MasukLucien dan beberapa prajurit pilihan telah menunggu di dekat tangga lantai atas, sementara beberapa prajurit lainnya tetap berjaga di depan pintu kamar utama.Begitu Aaron menapakkan kaki di anak tangga paling atas, Lucien segera melangkah maju untuk menyambut Sang Alpha. Para prajurit yang berada di dekat tangga serentak menegakkan tubuh dan menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.“Tuan.”Aaron tidak memperlambat langkahnya. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot mata hitamnya menyimpan ketegangan yang sulit disembunyikan. Sejak menerima isyarat Edward di aula, pikirannya terus tertuju pada Fay dan Arsen, disertai kekhawatiran tentang apa yang mungkin telah terjadi pada mereka.“Jelaskan apa yang terjadi,” perintahnya singkat.Lucien segera berjalan di sampingnya, mengikuti langkah panjang Sang Alpha menuju kamar utama.“Hendra menyerang Tuan Muda Arsen menggunakan belati perak yang memiliki ukiran simbol kuno. Namun, sebelum senjata itu sempat mengenai tubuh Tuan Muda, auranya
Edward tidak membuang waktu dan sengaja berjalan langsung ke arah kerumunan para tetua dan Dewan Klan.Beberapa dari mereka segera bangkit untuk menyambutnya."Tuan Johnson, sungguh suatu kehormatan bertemu dengan Anda secara langsung," ujar salah satu anggota Dewan sambil mengulurkan tangan. "Kami telah mendengar banyak hal mengenai kerja sama Anda dengan perusahaan kami."Edward menjabat tangannya dengan ramah. "Saya senang kerja sama tersebut memberikan hasil yang baik bagi semua pihak.""Tanpa dukungan Anda, pengembangan Proyek Utara tentu akan menghadapi lebih banyak hambatan," sahut anggota Dewan lainnya. "Kami sangat menghargai kepercayaan yang Anda berikan kepada Aaron.""Kepercayaan harus dibangun melalui hasil," jawab Edward tenang. "Dan sejauh ini, Aaron telah menunjukkan bahwa ia mampu memenuhi komitmennya."Jawaban itu membuat beberapa anggota Dewan mengangguk puas.Para anggota dewan yang tergiur akan kekuasaan finansial tampak sangat antusias, berulang kali mengucapkan
Di lantai bawah, pesta pernikahan masih berlangsung.Cahaya lampu kristal menyinari seluruh aula, memantulkan kilauan indah pada gaun-gaun mewah para tamu wanita dan setelan formal para tamu pria. Musik lembut mengalun, berpadu dengan percakapan para tamu yang menikmati jamuan.Tidak seorang pun menyadari bahwa sebuah insiden berbahaya baru saja terjadi di lantai atas.Para pelayan tetap bergerak sesuai tugas mereka. Para petugas keamanan yang menyamar sebagai staf hotel pun masih menempati posisi masing-masing, menjaga jalur keluar dan area penting tanpa menarik perhatian.Namun, suasana di sekitar panggung langsung berubah ketika Edward muncul di tangga utama dengan tenang, elegan, dan penuh wibawa.Begitu sosoknya terlihat di atas tangga melingkar, hampir seluruh pasang mata di pesta pernikahan beralih padanya.Kehadiran Edward yang memancarkan aura dominan seketika mencuri perhatian. Para tamu berbisik-bisik, mengamati penampilannya dan menebak-nebak siapa sosok tersebut."Siapa p
Di luar kamar, langkah kaki para prajurit terdengar semakin ramai.Lucien masih berdiri di dekat jendela yang pecah. Tatapannya mengikuti arah pelarian Hendra. Rahangnya mengeras. Ia tahu satu hal. Hendra memang telah melarikan diri. Namun, yang lebih berbahaya dari pelarian itu adalah alasan di balik tindakannya.Pria itu tidak sekadar menyerang Arsen. Ia juga mengarahkan belati perak kepada Fay.Dan sekarang, semua pertanyaan yang selama ini tersembunyi di balik sikap Hendra mulai muncul ke permukaan.Pertanyaan yang mungkin hanya dua orang yang mampu menjawabnya.Hendra sendiri, atau ... Elena.Lucien berbalik. Pandangannya langsung jatuh kepada kedua wanita yang masih berdiri membeku di dekat boks bayi.Fay menatap kosong ke arah jendela, sementara Elena tampak kehilangan seluruh kekuatannya. Air mata membasahi pipinya, dan tubuhnya masih gemetar seolah belum mampu menerima kenyataan yang baru saja menghantamnya.Namun, sebelum Lucien sempat mendekat, beberapa prajurit bergegas ma
Fay menghela napas lega, tidak menyadari ketegangan tak kasatmata yang baru saja terjadi. Ia berjalan lebih dahulu, diikuti oleh Elena, Hendra, serta Lucien yang mengekor rapat di belakang mereka dengan kewaspadaan penuh.Mereka memasuki kamar utama yang luas dan mewah. Sebuah boks bayi dari kayu ukiran mahal berdiri anggun di dekat tempat tidur utama.“Biar Ibu bantu, Fay,” bisik Elena dengan suara lembut.Elena segera membimbing Fay mendekati boks bayi. Keduanya sibuk menata bantal kecil dan menyesuaikan selimut lembut yang menutupi tubuh Arsen."Lihatlah dia, Fay ...," gumam Elena dengan senyum hangat, "bahkan saat tidur, cucuku terlihat sangat tampan."Jemari Elena menyentuh tangan kecil Arsen dengan penuh kasih sayang.Untuk sesaat, suasana kamar terasa begitu damai. Kasih sayang seorang ibu dan nenek memenuhi area di sekitar boks bayi itu.Di saat Fay dan Elena sepenuhnya terfokus oleh bayi kecil itu, serta Lucien yang berdiri berjaga tepat di depan pintu yang tertutup, Hendr
Sejak awal, Aaron tidak pernah menganggap pesta pernikahannya sebagai sebuah perayaan biasa.Pengamanan di seluruh area hotel telah disusun sedemikian ketat sehingga hampir tidak ada pergerakan yang luput dari pengawasan.Setiap pintu masuk dijaga. Setiap lorong dipantau. Bahkan para prajurit pilihan yang menyamar sebagai staf hotel telah ditempatkan di berbagai titik strategis.Karena itu, ketika Hendra membawa Fay dan Arsen menuju lantai atas, beberapa prajurit yang berjaga di ujung tangga langsung bergerak.Mereka menghadang tepat di depan tangga."Berhenti."Fay, Elena, dan Hendra seketika menghentikan langkahnya."Mohon maaf, Nyonya Fay," ujar salah satu prajurit dengan suara berat penuh penghormatan, namun tegas tanpa kompromi. "Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati area ini tanpa izin."Fay mengedipkan mata, terkejut dengan penjagaan seekstrem itu. "Tapi ... aku hanya ingin menidurkan Arsen.""Kami memahami itu." Prajurit tersebut tetap berdiri tegak. "Namun, kam
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene
Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l
“A-apa maksud—ah!”Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p
“Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b







