LOGINAku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.
Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya lebih meledak-ledak daripada bom waktu mana pun di dunia ini.
Di dapur terdengar suara minyak yang meletup-letup dan wangi tumisan bawang putih. Biasanya bau itu selalu menjadi favoritku, tapi sore ini, wangi gurih itu justru membuat perutku mual.
Ibu terlihat masih sibuk dengan penggorengannya.
"Kamu pucat banget, Fay," tegurnya, setelah sempat menoleh sebentar ke arahku. "Masuk angin lagi? Belakangan ini sepertinya kesehatanmu makin menurun."
Aku terdiam, tak mampu berkata apa pun. Sementara itu ibu tetap melanjutkan perkataannya.
"Jaga kesehatan, Fay. Kalau nanti kamu sakit, gimana? Jangan sampai kondisi kesehatanmu mempengaruhi pekerjaanmu," tuturnya. "Ingat, kamu masih magang. Masa depanmu masih panjang."
Pada titik itu, serasa ada suara guntur menggelegar di atas kepalaku. Saling sahut-menyahut, seolah kalimat terakhirnya tengah mengingatkanku akan tujuanku datang ke sini.
"Kenapa? Kamu kok diam terus? Ada apa?" tanya ibu memunggungiku, masih berkutat dengan masakannya.
Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu di mulutku.
"Bu, ada yang ingin aku bicarakan," ucapku hati-hati.
Spatula kayu di tangannya mendadak berhenti bergerak. Ibu mematikan kompor, lalu berbalik perlahan. Matanya yang tajam memindai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencari-cari kesalahan yang mungkin kubawa pulang dari kota.
"Bicara apa? Jangan bilang kamu dipecat dari tempat magangmu," tanyanya dengan tatapan menyelidik.
Aku menyeret langkah menuju kursi makan, menjatuhkan diri di sana dengan sisa tenaga yang ada. Jemariku saling meremas di bawah meja. Kata-kata yang sudah aku siapkan sedari tadi tiba-tiba hilang entah ke mana.
Aku menarik napas panjang, mengatur napasku agar tetap stabil. Perlahan aku mengumpulkan keberanian untuk bicara pada ibu.
"Aku hamil, Bu."
Seketika hening menyelimuti kami. Suara detak jam dinding di ruang tamu mendadak terdengar seperti dentuman keras di telingaku.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
Waktu seolah berhenti di antara sunyi yang mengikat kami begitu kuat. Aku menahan napas.
"Apa?!" Suara ibu naik satu oktaf, melengking tajam memecah kesunyian. "Coba ulangi lagi, Fay. Kamu bilang apa?"
Dengan tangan gemetar hebat, aku merogoh saku dan meletakkan kotak tes kehamilan itu di atas meja kayu di hadapanku. Aku mendorongnya perlahan ke arah ibu, seolah benda plastik itu adalah barang haram yang tak boleh kusentuh lebih lama.
Ibu menyambarnya. Wajahnya yang semula pucat karena terkejut, berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik.
Napasnya memburu, sementara aku ketakutan setengah mati.
"Siapa?" Suaranya kini terdengar seperti belati yang diasah. "Siapa laki-laki itu, Fay?!"
Aku menggeleng lemah, air mata mulai merebak dan berkumpul di pelupuk mata.
"Aku nggak bisa bilang, Bu."
"Kenapa nggak bisa?!" Ibu membentak, tangannya memukul meja hingga gelas di atasnya berdenting. "Kamu pikir ini main-main? Kamu hamil di luar nikah, Fay! Kamu tahu apa artinya ini bagi kita?"
Air mataku akhirnya jatuh dan mengalir di pipi.
Rasa bersalah dan kegelisahan tentang malam itu kembali menghantuiku. Aku merasa kotor, merasa tersesat, dan yang paling menyakitkan adalah aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi pada malam itu.
Ibu berdiri dengan sentakan kasar, membuat kursi kayu itu mendecit keras di atas lantai keramik.
"Ibu mengirimmu ke kota untuk bekerja, untuk mengangkat derajat keluarga kita, bukan untuk membawa aib!" Kalimatnya meluncur tajam, menusuk tepat di ulu hatiku. "Kamu tahu tetangga-tetangga itu mulutnya seperti apa?"
Ibu memejamkan mata, menarik napas panjang seolah tengah mati-matian menahan amarahnya.
"Kamu sadar nggak, hidupmu sudah berakhir sekarang?" katanya pelan, tapi menusuk. "Kariermu, masa depanmu, semua mimpi yang kamu banggakan itu. Semuanya hancur!"
Aku menangis. Air mataku meluap, tak terbendung. “Aku masih mau kerja, Bu. Aku bisa besarin anak ini sendiri tanpa merepotkan siapa pun.”
Ibu mendengus. “Sendiri?” Ia menatapku sinis. “Kamu pikir hidup segampang itu? Kamu itu masih anak-anak, Fay. Kamu nggak tahu apa-apa tentang kejamnya dunia bagi seorang janda tanpa suami."
"Aku sudah dua puluh dua tahun, Bu. Aku bukan anak kecil lagi."
"Dan usia itu tetap nggak cukup untuk menahan gunjingan orang, Fay!" Ibu berjalan mondar-mandir dengan gelisah, lalu berhenti tepat di depanku. "Kita nggak bisa biarin orang-orang tahu,” katanya tegas. "Kalau orang-orang di sini sampai tahu, kamu habis, dan ibu nggak akan sanggup menaruh muka di mana pun!"
"Lalu aku harus gimana, Bu?"
"Kamu pergi ke kampung."
Jantungku rasanya berhenti berdetak. "Apa? Ke kampung?"
"Ya, ke rumah nenek di pinggir hutan," ulangnya. "Malam ini juga kamu kemasi barang-barangmu. Kamu berangkat besok pagi."
"Tapi pekerjaanku, Bu. Aku baru saja mulai magang dan mereka bilang kinerjaku bagus."
"Pekerjaan bisa dicari lagi, Fay!" Suaranya menggelegar memenuhi dapur. "Tapi nama baik keluarga ini nggak bisa dibeli dengan gaji magangmu yang nggak seberapa itu. Kamu mau ayahmu tahu dan jantungan karena kelakuanmu?"
Aku menggeleng keras, air mata jatuh makin deras. "Aku nggak mau disembunyiin seolah aku ini sampah. Ini anakku, Bu. Darah dagingku."
Ibu menatap perutku yang masih rata. Untuk sesaat, aku melihat kilat ketakutan di matanya, bukan kebencian.
"Ibu nggak membenci bayi itu, Fay. Tapi kalau sampai orang tahu, Ibu bisa dipermalukan satu desa!"
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari bentakan mana pun. Jadi baginya, egonya di hadapan tetangga jauh lebih berharga daripada pelukan untuk anaknya yang sedang hancur.
"Jadi ibu malu?" tanyaku lirih, nyaris berbisik.
Ibu terdiam, memalingkan wajah ke arah jendela di mana sisa cahaya mulai berganti malam.
"Itu jawabannya," bisikku getir sambil menyeka air mata dengan kasar.
“Kamu berangkat besok,” katanya kemudian, suaranya dingin dan final. “Tinggallah di sana sampai kamu melahirkan. Setelah itu kita pikirkan lagi.”
Malam itu aku mengemas pakaian dalam diam. Setiap lipatan terasa seperti perpisahan. Dengan hidupku di kota, dengan mimpiku, bahkan dengan kebebasan yang kupikir masih milikku.
Sebelum mematikan lampu, aku menyentuh perutku perlahan. Ada kehangatan aneh yang menjalar ke telapak tanganku.
Sesuatu yang terasa kuat, protektif, dan … liar.
Aku tertegun sejenak, namun aku menepis pikiran yang sempat terlintas.
"Maaf," bisikku pada janin yang bahkan belum kulihat bentuknya. "Ibu belum bisa melindungimu dengan benar.”
................ ***...............
Kecepatan mereka perlahan menurun setelah melewati celah sempit di antara dua tebing batu. Aaron akhirnya menghentikan langkahnya di sebuah jalur berbatu yang menghadap ke lembah tersembunyi.Edward berhenti beberapa langkah di belakangnya.Angin berembus melewati pepohonan, membawa kabut tipis yang perlahan terpecah di hadapan mereka. Di balik lapisan pepohonan dan tebing yang menjulang tinggi, bangunan laboratorium medis rahasia mulai terlihat.Dinding putih kelabu berdiri kokoh di tengah lembah, berpadu dengan kaca gelap dan struktur logam yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang Edward bayangkan. Beberapa sayap bangunan membentang ke sisi lembah, sementara bagian lainnya tersembunyi di balik lereng batu dan pepohonan lebat.Tidak ada jalan umum yang mengarah ke tempat itu. Tidak ada papan nama atau tanda yang dapat mengungkapkan fungsi sebenarnya.Namun, Edward segera menyadari bahwa bangunan tersebut bukan sekadar laboratorium yang te
Edward menatap profil wajah Aaron dari samping, kemudian tersenyum tipis.“Kamu benar-benar sudah berubah.”Aaron mengernyitkan kening. “Maksudmu?”“Dulu, kamu hanya tahu cara menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalanmu.”Edward menyilangkan tangan di depan dada.Kilat ngeri sekaligus kagum melintas di matanya saat mengingat memori kelam dua puluh lima tahun lalu—ketika Aaron kecil mengamuk dan berubah menjadi monster serigala yang menakutkan.“Sekarang kamu justru berbicara tentang masa depan, perlindungan, penelitian, dan bagaimana kehidupan setelah perang berakhir,” lanjutnya.Aaron memilih tidak menyahut.Edward terkekeh pelan melihat sikap dingin Aaron. “Jangan salah paham. Aku tidak sedang mengatakan kamu menjadi lebih lembut.”“Bagus,” sahut Aaron datar."Aku hanya ingin mengatakan bahwa ambisimu sekarang jauh lebih besar dan berbahaya.”Tatapan Aaron mengeras samar. “Ambisi tidak akan ada artinya jika tidak menghasilkan sesuatu yang bisa bertahan.”Edward mengangguk setu
Suara mesin jet pribadi perlahan mereda setelah pesawat itu berhenti di landasan khusus penerbangan privat. Beberapa petugas keamanan yang telah berjaga di sekitar area segera bergerak. Mereka berdiri dalam barisan teratur di sisi landasan, sementara angin yang berembus mengibaskan ujung jas hitam yang dikenakan masing-masing pengawal. Pintu pesawat terbuka. Beberapa detik kemudian, Edward Johnson muncul dari dalam kabin. Pria itu mengenakan setelan abu-abu gelap dengan kemeja putih yang rapi. Begitu melihat Aaron berdiri tidak jauh dari tangga pesawat, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. “Aaron!” Edward menuruni tangga dengan langkah ringan sebelum berjalan menghampiri sang Alpha. Aaron membalasnya dengan senyum tipis. Ia mengulurkan tangan ketika Edward sudah berada di hadapannya. “Selamat datang, Edward.” Aaron menjabat tangan Edward dengan erat. “Terima kasih sudah menerima undanganku dan datang langsung ke sini.” Edward terkekeh pelan. “Kamu tidak perlu berterima ka
Benak Lira berputar cepat. Rasa sakit tiba-tiba mencengkeram hatinya.Pernikahan yang bukan hanya akan mengikat Aaron dan Fay secara resmi, tetapi juga berpotensi mengukuhkan kedudukan perempuan itu sebagai Luna dan Arsen sebagai pewaris sah di hadapan para pemimpin klan.Jemari Lira kembali mengepal. Ia tidak ingin membayangkan Aaron berdiri di hadapan semua orang bersama Fay, sementara dirinya dan semua pihak hanya bisa menyaksikan tanpa mampu melakukan apa pun.Lebih dari itu, ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa pria yang dahulu begitu dekat dengannya kini telah membangun kehidupan yang sama sekali tidak lagi memberinya tempat.Lira menarik napas perlahan, berusaha meredam gejolak yang mulai menguasai dadanya.Beberapa saat kemudian, ia menatap Marcus dengan hati-hati.“Jika pernikahan itu sudah terdaftar secara sah ... apakah kita benar-benar tidak bisa melakukan apa pun?” tanyanya.Pertanyaan itu membuat Marcus terdiam sejenak. Ia kemudian berjalan menuju meja dan meletakka
“Bukan sekadar mengundangnya.” Marcus merebut dokumen itu dari tangannya. “Dia sengaja menempatkan nama investor itu di urutan pertama agar kita tahu bahwa pria itu akan menjadi bagian penting dalam pernikahan tersebut.”Marcus menunjuk daftar nama itu dengan telunjuknya.“Jika kita datang dan mencoba mengacaukan acara, kita bukan hanya akan berhadapan dengan Aaron, tetapi juga Edward Johnson.” Marcus mengepalkan tangannya. “Kamu tahu seberapa besar pengaruh investor itu terhadap perusahaan klan kita.”Lira terdiam, sementara Marcus melanjutkan dengan suara yang semakin berat.“Jika Edward menganggap tindakan kita sebagai ancaman terhadap kepentingan bisnisnya, dia bisa menggunakan kekuatan finansial dan hak investasinya untuk menggeser kepemilikan saham pihak-pihak yang terlibat.”“Termasuk saham milik Dewan?” tanya Lira.“Bukan hanya milik Dewan.” Tatapan Marcus mengeras. “Saham milik para Tetua dan seluruh pihak yang mendukung tindakan tersebut bisa dipindahkan melalui kesepakatan
Gebrakan meja terdengar keras ketika tinju Tetua Marcus menghantam permukaan meja kerjanya.Surat undangan pernikahan yang baru saja dibacanya tergeletak di hadapannya. Lambang keluarga Aaron tercetak jelas pada bagian atas, disertai pesan resmi dari utusan pribadi Sang Alpha.Namun, bukan undangan itu yang membuat amarahnya memuncak. Melainkan lampiran berisi daftar tamu yang telah dipersiapkan Aaron.Marcus meraih lembaran tersebut dan membacanya sekali lagi, seolah berharap nama yang tertera di urutan paling atas akan berubah.Tetapi nama itu tetap sama.Edward Johnson.Investor terbesar dan terkuat yang kini begitu diagung-agungkan oleh klannya.Seorang pengusaha asal Singapura yang telah menyuntikkan dana fantastis ke perusahaan Aaron, memperkuat posisi bisnisnya sekaligus memperluas pengaruhnya di antara para pemimpin klan.Dan sekarang, pria itu tercantum sebagai tamu terpenting dalam pesta pernikahan Aaron yang akan diselenggarakan besok.Marcus meremas kertas di tangannya.Se
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene
"Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya
Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.Ia bisa merasakannya dengan jelas
Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la







