Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 5. Aroma yang Menjerat

Share

5. Aroma yang Menjerat

Author: malapalas
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-05 15:24:32

Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.

​"Fokus, Fay," bisikku pada diri sendiri.

​Namun, fokusku hancur saat suara berat Aaron mengambil alih seisi ruangan. "Hentikan presentasinya."

Suasana mendadak hening. Manajer pemasaran yang sedang bicara terdiam kaku.

"Kalian semua keluar. Kecuali Fay," perintahnya, membuatku terbelalak syok.

Rekan-rekanku saling pandang dengan bingung namun tak berani membantah. Satu per satu peserta rapat meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru. Dalam sekejap, ruang rapat besar itu kosong.

Hanya tersisa aku, Aaron, dan kebenaran yang mengerikan di dalam perutku.

​Aaron masih duduk di kursi kebesarannya. Ia tidak bergerak, hanya menatap lurus ke arah jendela besar yang memenampilkan pemandangan kota. Keheningan di antara kami terasa begitu menyesakkan, jauh lebih menakutkan daripada konfrontasi apa pun yang pernah kuhadapi.

​"Kemari, Fay."

​Suaranya memecah kesunyian, tidak keras namun mengandung perintah yang mustahil untuk diabaikan.

​Aku melangkah mendekat, setiap ketukan sepatuku di atas lantai marmer terdengar seperti detak jantungku yang berpacu di ujung maut. Aku berhenti tepat di samping mejanya, menjaga jarak aman yang mungkin hanya sejauh satu meter, namun terasa seperti jurang yang sangat dalam.

​"Pak Aaron...." Suaraku bergetar, lebih parah dari yang kubayangkan.

"Sudah aku katakan, panggil aku Aaron."

"I-iya, Aaron," ucapku terbata-bata.

​Ia memutar kursinya perlahan. Tatapannya kini tertuju tepat pada mataku. Tajam, menyelidik, dan penuh dengan emosi yang tidak bisa kupahami.

​"Apa yang ingin kamu katakan?" tanyanya datar. Ia melirik saku rokku, seolah mata elangnya bisa menembus kain dan membaca isi surat di dalamnya.

​Inilah saatnya. Jika aku tidak pergi sekarang, mungkin aku tidak akan pernah bisa pergi selamanya.

Aku menarik napas panjang, mengabaikan rasa mual yang tiba-tiba menyerang perutku, lalu mengeluarkan amplop itu dengan tangan yang gemetar hebat.

​"S-saya ... saya ingin menyerahkan ini." Aku meletakkan surat itu di atas meja kerjanya. "Saya ingin mengundurkan diri. Hari ini juga."

​Hening.

​Aaron tidak segera mengambil surat itu. Ia justru menatap amplop putih itu seolah itu adalah benda paling menjijikkan yang pernah ia lihat. Rahangnya mengeras, dan aku bisa bersumpah aku mendengar suara geraman rendah yang keluar dari tenggorokannya, suara yang tidak terdengar seperti suara manusia normal.

​"Mengundurkan diri?" ulang Aaron, suaranya kini berubah menjadi sangat rendah, menyerupai desisan yang berbahaya.

​"I-iya. Saya rasa ... posisi asisten pribadi nggak sesuai untuk saya. S-saya ingin mencari suasana baru di luar kota," jawabku berbohong, berusaha menutupi fakta bahwa aku sebenarnya sedang melarikan diri darinya.

​Tiba-tiba, Aaron berdiri dengan gerakan yang begitu cepat hingga aku tidak sempat berkedip. Sebelum aku bisa mundur, ia sudah berdiri di depanku dan mengambil surat itu, menatapnya sekilas, lalu dengan satu gerakan kasar, ia merobek amplop itu menjadi dua bagian, lalu empat, hingga menjadi serpihan kecil yang jatuh ke lantai.

​"Aaron!" seruku kaget. 

​"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah apa yang terjadi malam itu?" bisiknya.

Wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aroma hutan setelah hujan darinya menyergap indra penciumanku, membuat kepalaku pening dan jantungku berdegup kencang.

​Aku meremas ujung rokku hingga kukuku memutih. "S-saya hanya anak magang. Saya merasa lingkungan ini juga nggak cocok untuk saya. Pengunduran diri saya adalah hal yang wajar."

​"Wajar?" Ia terkekeh, suaranya lebih terdengar seperti sindiran daripada tawa ringan. "Mengundurkan diri tepat setelah malam itu, tanpa sepatah kata pun? Bagiku, Fay, itu sama sekali nggak wajar."

Ia kemudian mengitariku seperti seekor pemangsa yang sedang menilai titik lemah buruannya.

Setiap derap langkahnya membuat bulu kudukku berdiri, dan aku bisa merasakan tatapannya yang tajam menyapu tengkukku. Ada sesuatu yang aneh dari caranya bergerak, begitu tenang, namun menyimpan kekuatan yang meledak-ledak. Aku merasa seperti sedang terjebak di dalam ruangan sempit bersama seekor hewan buas yang sedang menyamar.

​"Kamu pergi karena takut," lanjutnya. Suaranya kini lebih lembut, namun lebih mengancam.

​"Nggak, saya nggak takut," ucapku, berusaha mengelak, meskipun aku sendiri tahu ketakutan tengah membelitku begitu kuat.

​"Bohong," bisiknya lembut tepat di belakang leherku, seketika menciptakan kejut listrik halus yang merambat ke kulitku. "Aku bisa mendengar detak jantungmu dari sini. Sangat cepat dan kacau."

​Ia memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang memabukkan. Bau maskulin yang memicu ingatan-ingatan panas yang ingin kukubur dalam-dalam.

​"Aroma tubuhmu nggak berubah, Fay," bisiknya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Manis, seperti hujan di musim kemarau."

​"Apa maksud Anda? Tolong biarkan saya pergi." Suaraku bergetar hebat.

​"Pergi? Setelah apa yang kita lalui di malam itu?" Ia menarik satu helai rambutku, menghirupnya dalam-dalam. "Kamu pikir semudah itu meninggalkan apa yang sudah ditandai?"

​Aku tersentak, jantungku berdegup kencang karena pilihan katanya yang begitu ganjil.

Ditandai? Apa maksudnya?

Kalimat itu terdengar begitu posesif, seolah aku adalah sebuah barang atau wilayah kekuasaan yang telah ia beri cap permanen. Pikiranku mencari-cari logika di balik ucapannya, mungkin itu hanya kiasan pria berkuasa yang terbiasa memiliki segalanya, namun cara dia mengatakannya terasa jauh lebih dalam, lebih mengikat, dan jauh lebih nyata daripada sekadar gertakan bos besar.

​Pandangannya turun, tertuju tepat ke arah perutku yang masih rata. Matanya berkilat, bukan lagi berwarna hitam, melainkan kilatan keemasan yang membuat seluruh tubuhku bergidik ngeri.

Aku terkesiap, tanganku refleks menutupi perutku. 

​"Ada sesuatu yang tertinggal di antara kita, kan?" Wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajahku. "Sesuatu yang menjadi milikku, yang coba kamu bawa lari."

​Jantungku nyaris berhenti.

Bagaimana mungkin dia tahu? Rahasia ini baru saja kudapatkan, dan ibu adalah satu-satunya yang tahu.

"Saya nggak ngerti apa yang Anda maksud," ucapku ketakutan setengah mati.

​"Jangan mencoba membodohiku, Fay," geramnya. Mata keemasannya seolah membakar wajahku. "Naluriku nggak pernah salah. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang berdenyut di sana, sesuatu yang berasal dariku."

​Ia tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, tapi lebih seperti keyakinan.

"Kamu nggak akan pergi ke mana pun, Fay. Kamu nggak akan bisa, dengan rahasia yang kamu bawa di dalam sana."

​"Kenapa Anda lakuin ini? Tolong, lepasin saya, Aaron!" teriakku putus asa, terjepit di antara ketakutan dan rasa mual yang kembali menyerang.

Aku berusaha mendorong dadanya, namun tanganku justru bertemu dengan bidang keras yang hangat, seolah mencoba meruntuhkan tembok batu.

​"Karena kamu sudah terikat denganku, Fay," sahutnya. "Kamu adalah milikku. Begitu juga dengan apa pun yang ada di dalam dirimu."

..................***................... 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Anak Rahasia Sang Alpha   245. Duka di Balik Kemegahan

    Aku mengikuti Bu Sarah sambil menggendong Arsen.Sebenarnya, Aaron sudah menyiapkan kursi roda untukku, tetapi aku menolaknya. Aku masih cukup kuat menaiki tangga ke lantai dua. Terlebih lagi, obat khusus dari Dokter Reynard bekerja dengan baik. Aku bisa merasakan tenagaku berangsur-angsur pulih.Bu Sarah berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Dua orang pelayan berdiri di sisi pintu, lalu segera membukanya perlahan.Aku melangkah masuk. Dan seketika aku terdiam. Mataku membulat.Kamar itu begitu indah hingga aku bahkan lupa melangkah. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap seluruh ruangan dengan perasaan yang sulit kuungkapkan.Dindingnya didominasi warna putih lembut dengan sentuhan abu-abu muda dan emas yang memberikan kesan hangat, elegan, tetapi tetap menenangkan. Cahaya lampu kristal di langit-langit tidak terlalu terang, seolah sengaja dipilih agar nyaman bagi mata bayi.Di sisi kanan terdapat sebuah boks bayi berukuran besar dengan ukiran sederhana berbent

  • Anak Rahasia Sang Alpha   244. Kepulangan Sang Pewaris

    Setelah meninggalkan laboratorium medis tersembunyi milik Aaron, helikopter pribadi itu melaju menembus langit malam.Helikopter tersebut dikirim dari kawasan hutan pinus atas perintah Aldrick melalui ikatan batin, tepat setelah Aaron memutuskan membawa Fay dan Arsen kembali ke mansion. Semua dipersiapkan dengan cepat dan cermat demi memastikan perjalanan sang Luna serta sang pewaris berlangsung nyaman tanpa gangguan.Fay duduk bersandar dengan nyaman di dalam kabin, memeluk Arsen yang tengah tertidur tenang dalam dekapannya. Di samping mereka, Aaron duduk tanpa suara.Sejak helikopter lepas landas dan mengudara, tatapannya hampir tidak pernah beralih dari Fay dan putranya. Sesekali tangannya terulur untuk memastikan selimut Arsen tetap menutupi tubuh mungil tersebut dengan sempurna.Fay menatapnya sambil tersenyum kecil. "Kamu sudah memeriksa selimutnya entah berapa kali."Aaron tidak terlihat merasa bersalah. "Belum cukup."Fay terkekeh pelan. "Dia sedang tidur.""Aku tahu.""Jadi k

  • Anak Rahasia Sang Alpha   243. Target yang Salah

    "Ayah ... apakah Ayah tahu sesuatu?" bisik Jessi ragu."Jadi selama ini kamu bahkan tidak tahu siapa yang sedang kamu ikuti?!""Maksud Ayah apa?" tanya Jessi semakin bingung."Kamu benar-benar tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan, Jessi. Damian adalah kaki tangan Marcus yang diperintahkan dalam pembantaian berdarah itu."Dunia Jessi seakan berhenti. "Apa...?"Pendengaran Jessi mendadak berdenging panjang.Nama Damian dan kata 'pembantaian' berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang nyata. Oksigen di sekitar terasa lenyap, membuatnya terpaku dengan bibir bergetar tanpa mampu mengeluarkan suara.Jessi tahu bahwa ayahnya pernah bekerja sama dengan Tetua Marcus dalam serangkaian pembantaian di berbagai tempat, termasuk di kediaman pribadi orang tua Aaron. Semua itu dilakukan demi memenuhi kesepakatan perjodohan dirinya dengan sang Alpha ketika dewasa nanti. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa Damian juga terlibat dalam tragedi berdarah yang telah merenggut begitu banyak nyawa terse

  • Anak Rahasia Sang Alpha   242. Murka Sang Ayah

    Ruangan perawatan VVIP itu sunyi. Jessi masih terbaring dengan wajah pucat, sementara suara monitor jantung terdengar teratur dari sisi ranjang.Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja menjalani operasi setelah terluka parah akibat serangan Aaron. Pergelangan tangannya yang patah telah ditangani dan diposisikan kembali dengan prosedur medis. Namun, kondisi yang paling mengkhawatirkan bukanlah patah tulangnya.Hantaman Aaron telah menyebabkan trauma serius pada bagian dalam tubuh Jessi. Karena itu, dokter memutuskan untuk terus mengawasinya setelah operasi.Salah satu dokter yang menangani Jessi sejak awal adalah dokter spesialis yang sudah lama bekerja di rumah sakit tersebut. Bagi seluruh staf rumah sakit, ia hanyalah dokter senior dengan reputasi sangat baik. Namun, Stanley mengetahui identitas lain yang disembunyikan pria itu.Ia adalah salah satu dokter klan yang ditempatkan di rumah sakit tersebut. Keberadaannya memungkinkan beberapa anggota klan mendapatkan penanganan medis modern

  • Anak Rahasia Sang Alpha   241. Kelahiran Sang Pewaris

    Suara tangisan itu pecah membelah keheningan yang mencekam. Bukan tangisan bayi biasa, nada jeritan pertamanya menggelegar dipenuhi getaran-getaran energi gelombang murni yang tak kasatmata.Nampan stainless baja, tempat peralatan bedah, serta botol-botol sampel medis di atas meja operasi seketika bergetar hebat hingga berdenting keras. Suara itu begitu kuat hingga kaca jendela berderit kencang, menampakkan retakan-retakan halus bagaikan disapu gelombang kejut infrasonik.Tangisan itu kembali menggema.Udara di dalam ruangan mendadak terasa berat.Lampu-lampu indikator menyala liar, monitor-monitor medis berbunyi bersamaan, beberapa layar bahkan sempat mengalami gangguan sebelum kembali menyala, menandakan lonjakan aura yang belum pernah tercatat dalam sejarah laboratorium rahasia itu.Dokter Reynard membelalakkan mata. "Semua tetap tenang!"Namun suaranya sendiri terdengar tegang.Di luar ruangan, Aldrick yang berdiri menempel pada dinding kaca refleks melangkah mundur dua langkah. T

  • Anak Rahasia Sang Alpha   240. Sang Pewaris Mendengar Ayahnya

    ​"AAAAARRRGGHH!!"Fay kembali menjerit histeris.Rasa sakit itu tidak memberikan ruang untuk bernegosiasi. Rahim Fay terasa seperti dicabik-cabik dari dalam, seolah tekanan dari tubuh mungil sang pewaris mencengkeram dinding rahimnya, menghantam panggul, lalu menjalar ke seluruh saraf tubuhnya dengan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki janin mana pun."Aaron! Sakit!" Tubuhnya menegang hebat.Aaron langsung mencengkeram tangan Fay. "Aku di sini, Sayang!"Tangisan Fay mengguncang seluruh ruangan.Setiap kali kontraksi hebat itu datang, paru-paru Fay serasa kehabisan udara. Tubuhnya terangkat dari meja operasi saat gelombang kontraksi berikutnya menghantam bagaikan pukulan palu godam.Sementara Aaron, setiap mendengar jeritan Fay, jiwanya seolah-olah direnggut paksa.Dokter Reynard melangkah mendekati Aaron, menatap lurus ke arah sang Alpha yang semakin sulit mengendalikan emosinya."Hanya Anda yang bisa menyelamatkannya, Alpha!"Aaron menoleh tajam. "Apa yang harus kulakukan?""Bayi

  • Anak Rahasia Sang Alpha   99. Ayah yang Memilih Racun

    Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   94. Tatapan yang Berubah

    Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sem

  • Anak Rahasia Sang Alpha   93. Penantian Fay

    Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status