MasukRapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.
"Fokus, Fay," bisikku pada diri sendiri.
Namun, fokusku hancur saat suara berat Aaron mengambil alih seisi ruangan. "Hentikan presentasinya."
Suasana mendadak hening. Manajer pemasaran yang sedang bicara terdiam kaku.
"Kalian semua keluar. Kecuali Fay," perintahnya, membuatku terbelalak syok.
Rekan-rekanku saling pandang dengan bingung namun tak berani membantah. Satu per satu peserta rapat meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru. Dalam sekejap, ruang rapat besar itu kosong.
Hanya tersisa aku, Aaron, dan kebenaran yang mengerikan di dalam perutku.
Aaron masih duduk di kursi kebesarannya. Ia tidak bergerak, hanya menatap lurus ke arah jendela besar yang memenampilkan pemandangan kota. Keheningan di antara kami terasa begitu menyesakkan, jauh lebih menakutkan daripada konfrontasi apa pun yang pernah kuhadapi.
"Kemari, Fay."
Suaranya memecah kesunyian, tidak keras namun mengandung perintah yang mustahil untuk diabaikan.
Aku melangkah mendekat, setiap ketukan sepatuku di atas lantai marmer terdengar seperti detak jantungku yang berpacu di ujung maut. Aku berhenti tepat di samping mejanya, menjaga jarak aman yang mungkin hanya sejauh satu meter, namun terasa seperti jurang yang sangat dalam.
"Pak Aaron...." Suaraku bergetar, lebih parah dari yang kubayangkan.
"Sudah aku katakan, panggil aku Aaron."
"I-iya, Aaron," ucapku terbata-bata.
Ia memutar kursinya perlahan. Tatapannya kini tertuju tepat pada mataku. Tajam, menyelidik, dan penuh dengan emosi yang tidak bisa kupahami.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanyanya datar. Ia melirik saku rokku, seolah mata elangnya bisa menembus kain dan membaca isi surat di dalamnya.
Inilah saatnya. Jika aku tidak pergi sekarang, mungkin aku tidak akan pernah bisa pergi selamanya.
Aku menarik napas panjang, mengabaikan rasa mual yang tiba-tiba menyerang perutku, lalu mengeluarkan amplop itu dengan tangan yang gemetar hebat.
"S-saya ... saya ingin menyerahkan ini." Aku meletakkan surat itu di atas meja kerjanya. "Saya ingin mengundurkan diri. Hari ini juga."
Hening.
Aaron tidak segera mengambil surat itu. Ia justru menatap amplop putih itu seolah itu adalah benda paling menjijikkan yang pernah ia lihat. Rahangnya mengeras, dan aku bisa bersumpah aku mendengar suara geraman rendah yang keluar dari tenggorokannya, suara yang tidak terdengar seperti suara manusia normal.
"Mengundurkan diri?" ulang Aaron, suaranya kini berubah menjadi sangat rendah, menyerupai desisan yang berbahaya.
"I-iya. Saya rasa ... posisi asisten pribadi nggak sesuai untuk saya. S-saya ingin mencari suasana baru di luar kota," jawabku berbohong, berusaha menutupi fakta bahwa aku sebenarnya sedang melarikan diri darinya.
Tiba-tiba, Aaron berdiri dengan gerakan yang begitu cepat hingga aku tidak sempat berkedip. Sebelum aku bisa mundur, ia sudah berdiri di depanku dan mengambil surat itu, menatapnya sekilas, lalu dengan satu gerakan kasar, ia merobek amplop itu menjadi dua bagian, lalu empat, hingga menjadi serpihan kecil yang jatuh ke lantai.
"Aaron!" seruku kaget.
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah apa yang terjadi malam itu?" bisiknya.
Wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aroma hutan setelah hujan darinya menyergap indra penciumanku, membuat kepalaku pening dan jantungku berdegup kencang.
Aku meremas ujung rokku hingga kukuku memutih. "S-saya hanya anak magang. Saya merasa lingkungan ini juga nggak cocok untuk saya. Pengunduran diri saya adalah hal yang wajar."
"Wajar?" Ia terkekeh, suaranya lebih terdengar seperti sindiran daripada tawa ringan. "Mengundurkan diri tepat setelah malam itu, tanpa sepatah kata pun? Bagiku, Fay, itu sama sekali nggak wajar."
Ia kemudian mengitariku seperti seekor pemangsa yang sedang menilai titik lemah buruannya.
Setiap derap langkahnya membuat bulu kudukku berdiri, dan aku bisa merasakan tatapannya yang tajam menyapu tengkukku. Ada sesuatu yang aneh dari caranya bergerak, begitu tenang, namun menyimpan kekuatan yang meledak-ledak. Aku merasa seperti sedang terjebak di dalam ruangan sempit bersama seekor hewan buas yang sedang menyamar.
"Kamu pergi karena takut," lanjutnya. Suaranya kini lebih lembut, namun lebih mengancam.
"Nggak, saya nggak takut," ucapku, berusaha mengelak, meskipun aku sendiri tahu ketakutan tengah membelitku begitu kuat.
"Bohong," bisiknya lembut tepat di belakang leherku, seketika menciptakan kejut listrik halus yang merambat ke kulitku. "Aku bisa mendengar detak jantungmu dari sini. Sangat cepat dan kacau."
Ia memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang memabukkan. Bau maskulin yang memicu ingatan-ingatan panas yang ingin kukubur dalam-dalam.
"Aroma tubuhmu nggak berubah, Fay," bisiknya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Manis, seperti hujan di musim kemarau."
"Apa maksud Anda? Tolong biarkan saya pergi." Suaraku bergetar hebat.
"Pergi? Setelah apa yang kita lalui di malam itu?" Ia menarik satu helai rambutku, menghirupnya dalam-dalam. "Kamu pikir semudah itu meninggalkan apa yang sudah ditandai?"
Aku tersentak, jantungku berdegup kencang karena pilihan katanya yang begitu ganjil.
Ditandai? Apa maksudnya?
Kalimat itu terdengar begitu posesif, seolah aku adalah sebuah barang atau wilayah kekuasaan yang telah ia beri cap permanen. Pikiranku mencari-cari logika di balik ucapannya, mungkin itu hanya kiasan pria berkuasa yang terbiasa memiliki segalanya, namun cara dia mengatakannya terasa jauh lebih dalam, lebih mengikat, dan jauh lebih nyata daripada sekadar gertakan bos besar.
Pandangannya turun, tertuju tepat ke arah perutku yang masih rata. Matanya berkilat, bukan lagi berwarna hitam, melainkan kilatan keemasan yang membuat seluruh tubuhku bergidik ngeri.
Aku terkesiap, tanganku refleks menutupi perutku.
"Ada sesuatu yang tertinggal di antara kita, kan?" Wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajahku. "Sesuatu yang menjadi milikku, yang coba kamu bawa lari."
Jantungku nyaris berhenti.
Bagaimana mungkin dia tahu? Rahasia ini baru saja kudapatkan, dan ibu adalah satu-satunya yang tahu.
"Saya nggak ngerti apa yang Anda maksud," ucapku ketakutan setengah mati.
"Jangan mencoba membodohiku, Fay," geramnya. Mata keemasannya seolah membakar wajahku. "Naluriku nggak pernah salah. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang berdenyut di sana, sesuatu yang berasal dariku."
Ia tersenyum tipis. Bukan senyum hangat, tapi lebih seperti keyakinan.
"Kamu nggak akan pergi ke mana pun, Fay. Kamu nggak akan bisa, dengan rahasia yang kamu bawa di dalam sana."
"Kenapa Anda lakuin ini? Tolong, lepasin saya, Aaron!" teriakku putus asa, terjepit di antara ketakutan dan rasa mual yang kembali menyerang.
Aku berusaha mendorong dadanya, namun tanganku justru bertemu dengan bidang keras yang hangat, seolah mencoba meruntuhkan tembok batu.
"Karena kamu sudah terikat denganku, Fay," sahutnya. "Kamu adalah milikku. Begitu juga dengan apa pun yang ada di dalam dirimu."
..................***...................Lift terus bergerak meluncur ke atas, meninggalkan area lantai dua yang tenang. Namun, ketika pintunya terbuka, suasana di sekeliling kami seketika berubah.Sensasi dingin dan tegang langsung terasa di udara.Aku sempat mengira kami akan langsung melihat ruangan pribadi seperti yang ada di lantai mansion lainnya. Namun, begitu melihat keadaan di balik pintu, aku justru terdiam.Beberapa prajurit werewolf berdiri berjajar di sepanjang koridor.Mereka mengenakan pakaian seragam berwarna gelap dengan perlengkapan keamanan lengkap. Sikap mereka begitu tegap dan waspada. Ketika melihat Aaron keluar dari lift sambil menggendongku, seluruh prajurit serentak menundukkan kepala."Alpha."Suara mereka terdengar hampir bersamaan.Aku spontan melirik Aaron.Ia hanya mengangguk singkat."Bagaimana keadaan?""Aman, Alpha.""Periksa seluruh sisi luar secara berkala. Jangan ada celah dalam penjagaan.""Siap, Alpha."Aku kembali menatap para prajurit setelah mereka mengambil posisi masing-masing. Jum
Aaron membawaku berkeliling mansion, dimulai dari ruang bawah tanah yang ternyata menyimpan dunia tersendiri di balik dinding-dinding beton yang dingin.Aku membiarkan pandanganku menjelajahi setiap sudut yang kami lewati.Di balik pintu kaca tebal berteknologi tinggi, deretan mobil mewah koleksi Aaron tampak berkilau di bawah sorotan lampu. Beberapa di antaranya bahkan terlihat seperti kendaraan yang hanya pernah kulihat di majalah atau layar televisi.Namun, ternyata garasi itu bukanlah bagian paling menarik dari lantai bawah tanah ini.Aaron membawaku lebih jauh hingga berhenti di depan sebuah pintu baja tebal dengan pemindai biometrik di sampingnya."Ini apa?" tanyaku penasaran."Ruang keamanan utama."Ia menempelkan telapak tangannya pada pemindai. Setelah identitasnya dikenali, pintu baja itu terbuka perlahan.Aku langsung membelalakkan mata.Di baliknya terdapat ruangan yang dipenuhi layar pemantauan, panel komunikasi, serta peta digital yang menampilkan kondisi mansion dan are
Pagi ini aku sama sekali tidak bisa tenang.Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak bangun tidur, tetapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang salah. Perasaan tidak nyaman itu semakin kuat hingga membuatku frustrasi. Sedari tadi aku hanya mondar-mandir di dalam kamar tanpa tujuan.Aaron yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian untuk pergi ke kantor akhirnya menyadari kegelisahanku.Ia mendekat, lalu menghentikan langkahku dengan kedua tangannya yang lembut bertumpu di bahuku."Ada apa?" Tatapannya mengunci wajahku, tetapi kelembutan di sana membuatku sedikit lebih tenang."Aku ... nggak tahu." Aku menggeleng pelan. "Tiba-tiba saja aku merasa nggak enak. Rasanya seperti sesuatu telah terjadi."Aaron tersenyum kecil."Mungkin kamu terlalu lelah. Atau mungkin hormon kehamilanmu sedang membuatmu lebih sensitif, Sayang.""Tapi ini nggak seperti biasanya, Aaron. Aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang—""Baiklah." Ia memotong ucapanku dengan nada tenang. "Kalau begitu, hari ini ak
Lucien melesat menembus kabut pinus, menepis ranting dan semak yang menghalangi jalannya. Namun, begitu tiba di tempat semula, langkahnya mendadak terhenti.Tubuh nenek Fay telah tergeletak di atas tanah.Keranjang bambu yang sebelumnya berada di punggungnya terlepas dan jatuh beberapa langkah dari tubuhnya. Ranting-ranting yang baru saja dikumpulkannya berserakan di antara dedaunan kering.Lucien langsung berlari menghampiri."Nenek!"Tanpa membuang waktu, Lucien melepas paksa tali selempang keranjang yang masih tersangkut di punggung sang nenek dan menepisnya ke samping. Ia menahan punggung tua itu, mengangkat kepala nenek Fay ke pangkuannya sembari menekan luka tusukan menganga di perut sang nenek untuk menahan pendarahan."Nek, dengar saya. Anda bisa mendengar saya?"Napas sang nenek tersengal parah. Darah segar ikut merembes dari sudut bibirnya yang gemetar."Nek, bertahanlah!" panggil Lucien, rahangnya mengetat erat. "Siapa yang melakukan ini?!"Sang nenek mengangkat pandangann
Pagi itu, Elena membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur kecil rumah mereka. Udara masih terasa dingin. Aroma kayu bakar yang terbakar perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma makanan yang sedang dimasak.Elena baru saja hendak mengambil sesuatu ketika pandangannya tertuju pada tumpukan kayu di sudut dapur.Ia terdiam.Kayu bakar yang tersisa sudah hampir habis, hanya menyisakan beberapa potong ranting kering."Ibu," panggilnya. "Kayu bakarnya hampir habis."Ibunya menoleh dan ikut melihat ke sudut ruangan."Benar juga," gumamnya.Wanita tua itu kemudian berdiri dan melangkah mendekati tungku yang apinya mulai meredup, menyisakan bara merah yang perlahan tertutup abu. Setelah itu, ia menatap keluar melalui jendela kayu yang terbuka sedikit."Ibu mau ke mana?" tanya Elena. Matanya langsung melebar ketika melihat ibunya bersiap meninggalkan rumah."Mencari kayu bakar," jawab sang ibu tenang, jemarinya yang keriput sibuk mengikat tali selempang keranjang bambu di punggungnya.
Aku masih menatap Aaron ketika senyum di wajahku perlahan memudar.Beberapa saat lalu, kata-katanya terasa begitu indah."Dia anakku. Dan kamu Luna-ku.""Aku punya kalian berdua."Kalimat-kalimat itu seharusnya membuatku bahagia. Dan memang, hatiku menghangat melihat betapa tulusnya Aaron membicarakan putra kami, tentang keinginannya untuk segera bertemu, membayangkan wajahnya, bahkan menjadi ayah yang selalu ada untuknya.Ia berbicara tentang masa depan kami dengan begitu mudah.Tentang anak kami.Tentang keluarga kami.Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia sebutkan.Pernikahan.Tidak sekali pun.Aku menundukkan pandangan pada tangan kami yang masih bertaut di atas seprai. Perlahan, kebahagiaan yang tadi memenuhi dadaku bercampur dengan kegelisahan yang selama ini berusaha kuabaikan.Jika kami benar-benar akan menjadi sebuah keluarga, lalu siapa aku di dalamnya?Aku ingin menjadi lebih dari sekadar perempuan yang melahirkan anak Aaron. Aku ingin menjadi istrinya, seseorang yang di
Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene
Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin
"Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya







