LOGINAya menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Maaf, Pak. Saya harus menyelesaikan sesuatu.”
Ruangan itu seketika sunyi.
Ibra menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, seolah mencatat setiap kata.
Aya mengangguk cepat.
“Baik, Pak. Maaf.”
Tanpa menunggu lagi, ia segera keluar dari ruangan itu. Langkahnya cepat, nyaris berlari. Dadanya terasa sesak.
Satu pikiran terus berputar di kepalanya.
Jangan sampai dia tahu… jangan sampai dia menyentuh hidup Putra.
***
"Bunda!" Putra berseru saat melihat ibunya datang dengan motor maticnya.
Aya melambaikan tangan, sementara Putra segera berlari-lari kecil ke arahnya. "Ayo pulang," ajaknya lembut. "Bunda, lihat, deh!" seru Putra sembari memamerkan hasil karyanya. Sebuah kotak pensil dari kaleng bekas yang dihiasi dengan kertas warna-warni. Aya tersenyum lebar. "Wah... Bagus sekali buatan anak Bunda. Pinter banget, deh!" pujinya bangga. Putra mengangguk senang. "Ini hadiah buat Bunda." "Wah... Makasih...." Putra segera memasukkan kotak pensil itu ke dalam tas. Ia pun segera naik ke bagian depan motor sang ibu. Dan Aya segera membawa anak lelakinya itu pulang ke kontrakan sederhana mereka. Tak butuh waktu lama bagi Aya mengantarkan Putra pulang. Setelah memastikan Putra aman, dia segera kembali ke kantor dan makan di ruang kerjanya seperti biasa. "Kamu dari mana sih sebenarnya? Kenapa tiap jam istirahat nggak kelihatan, tapi makannya di sini?" tanya salah satu rekan kerja Aya heran. Aya tersenyum. "Aku tadi habis... keluar bentar. Ada urusan," jawabnya dengan hati-hati. Tak ingin ada rekan kerjanya yang tahu bahwa dia sudah memiliki anak. Apa lagi saat ini ayah dari anak kandungnya itu merupakan Presdir di perusahaan. "Oh...." Waktu istirahat usai. Aya kembali harus bekerja. Kali ini dia harus menyelesaikan laporan yang diberikan Samuel padanya. Hingga tanpa terasa, waktu sore tiba. "Akhirnya selesai juga," gumam Aya sembari meregangkan otot-ototnya. Wanita itu menyimpan file yang telah dia kerjakan. Kali ini dia sangat berhati-hati. Saat itu juga Samuel datang mendekatinya. "Kamu, sudah selesai?" tanya pria itu dengan ekspresi datar. "Sudah, Pak," sahut Aya. "Kalau begitu cetak dokumen itu sebanyak sepuluh rangkap, lalu segera bawa ke ruangan Pak Ibra!" perintahnya kemudian. Aya yang baru saja bernapas lega, terkejut mendengarnya. "Sa-saya yang mengantar dokumennya?" "Iya. Cepatlah. Kalau belum kamu antar hari ini, kamu belum boleh pulang," jawab Samuel sebelum pergi meninggalkan Aya. Wanita itu mendengus pelan. 'Apa mau orang itu? Kenapa dia tiba-tiba memberiku tugas lain sementara yang lainnya tidak?' rutuknya dalam hati. Tak mau berlama-lama, Aya segera mencetak dokumen yang ia buat. Sementara dirinya harus iri ketika rekan kerja yang lainnya sidah bersiap pulang. Hingga saat Aya sibuk mencetak dokumen di mesin fotocopy, suasana ruang kerjanya semakin sepi. 'Tinggal aku sendiri yang belum pulang. Putra gimana, ya?' gumam Aya dalam hati. Setelah ratusan lembar tercetak, Aya masih harus merapikannya. Wanita itu pun sesekali memeriksa jam di dinding di mana sekarang sudah menunjukkan pukul enam sore. Perasaannya mulai tak tenang karena hari itu ia terlambat pulang. Namun karena tak ingin berlama-lama, Aya segera membawa sepuluh bendel dokumen yang telah ia cetak ke ruangan sang Presdir. Saat melewati lorong, suasana benar-benar sepi. Para staf dan karyawan lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Bahkan lampu-lampu gedung perkantoran sudah mulai menyala terang. 'Tinggal taruh aja, langsung pulang,' gumam Aya dalam hati. Wanita itu berharap Presdir tak ada di dalam ruangannya. Dengan langkah cepat, Aya melangkah menuju ruangan sang Presdir yang terasa begitu sepi. Tok tok tok "Permisi," ucap Aya sopan. Namun, tak kunjung ada jawaban dari dalam ruangan. Kembali wanita itu mengetuk pintu. 'Apa aku masuk aja, ya? Aku harus segera pulang,' batinnya. Aya menarik napas sebelum ia membuka pintu. Wanita itu melihat sekeliling. Ruangan sang Presdir telihat sepi. Gegas saja ia melangkah masuk dengan hati-hati, seolah seekor kucing yang hendak mencuri ikan. "Saya letakkan di sini, ya," gumam Aya bicara pada diri sendiri. Wanita itu segera meletakkan dokumen itu di atas meja kerja sang Presdir. Sejenak dia mengamati papan nama yang tertera di sana; Ibra Putra Bagaskara. Dahi Aya mengernyit. "Putra...?" "Ada apa dengan nama Putra?" Suara berat itu mengejutkan Aya. Spontan wanita itu menoleh dan ia dapati sang Presdir baru saja keluar dari sebuah ruangan lain di dalam sana. Gugup, Aya memilih menggeser tubuhnya menjauh dari meja kerja sang Presdir. "Ah... Anu...." Ibra menatap tajam ke arahnya. Lalu langkah tegapnya mulai mendekati Aya, membuat wanita itu semakin gugup. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ibra dingin. Tatapannya yang tajam seolah mampu mengikuti Aya. "Sa-saya hanya meletakkan dokumen ini, Pak. Saya sudah selesai mengerjakannya," jawab Aya menunduk. Ibra melirik sekilas pada dokumen di atas meja. "Oke." "Kalau begitu saya permisi, Pak," ucap Aya cepat-cepat. "Siapa yang mengizinkanmu pergi?" tanya pria itu tajam, berhasil menghentikan langkah Aya. "Ma-maksud Anda?" tanya wanita itu sembari menoleh menatap wajah sang Presdir yang tak dipungkiri memang sangat tampan. Ibra melangkah mendekati Aya. Membuat wanita itu terkesiap. Lalu dengan jarak hanya satu langkah saja, Ibra kembali berhasil menarik Aya ke dalam pelukannya. "P-Pak!" pekik Aya kaget. "Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu mengikutiku?" tanya pria itu. Tatapannya benar-benar tidak bersahabat. Aya mengerutkan keningnya. "Apa maksud Anda?" "Sial...." geram Ibra membuat Aya semakin tak tenang. Wanita itu melepaskan pelukannya, mundur dua langkah dari sang Presdir. "Saya benar-benar tidak ada maksud untuk mengikuti Anda, Pak. Saya sendiri tidak tahu kalau Anda adalah Presdir di perusahaan ini," papar Aya mencoba meluruskan. Ia hanya ingin cepat pulang. Ibra tak memberikan respon apa pun. Pria itu hanya menatap wajah Aya lekat-lekat. Membuat wanita itu semakin tak nyaman. "Kenapa kamu menghindar?" tanya Ibra tiba-tiba. "Sa-saya tidak menghindar...." cicit Aya. Ibra menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah itu?" Aya menelan ludahnya susah payah. Pria yang ingin ia hindari, malah terus muncul di hadapannya. "Eummm. Kalau tidak ada yang dibicarakan, saya permisi, Pak. Laporannya juga sudah saya kerjakan," ucap Aya cepat-cepat. Wanita cantik itu berbalik, hendak pergi meninggalkan ruangan sang direktur. Entah mengapa dia selalu tegang ketika bertemu dengan Ibra. Seolah ingatan enam tahun yang lalu kembali berputar di otaknya. Menggambarkan bagaimana percintaan panas mereka berlangsung di malam yang panjang. "Tunggu," ucap Ibra, kembali menghentikan langkah Aya. 'Apa lagi....?' gumam Aya dalam hati. Dia terpaksa kembali berbalik menghadap sang Presdir. "Bawakan dokumen itu ke mobilku," perintah Ibra kemudian. "A-apa?" "Cepat!" tekan Ibra sembari melangkah lebih dulu melewati Aya. "Baiklah...." Aya terpaksa menurut. Dia mengambil dokumen tersebut lalu segera berjalan mengekor sang Presdir. ***"Hanya karena kado dari dia, kamu menangis seperti itu?" suara Ibra dingin, penuh dengan nada tidak suka. Lalu ia menarik Aya dan mencengkeram dagunya dengan satu tangan."Aku peringatkan padamu agar tidak berbuat hal yang bodoh. Kita baru saja menikah dan kamu istriku!" tegasnya dengan tatapan tajam.Aya tidak menjawab. Ia malah kembali menangis dengan bahunya terguncang hebat. Ia lalu mengambil isi kotak itu dan mengangkatnya di hadapan sang suami.Ibra tertegun. Ia menatap benda di tangan istrinya. Dahinya mengernyit dengan kedua matanya menyipit tajam. Di tangan Aya, ada benda yang ia sendiri tak mengerti apa."Hanya itu?" tanyanya masih dengan nada dingin.Aya menepis pelan tangan yang mencengkeramnya. Lalu ia membuka lembaran pertama pada album foto kecil di tangannya. Ibra ikut melihat dan kini ia tahu pada bagian pertama album ada foto Aya dan dua orang lainnya yang lebih tua. Aya di sana masih mengenakan seragam SMA.Ibra terdiam. Ia menebak bahwa kedua orang tua itu adalah a
"Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah," sahutnya."Makasih, Ayah.""Iya." Ibra kemudian menatap ibunya. "Kalian ada apa datang pagi-pagi ke sini?" tanyanya."Mamah cuma mau nganterin Putra aja, Bra. Maaf kalau mengganggu waktu berduaan kalian. Tapi Putra bilang mau kasih hadiah itu. Katanya penting," jelas Dewi.Ibra terdiam sejenak. Tatapannya kembali pada benda di tangannya. Sementara Putra mendekat dan memeluk kedua kaki sang ayah."Sudah, kan? Kita pulang, ya? Biarkan Ayah dan Bunda berduaan dulu," bujuk Dewi kemudian."Iya, Nenek. Dadah, Ayah! Putra pulang dulu, ya!" seru Putra sembari melambaikan tangannya."Hm."Bocah itu segera pergi. Ternyata kedatangannya
"Hentikan...." ucap Aya merasa kegelian.Tangan besar Ibra kini bergerak membelai dadanya. Menarik tangan Aya agar tak menutupi dada sintal itu. Lalu menarik tubuh Aya ke dalam pelukannya. Membuat Aya dapat merasakan debaran jantung Ibra yang menempel punggung."Aku ingin melakukannya sekarang," bisik pria itu dengan suara berat yang menggelitik. Dagu Ibra menempel di baju Aya. Dan pelukannya cukup erat sehingga mustahil wanita itu bisa kabur."Ta-tapi tadi malam sudah...." cicit Aya dengan wajah mulai memerah.Tangan Ibra meremas lembut dada Aya yang memenuhi genggaman telapak tangannya. Pria itu kemudian menciumi leher Aya, menimbulkan suara decapan basah."Hmmm...." Aya menahan desahannya. Ia menggeliat pelan dalam kungkungan Ibra."Kita akan melakukannya di sini. Tadi malam tidaklah cukup," bisik Ibra dingin. Namun, tatapannya tidak sedingin suaranya. Matanya menggelap saat melihat air mengalir di lekuk tubuh istrinya."Tapi aku mau mandi...." cicit Aya mencoba melepaskan diri."
Terdengar helaan napas berat di belakang tubuh Aya. Wanita itu merasa takut. Ia takut pertanyaannya memancing emosi sang Presdir dan membuatnya tersiksa dengan percintaan kasar seperti beberapa waktu yang lalu."Ya," jawab Ibra. "Memang begitu. Di setiap generasi di keluargaku hanya akan terlahir satu keturunan saja. Maka dari itu... ketika aku tahu diriku impoten, aku tidak punya harapan lagi untuk keluargaku," lanjutnya.Entah mengapa Aya merasa kasihan pada Ibra. Atau mungkin pada keluarga pria itu?"Tapi setelah tahu Putra anakku, aku mulai percaya adanya keajaiban...." imbuhnya.Aya memilih diam. Entah mengapa malam ini Ibra sedikit berbeda dari biasanya. Aura dominan dan dingin yang biasanya terpancar kini seolah hilang ditelan bumi.Tiba-tiba saja Ibra mengeratkan pelukannya. Membuat Aya terkesiap."Apa kamu kecewa?" tanya pria itu tanpa diduga. Ada nada penuh penyesalan di sana."Tidak juga...." jawab Aya kemudian. "Baguslah. Karena pernikahan kita akan segera diketahui banya
Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua matanya. Kaget dengan pernyataan Ibra yang entah mengapa lebih lembut dari biasanya. Dan tanpa diduga, air matanya jatuh tanpa alasan yang dapat ia pahami."Kamu boleh membenciku. Tapi kamu tetap milikku," tegasnya kemudian.Ibra mengangkat dagu Aya, menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan ibu jari. Tatapannya kini tidak lagi tajam, anehnya terasa hangat dan penuh tuntutan yang berbeda. Ia mulai mencium kening Aya, lalu turun ke kelopak matanya, dan berakhir di bibir Aya dengan kelembutan yang mengejutkan.CupCiuman itu awalnya ragu-ragu, namun segera berubah menjadi gairah yang membara. Aya pun tak menolaknya.Tangan Ibra mulai membuka resleting gaun di punggung Aya dengan geraka
Ibra tidak menjawab. Ia berdeham pelan, lalu membuang muka sesaat untuk menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu."Biasa saja," gumamnya dingin, meski matanya kembali tertuju pada Aya tanpa bisa ia cegah.Dewi pun hanya terkekeh pelan menyaksikan tingkah putra semata wayangnya itu.Ibra menatap Aya yang melangkah semakin dekat dengannya. Putra dengan senyuman ceria berjalan di depan ibunya, seolah menjadi satu-satunya malaikat yang bisa menyatukan kedua orang tuanya.Kini, Aya sudah berdiri di hadapan Ibra. Putra dan Gina segera menepi. Saat Hendra menyerahkan tangan Aya ke tangan Ibra, suasana menjadi hening. Tatapan kedua pria itu bertemu. Hendra menatapnya memberikan peringatan, sedangkan Ibra dengan tatapan dinginnya yang tajam."Anda harus menjaga dia. Jika seujung kuku saja dia terluka, saya akan menjemputnya dan membawanya pergi," ucap Hendra sebelum mundur.Ibra menarik tangan Aya, menggenggamnya erat. Aya merasa tubuhnya gemetar saat bersentuhan dengan kulit Ibra.







