Share

Bab 87

Penulis: Rizu Key
last update Tanggal publikasi: 2026-02-10 20:38:08

"Emmmhhh...." Lenguhan pelan itu terdengar. Aya membuka kedua matanya dan menoleh ke arah suaminya.

Pagi itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menerangi kamar yang mewah. Aya baru saja bangun. Tubuhnya memang terasa pegal luar biasa, namun tanggung jawabnya sebagai ibu dan istri membuatnya segera bangkit.

"Dasar Presdir mesum. Kamu selalu membuatku capek," keluhnya pelan sembari menoleh menatap suaminya yang masih memejamkan kedua matanya.

Aya segera mand
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ida Nur Hidayati
Aya hamil kayaknya tapi yang merasakan Ibra
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 198

    Pagi kedua dimulai dengan jalan-jalan santai di sepanjang garis pantai saat matahari terbit. Ibra menggendong Putra di pundaknya, sementara tangannya yang lain menuntun Aya dengan lembut."Ayah, Bunda, lihat burung itu!" tunjuk Putra pada sekelompok camar yang terbang rendah.Dunia terasa sangat sempurna bagi mereka bertiga saat itu. Tidak ada Beatrice, tidak ada pengkhianatan bisnis, dan tidak ada ketegangan yang menyesakkan. Hanya ada suara tawa anak mereka dan janji masa depan yang lebih baik dan lebih aman."Ya. Itu namanya burung camar," sahut Ibra sembari tersenyum.Udara pagi di pesisir pantai itu terasa begitu sejuk, membawa aroma garam yang segar dan sisa-sisa embun yang perlahan menguap disapu sinar matahari yang bersinar keemasan.Ibra, dengan kaos polo putih yang santai, sesekali tertawa kecil menanggapi celotehan Putra yang masih betah bertengger di pundaknya. Aya berjalan di samping mereka, gaun pantai berbahan linen yang ia kenakan berkibar lembut

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 197

    "Sebenarnya... Tuan menggunakan dana pribadinya untuk penyelidikan ini. Dan jumlahnya tidak main-main, Nyonya. Tuan mengerahkan semuanya demi menangkap dalang yang mendukung Beatrice. Apa lagi seperti yang kita tahu, dalang itu pasti memiliki latar belakang yang tidak biasa...." papar Santo sembari berbisik.Aya mengernyitkan dahi. "Begitu, ya?" gumamnya. Wanita itu merasa khawatir pada suaminya. Apa lagi dalang utama belum kunjung ditemukan.*Malam harinya, Bi Tina menyiapkan makan malam seafood bakar di teras villa. Angin malam pun berembus sejuk."Bagaimana perasaanmu? Anak kita tidak rewel, kan?" tanya Ibra sambil menyuapkan sepotong udang ke mulut Aya. Sementara pria itu pakai masker."Dia sangat tenang di sini. Sepertinya dia juga suka suara ombak. Apa lagi tadi aku mewakilinya melihat ayahnya buat istana pasir," jawab Aya dengan senyuman manis.Ibra hanya tersenyum di balik maskernya. "Udah buka aja maskernya, Mas. Ini nggak ada bawang sama sekali," bujuk Aya. Ibra terlihat

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 196

    BrukTubuh Putra bertabrakan dengan seseorang. Bocah itu pun jatuh terduduk di atas pasir dan kerang dalam genggamannya pun terlempar jatuh."Aduh...." Bocah itu mengaduh pelan."Maaf, maaf. Kamu nggak papa?" tanya seorang wanita dengan lembut sembari membantu Putra berdiri.Aya dan Ibra bergegas mendekat. Kini pasangan itu berhadapan dengan sepasang muda mudi yang baru saja ditabrak Putra tanpa sengaja."Maafin saya, Tante. Saya lah yang salah karena nabrak Tante. Tante nggak papa?" tanya Putra sembari berdiri dan menatap takut pada wanita di depannya. "Loh? Tante Gina?""Ya ampun... Putra. Kamu beneran nggak papa?" sahut Gina lembut sembari membantu Putra berdiri.Aya mendekati mereka. "Maafkan anak saya, Nona."Wanita itu pun menoleh dan tersenyum. "Nggak papa, Ay.""Ya ampun... Gina?" Aya langsung memeluk sahabatnya."Iya, Ay. Ini aku. Kamu kenapa ke sini? Liburan?" tanya Gina sembari membalas pelukan Aya."Iya." Keduanya pun mengobrol

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 195

    "Kita mau ke pantai," jawab Aya sembari tersenyum lebar.Ketika Aya menyampaikan ide itu saat mobil semakin menjauh dari rumah, Ibra sempat ragu. "Apa nggak terlalu jauh? Kamu sedang hamil, Aya.""Enggak, kok, Mas," sahut Aya."Aku khawatir kamu lelah." Ibra meraih tangan Aya dan menggenggamnya dengan lembut."Nggak papa, Mas. Lagian jaraknya hanya beberapa jam dari sini, Mas. Kita bawa Pak Santo untuk menyetir, jadi Mas bisa istirahat di mobil. Bi Tina juga ikut di mobil belakang buat bantu jaga Putra. Nanti Bi Tina bantu menyiapkan keperluan kita. Aku hanya ingin kita bertiga... ah, maksudku berempat, bersantai sejenak," ujar Aya sambil mengelus perutnya."Itu benar, Ayah. Sudah lama sekali Putra pengen ke pantai. Kita bisa liburan di sana!" seru Putra tampak ceria.Melihat binar harapan di mata istri dan anaknya, pertahanan Ibra runtuh. "Baiklah. Kalau begitu tiga hari dua malam cukup, kan? Aku akan minta Samuel menghandle semua masalah kantor."Kedua mata Aya membulat. "Tiga hari

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 194

    "Putra, mau jalan-jalan sama Ayah dan Bunda, nggak?" tanya Aya sambil mengusap kepala anaknya."Mau! Ke mana, Bun?" Kedua mata Putra langsung berbinar."Ke... Rahasia.""Yah....""Pokoknya hari ini kita liburan bareng bertiga. Gimana? Bunda jamin Putra pasti seneng," jawab Aya sembari tersenyum lebar."Mau, mau, mau!" seru Putra sembari bertepuk tangan. Lili pun terkejut dan hampir melompat dari pangkuan Putra. Meski tidak tahu ke mana tujuannya, namun bocah polos itu percaya saja pada ucapan sang ibu."Ya sudah. Kalau gitu kamu ganti baju dulu. Biar Bunda yang panggil Ayah," ujar wanita itu lembut, kembali mengusap kepala anaknya."Oke, Bunda. Kalau gitu Putra mau ganti baju dulu, ya?" sahut bocah tampan itu. Ia mendudukkan Lili di atas sofa sebelum dirinya melompat turun dan berlari menuju ke kamarnya.Aya segera berjalan menuju ke ruang kerja suaminya yang juga berada di lantai satu. Dan Lili bukannya tidur di sofa, kucing kecil berbulu putih itu malah melompat turun dan berjalan m

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 193

    Setelah momen pelepasan yang terasa hambar di kamar mandi kantor, Ibra keluar dengan langkah yang masih terasa berat. Meskipun ketegangan fisiknya sedikit berkurang, beban pikiran dan rasa rindu yang tertahan pada istrinya justru menyisakan ruang kosong di hatinya.Pria itu segera merapikan diri, mengeringkan tubuhnya dengan handuk terbeli dahulu sebelum mengenakan kemeja bersih. Ia berdiri di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya sendiri.'Sial... Kenapa sekarang aku malah semakin menginginkannya?' rutuknya dalam hati.Ibra merapikan rambutnya yang masih basah. Kedua matanya pun terpejam sejenak. "Nggak... Ini karena aku memang membutuhkannya karena sudah lama tidak melakukannya...." gumamnya pelan.Setelah beres, Ibra melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya, menyelesaikan beberapa dokumen penting.Akan tetapi, semakin ia berusaha menekan hasratnya pada Aya, pria itu semakin tak tenang. Ia p

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 59

    "Berbaliklah," ucap Ibra tiba-tiba. Aya mendongak menatap wajah tampan di bawah sinar lampu putih di dalam kamar pas tersebut."Cepat," tekannya."Saya bisa sendiri," desis Aya, mencoba menutupi punggungnya yang terekspos dengan tangannya."Diamlah. Kamu hanya akan merusak gaun mahal ini," ucap Ibr

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 56

    Ibra muncul dengan Putra yang ia gendong dengan satu tangan. Putra tampak tertawa kecil sambil memeluk bahu ayahnya, sementara Ibra berjalan dengan tenang seolah beban seberat bocah kecil itu bukanlah apa-apa baginya.Dalam pandangan Aya, mereka berdua tampak sangat serasi. Seperti dua wajah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 55

    Ibra melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah tegap, meninggalkan Aya yang masih bergelung di balik selimut dengan tatapan penuh kebencian."Ya Tuhan... kenapa jadi begini? Kenapa pria itu ingin sekali menikahiku...?" gumam Aya sembari meremat kemeja putih di pangkuannya.Setelah menutup pi

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 50

    "Ay, kamu harus makan. Jangan sampai masuk rumah sakit lagi," ucap Hendra sambil menyentuh bahu Aya dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan. Ada sorot mata yang lebih dari sekadar rasa peduli. Di dalam tatapannya, ada rasa kasih sayang yang telah lama Hendra pendam untuk Aya.Pemandangan itu men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status