Beranda / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

Share

6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

Penulis: malapalas
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 11:34:20

"Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli.

"Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu untuk memahami posisimu sekarang."

​Tanpa peringatan, Aaron mencengkeram pergelangan tanganku. Kekuatannya tidak masuk akal, membuatku tersentak dan tak bisa melepaskan diri. Ia menyeretku, lalu menarikku keluar dari ruang rapat.

​Kami melewati lorong panjang Lantai 20 yang sunyi. Sekretaris senior yang tadi diperintahkannya hanya menunduk saat kami lewat, tidak berani menatap ke arah kami. Aku mencoba melepaskan diri, tapi Aaron bahkan tidak bergeming, seolah aku hanya seekor anak kucing yang sedang meronta.

​"Aaron! Lepaskan! Ini pelecehan!" seruku, tapi suaraku hanya memantul sia-sia di dinding lorong yang sunyi.

Langkah Aaron terhenti di depan sebuah lukisan abstrak berukuran besar di dinding. Di luar dugaan, terdengar suara klik mekanis dan lukisan itu berputar searah jarum jam, menyingkap sebuah lorong sempit dengan pintu baja di ujungnya. Pintu itu terbuka otomatis saat Aaron mendekat. Ia mendorongku masuk ke dalam ruangan di balik pintu tersebut.

​Brak! 

​Pintu tertutup otomatis di belakangku, terdengar suara kunci elektronik yang mengklik kuat.

​Aku berbalik, menatap pintu yang tertutup rapat, lalu beralih menatap ruangan yang baru saja kumasuki. Ini bukan sekadar ruangan asisten. Ini adalah sebuah kantor yang luas dengan perabotan mewah dan modern, namun ... terisolasi.

Jendelanya besar, tapi aku yakin kaca itu anti peluru dan tidak bisa dibuka. Hanya ada satu pintu keluar, pintu yang baru saja dikunci oleh Aaron dari luar.

​"Ini penjara," desisku.

​Tiba-tiba suara Aaron terdengar dari pengeras suara yang tersembunyi di ruangan.

​"Ini tempat barumu, Fay. Semua kebutuhanmu akan dipenuhi di sini. Kamu nggak perlu keluar dan nggak ada yang bisa masuk tanpa izin dariku," ucapnya, suaranya terdengar jernih namun sangat dingin. "Kamu punya waktu lima belas menit sebelum aku memberimu tugas pertama."

​Aku terduduk di lantai, menatap sisa serpihan surat pengunduran diriku yang masih terselip di saku rokku. Air mata kembali jatuh tanpa permisi. Aku tidak hanya gagal melarikan diri, tapi sekarang aku benar-benar terkurung di dalam kandang sang predator.

Aku mencoba menarik napas panjang, berusaha mengendalikan tremor di tanganku. Ruangan ini terlalu kedap suara, terlalu mewah, dan terlalu ... menyesakkan.

Baru saja aku hendak memeriksa apakah ada celah di jendela besar itu, suara bariton Aaron kembali menggelegar melalui interkom, membuatku tersentak.

​"Lima belas menit sudah lewat, Fay. Masuk ke ruanganku. Sekarang."

​Bunyi klik magnetik terdengar dari pintu penghubung di sisi kiri ruangan. Dengan langkah berat, aku mendorong pintu itu. Ruangan kerja Aaron jauh lebih luas dengan aroma hutan yang kini terasa seratus kali lebih tajam.

​Aaron duduk di balik meja besarnya, namun ia tidak sedang menatap layar komputer. Ia sedang menatap sebuah kantong belanja mewah yang terletak di atas meja.

​"Duduk," perintahnya tanpa menatapku.

Aku duduk di kursi beludru di hadapannya, meremas jemariku sendiri. "Tugas apa yang Anda inginkan? Jika ini soal administrasi—"

​"Bukan," potongnya tajam. Ia menggeser kantong belanja itu ke arahku. "Tugas pertama kamu ... pakai ini. Sekarang juga. Di ruangan ini."

​Aku mengerutkan kening, ragu-ragu membuka isinya. Jantungku mencelos. Di dalamnya bukan berkas, melainkan sebuah jaket hoodie berbahan kasmir yang sangat halus dan mewah, salah satu jaket dengan serat alami paling premium di dunia yang menawarkan kombinasi kelembutan, kehangatan, dan kenyamanan yang tak tertandingi. Di dalamnya juga ada sebuah syal rajut. Padahal suhu di dalam gedung ini sudah diatur sangat nyaman.

​"Aaron, ini musim panas. Dan AC di sini sudah cukup dingin," protesku bingung.

​Aaron berdiri, perlahan berjalan dan berhenti tepat di belakang kursiku. Aku bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuhnya di belakang punggungku. 

​"Aku nggak peduli dengan musim, Fay," bisiknya tepat di telingaku, suaranya rendah dan serak. "Pakai itu. Tutupi lehermu dan seluruh kulitmu. Aku nggak ingin ada aroma lain yang menempel padamu, dan aku nggak ingin staf pria lain yang lewat di depan ruangan ini bisa melihat sekilas pun kulitmu dari celah pintu."

​Aku terpaku. "Ini berlebihan, Aaron. Saya staf Anda, bukan tawanan."

​"Kamu adalah milikku," koreksinya dengan penekanan yang tegas.

Ia mengambil syal itu, lalu dengan gerakan posesif yang anehnya lembut, ia melingkarkannya di leherku. Kain itu terasa hangat di kulitku yang dingin, sengaja menutupi denyut nadiku yang berpacu kencang, seolah ia sedang menyembunyikan ketakutanku, atau mungkin agar hanya dia yang bisa merasakannya. 

Tangannya sempat bersentuhan dengan kulit leherku, dan seketika itu juga, aku merasakan sengatan listrik yang aneh, panas dan mendebarkan.

​"Tugas kedua," lanjutnya, matanya kini berkilat keemasan saat menatap tepat ke mataku. "Mulai sekarang, kamu hanya boleh makan apa yang aku sediakan. Jangan menyentuh makanan dari kantin atau pemberian siapa pun."

​Ia mengambil sebuah kotak bekal perak dari laci mejanya. "Habiskan ini, di depanku. Aku perlu memastikan benihku mendapatkan nutrisi yang tepat."

​Aku menelan ludah dengan susah payah. Dia bukan hanya posesif padaku, tapi dia sudah mulai mengklaim keberadaan janin yang bahkan aku sendiri belum sanggup mengakuinya.

​"Kenapa Anda melakukan ini?" tanyaku lirih, hampir menangis.

​Aaron terdiam sejenak, jemarinya menyentuh daguku, memaksaku untuk terus menatap mata elangnya. "Karena dalam duniaku, Fay, apa yang sudah ditandai nggak akan pernah dilepaskan. Dan kamu ... sudah ditandai oleh instingku sejak malam itu."

....................***................... 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Arjuni Sampe Mapandin
keren lnjut
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Sang Alpha   260. Dosa yang Tak Terhapus

    Aaron masih menggenggam kedua tangan Fay. Namun, kali ini tidak ada lagi senyum di wajahnya.Raut wajah pria itu tampak begitu serius, seolah apa yang akan diceritakannya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan luka yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar sembuh.“Fay...,” panggil Aaron pelan."Ya?"“Apa kamu masih ingat saat aku pernah menceritakan bagaimana kedua orang tuaku meninggal malam itu?”Fay menelan ludah.Tentu saja ia masih mengingatnya.Bagaimana mungkin ia melupakan kisah tentang seorang anak berusia delapan tahun yang pulang untuk menemui kedua orang tuanya, tetapi justru mendapati rumahnya telah berubah menjadi tempat kematian?“Aku ingat,” jawab Fay lirih.“Malam itu juga....” Suara Aaron terdengar begitu berat. “Tubuh kecilku akhirnya kehilangan kendali.”Fay terenyak. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat mendengar pengakuan itu.Aaron menghela napas pelan, lalu mulai menceritakan apa yang selama ini tersimpan jauh di dalam dirinya.“Malam itu huj

  • Anak Rahasia Sang Alpha   259. Masa Lalu yang Terkubur

    “Aku nggak cemburu,” gumam Fay, menyuarakan pembelaan terakhirnya yang terdengar rapuh.“Fay,” panggil Aaron pelan.Lengan kokohnya yang melingkar di pinggang Fay sedikit mengetat, seolah menuntut kejujuran tanpa perlu ada dusta di antara mereka.Fay meremas pelan kemeja Aaron, menyalurkan rasa sesak yang mulai membelit. “Aku cuma nggak suka dia.”“Kenapa?” tanya Aaron. Pria itu sedikit memiringkan kepala, berusaha menangkap ekspresi Fay yang mulai meredup.“Karena dia juga nggak suka aku.”Aaron terdiam. Sorot matanya melembut, dipenuhi rasa bersalah yang mendalam saat menyadari ada luka tersembunyi di balik kemarahan wanitanya.Fay melanjutkan dengan wajah semakin murung. Ia menatap lurus pada kancing kemeja Aaron dengan tatapan terluka.“Dia datang ke kamar Arsen, mengancam mau mengambilnya, menyebut darah anak kita sebagai masalah, lalu bicara kepadamu seolah aku ini nggak ada.”Aaron mendengarkan tanpa menyela, membiarkan perempuan itu menumpahkan seluruh unek-uneknya.“Aku tahu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   258. Kecemburuan Sang Luna

    Aaron mengernyit. “Fay?”Nada suaranya begitu tenang dan sabar.“Kenapa harus menikah denganku?” tanya Fay tiba-tiba, terdengar tajam dan menusuk.Alis Aaron bertaut bingung. Ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan itu.“Karena aku mencintaimu.”Fay menepis tangan Aaron dari dagunya, berusaha tak terpengaruh akan jawaban pria itu.“Harusnya kamu nikahi Lira saja,” sahutnya dengan bibir cemberut.​Aaron tercengang sesaat. Lira?Kali ini ia benar-benar tidak menyangka nama itu akan muncul.Fay sendiri merasa dadanya semakin panas setelah mengucapkannya. Ia tahu dirinya terdengar kekanak-kanakan. Namun, setiap kali mengingat cara wanita itu berbicara kepada Aaron, bagaimana ia menyebut nama Aaron dengan begitu lembut, dan bagaimana ia mengungkit bahwa Aaron pernah melindunginya, hatinya terasa sakit.Yang paling membuatnya kesal adalah Aaron tidak menjelaskan siapa wanita itu.Dan semakin Aaron diam, semakin banyak hal yang berputar di kepala Fay.“Kenapa diam?” tanya Fay ketus.I

  • Anak Rahasia Sang Alpha   257. Kejutan Sang Alpha

    Sepulang dari kantor, Aaron tidak langsung menuju kamar. Begitu memasuki mansion, pria itu justru berbelok menuju rumah kaca. Sejak mengetahui tempat itu menjadi salah satu tempat favorit Fay, Aaron tidak pernah menyesal telah membangunnya. Bahkan calon ibu mertuanya, juga terlihat semakin menyukai bangunan beratap kaca itu. Ketika pintu rumah kaca dibuka, aroma bunga langsung menyambutnya. Cahaya sore menembus atap kaca dan jatuh di antara deretan tanaman yang tertata rapi. Aaron melangkah masuk. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. Di salah satu sudut ruangan, Fay sedang duduk di kursi santai sambil menggendong Arsen. Di sampingnya, Elena duduk dengan secangkir teh di tangan. Sepiring kue berada di atas meja kecil di antara mereka. Keduanya tampak sedang bercanda. Sesekali terdengar tawa ringan Fay, disusul senyum Elena ketika melihat cucunya yang menggeliat kecil dalam pelukan ibunya. Mereka begitu menikmati suasana hingga sama sekali tidak menyadari kehadiran Aaron. Pr

  • Anak Rahasia Sang Alpha   256. Strategi Sang Alpha

    Adrian dan Lucien berdiri kaku di tempatnya. Keduanya tahu hubungan Aaron dan Fay bukan lagi sekadar hubungan antara seorang Alpha dan pasangannya.Fay telah menjadi bagian terpenting dalam hidup Aaron. Namun, mengadakan pernikahan besar dalam keadaan seperti sekarang berarti membuka seluruh kehidupan mereka kepada lebih banyak orang."Tuan." Adrian akhirnya bersuara. "Anda serius?"Aaron menatapnya datar. "Ya."Ia justru tampak sudah memikirkan hal tersebut.“Aku ingin semuanya disiapkan dengan sempurna,” ucapnya tenang.Adrian perlahan mengambil buku catatannya. “Seberapa besar pesta yang Anda inginkan, Tuan?”“Sebesar mungkin.” Tidak ada keraguan dalam jawabannya. “Aku ingin pesta yang layak untuk seorang Luna.”Adrian menghentikan gerakan tangannya. Sementara Aaron yang duduk di kursi terlihat begitu santai.“Fay nggak akan mendapatkan pesta kecil yang hanya dihadiri beberapa orang. Aku ingin semua orang tahu kedudukannya.”Tatapannya berubah lebih serius.“Dia adalah pasanganku.

  • Anak Rahasia Sang Alpha   255. Titah Tanpa Ragu

    Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung utama perusahaan.Aaron turun dengan langkah tenang, mengenakan setelan hitam yang rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya tetap datar seperti biasa, sementara Lucien turun beberapa detik kemudian dan langsung berjalan di belakangnya.Aaron tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berjalan menuju pintu utama. Begitu ia melangkah masuk, seketika itu juga suasana berubah.Udara seolah membeku. Percakapan terhenti tepat di tengah kalimat, dan kesibukan pagi terserap ke dalam keheningan yang mendadak.Seluruh karyawan yang berada di lantai bawah, terutama para staf wanita, menghentikan aktivitas mereka secara serentak.Tatapan mereka langsung tertuju kepada satu orang yang baru saja memasuki gedung.Aaron.Tidak ada yang benar-benar terkejut melihatnya berada di sana. Bagaimanapun, dia adalah CEO mereka. Namun, setiap kali Aaron muncul, reaksi yang sama selalu saja terjadi.Mereka tetap sulit mengalihkan pandangan.Wajah tampan itu seolah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   73. Predator yang Terbangun

    Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.​Ia bisa merasakannya dengan jelas

  • Anak Rahasia Sang Alpha   67. Ketika Pemburu Mulai Saling Membaca

    ​​Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.​Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la

  • Anak Rahasia Sang Alpha   58. Api yang Dibawa Pulang

    Jessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   55. Kembalinya Sang Predator

    Udara di lantai eksekutif pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Aaron terdengar tenang namun mematikan, menggema di lorong yang sunyi. Di belakangnya, Aldrick dan Lucien berjalan dalam diam, memberikan aura perlindungan yang sangat kuat. Tidak ada satu pun staf atau karyawan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status