik mereka.

WUTT!

Namun seketika itu juga langkah kaki mereka langsung terdiam kaku saat dua hantaman pipa besi itu sama sekali tak mengenai sasaran.

Bukan hanya gagal mengenai tubuh lawan, sosok Teja bahkan mendadak menghilang dari pandangan mata mer
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   85. Mencapai Tingkat Tinggi

    "Master Teja, tolong maafkan atas kelakuan burukku yang tadi," ucap Herman sembari langsung mengambil posisi berlutut di atas lantai yang kemudian segera diikuti oleh seluruh muridnya."Eh, ayo buruan bangun, jangan pada begini dong, kita ini kan sama-sama manusia!" seru Teja sembari bergerak cepat menarik lengan Herman agar kembali berdiri tegak.Melihat pengakuan yang diucapkan Herman tadi, Sanjaya dan semua orang yang berada di kubu perguruannya langsung kompak menghela napas lega.Sekali lagi, Teja terbukti berhasil menyelamatkan perguruan mereka."Master Teja, menurut pandanganmu, sebenarnya apa kendala besar yang aku alami ini kok sampai nggak bisa naik tingkatan lagi?" tanya Herman dengan nada bicara yang malu-malu.Teja mengedarkan pandangan matanya menatap ke arah sekeliling ruangan gedung serbaguna yang masih ramai tersebut. "Kita lanjut ngobrol santai di dalam rumah Pak Sanjaya aja gimana biar lebih enak?"Herman langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat tanda se

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   83. Lumpuh Total

    BUKK!Tinju besar dan bertenaga milik Herman masuk mendarat tepat mengenai bagian dada bidang Teja.Namun Teja sama sekali tak bergeser sedikit pun dari posisi berdirinya, bahkan ia tetap berdiri kokoh tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan sama sekali!Sebaliknya, Herman yang justru refleks mengibaskan tangan kanannya karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti baru saja meninju permukaan dinding baja tebal."Tinjumu lembek banget kayak pukulan balita, Om!" ejek Teja sembari tertawa meremehkan.Teja lalu perlahan mengeluarkan sebuah lencana emas dari balik saku kemeja yang dikenakannya.Itu adalah lencana khusus penasihat kehormatan Perguruan Silat Teratai Kembar yang tempo hari secara langsung diberikan oleh Sanjaya kepadanya."Sialan kamu, gara-gara tinjumumu barusan malah bikin lencana berhargaku ini jadi agak penyok sedikit!" ucap Teja santai sembari mengibaskan lencana di tangannya tersebut.Melihat benda logam yang dipegang oleh pemuda itu, kedua belah mata Herman lan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   82. Detik-detik Nasib

    "Kamu itu posisinya masih ada di tingkat dasar tahap puncak, Lin, jadi biar aku aja yang maju buat ngelawan dia," ucap Wiryo ikut melangkah maju ke depan guna melindungi Linda."Hahaha, Wir, emangnya apa sih yang mau kamu banggain dari kemampuanmu itu? Orang yang cuma punya kemampuan tingkat sedang tahap puncak kayak kamu kok malah sok-sokan mau lawan aku?" Herman terbahak-bahak mendengar ucapan itu dengan nada sangat meremehkan."Jangankan cuma lawan kamu, Wir, gurumu si Sanjaya aja yang kemampuannya cuma mentok di tingkat menengah tahap medium itu juga aslinya bukan tandingan buatku!" seru Herman dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi."Perlu kalian semua tahu ya kalau selama lima tahun belakangan ini tingkat kemampuanku sudah berhasil naik dengan sangat pesat!" Herman menyombongkan diri sembari menyilangkan kedua belah tangannya di depan dada.Raut wajah Wiryo dan Sanjaya seketika langsung berubah menjadi sangat tegang setelah mendengar pengakuan dari musuh di hadapan mereka.P

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   81. Tamu Asing

    Teja hanya menggelengkan kepalanya perlahan sembari menyunggingkan senyuman tipis untuk menenangkan. "Nggak usah terlalu dipikirin kayak begitu, Lin. Kondisi tubuhku emang dasarnya agak unik dan sulit buat bisa orgasme.""Kan aku jadi merasa nggak enak banget sama kamu, Ja… masa dari tadi cuma aku doang yang dapet enaknya, tapi kamu belum keluar sama sekali," sahut Linda dengan raut wajah yang tampak diselimuti perasaan bersalah."Udahh, nggak apa-apa kok, santai aja. Mungkin lain kali pas ada waktu luang kita bisa coba lagi," hibur Teja sembari mengusap lembut pucuk kepala Linda yang masih berbaring di atas kasur.Linda akhirnya menganggukkan kepalanya dengan pelan seraya menatap lekat-lekat milik Teja yang masih berdiri gagah seteguh karang.Teja pun segera meraih pakaian mereka yang berserakan di lantai. "Ya sudah, sekarang buruan pakai baju lagi gih, Lin. Habis ini kita balik ke rumah kamu.""Aku masih pengen di sini, Ja…" rengek Linda dengan manja sembari meraih lengan tangan Tej

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   80. Senyum Getir

    Gerakan pinggul Teja terus berpacu meningkatkan kecepatan hantaman demi hantaman kuat ke arah bokong montok Linda yang masih kokoh menungging. Suara benturan kulit yang basah antara pangkal paha Teja dan bokong padat Linda bergaung memenuhi seluruh sudut kamar rumah singgah.Setengah ukuran batang besar miliknya yang tertanam di dalam liang intim Linda terasa terjepit begitu luar biasa ketat, memberikan sensasi jepitan dinding daging yang luar biasa nikmat bagi Teja. Pemuda itu tampak mengatur napasnya yang memburu panas, menikmati setiap inci gesekan kuat yang menyiksa sekaligus memanjakan kejantanannya yang terbesar se-Indonesia tersebut."Shhh, Lin... jepitan punyamu beneran ketat banget, bikin nagih!" gumam Teja dengan suara berat penuh kepuasan yang tertahan.Linda tidak bisa lagi menjawab dengan kalimat yang jelas, melainkan hanya mampu mengeluarkan erangan kacau.Kepala gadis itu masih bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, dengan sepasang tangan yang meremas kuat-kuat permuk

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   79. Terlampau Gila

    "J-Jaa, plisss buruan langsung masukin aja punyamu, aku bener-bener udah nggak tahannn!" rintih Linda dengan suara yang terputus-putus menahan gejolak gairah.Teja hanya tersenyum nakal mendengarnya, namun ia justru sengaja menambah satu jari telunjuk lagi ke dalam lubang intim tersebut.Ia menusukkan kedua jarinya itu keluar masuk dengan irama yang sangat cepat sambil sesekali menggesek area klitoris Linda menggunakan ibu jarinya."Tejaaa! Aku udah nggak kuattt lagi, ohhhh!" Linda bergerak semakin tidak terkendali sembari terus menggoyangkan pinggul dan bokongnya ke sana kemari demi mengejar ritme dua jari Teja."Nikmatin aja semuanya, Lin, nggak usah banyak protes!" tegas Teja sembari menekan kuat-kuat kedua jarinya jauh menusuk ke dalam sana."Ohh ohhh, iyaa, ohhhh... aku mau keluarrr sekarang, Ja, ohhh geli banget sumpahhh!" jerit Linda dengan tubuh yang mulai berkeringat halus."Lepasin aja semuanya, Lin, nggak usah ditahan-tahan lagi," ucap Teja yang tangannya menjadi semakin li

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   50. Lawan Jadi Pasien

    Kaki Wiryo yang terjulur lurus mengincar ulu hati Teja tiba-tiba saja tertahan di udara oleh sebuah hantaman tangan yang sekeras baja.KLAKK!Suara tumbukan sendi yang mengerikan terdengar di tengah ring saat Teja membenturkan sisi bawah telapak tangannya.Tulang pergelangan kaki sang guru silat se

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   49. Serangan Beruntun

    "Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   48. Sebuah Tantangan

    Seorang pria berusia sekitar awal 40-an berseragam hitam dengan logo dua teratai emas di dada serta berambut ikal pendek nampak melangkah maju, berdiri tepat di sisi pria gempal yang sebelumnya menggertak Teja.Melihat kepungan yang semakin rapat dan kedatangan sosok yang tampak berwibawa namun kej

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   46. Tetap Saja Berbeda

    Keesokan harinya, usai mengikuti mata perkuliahan yang cukup membosankan di kampus, Teja menemani Nana untuk memenuhi jadwal panggung menyanyinya.Awalnya, niat hati Teja ingin menggantikan posisinya dengan Bintang untuk mengawal Nana, namun hati kecil Teja merasa tak tega membiarkannya.Meski begi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status