공유

Bab 6

작가: Rizu Key
last update 게시일: 2025-12-29 18:46:02

Aya menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Maaf, Pak. Saya harus menyelesaikan sesuatu.”

Ruangan itu seketika sunyi.

Ibra menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, seolah mencatat setiap kata.

“Kali ini saya anggap selesai,” ucapnya akhirnya. “Tapi lain kali, pastikan kamu tahu etika.”

Aya mengangguk cepat.

“Baik, Pak. Maaf.”

Tanpa menunggu lagi, ia segera keluar dari ruangan itu. Langkahnya cepat, nyaris berlari. Dadanya terasa sesak.

Satu pikiran terus berputar di kepalanya.

Jangan sampai dia tahu… jangan sampai dia menyentuh hidup Putra.

***

"Bunda!" Putra berseru saat melihat ibunya datang dengan motor maticnya.

Aya melambaikan tangan, sementara Putra segera berlari-lari kecil ke arahnya. "Ayo pulang," ajaknya lembut.

"Bunda, lihat, deh!" seru Putra sembari memamerkan hasil karyanya. Sebuah kotak pensil dari kaleng bekas yang dihiasi dengan kertas warna-warni.

Aya tersenyum lebar. "Wah... Bagus sekali buatan anak Bunda. Pinter banget, deh!" pujinya bangga.

Putra mengangguk senang. "Ini hadiah buat Bunda."

"Wah... Makasih...."

Putra segera memasukkan kotak pensil itu ke dalam tas. Ia pun segera naik ke bagian depan motor sang ibu. Dan Aya segera membawa anak lelakinya itu pulang ke kontrakan sederhana mereka.

Tak butuh waktu lama bagi Aya mengantarkan Putra pulang. Setelah memastikan Putra aman, dia segera kembali ke kantor dan makan di ruang kerjanya seperti biasa.

"Kamu dari mana sih sebenarnya? Kenapa tiap jam istirahat nggak kelihatan, tapi makannya di sini?" tanya salah satu rekan kerja Aya heran.

Aya tersenyum. "Aku tadi habis... keluar bentar. Ada urusan," jawabnya dengan hati-hati. Tak ingin ada rekan kerjanya yang tahu bahwa dia sudah memiliki anak. Apa lagi saat ini ayah dari anak kandungnya itu merupakan Presdir di perusahaan.

"Oh...."

Waktu istirahat usai. Aya kembali harus bekerja. Kali ini dia harus menyelesaikan laporan yang diberikan Samuel padanya. Hingga tanpa terasa, waktu sore tiba.

"Akhirnya selesai juga," gumam Aya sembari meregangkan otot-ototnya.

Wanita itu menyimpan file yang telah dia kerjakan. Kali ini dia sangat berhati-hati. Saat itu juga Samuel datang mendekatinya.

"Kamu, sudah selesai?" tanya pria itu dengan ekspresi datar.

"Sudah, Pak," sahut Aya.

"Kalau begitu cetak dokumen itu sebanyak sepuluh rangkap, lalu segera bawa ke ruangan Pak Ibra!" perintahnya kemudian.

Aya yang baru saja bernapas lega, terkejut mendengarnya. "Sa-saya yang mengantar dokumennya?"

"Iya. Cepatlah. Kalau belum kamu antar hari ini, kamu belum boleh pulang," jawab Samuel sebelum pergi meninggalkan Aya.

Wanita itu mendengus pelan. 'Apa mau orang itu? Kenapa dia tiba-tiba memberiku tugas lain sementara yang lainnya tidak?' rutuknya dalam hati.

Tak mau berlama-lama, Aya segera mencetak dokumen yang ia buat. Sementara dirinya harus iri ketika rekan kerja yang lainnya sidah bersiap pulang. Hingga saat Aya sibuk mencetak dokumen di mesin fotocopy, suasana ruang kerjanya semakin sepi.

'Tinggal aku sendiri yang belum pulang. Putra gimana, ya?' gumam Aya dalam hati.

Setelah ratusan lembar tercetak, Aya masih harus merapikannya. Wanita itu pun sesekali memeriksa jam di dinding di mana sekarang sudah menunjukkan pukul enam sore. Perasaannya mulai tak tenang karena hari itu ia terlambat pulang.

Namun karena tak ingin berlama-lama, Aya segera membawa sepuluh bendel dokumen yang telah ia cetak ke ruangan sang Presdir. Saat melewati lorong, suasana benar-benar sepi. Para staf dan karyawan lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Bahkan lampu-lampu gedung perkantoran sudah mulai menyala terang.

'Tinggal taruh aja, langsung pulang,' gumam Aya dalam hati.

Wanita itu berharap Presdir tak ada di dalam ruangannya. Dengan langkah cepat, Aya melangkah menuju ruangan sang Presdir yang terasa begitu sepi.

Tok tok tok

"Permisi," ucap Aya sopan. Namun, tak kunjung ada jawaban dari dalam ruangan. Kembali wanita itu mengetuk pintu.

'Apa aku masuk aja, ya? Aku harus segera pulang,' batinnya.

Aya menarik napas sebelum ia membuka pintu. Wanita itu melihat sekeliling. Ruangan sang Presdir telihat sepi. Gegas saja ia melangkah masuk dengan hati-hati, seolah seekor kucing yang hendak mencuri ikan.

"Saya letakkan di sini, ya," gumam Aya bicara pada diri sendiri.

Wanita itu segera meletakkan dokumen itu di atas meja kerja sang Presdir. Sejenak dia mengamati papan nama yang tertera di sana; Ibra Putra Bagaskara.

Dahi Aya mengernyit. "Putra...?"

"Ada apa dengan nama Putra?"

Suara berat itu mengejutkan Aya. Spontan wanita itu menoleh dan ia dapati sang Presdir baru saja keluar dari sebuah ruangan lain di dalam sana. Gugup, Aya memilih menggeser tubuhnya menjauh dari meja kerja sang Presdir.

"Ah... Anu...."

Ibra menatap tajam ke arahnya. Lalu langkah tegapnya mulai mendekati Aya, membuat wanita itu semakin gugup.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ibra dingin. Tatapannya yang tajam seolah mampu mengikuti Aya.

"Sa-saya hanya meletakkan dokumen ini, Pak. Saya sudah selesai mengerjakannya," jawab Aya menunduk.

Ibra melirik sekilas pada dokumen di atas meja. "Oke."

"Kalau begitu saya permisi, Pak," ucap Aya cepat-cepat.

"Siapa yang mengizinkanmu pergi?" tanya pria itu tajam, berhasil menghentikan langkah Aya.

"Ma-maksud Anda?" tanya wanita itu sembari menoleh menatap wajah sang Presdir yang tak dipungkiri memang sangat tampan.

Ibra melangkah mendekati Aya. Membuat wanita itu terkesiap. Lalu dengan jarak hanya satu langkah saja, Ibra kembali berhasil menarik Aya ke dalam pelukannya.

"P-Pak!" pekik Aya kaget.

"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu mengikutiku?" tanya pria itu. Tatapannya benar-benar tidak bersahabat.

Aya mengerutkan keningnya. "Apa maksud Anda?"

"Sial...." geram Ibra membuat Aya semakin tak tenang. Wanita itu melepaskan pelukannya, mundur dua langkah dari sang Presdir.

"Saya benar-benar tidak ada maksud untuk mengikuti Anda, Pak. Saya sendiri tidak tahu kalau Anda adalah Presdir di perusahaan ini," papar Aya mencoba meluruskan. Ia hanya ingin cepat pulang.

Ibra tak memberikan respon apa pun. Pria itu hanya menatap wajah Aya lekat-lekat. Membuat wanita itu semakin tak nyaman.

"Kenapa kamu menghindar?" tanya Ibra tiba-tiba.

"Sa-saya tidak menghindar...." cicit Aya.

Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah itu?"

Aya menelan ludahnya susah payah. Pria yang ingin ia hindari, malah terus muncul di hadapannya.

"Eummm. Kalau tidak ada yang dibicarakan, saya permisi, Pak. Laporannya juga sudah saya kerjakan," ucap Aya cepat-cepat.

Wanita cantik itu berbalik, hendak pergi meninggalkan ruangan sang direktur. Entah mengapa dia selalu tegang ketika bertemu dengan Ibra. Seolah ingatan enam tahun yang lalu kembali berputar di otaknya. Menggambarkan bagaimana percintaan panas mereka berlangsung di malam yang panjang.

"Tunggu," ucap Ibra, kembali menghentikan langkah Aya.

'Apa lagi....?' gumam Aya dalam hati. Dia terpaksa kembali berbalik menghadap sang Presdir.

"Bawakan dokumen itu ke mobilku," perintah Ibra kemudian.

"A-apa?"

"Cepat!" tekan Ibra sembari melangkah lebih dulu melewati Aya.

"Baiklah...." Aya terpaksa menurut. Dia mengambil dokumen tersebut lalu segera berjalan mengekor sang Presdir.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (3)
goodnovel comment avatar
Sutri Ana
jadi penasaran bacanya lanjuuut ......
goodnovel comment avatar
Zaiti Akhtar
menarik dan tersusun ayat2nya.
goodnovel comment avatar
Erpina Kasih Mirza
seru membuat penasaran cerita nya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 310

    Sementara itu, di kediaman megah keluarga Ibra, suasana mendadak terasa begitu sepi setelah keberangkatan suami dan anaknya. Aya berjalan perlahan kembali ke dalam rumah. Langkah kakinya terasa sedikit lebih berat karena usia kandungannya yang sudah memasuki bulan ketujuh lebih. Satu tangannya tidak pernah lepas dari bagian bawah perutnya, menopang bobot sang calon buah hati yang akhir-akhir ini semakin aktif bergerak.Aya kemudian duduk di sofa ruang keluarga yang luas. Pandangannya menerawang menatap langit-langit rumah. Ucapan Putra yang terpotong tadi pagi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.'Bunda! Selamat ulang tahun, ya! Nanti sore Ayah mau bawa Bunda ke-'Aya menghela napas panjang. Ia tersenyum lembut. "Setidaknya Putra ingat hari ulang tahunku. Dan Mas Ibra sepertinya juga ingat...." gumamnya dengan suara lirih. Sebuah perasaan hangat dan haru menjalar di dalam dadanya.Hubungan mereka memang berawal dari ikatan bisnis semata saja. Demi pengorbanan Aya terhadap keselamata

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 309

    Mobil Maybach hitam itu terus melaju dengan tenang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Di kursi belakang, setelah drama kecil yang menegangkan sekaligus menggemaskan tadi, keheningan yang nyaman kembali tercipta. Putra sibuk memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Ibra kembali meraih tabletnya. Namun, fokus pria itu tidak lagi sepenuhnya berada pada deretan angka laporan keuangan atau email dari para investor. Pikirannya melayang kembali pada ekspresi curiga Aya di teras rumah tadi.Ibra mengulum senyum tipis. Mengelabui wanita secerdas dan sepeka Aya memang bukan perkara mudah. Sejak awal pernikahan mereka, Aya selalu memiliki intuisi yang sangat tajam. Ibra tahu, penjelasannya tadi untuk menutupi kecurigaan Aya sama sekali tidak meyakinkan. Tapi untungnya, kondisi fisik Aya yang sedang mengandung anak kedua mereka membuat wanita itu lebih mudah merasa lelah dan memilih untuk tidak memperpanjang urusan kecil tersebut."Pak Santo," panggil Ibra dengan suar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 308

    Satu jam kemudian, suasana rumah mulai ramai. Putra, anak laki-laki mereka yang menggemaskan, sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Mereka bertiga kini berada di ruang makan, menikmati sarapan pagi yang hangat seperti biasa, tanpa ada aroma bawang sama sekali.Sebelum Ibra menyantap makanannya, pria itu mengambilkan nasi dan lauk untuk sang istri. Ia lalu mengambil makanan ke piringnya lalu membaca email di tabletnya sebentar, sementara Aya memperhatikan suaminya dengan senyuman.Setelah sarapan selesai, Ibra berdiri dan merapikan dasinya, bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, dia akan mengantar Putra ke sekolah TK-nya terlebih dahulu sebelum menuju ke kantor pusat."Ayo, Ayah!" seru Putra dengan penuh semangat."Semangat sekali," gumam Aya sembari tersenyum.Aya mengantar suami dan anaknya hingga ke teras depan, tempat mobil Maybach mewah Ibra sudah terparkir rapi dengan pintu yang dibukakan oleh Santo."Aku berangkat dulu," ucap Ibra, melangkah mendekat ke arah Aya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 307

    Ibra mengangguk, memberikan senyuman tipis terakhir sebelum melangkah pergi. Saat menuju pintu keluar, ia melihat Samuel yang juga sudah selesai makan dan menunggunya. "Pak," sapa Samuel sopan."Ayo kembali. Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan," ajaknya dengan ekspresi datar dan satu tangannya menepuk saku jas di mana ponsel yang menyimpan catatan kesukaan istrinya ada di sana.Langkah kaki Ibra kembali tegap dan tegas, memancarkan aura wibawa seorang Presdir papan atas yang semula sempat luntur oleh rasa malu di dalam restoran tadi.Setelah punggung Ibra benar-benar menghilang di balik pintu kaca restoran, Gina langsung menyandarkan tubuhnya ke bahu Niko, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari ujian paling menegangkan dalam hidupnya."Huffttt... gila, Yang! Aku masih nggak percaya dengan apa yang baru saja terjadi," gumam Gina dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan. "Seorang Presdir kaku, dingin, dan berwajah datar sepert

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 306

    Ibra terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk merangkai kata. Pertanyaan Gina tidak salah, sangat logis bagi seorang sahabat yang peduli. Namun, bagi pria dengan harga diri setinggi langit seperti Ibra, mengakui bahwa dirinya terlalu kaku untuk bertanya langsung pada istrinya sendiri adalah hal yang sangat menguji rasa malunya. Ketegangan pun kembali menyelimuti di antara mereka bertiga.Melihat rahang Ibra yang mengeras dan tatapan matanya yang mendadak lurus menatap cangkir teh chamomile di depannya, Gina langsung menyadari bahwa pertanyaannya mungkin sudah melewati batas. Ketakutan mulai merayap di benak gadis itu. Bagaimana jika sang Presdir tersinggung dan membuat Niko kesulitan dalam memulai kembali bisnisnya?Sadar suasana menjadi terlalu tegang, Gina segera memutar otak. Dengan cepat, ia mengulas senyum lebar dan melepaskan tawa renyah yang sengaja dibuat sedikit heboh untuk mencairkan keheningan yang membeku."Ahahaha! Maaf, maaf, Pak Ibra! Aduh, saya ini kalau bicara memang suk

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 305

    "Ah. Tidak, tidak. Saya akan memberi tahu Anda apa yang saya tahu. Jadi apa yang ingin Anda tanyakan soal Aya?" Gina cepat-cepat berbicara. Kembali bertanya. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung kembali. Sementara Niko memilih diam menyimak.Ibra menghela napas panjang. "Bagi beberapa orang mungkin ini hal kecil, tapi bagiku ini penting. Aku memang salah karena tidak terlalu memerhatikan istriku sendiri. Jadi, tolong beri tahu aku. Apa saja makanan kesukaan Aya yang paling ia gemari? Dan apa yang paling tidak ia sukai?"Gina tampak terkejut. Jadi ternyata memang benar sang Presdir tidak tahu kesukaan istrinya sendiri. Lalu Gina tersenyum lebar, merasa sangat senang karena sahabatnya ternyata memiliki suami yang sedemikian rupa ingin berusaha, meskipun caranya sangat kaku. Dan yang ia tahu lagi adalah, suami sahabatnya itu terlalu gengsi dan itu lucu."Ehem." Gina berdeham pelan. "Kalau soal makanan, Aya itu sebenarnya tidak muluk-muluk, Pak," jawab Gina bersemangat. "Dia it

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status