Compartir

Bab 101

Autor: Rizu Key
last update Fecha de publicación: 2026-02-17 23:09:32

Saat melewati lobi utama, suasana berubah. Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, beberapa staf senior dan manajer yang kebetulan berada di sana langsung memberikan sambutan hangat.

"Selamat datang kembali, Ibu Aya!" sambut mereka dengan senang hati atas kembalinya sekretaris pribadi sang Presdir.

"Ah, ya...." sahut Aya gugup sekaligus bingung dengan sambutan yang tak biasa itu.

"Terima kasih atas kerja keras Bu Aya pada proyek sebelumnya. Berkat Ibu, kerja sama kita dengan perusahaan J
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Ida Nur Hidayati
mulai ada pelakor...lawan aja aya
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 186

    Ibra mengangguk. "Ya. Dia berhasil mengecoh kita."Aya mengepalkan kedua tangannya. "Mas, sebaiknya kita bicara di luar." Wanita itu menoleh ke arah anaknya dan mengusap pipi Putra dengan lembut."Sayang, kamu istirahat, ya? Biar ditemani Lili. Bunda, Ayah, sama Nenek mau bicara," ucap Aya lembut dan penuh kasih sayang."Iya, Bunda." Putra mengangguk patuh. Bocah itu memeluk ibu lalu neneknya terlebih dahulu. Lalu ia menoleh ke arah ayahnya."Ayah, makasih," ujarnya sebelum memeluk sang ayah juga."Sama-sama, Jagoan. Ayah tidak akan biarkan kamu terluka," ucap Ibra. Pria itu menatap sang istri."Kalian keluarlah dulu. Aku mau obati tangan Putra," ujarnya."Apa?!" Aya memekik. Wanita itu menarik tangan mungil anaknya dan melihat ruam merah di pergelangan Putra."Astaga... Biar Bunda yang obati.""Tidak, biar Nenek saja!"Dan setelah itu, Aya dan Dewi mengobati tangan Putra bersama. Mereka bertiga pun segera keluar dan membiarkan bocah itu tidur

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 185

    Malam itu, mobil Maybach hitam metalik milik Ibra terus membelah jalanan. Meninggalkan area pantai kembali ke pusat kota yang cukup jauh. Hingga pukul sembilan malam, mobil Ibra tiba di depan rumahnya.Lampu teras berpijar kuning temaram, menerangi dua sosok wanita yang wajahnya telah luruh oleh air mata dan kecemasan. Aya berdiri di ambang pintu, jemarinya saling meremas.Di sampingnya, Dewi tak henti-hentinya berdoa dengan bibir gemetar. Sudah lima jam sejak Putra hilang tanpa jejak dari sekolahnya. Lima jam yang terasa seperti lima abad di neraka karena tak bertemu dengan cucunya.Lalu, sepasang lampu sorot mobil membelah kegelapan. Masuk ke area rumah Ibra, melewati pintu gerbang uang tinggi.Mobil Maybach hitam itu berhenti dengan decitan pelan tepat di depan teras. Jantung Aya seakan berhenti berdetak saat pintu belakang terbuka. Ibra keluar dari sana. Wajahnya pucat, bajunya kusut, rambutnya berantakan, tapi matanya memancarkan sesuatu yang membuat napas Aya kembali tercekat."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 184

    Dinding batu yang lembap itu seolah menghimpit paru-paru Beatrice. Napasnya tersengal, meninggalkan uap tipis di udara lorong bawah tanah yang dingin dan berbau tanah. Di belakangnya, gema langkah sepatu bot yang berat menghantam lantai beton terdengar semakin jelas.Itu mereka. Dua anak buah Ibra."Dia tidak mungkin jauh! Cari di setiap tikungan!" suara parau itu menggelegar, memantul di dinding lorong yang sempit, membuat bulu kuduk Beatrice meremang.'Sialan. Mereka berhasil menemukan tempat ini,' umpat Beatrice dalam hati.Wanita itu terus berlari tanpa alas kaki. Dirinya yang biasanya memikirkan penampilan yang sempurna, kini tidak peduli. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal, yaitu keluar dari tempat ini dan menjauh dari Ibra sejauh mungkin.Lampu-lampu redup yang berkedip di langit-langit lorong hanya memberikan penerangan minimal, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Setiap kali ia melewati persimpangan, ia memilih arah secara acak, berharap instingnya leb

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 183

    "Sepertinya saat Putra tadi dimasukkan ke lemari, Putra denger suara pintu yang dibuka, Yah," jawab Putra sembari menatap ke arah lantai dua.Santo dan Samuel ikut menoleh ke belakang. Mereka pun bertatapan dan mengangguk seolah paham akan situasi dan segera naik kembali ke lantai dua.Ibra pun menatap anaknya. "Kamu yakin?" tanya pria itu."Iya, Ayah. Tadi Putra denger jelas Tante jahat itu buka pintu di deket lemari," jawab Putra jujur dengan tatapan polosnya."Tuan! Ternyata memang ada pintu rahasia di sana," lapor Santo yang tiba-tiba kembali muncul.Ibra segera kembali. Ingin tahu di mana penculik anaknya berada. Saat ia kembali memasuki ruang kerja dan masuk ke dalam ruangan sempit itu, Samuel sudah berdiri di sana. Ia telah berhasil membuka sebuah pintu rahasia yang ia temukan tepat di samping lemari kayu. Kini mereka menemukan lorong sempit yang tadi dilalui Beatrice."Kejar dia!" perintah Ibra."Baik, Pak," sahut Samuel. Pria itu memberikan isyar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 182

    "Itu...." Ibra menatap ke tangan Samuel.Mereka sudah mendobrak kamar demi kamar. Kamar utama kosong. Kamar tamu kosong. Hingga mereka sampai di kamar tempat Putra disekap sebelumnya yang penuh debu.Samuel menemukan sisa potongan lakban di sebuah kamar berdebu dan bau parfum wanita yang cukup menyengat masih tertinggal di sana."Saya menemukan ini di kamar paling ujung," tunjuk Samuel pada sebuah kamar di bagian belakang. "Dan ada bau parfum wanita. Sepertinya mereka masih ada di sini," jelasnya."Saya juga menemukan sisa makanan yang masih baru. Di kamar depan juga sepertinya ditinggali. Terbukti dari beberapa pakaian di dalam lemari dan juga peralatan milik wanita," sahut Santo ikut memberikan laporan."Sepertinya ini tempat tinggal orang yang sengaja menculik Putra, Pak. Kemungkinan orang itu sudah cukup lama bersembunyi di sini," timpal Samuel."Tapi di mana Tuan Muda Putra berada? Kita sudah menggeledah semuanya namun belum menemukan petunjuk apa pun,"

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 181

    Di luar, Ibra memberi isyarat tangan. Samuel dan tim keamanan sudah bergerak menyamping, sementara Ibra langsung menuju pintu utama setelah dua penjaga gerbang berhasil dilumpuhkan."Samuel, pastikan tidak ada jalan keluar di belakang. Pak Santo, ikut aku," ucap Ibra dengan suara sedingin es.Pintu depan pun terbuka lebar. Ibra melangkah masuk tanpa ragu. Matanya menyapu ruangan dengan interior yang cukup mewah dan rapi itu. Saat melangkah menuju ke ruang tengah, ia melihat sebuah gelas anggur di atas meja."Putra!" teriak Ibra, suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut vila. Namun, tak ada yang menyahutnya.Keheningan sesaat menyelimuti vila itu, sebelum terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.Di lantai dua, Beatrice menarik paksa Putra menuju sebuah lorong sempit di balik rak buku besar di ruang kerja vila tersebut. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahinya. Ia bisa mendengar suara pintu depan yang dibuka paksa dan teriakan tegas Ibra yang menggema di seluruh penj

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 28 (18+)

    [Pastikan kamu ada di kantorku jam 7 tepat. Jangan terlambat satu detik pun.]Aya menghela napas, menatap bubur ayam yang sedang ia siapkan untuk Putra. Ia harus mengantar Putra ke sekolah lebih awal dari biasanya setelah menerima pesan singkat dari sang Presdir."Putra, bangun, Sayang," bisik Aya

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 30

    "Iya, setiap jam makan siang pasti hilang. Nggak pernah sekali pun dia mau diajak makan bareng di kantin. Padahal kita sering ajak loh," sahut temannya. "Katanya sih dia makan di rumah atau di mana gitu." "Dia misterius, ya? Kasihan juga sih, dia selalu balik ke kantor dengan

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 26

    Aya membeku. Dalam kegelapan dan kepanikan pukul satu dini hari tadi, ia salah mengambil kemeja. Ini bukan kemeja miliknya yang ia beli di pasar swalayan. Ini adalah kemeja milik Ibra yang dilempar pria itu begitu saja sebelum mereka bergumul semalam."Bunda kok bajunya besar sekali? Kayak baju rak

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 33

    Putra mengerutkan kening kecilnya, tampak berpikir keras. "Emm... Bunda bilang tempat kerjanya besar sekali, Nek. Banyak orang pakai baju bagus. Tapi Putra nggak tahu namanya apa. Bunda nggak pernah ajak Putra ke sana."Dewi menghela napas panjang. Hatinya mencelos mendengar jawaban polos itu

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status