Masuk“Dasar wanita murahan.”
Kata-kata itu menghantam Aya lebih keras dari cengkeraman di pergelangannya. Saat Ibra melepaskannya, tubuh Aya sedikit terhuyung ke belakang. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap bungkam. Lidahnya kelu. Ruangan itu kembali dipenuhi ketegangan yang menekan.
Aya memaksa dirinya berdiri tegak di hadapannya. Dengan sisa harga diri yang ia kumpulkan, ia membungkukkan badan sedikit.
“Saya akan mengundurkan diri,” ucapnya pelan namun tegas.
Ia berharap semuanya selesai di sana.
Namun jarak di antara mereka justru kembali menyempit. Aya refleks melangkah mundur, panik, sampai tumitnya nyaris kehilangan pijakan. Tiba-tiba sebuah tangan menarik pinggangnya.
Aya terkesiap.
Tubuhnya kembali terperangkap dalam pelukan yang begitu ia kenal. Aroma itu. Sama. Tidak berubah sejak enam tahun lalu. Kenangan yang seharusnya sudah mati justru bangkit tanpa izin. Aya memalingkan wajah, memejamkan mata, menahan gemetar yang merambat dari ujung kepala hingga kaki.
“Kembalilah bekerja.”
Kalimat itu terdengar singkat, dingin. Saat pelukan itu dilepaskan, Aya tak menunggu sedetik pun. Ia berbalik dan segera meninggalkan ruangan, nyaris berlari. Ia hanya ingin pergi. Menjauh. Menghilang.
Langkahnya cepat menyusuri koridor. Dadanya semakin terasa berat. Tangannya gemetar saat menekan tombol lift. Ketika pintu terbuka dan ia masuk, pantulan wajahnya di dinding logam membuatnya terdiam. Pucat. Matanya berkaca-kaca.
Begitu pintu lift tertutup, Aya akhirnya menghembuskan napas panjang. Napas yang sejak tadi ia tahan. Punggungnya bersandar lemas ke dinding, matanya terpejam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup liar.
“Ya Tuhan… kenapa harus dia? Kenapa kami bertemu di tempat ini…?”
Enam tahun. Enam tahun ia membangun hidup baru. Menyimpan masa lalu itu rapat-rapat, menguburnya bersama rasa bersalah dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Dan sekarang, pria itu berdiri di atas hidupnya, sebagai atasannya.
Aya membuka mata perlahan.
“Bagaimana kalau dia tahu soal Putra…?” gumamnya lirih.
Ketakutan itu kembali, dingin dan nyata. Seolah masa lalu yang ia kubur perlahan mulai menggali jalannya sendiri menuju hidupnya yang sekarang.
*
Sore itu Aya kembali pulang ke kontrakannya. Wanita itu terlihat sangat lelah, tak seperti biasanya.
"Bunda, gosong!" seru Putra yang baru saja berlari menghampirinya. Langsung mematikan kompor di hadapan sang ibu.
"Astaga...." gumam Aya terkejut. Wanita itu kemudian menarik anaknya menjauh dari kompor. Ditatapnya nasi goreng yang sudah berubah warna menjadi hitam.
"Bunda nggak papa?" tanya Putra sembari mendongak, menatap khawatir pada sang ibu.
Aya sedikit membungkuk. Diusapnya pipi anaknya itu dengan lembut. "Bunda nggak papa, Sayang. Makasih, ya?"
Putra menautkan kedua alisnya. "Beneran?"
"Iya."
Putra menatap ke arah nasi goreng yang sudah berbau hangus itu. Lalu dia menarik tangan sang ibu, berjalan menuju ke ruang tengah dan mendudukkan ibunya di sana.
"Bunda, kalau Bunda capek, nggak usah masak. Putra nggak mau kalau Bunda sakit," ucap polos bocah itu penuh perhatian.
Aya terharu mendengarnya. Ia kembali mengusap pipi anaknya. Ditatapnya lekat-lekat wajah tampan mungil itu. Mirip. Sangat mirip dengan Presdir Bagaskara Group yang baru saja ia temui. Perasaan takut itu pun kembali mendera di dalam hatinya. Hingga tanpa sadar membuat kedua matanya berkaca-kaca.
"Bunda?" panggil Putra lembut. Bocah itu segera duduk di samping ibunya.
"Ah. Iya, Sayang. Maafin Bunda, ya? Ya udah. Kamu di sini dulu. Biar Bunda beresin nasi goreng gosongnya." Aya segera berdiri. Mengusap cepat kedua sudut matanya.
Putra pun duduk dengan patuh. Namun kedua mata polosnya terus mengamati sang ibu. Meski tak terlalu mengerti, namun bocah itu dapat merasakan ada hal yang aneh terjadi pada ibunya.
Tak lama kemudian, Aya sudah kembali. "Sayang, Bunda belikan ayam krispi depan gang saja, ya?"
"Bun, kalau capek nggak usah. Kita makan nasi aja," sahut Putra.
Aya menggeleng pelan. "Nasinya udah gosong semua, Sayang. Bunda belikan sebentar. Kamu di rumah aja, ya?" bujuknya.
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama, ya, Bun?"
"Iya, Sayang."
Aya segera meraih helmnya dan pergi membeli ayam goreng krispi yang ada di tepi jalan raya. Usai membeli, dia segera menaiki motornya kembali. Namun saat itu juga, ia tak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dari dalam mobil.
**
Hari berikutnya, Aya kembali datang ke kantornya. Namun sebelum itu, ia mengantarkan Putra ke sekolah.
"Sayang, nanti Bunda jemput lagi, ya?" ucap Aya sembari mengusap pipi putranya.
"Iya, Bunda."
Wanita cantik itu pun segera pergi meninggalkan sang putra. Saat dia baru saja tiba di ruang kerjanya, rekan-rekannya mulai mendekat.
"Aya... Maafkan kami... Kami salah," ucap salah satu staf perempuan dengan wajah menunduk.
"Iya, Aya. Kami ikut-ikutan menuduhmu tanpa tahu apa-apa," sambung yang lain.
Aya tersenyum kecil. "Nggak papa," jawabnya lembut.
"Sekarang Bu Vega sudah dipecat. Jadi kita bisa tenang."
"Benar. Nggak nyangka aja Bu Vega sejahat itu memfitnah anak baru."
"Tapi yang anehnya lagi Pak Ibra mau mencari kebenarannya. Apa kamu mengenal Pak Ibra, Ay?" tanya salah satu rekan kerja Aya lagi.
Aya terkesiap. Wajahnya tampak bingung.
“Itu nggak mungkin…,” ucapnya pelan, kali ini tanpa sepenuhnya berdusta. Ia memang tidak pernah tahu nama pria satu malamnya dulu.
“Bener juga. Tapi aneh, sih. Biasanya Pak Ibra nggak mau turun langsung. Kemarin malah repot nyari tahu kebenaran buat orang kecil kayak kita,” timpal rekan Aya yang lain.
Aya hanya tersenyum tipis. Ia membiarkan asumsi itu berputar sendiri. Tak satu pun dari mereka tahu betapa jantungnya berdetak tak beraturan sejak pagi.
Tak lama kemudian, Samuel masuk ke ruangan.
“Selamat pagi, Pak Samuel,” sapa para karyawan hampir bersamaan.
“Pagi,” jawab Samuel singkat dan dingin. Ia langsung mendekati meja Aya, lalu meletakkan setumpuk dokumen tebal di hadapannya.
“Pak Ibra menyuruhmu merangkum ini,” ujarnya datar. “Siang ini harus sudah ada di meja beliau,” lanjutnya tanpa memberi Aya kesempatan merespons.
Samuel pergi begitu saja.
Aya menatap dokumen itu sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. Tanpa banyak bicara, ia segera bekerja. Ia tak punya pilihan. Pekerjaan ini masih ia butuhkan. Demi hidupnya. Demi Putra.
Waktu berjalan cepat. Menjelang siang, Aya merapikan hasil rangkumannya dan membawanya langsung ke ruangan Presdir.
Setelah menyerahkan dokumen itu, ia menunduk singkat, lalu berbalik hendak keluar dengan langkah tergesa.
Baru dua langkah, suara itu menghentikannya.
“Kamu ke mana?”
Aya menegang. Ia berbalik perlahan. Ibra berdiri di belakang meja kerjanya, menatapnya tajam.
“Saya… harus pergi, Pak,” jawab Aya hati-hati. “Ada keperluan mendesak.”
Alis Ibra sedikit terangkat. Tatapannya dingin, menilai. “Sejak kapan karyawan bisa pergi begitu saja dari hadapan atasannya tanpa izin?”
Beberapa hari berlalu dengan ketegangan yang perlahan mencair. Beatrice dan Timo telah dijatuhi hukuman penjara yang setimpal dengan kejahatan mereka.Gedung pencakar langit yang menjadi markas besar Bagaskara Group kini kembali stabil, namun dengan aura yang jauh lebih waspada. Berita tentang penangkapan Beatrice dan keterlibatan Timo dalam masalah yang terjadi di perusahaan telah menjadi buah bibir dan pemberitaan di mana-mana. Namun begitu, tim keamanan yang dipimpin oleh Samuel berhasil membalikkan keadaan.Nama baik Bagaskara Group tidak hanya pulih, tetapi justru menguat. Pasar melihat betapa tangguhnya sistem pertahanan perusahaan dan betapa cepatnya sang Presdir dalam mengambil tindakan hukum yang tegas. Di bawah perintah Ibra, sistem keamanan digital perusahaan dirombak total. Tidak ada lagi celah untuk pengkhianat."Pak, semuanya sudah beres. Opini publik juga sudah berbalik dan nilai saham kita kembali naik," lapor Samuel beberapa menit sebelum waktu makan siang tiba."Bagu
"Beneran, Nek?" tanya Putra dengan mata berbinar."Iya, Sayang. Jadilah anak pintar ya, nurut sama Ayah dan Bunda. Nenek pulang dulu," sahur Dewi.Setelah mengantar Dewi sampai ke depan pintu dan memastikan mobilnya berlalu, Ibra kembali ke dalam. Suasana rumah terasa lebih tenang, hanya ada suara denting piring dari dapur tempat Aya menyiapkan makan malam."Mas mandilah dulu. Kita makan," ucap Aya lembut.Ibra mendekati istrinya terlebih dahulu. Lalu memeluk Aya dari belakang dan mengusap lembut perutnya. "Iya, Aya. Kamu duduk saja. Biar Bi Tina yang siapin semuanya.""Nggak papa, Mas. Sudah. Sana mandi." Aya berujar lembut."Aku tidak akan mandi kalau kamu tidak mau duduk," sahut Ibra sembari menarik tangan sang istri. Membawa wanita itu agar duduk di kursi makan."Baiklah." Aya akhirnya menurut. Wanita itu duduk di kursinya. Sementara Putra ikut mendekat dan duduk di hadapan sang ibu."Ayah, biar Putra aja yang bantuin Bunda. Ayah mandi aja," ucap bocah tampan nan menggemaskan itu.
"Pak, apa kita perlu ikut menyelidiki masalah ini?" tanya Samuel ketika ia dan sang Presdir berjalan keluar melewati lobi."Tahan dulu. Biarkan mereka yang bekerja. Sekarang kita fokus pada masalah kebocoran data itu. Kamu harus bisa menyelesaikannya, secepatnya," jawab Ibra dengan tegas."Baik, Pak," sahut Samuel.*Sore harinya, Ibra kembali ke rumah dengan beban di pundak yang terasa semakin berat. Namun, pemandangan di ruang tengah sedikit meredakan ketegangannya.Putra sudah mau keluar dari kamar. Ia duduk di sofa, diapit oleh Aya dan Dewi. Mereka sedang menyusun balok-balok mainan dengan tenang. Aya terlihat membisikkan sesuatu yang membuat Putra tersenyum tipis. Meski senyumannya belum seceria biasanya.Di belakang mereka, Lili memilih tidur dengan tenang. Nampaknya kucing kecil itu sudah kelelahan karena bermain menghibur teman kecilnya."Ayah?" panggil Putra pelan.Aya menoleh, menatap suaminya. Menyadari gurat kelelahan di wajah Ibra. Ia ber
Di kantor polisi, tepatnya di ruang interogasi. Sementara kehangatan menyelimuti kamar Putra, atmosfer di kantor polisi justru sedingin es. Ibra berdiri di balik kaca satu arah, menatap dua sosok yang telah menghancurkan ketenangannya, yaitu Timo dan Beatrice.Samuel berdiri di samping Ibra, memegang beberapa berkas tuntutan dan bukti kejahatan yang dilakukan kedua orang itu."Kita punya cukup bukti untuk menjerat mereka berdua, Pak. Terutama Timo, dia tertangkap tangan dengan bukti digitalnya. Dan ini berkat ketelitian Bu Aya," papar Samuel.Rahang Ibra mengeras saat menatap kedua orang yang duduk berdampingan di hadapannya. Mereka pun menyadari kemunculan Ibra dan Samuel.Ibra melangkah masuk ke ruang interogasi pertama. Di sana, Timo duduk dengan bahu merosot dan tangan terborgol. Begitu melihat Ibra, pria yang dulunya adalah orang kepercayaan di tim IT itu langsung bersimpuh di lantai, memeluk kedua kakinya."Pak Ibra... saya mohon maaf, Pak! Saya khilaf!" ra
Mentari pagi yang biasanya disambut dengan kehangatan aktivitas persiapan sekolah, kali ini terasa hening di kediaman Ibra. Cahaya yang menyusup lewat celah gorden kamar Putra tidak mampu mengusir sisa-sisa trauma yang menyelimuti bocah lima tahun itu.Putra masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Meski ruangan itu luas dan terang, di matanya, kegelapan ruangan dan lemari sempit tempatnya disekap kemarin masih membayang. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan hawa dingin dan sesak yang mencekik napasnya dan juga suara amarah wanita yang menjadikannya sandera."Meong!" Lili berseru pelan. Mengeluarkan tubuhnya dengan lentur di sebelah Putra. Seolah tahu akan keadaan teman kecilnya itu, Lili duduk dengan bulu putih yang berantakan, lalu menyandarkan kedua cakar depannya di dada Putra."Lili...." cicit Putra pelan."Meong...." Lili membalas dengan ngeongan lembut. Kucing kecil itu pun semakin mendekat dan kini berpindah duduk tepat di sebelah bahu Putra. Kepalanya pun m
Ibra mengangguk. "Ya. Dia berhasil mengecoh kita."Aya mengepalkan kedua tangannya. "Mas, sebaiknya kita bicara di luar." Wanita itu menoleh ke arah anaknya dan mengusap pipi Putra dengan lembut."Sayang, kamu istirahat, ya? Biar ditemani Lili. Bunda, Ayah, sama Nenek mau bicara," ucap Aya lembut dan penuh kasih sayang."Iya, Bunda." Putra mengangguk patuh. Bocah itu memeluk ibu lalu neneknya terlebih dahulu. Lalu ia menoleh ke arah ayahnya."Ayah, makasih," ujarnya sebelum memeluk sang ayah juga."Sama-sama, Jagoan. Ayah tidak akan biarkan kamu terluka," ucap Ibra. Pria itu menatap sang istri."Kalian keluarlah dulu. Aku mau obati tangan Putra," ujarnya."Apa?!" Aya memekik. Wanita itu menarik tangan mungil anaknya dan melihat ruam merah di pergelangan Putra."Astaga... Biar Bunda yang obati.""Tidak, biar Nenek saja!"Dan setelah itu, Aya dan Dewi mengobati tangan Putra bersama. Mereka bertiga pun segera keluar dan membiarkan bocah itu tidur
"Loh? Kamu, kan...." Suara Dewi tertahan di tenggorokan.Aya pun tak kalah terkejut. Langkahnya terhenti tepat di tengah ruangan. Wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang pernah mengobrol dengannya, wanita yang beberapa kali berkunjung di sekolah Putra dan memuji ketegaran hatinya sebagai s
Suasana di dalam ruang VIP itu mendadak hening, seolah oksigen tersedot keluar. Pengakuan Aya yang meluncur begitu saja membuat jantungnya sendiri berdegup kencang. Ia meremas kembali kedua lututnya, menunduk dalam-dalam hingga helai rambutnya menutupi wajahnya yang mulai memerah."Maaf, Mah.
"Dia bukan wanita seperti itu. Mamah akan langsung tahu saat melihatnya," ucap Ibra dengan nada yang mulai melunak, mencoba meredam emosi ibunya. Dewi menatap wajah putranya, dadanya masih naik turun. "Mamah hanya nggak habis pikir. Kamu awalnya tidak mau menikah, lalu Mamah juga masih
Ibra tiba-tiba menginjak remnya. Hampir saja membuat mobil di belakangnya menabrak mereka. Beruntung mobil itu sudah berhasil mengerem dan mengumpat pada mereka."Apa yang-" Ucapan Aya terhenti. Ibra menoleh menatapnya. Lalu merebut ponsel Aya yang masih tersambung."Ay? Aya? Halo?" Terde







