Se connecterAku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.
PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.
Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wilayah kekuasaan Aaron yang tak tersentuh. Masuk ke sana tanpa persiapan sama saja dengan berjalan sukarela ke arah predator yang sedang lapar. Aaron punya cara menatap yang membuatku merasa kecil, seolah dia bisa melihat dan menembus kulitku.
Kugigit bibir bawahku, rasa cemas dan takut kini membelitku begitu kuat.
Aaron tidak pernah memanggil seluruh staf kecuali ada sesuatu yang besar atau sesuatu yang sangat personal sedang ia incar.
"Kenapa sekarang?" bisikku pada kesunyian kamar.Pikiranku berkecamuk. Apakah dia sudah tahu? Apakah dia menyadari aku menghindarinya sejak malam itu? Ataukah ini hanya kebetulan yang kejam?
***Pagi ini, sebelum benar-benar meninggalkan kota dengan bus pertama, aku memaksakan diri datang ke kantor pusat dengan tujuan hanya untuk satu hal.
Mengundurkan diri.
Aku sudah memutuskan. Aku tidak akan ikut rapat itu, melainkan hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri, lalu pergi. Aku hanya ingin menghilang dan menjaga anak ini sendiri.
Aku mencoba tampil seprofesional mungkin, meski pucat di wajahku tidak bisa disembunyikan bahkan oleh bedak tebal sekalipun. Begitu aku masuk ke lobi, suasananya kacau. Para staf berlarian menuju lift seolah-olah nyawa mereka taruhannya.
Suasana hiruk-pikuk, langkah kaki yang terburu-buru, dan semua orang terlihat sangat panik. Tidak ada sapaan pagi yang santai, yang ada hanya wajah-wajah tegang dan ketakutan.
Meskipun jantungku bertalu karena ketidaktahuanku atas apa yang terjadi, aku tetap berusaha fokus. Aku setengah berlari menuju meja administrasi.
"Maaf, Mbak, ini saya—"
"Nanti saja, Fay! Kamu nggak lihat kekacauan ini?" potong Mbak Tari, senior administrasi, tanpa menoleh. Ia terlihat sibuk mempersiapkan beberapa berkas di tangannya. "Apa kamu nggak baca notifikasi? Pak Aaron memerintahkan seluruh staf divisi terkait hadir di lantai 20 pagi ini. Tanpa kecuali!"
"Tapi, saya baru saja mau—"
"Nggak ada tapi-tapi! Ini gawat. Pak Aaron sedang dalam suasana hati yang sangat buruk pagi ini. Jangan sampai kita terlambat satu detik pun, kalau nggak mau dipecat saat ini juga. Ayo, pergi sekarang!"
Aku tersentak saat tiba-tiba jemarinya mencengkeram pergelanganku dengan kuat, seolah tidak menerima bantahan sedikit pun. Ia mengambil langkah lebar, memaksaku untuk setengah berlari demi mengimbangi kecepatannya menuju deretan lift khusus yang akan membawa kami langsung ke lantai 20.
"Mbak, pelan-pelan," keluhku, tapi suaraku tertelan oleh denting lift yang terbuka.
Di dalam kotak besi yang sempit itu, aku bisa melihat pantulan diriku di dinding lift yang mengilap. Wajahku pucat, mataku masih menyisakan warna kemerahan yang samar. Aku berusaha mengatur napas yang memburu saat lift bergerak naik.
Ting.
Pintu terbuka di lantai 20. Sunyi yang mencekam menyambut kami. Berbeda dengan kegaduhan di bawah, di sini segalanya tampak teratur, dingin, dan ... mengintimidasi.
"Ingat, Fay," bisik Mbak Tari sambil melepaskan cengkeramannya tepat di depan pintu besar dan megah yang benar-benar ingin aku jauhi. "Jangan bicara kalau nggak ditanya. Pak Aaron sedang nggak ingin mendengar alasan apa pun hari ini. Auranya kali ini benar-benar sedang membunuh."
Ia kemudian membuka pintu itu. Saat aku melangkah masuk ke ruang rapat, hawa dingin AC menyambutku dan di ujung meja panjang ... sosok itu duduk.
Aaron.
Ia tidak menoleh, namun aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri tegak. Ia sedang menyesap kopi hitamnya, namun cara jemarinya mengetuk meja menciptakan irama yang seolah-olah sedang menghitung detak jantungku yang mulai tidak beraturan.
"Kalian terlambat dua menit." Suaranya menggema, rendah namun penuh otoritas yang membuat nyaliku menciut seketika.
Pandangannya perlahan terangkat, tajam seperti belati, dan tepat saat matanya mengunci mataku, aku merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja dihisap keluar.
Ada kilatan aneh di balik manik matanya yang gelap, sesuatu yang lebih dari sekadar kemarahan seorang atasan.
Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi dalam sekejap. Para peserta rapat kini hanya tertunduk, tidak ada yang berani bicara.
Aaron meletakkan cangkir kopinya perlahan. Bunyi porselen yang beradu dengan meja kaca terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian itu. Matanya masih terkunci pada wajahku, mengabaikan Mbak Tari yang berdiri gemetar di sampingku.
"Fay," ucapnya rendah, namun menyebut namaku dengan penekanan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan sisa keberanianku. "I-iya, Pak?"
Aaron dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya bersandar ke kursi kebesaran, matanya menyipit, memindai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku merasa telanjang di bawah tatapan itu, seolah dia sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik kulitku.
"Mulai detik ini, kamu nggak perlu kembali ke meja administrasi di lantai bawah," ucapnya datar, namun setiap kata yang keluar terasa seperti vonis hukuman untukku.
Kasak-kusuk halus terdengar dari beberapa orang di meja rapat, namun langsung lenyap saat Aaron mengangkat satu tangannya.
"Pindahkan semua barangmu ke ruangan asisten di sebelah kantor saya. Kamu akan membantu saya secara langsung untuk proyek pengembangan ini," lanjutnya.
Pandangannya beralih ke sekretaris senior di sampingnya. "Siapkan akses kartu lantai 20 untuknya sekarang juga."
Aku terpaku. Kakiku terasa lemas. "Tapi Pak, s-saya staf magang di divisi administrasi umum. Saya rasa saya belum kompeten untuk—"
"Saya nggak minta pendapatmu, Fay," potongnya tajam.
Aaron segera berdiri, membuat kursi di belakangnya berderit keras. Ia berjalan perlahan mengitari meja, langkahnya tenang namun penuh ancaman, persis seperti predator yang sedang mengitari mangsanya.
Ia berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma hutan setelah hujan yang sangat tajam darinya. Entah hanya halusinasiku atau bukan, aku melihat rahangnya mengeras seolah ia sedang menahan sesuatu yang meledak-ledak di dalam dirinya.
"Kamu akan berada di bawah pengawasanku selama dua puluh empat jam jika perlu," bisiknya, cukup rendah hingga hanya aku yang bisa mendengarnya, namun cukup dingin untuk membuat sekujur tubuhku meremang. "Jangan berpikir untuk lari lagi."
Ia lalu berbalik ke arah forum, seolah tidak baru saja menjatuhkan bom pada hidupku yang sudah hancur.
"Rapat dimulai. Jelaskan poin pertama."
Aku hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, sementara otakku berteriak ketakutan.
Bagaimana dia tahu aku mencoba menghindarinya? Dan apa yang harus aku lakukan sekarang?
..................***....................
Pagi itu, Elena membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur kecil rumah mereka. Udara masih terasa dingin. Aroma kayu bakar yang terbakar perlahan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma makanan yang sedang dimasak.Elena baru saja hendak mengambil sesuatu ketika pandangannya tertuju pada tumpukan kayu di sudut dapur.Ia terdiam.Kayu bakar yang tersisa sudah hampir habis, hanya menyisakan beberapa potong ranting kering."Ibu," panggilnya. "Kayu bakarnya hampir habis."Ibunya menoleh dan ikut melihat ke sudut ruangan."Benar juga," gumamnya.Wanita tua itu kemudian berdiri dan melangkah mendekati tungku yang apinya mulai meredup, menyisakan bara merah yang perlahan tertutup abu. Setelah itu, ia menatap keluar melalui jendela kayu yang terbuka sedikit."Ibu mau ke mana?" tanya Elena. Matanya langsung melebar ketika melihat ibunya bersiap meninggalkan rumah."Mencari kayu bakar," jawab sang ibu tenang, jemarinya yang keriput sibuk mengikat tali selempang keranjang bambu di punggungnya.
Aku masih menatap Aaron ketika senyum di wajahku perlahan memudar.Beberapa saat lalu, kata-katanya terasa begitu indah."Dia anakku. Dan kamu Luna-ku.""Aku punya kalian berdua."Kalimat-kalimat itu seharusnya membuatku bahagia. Dan memang, hatiku menghangat melihat betapa tulusnya Aaron membicarakan putra kami, tentang keinginannya untuk segera bertemu, membayangkan wajahnya, bahkan menjadi ayah yang selalu ada untuknya.Ia berbicara tentang masa depan kami dengan begitu mudah.Tentang anak kami.Tentang keluarga kami.Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia sebutkan.Pernikahan.Tidak sekali pun.Aku menundukkan pandangan pada tangan kami yang masih bertaut di atas seprai. Perlahan, kebahagiaan yang tadi memenuhi dadaku bercampur dengan kegelisahan yang selama ini berusaha kuabaikan.Jika kami benar-benar akan menjadi sebuah keluarga, lalu siapa aku di dalamnya?Aku ingin menjadi lebih dari sekadar perempuan yang melahirkan anak Aaron. Aku ingin menjadi istrinya, seseorang yang di
Aaron mengernyit. "Seberapa cepat?""Saya tidak bisa menentukan tanggal pastinya. Namun, melihat perkembangan janin yang sangat aktif dan kekuatan yang saya rasakan selama mendampingi pemeriksaan Luna, ada kemungkinan kelahirannya terjadi lebih awal."Aku menoleh kepada Aaron.Wajahnya langsung terlihat serius. Ia masih duduk di kursi dekat kepalaku, sementara jemarinya menggenggam tanganku di atas seprai."Jadi kami harus bersiap mulai sekarang?" tanyaku."Lebih baik begitu, Luna.""Apa saja yang harus kami persiapkan?""Perlengkapan bayi, tempat untuk sang pewaris, kebutuhan Luna selama masa pemulihan, dan tentu saja orang-orang yang akan membantu setelah kelahiran."Aaron langsung menyela sebelum aku sempat bertanya lebih jauh."Semua sudah disiapkan."Aku menoleh cepat. "Sudah?"Dokter Reynard hanya tersenyum kecil, seolah jawaban Aaron sama sekali tidak mengejutkannya."Saya tidak terkejut, Alpha."Aku mengerutkan kening lalu memandang Aaron. "Kamu sudah menyiapkan semuanya?""Se
Sejak aku pindah ke mansion Aaron, seluruh pemeriksaan kehamilanku dilakukan di sini. Dokter Reynard bahkan beberapa kali datang langsung ke kamar kami agar aku tidak perlu bepergian hanya untuk menjalani pemeriksaan.Aaron memang tidak suka melihatku terlalu sering keluar rumah, terlebih usia kandunganku sekarang sudah semakin besar. Gerakan bayi di dalam perutku pun semakin aktif dari hari ke hari.Seperti pagi ini.Begitu mengetahui jadwal pemeriksaanku sudah tiba, Aaron langsung membatalkan semua agenda yang seharusnya ia hadiri di kantor.Aku bahkan sempat mengira aku salah dengar ketika ia mengatakan tidak akan pergi ke mana pun hari ini."Semua rapat dibatalkan?" tanyaku sambil menatapnya.Aaron hanya mengangguk santai. Ia menggulung lengan kemejanya hingga batas siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan berotot. Gerakannya sederhana, tetapi entah kenapa aku malah terpaku beberapa detik.Aku buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari bahwa diam-diam aku sedang terpeso
Sudah lebih dari seminggu Elena tinggal di rumah ibunya yang berada di pinggir hutan pinus. Selama itu pula, kehidupan yang sempat terasa begitu jauh dari ingatannya perlahan kembali terasa akrab.Tidak ada kemewahan. Tidak ada kesibukan kota. Hanya rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan pinus, udara sejuk, dan suara alam yang menemani setiap pagi hingga malam.Elena dan ibunya melakukan hampir semuanya bersama.Mereka saling membantu memasak, mencuci pakaian, memotong rumput, hingga membersihkan rumah. Hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, kini justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Elena.Mereka juga banyak bercerita. Tentang kehidupan Elena selama bertahun-tahun. Tentang hal-hal kecil yang terjadi di rumah. Tentang masa lalu yang perlahan mereka buka kembali.Bahkan beberapa kali, mereka tertawa hanya karena mengingat tingkah Elena ketika masih kecil.Tentang bagaimana gadis kecil itu dulu sering berlari tanpa alas kaki di halaman. Tentang bagaimana ia pernah me
Jessi tidak langsung menjawab. Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara napas pelan dari seberang telepon yang terdengar samar di telinganya."Karena sekarang ... adalah saat yang paling tepat untuk membalas dendammu."Kalimat Damian terus berputar di benaknya. Namun bersamaan dengan itu, suara lain ikut melintas dalam ingatannya."Untuk sementara waktu, kita harus berhenti." Suara ayahnya terdengar begitu jelas. "Saat ini Aaron sedang berada di puncak kekuatannya. Dia baru mendapatkan kontrak besar. Menyerangnya sekarang adalah tindakan bodoh."Jessi mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ia masih mengingat setiap kata yang diucapkan sang ayah malam itu.Aaron baru memperoleh kontrak besar. Proyek Utara berkembang pesat. Seluruh klan sedang mengagungkannya, dan menyerang Alpha itu secara terbuka sama saja dengan menyodorkan leher ke meja pembantaian."Kita menunggu," lanjut bayangan suara Stanley. "Ketika perang besar antara Aaron dan Tetua Marcus pecah ... pada waktu itulah celah itu akan t
Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya
Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sem
Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek
Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene







