Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

Share

3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

Author: malapalas
last update publish date: 2026-03-05 15:19:32

Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.

Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya lebih meledak-ledak daripada bom waktu mana pun di dunia ini.

Di dapur terdengar suara minyak yang meletup-letup dan wangi tumisan bawang putih. Biasanya bau itu selalu menjadi favoritku, tapi sore ini, wangi gurih itu justru membuat perutku mual.

​Ibu terlihat masih sibuk dengan penggorengannya.

"Kamu pucat banget, Fay," tegurnya, setelah sempat menoleh sebentar ke arahku. "Masuk angin lagi? Belakangan ini sepertinya kesehatanmu makin menurun."

Aku terdiam, tak mampu berkata apa pun. Sementara itu ibu tetap melanjutkan perkataannya.

"Jaga kesehatan, Fay. Kalau nanti kamu sakit, gimana? Jangan sampai kondisi kesehatanmu mempengaruhi pekerjaanmu," tuturnya. "Ingat, kamu masih magang. Masa depanmu masih panjang."

Pada titik itu, serasa ada suara guntur menggelegar di atas kepalaku. Saling sahut-menyahut, seolah kalimat terakhirnya tengah mengingatkanku akan tujuanku datang ke sini.

"Kenapa? Kamu kok diam terus? Ada apa?" tanya ibu memunggungiku, masih berkutat dengan masakannya.

​Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu di mulutku.

"Bu, ada yang ingin aku bicarakan," ucapku hati-hati.

​Spatula kayu di tangannya mendadak berhenti bergerak. Ibu mematikan kompor, lalu berbalik perlahan. Matanya yang tajam memindai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencari-cari kesalahan yang mungkin kubawa pulang dari kota.

​"Bicara apa? Jangan bilang kamu dipecat dari tempat magangmu," tanyanya dengan tatapan menyelidik.

​Aku menyeret langkah menuju kursi makan, menjatuhkan diri di sana dengan sisa tenaga yang ada. Jemariku saling meremas di bawah meja. Kata-kata yang sudah aku siapkan sedari tadi tiba-tiba hilang entah ke mana. 

Aku menarik napas panjang, mengatur napasku agar tetap stabil. Perlahan aku mengumpulkan keberanian untuk bicara pada ibu.

​"Aku hamil, Bu."

Seketika hening menyelimuti kami. Suara detak jam dinding di ruang tamu mendadak terdengar seperti dentuman keras di telingaku.

Satu detik, dua detik, tiga detik.

Waktu seolah berhenti di antara sunyi yang mengikat kami begitu kuat. Aku menahan napas.

​"Apa?!" Suara ibu naik satu oktaf, melengking tajam memecah kesunyian. "Coba ulangi lagi, Fay. Kamu bilang apa?"

​Dengan tangan gemetar hebat, aku merogoh saku dan meletakkan kotak tes kehamilan itu di atas meja kayu di hadapanku. Aku mendorongnya perlahan ke arah ibu, seolah benda plastik itu adalah barang haram yang tak boleh kusentuh lebih lama.

Ibu menyambarnya. Wajahnya yang semula pucat karena terkejut, berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik.

Napasnya memburu, sementara aku ketakutan setengah mati. 

​"Siapa?" Suaranya kini terdengar seperti belati yang diasah. "Siapa laki-laki itu, Fay?!"

Aku menggeleng lemah, air mata mulai merebak dan berkumpul di pelupuk mata.

"Aku nggak bisa bilang, Bu."

​"Kenapa nggak bisa?!" Ibu membentak, tangannya memukul meja hingga gelas di atasnya berdenting. "Kamu pikir ini main-main? Kamu hamil di luar nikah, Fay! Kamu tahu apa artinya ini bagi kita?"

Air mataku akhirnya jatuh dan mengalir di pipi.

Rasa bersalah dan kegelisahan tentang malam itu kembali menghantuiku. Aku merasa kotor, merasa tersesat, dan yang paling menyakitkan adalah aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada malam itu.

​Ibu berdiri dengan sentakan kasar, membuat kursi kayu itu mendecit keras di atas lantai keramik.

​"Ibu mengirimmu ke kota untuk bekerja, untuk mengangkat derajat keluarga kita, bukan untuk membawa aib!" Kalimatnya meluncur tajam, menusuk tepat di ulu hatiku. "Kamu tahu tetangga-tetangga itu mulutnya seperti apa?"

Ibu memejamkan mata, menarik napas panjang seolah tengah mati-matian menahan amarahnya.

"Kamu sadar nggak, hidupmu sudah berakhir sekarang?" katanya pelan, tapi menusuk. "Kariermu, masa depanmu, semua mimpi yang kamu banggakan itu. Semuanya hancur!"

Aku menangis. Air mataku meluap, tak terbendung. “Aku masih mau kerja, Bu. Aku bisa besarin anak ini sendiri tanpa merepotkan siapa pun.”

Ibu mendengus. “Sendiri?” Ia menatapku sinis. “Kamu pikir hidup segampang itu? Kamu itu masih anak-anak, Fay. Kamu nggak tahu apa-apa tentang kejamnya dunia bagi seorang janda tanpa suami."

​"Aku sudah dua puluh dua tahun, Bu. Aku bukan anak kecil lagi."

​"Dan usia itu tetap nggak cukup untuk menahan gunjingan orang, Fay!" Ibu berjalan mondar-mandir dengan gelisah, lalu berhenti tepat di depanku. "Kita nggak bisa biarin orang-orang tahu,” katanya tegas. "Kalau orang-orang di sini sampai tahu, kamu habis, dan ibu nggak akan sanggup menaruh muka di mana pun!"

​"Lalu aku harus gimana, Bu?"

​"Kamu pergi ke kampung."

​Jantungku rasanya berhenti berdetak. "Apa? Ke kampung?"

​"Ya, ke rumah nenek di pinggir hutan," ulangnya. "Malam ini juga kamu kemasi barang-barangmu. Kamu berangkat besok pagi."

​"Tapi pekerjaanku, Bu. Aku baru saja mulai magang dan mereka bilang kinerjaku bagus."

​"Pekerjaan bisa dicari lagi, Fay!" Suaranya menggelegar memenuhi dapur. "Tapi nama baik keluarga ini nggak bisa dibeli dengan gaji magangmu yang nggak seberapa itu. Kamu mau ayahmu tahu dan jantungan karena kelakuanmu?"

​Aku menggeleng keras, air mata jatuh makin deras. "Aku nggak mau disembunyiin seolah aku ini sampah. Ini anakku, Bu. Darah dagingku."

Ibu menatap perutku yang masih rata. Untuk sesaat, aku melihat kilat ketakutan di matanya, bukan kebencian.

"Ibu nggak membenci bayi itu, Fay. Tapi kalau sampai orang tahu, Ibu bisa dipermalukan satu desa!"

​Kalimat itu menghantamku lebih keras dari bentakan mana pun. Jadi baginya, egonya di hadapan tetangga jauh lebih berharga daripada pelukan untuk anaknya yang sedang hancur.

​"Jadi ibu malu?" tanyaku lirih, nyaris berbisik.

​Ibu terdiam, memalingkan wajah ke arah jendela di mana sisa cahaya mulai berganti malam.

​"Itu jawabannya," bisikku getir sambil menyeka air mata dengan kasar.

“Kamu berangkat besok,” katanya kemudian, suaranya dingin dan final. “Tinggallah di sana sampai kamu melahirkan. Setelah itu kita pikirkan lagi.”

Malam itu aku mengemas pakaian dalam diam. Setiap lipatan terasa seperti perpisahan. Dengan hidupku di kota, dengan mimpiku, bahkan dengan kebebasan yang kupikir masih milikku.

Sebelum mematikan lampu, aku menyentuh perutku perlahan. Ada kehangatan aneh yang menjalar ke telapak tanganku.

Sesuatu yang terasa kuat, protektif, dan … liar.

Aku tertegun sejenak, namun aku menepis pikiran yang sempat terlintas.

​"Maaf," bisikku pada janin yang bahkan belum kulihat bentuknya. "Ibu belum bisa melindungimu dengan benar.”

................ ***...............

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   280. Ancaman Dimulai

    Tidak jauh dari sana, suasana di antara para Tetua dan anggota Dewan terasa jauh berbeda.Mereka tahu bahwa penjelasan Aaron hanyalah sebuah cerita yang sengaja disusun untuk dunia manusia. Namun, justru itulah yang membuat kemarahan mereka semakin sulit ditahan.Aaron telah memilih seorang manusia sebagai Luna.Tanpa meminta persetujuan mereka.Tanpa menunggu keputusan Dewan.Dan sekarang, di hadapan ribuan manusia, ia telah mengakui wanita itu sebagai istrinya secara terbuka. Lebih dari itu, Aaron juga telah memperkenalkan Arsen sebagai putranya.Pewarisnya.Semuanya telah ditempatkan di hadapan hukum manusia seolah keputusan itu sudah final dan tidak dapat diganggu gugat.Namun, bukan hanya pengakuan Aaron terhadap Arsen yang menarik perhatian para werewolf dari berbagai klan. Tatapan mereka masih tertuju pada bayi yang berada dalam gendongan Sang Alpha.Arsen.Beberapa Tetua memperhatikannya dengan sangat serius. Bahkan sebagian anggota Dewan yang sebelumnya sibuk menahan kemarah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   279. Di Sisi Sang Alpha

    “Jadi, tidak ada yang perlu dipertanyakan mengenai waktu kelahiran putra kami.” Suara Aaron kembali terdengar tegas.Beberapa karyawan yang sebelumnya kebingungan mulai menunjukkan ekspresi berbeda.Jika Fay memang sudah mengandung sebelum bekerja di perusahaan, maka semuanya memang masuk akal.“Berarti waktu itu Fay memang sudah hamil?”“Jadi bayi itu bukan baru dikandung setelah kejadian di ruang rapat?”“Pantas saja setelah beberapa waktu dia berhenti bekerja.”“Mungkin Pak Aaron memang sengaja memintanya berhenti demi keselamatan bayi.”“Kalau begitu, gosip kita selama ini benar-benar salah.”Beberapa orang mengangguk pelan.Potongan-potongan informasi yang dulu terasa tidak masuk akal kini seolah tersusun menjadi satu.Mereka akhirnya memahami mengapa Fay tiba-tiba meninggalkan perusahaan beberapa bulan setelah bekerja di sana.Namun, pemahaman itu hanya berlaku bagi mereka yang berasal dari dunia manusia.Di antara para werewolf yang hadir, tidak ada satu pun yang terlihat terke

  • Anak Rahasia Sang Alpha   278. Skenario Sang Alpha

    Seluruh aula menunggu dalam senyap. Ribuan pasang mata tertuju kepada Aaron.Para karyawan masih diliputi keterkejutan setelah mengetahui bahwa wanita yang berdiri di samping bos besar mereka ternyata adalah Fay—mantan anak magang di Divisi Administrasi Umum. Di sudut lain, para wartawan menanti penjelasan dengan tidak sabar, sedangkan para rekan bisnis seketika menahan percakapan mereka. Sementara itu, para Tetua dan anggota Dewan hanya duduk bergeming, mengamati setiap gerak-gerik Aaron dengan tatapan tajam.Namun, Aaron tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu menoleh kepada Fay.Wajah wanita itu masih menyimpan sedikit kegelisahan. Namun, ketika tatapan mereka bertemu, Aaron memberikan senyum tipis yang menenangkan.Senyum yang seolah mengatakan bahwa semuanya berada dalam kendalinya.Fay mengembuskan napas perlahan. Ia segera membalas senyum Aaron.Setelah memastikan istrinya lebih tenang, Aaron mengalihkan pandangan kepada seluruh tamu.“Sepertinya kalian memiliki banyak pert

  • Anak Rahasia Sang Alpha   277. Identitas yang Terungkap

    “Astaga ... bukankah dia Fay?!”Suara itu terdengar dari tengah kerumunan karyawan.Beberapa kepala langsung menoleh, saling melempar tatapan tidak percaya.“Apa? Fay?”“Benar, itu Fay.”“Bukankah dia dulunya hanya anak magang?”Rekan di sebelahnya mengangguk kecil, ikut mengonfirmasi. “Ya. Setahuku, dia mantan staf magang di Divisi Administrasi Umum.”Karyawan lain yang mendengar percakapan itu sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah panggung.“Dan sekarang dia berdiri di samping Pak Aaron? Menjadi pengantinnya?”“Dia baru beberapa bulan lalu mengundurkan diri, kan?”Dalam sekejap, desas-desus itu menyebar luas, membelah kemegahan pesta pernikahan sang Alpha.Fay yang mendengar percakapan tersebut terlihat gelisah. Jemarinya tanpa sadar mengerat pada tangan Aaron.Namun, Aaron tetap tenang.Ia hanya menoleh sekilas kepada Fay, seolah memberikan isyarat agar wanita itu tidak perlu memikirkan bisikan-bisikan tersebut.Di sisi lain, Elena yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Hend

  • Anak Rahasia Sang Alpha   276. Detik yang Dinantikan

    Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengetahui bahwa setiap kemewahan yang mereka lihat telah diperhitungkan Aaron jauh sebelum hari ini.Hotel tersebut memang merupakan aset pribadi milik Aaron.Setelah mengambil alih kepemilikannya, ia tidak sekadar memperbarui tampilan bangunan. Ia mempelajari seluruh struktur hotel dari fondasi hingga lantai tertinggi, mengetahui setiap akses utama, jalur pelayanan, area parkir, tangga darurat, serta koridor yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya.Sistem keamanan lama juga telah diganti.Beberapa akses hanya dapat dibuka menggunakan otorisasi tertentu. Sejumlah jalur keluar tambahan disiapkan tanpa menarik perhatian para tamu, sementara beberapa ruangan yang tampak seperti ruang pelayanan biasa sebenarnya telah diubah menjadi titik pengawasan.Pasukan loyal Aaron pun tidak semuanya mengenakan seragam klan.Sebagian ditempatkan sebagai petugas keamanan hotel, staf pelayanan, bahkan personel teknis.Tidak ada yang terlihat mencuriga

  • Anak Rahasia Sang Alpha   275. Di Balik Ketenangan Sang Tetua

    Pintu utama hotel terbuka lebar ketika rombongan Tetua Utama Marcus dan para anggota Dewan memasuki bangunan.Begitu melewati pintu, kemegahan di luar seolah belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang menunggu di dalam.Lobi utama menjulang hingga beberapa lantai, menciptakan ruang luas yang terasa seperti aula istana modern. Lantai marmer putih mengkilap membentang tanpa cela, memantulkan cahaya dari lampu-lampu kristal berukuran besar yang menggantung dari langit-langit tinggi.Lampu tersebut tidak hanya satu. Beberapa rangkaian chandelier kristal tersusun bertingkat di sepanjang lobi, menciptakan kilauan yang memenuhi seluruh ruangan setiap kali cahaya mengenainya.Dinding bagian dalam memadukan marmer putih, panel kayu gelap, dan kaca tinggi yang memperlihatkan taman hotel dari sisi dalam. Pilar-pilar besar berdiri kokoh di sepanjang area utama, dihiasi ukiran geometris sederhana yang memberikan kesan elegan tanpa membuat ruangan terlihat berlebihan.Di tengah lobi, sebuah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank

  • Anak Rahasia Sang Alpha   6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

    "Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   5. Aroma yang Menjerat

    Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.​"Fok

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status