LOGIN"Beres, Bos, tapi nanti mampir traktir aku makan bakso ya, soalnya aku lagi nyidam banget nih pengen makan yang berkuah pedas," jawab Nana dengan nada riang sembari mengedipkan sebelah matanya yang bulat belok.Mendengar kata 'nyidam' yang keluar secara spontan dari mulut gadis di sampingnya, seketika itu juga seluruh tubuh Teja langsung terkesiap hebat karena pikirannya langsung melompat pada permainan ranjang mereka sebelum-sebelumnya."Ka-kamu beneran hamil, Naa?!" tanya Teja dengan nada suara yang mendadak bergetar hebat menahan kepanikan luar biasa yang merayap di dadanya.Pikiran Teja dalam sekejap mata berubah menjadi sangat kalut dan kacau karena ia merasa takut jika ulahnya dalam menindih tubuh Nana pada malam-malam sebelumnya telah berakibat sangat fatal bagi masa depan gadis itu.Nana justru terkekeh melihat ekspresi wajah Teja yang pucat pasi seperti mayat hidup. "Hamil apaan sih, Jo?! Lagian kamu kan nggak pernah bisa mancur!"Teja langsung menghembuskan napas panjang sem
"Wah, enak dan nyaman banget tarikan mesin mobilnya, Jo, ini sih bener-bener unit keluaran baru nih!" ucap Nana dengan nada kagum sembari melajukan mobil Pajero Sport putih milik Teja membelah jalanan kota menuju ke arah kampus."Iya, Na, aku sendiri bersyukur banget karena cuma modal niat tulus ngobatin penyakit dalam orang aja ternyata udah bisa dapet keberuntungan yang luar biasa kayak gini," sahut Teja yang duduk santai di kursi penumpang sebelah kiri."Kayanya setelah ini kamu harus mulai lebih fokus deh buat serius ngejalanin pekerjaan di bidang pengobatan ini, Jo, karena aku pribadi yakin banget kalau kemampuan pijat dan pengobatan alternatif kamu itu bakal bisa ngangkat harkat serta martabat kamu sekaligus ayahmu ke tingkat yang lebih tinggi," tutur Nana memberikan pandangan dan dukungannya."Makasih banyak atas dukungannya ya, Lin," ucap Teja spontan tanpa menyadari adanya kesalahan fatal pada nama yang baru saja diucapkannya."Lin? Lin siapa yang kamu maksud barusan? Coba je
"Eh, mau ngapain kamu nanya posisi kamarku segala, Lin?! Tolong jangan macem-macem ya di rumah ini, nanti kalau sampai ketahuan sama ayahku malah jadi panjang urusannya!" seru Teja mendadak panik dengan suara setengah berbisik."Aku cuma mau numpang pipis ke kamar mandi doang, Ja, lagian pikiranmu itu lho kok bisa-bisanya langsung meluncur traveling ke mana-mana!" sahut Linda sembari mencibir gemas melihat kepanikan berlebihan pemuda di sebelahnya itu."Ohh, hehe, sori-sori aku yang salah paham. Itu kamarku ada di sebelah persis kamar tidur ayah," tunjuk Teja sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menutupi rasa malunya.Linda mengangguk paham lalu segera bangkit berdiri dari kursi kayu, kemudian mulai melangkah dengan sangat anggun menyeberangi ruang tengah menuju ke arah kamar tidur Teja.Dari tempat duduknya di ruang tamu, Teja tanpa sadar kembali terpaku menikmati gerakan goyangan indah dari bokong montok Linda di balik rok pendek ketatnya saat gadis itu berjalan membe
"Sanjaya... maksud kamu Guru Besar dari Perguruan Silat Teratai Kembar itu?!" pekik Toni dengan mata terbelalak setelah berhasil mengingat kembali nama sahabat lamanya tersebut."Seingatku kayaknya udah ada lebih dari lima tahunan nggak pernah ketemu atau denger kabar dari dia lagi," lanjut Toni dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi emosional."Betul banget, Yah. Nah, si Linda yang ada di depan ayah sekarang ini adalah putri kandung dari beliau," ujar Teja memberikan konfirmasi yang jelas."Apaa?! Kenapa putri seorang Guru Besar bisa pulang barengan sama kamu gini, Ja?" tanya Toni yang semakin dibuat terkejut dan tidak percaya dengan kejadian tak terduga itu."Jadi ceritanya begini, Yah, aku tuh tadi siang nggak sengaja ketemu sama Pak Sanjaya pas lagi nemenin Nana buat konser musik di kota sebelah," jelas Teja memulai cerita pertemuannya."Pas ketemu itu aku lihat kok kondisi beliau kayak ada tanda-tanda penyakit dalam yang parah, makanya akhirnya aku coba obatin pakai kema
Teja mengangguk pelan sembari mengulas senyuman tipis untuk menenangkan kekhawatiran gadis di sampingnya itu. "Iya, Lin, aman aja.""Ya udah, sekarang, kamu masih mau rebahan dulu di sini apa mau langsung bersih-bersih badan di kamar mandi?" tanya Teja sembari melirik jam dinding kamar hotel yang terus berdetak."Udah larut malam ini, apa kamu nggak mau pulang?" lanjut Teja mengingatkan sisa waktu yang kian menipis."Nanti kalau kemalaman belum sampai rumah, bisa-bisa ayahmu malah panik dan nyariin kamu lho, Lin," sambung Teja lagi dengan nada yang penuh pertimbangan."Ya udah deh kalau gitu, kita mending langsung siap-siap buat check out aja, Ja," putus Linda sembari mulai mengumpulkan sisa kekuatan di tubuhnya."Aku mau ke kamar mandi dulu bentar ya buat basuh badan," pamit Linda sembari perlahan menurunkan kedua kakinya dari tepi ranjang yang berantakan.Linda kemudian melangkah dengan sangat santai tanpa sehelai pakaian pun di tubuhnya menuju ke arah kamar mandi hotel yang berada
"Sakit banget ya, Lin? Apa nggak sebaiknya kita hentikan aja? Udahan aja gimana?" tanya Teja yang mendadak merasa khawatir melihat ringisan di wajah gadis itu."Nggak usah, Ja, tolong lanjutin aja tapi pelan-pelan dulu gerakannya biar ini aku terbiasa, shhh," sahut Linda sembari mencoba melemaskan otot-otot panggulnya yang menjepit ketat.Teja pun mulai menarik mundur dan kembali menekan perlahan miliknya yang super besar itu dengan ritme yang sangat hati-hati demi menjaga kenyamanan Linda.Setelah beberapa saat mulai merasa nyaman dengan ukuran yang mengganjal penuh itu, Linda menolehkan lagi kepalanya ke belakang menatap Teja. "Tolong kamu cepetin dikit gerakannya, Ja, soalnya ini sudah mulai berasa enak banget di dalam sini, ohhhh."Teja mengangguk, lalu segera meningkatkan intensitas tusukan miliknya agar bisa memberikan kepuasan maksimal pada putri sang guru besar silat tersebut.Hantaman yang terjadi di antara mereka berdua pun kini berubah perlahan menjadi tempo sedang yang sta
"Aku kan perlu tahu seluk beluk warisan ini, Yah!" dengus Teja meski sedikit malu dan merah pipinya. "Itulah, Ja. Selain berukuran super, milik kamu yang sudah ditingkatkan sama lilitan kain warisan leluhur kita itu juga punya daya tahan yang tinggi. Kamu inget pas ayah tendang bagian itu kapan har
Teja tak sampai hati untuk menolak permintaan Nana. Ia pun segera berjongkok dan menyediakan punggungnya untuk memanggul teman kuliahnya tersebut. “Naik, Na. Pelan-pelan saja!“ perintahnya. Namun Nana lagi-lagi menggeleng. “Gendong depan aja boleh, Jo?“ pintanya dengan suara manja. Teja menghela n
Jari tengah Teja akhirnya melesak sepenuhnya ke dalam lubang hangat milik Septa. Mengikuti tuntunan dari warisan lilitan kain leluhurnya, ia mulai menekan titik-titik syaraf penting yang tersebar di sepanjang dinding dalam lubang tersebut. Setiap kali ujung jarinya memberikan tekanan pada titik
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







