Beranda / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

Share

4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

Penulis: malapalas
last update Tanggal publikasi: 2026-03-05 15:22:26

Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.

PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.

Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wilayah kekuasaan Aaron yang tak tersentuh. Masuk ke sana tanpa persiapan sama saja dengan berjalan sukarela ke arah predator yang sedang lapar. Aaron punya cara menatap yang membuatku merasa kecil, seolah dia bisa melihat dan menembus kulitku.

Kugigit bibir bawahku, rasa cemas dan takut kini membelitku begitu kuat.

Aaron tidak pernah memanggil seluruh staf kecuali ada sesuatu yang besar atau sesuatu yang sangat personal sedang ia incar.

 

​"Kenapa sekarang?" bisikku pada kesunyian kamar.

​Pikiranku berkecamuk. Apakah dia sudah tahu? Apakah dia menyadari aku menghindarinya sejak malam itu? Ataukah ini hanya kebetulan yang kejam?

***

Pagi ini, sebelum benar-benar meninggalkan kota dengan bus pertama, aku memaksakan diri datang ke kantor pusat dengan tujuan hanya untuk satu hal.

Mengundurkan diri.

Aku sudah memutuskan. Aku tidak akan ikut rapat itu, melainkan hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri, lalu pergi. Aku hanya ingin menghilang dan menjaga anak ini sendiri.

Aku mencoba tampil seprofesional mungkin, meski pucat di wajahku tidak bisa disembunyikan bahkan oleh bedak tebal sekalipun. Begitu aku masuk ke lobi, suasananya kacau. Para staf berlarian menuju lift seolah-olah nyawa mereka taruhannya.

Suasana hiruk-pikuk, langkah kaki yang terburu-buru, dan semua orang terlihat sangat panik. Tidak ada sapaan pagi yang santai, yang ada hanya wajah-wajah tegang dan ketakutan. 

​Meskipun jantungku bertalu karena ketidaktahuanku atas apa yang terjadi, aku tetap berusaha fokus. Aku setengah berlari menuju meja administrasi. 

​"Maaf, Mbak, ini saya—"

​"Nanti saja, Fay! Kamu nggak lihat kekacauan ini?" potong Mbak Tari, senior administrasi, tanpa menoleh. Ia terlihat sibuk mempersiapkan beberapa berkas di tangannya. "Apa kamu nggak baca notifikasi? Pak Aaron memerintahkan seluruh staf divisi terkait hadir di lantai 20 pagi ini. Tanpa kecuali!"

​"Tapi, saya baru saja mau—"

​"Nggak ada tapi-tapi! Ini gawat. Pak Aaron sedang dalam suasana hati yang sangat buruk pagi ini. Jangan sampai kita terlambat satu detik pun, kalau nggak mau dipecat saat ini juga. Ayo, pergi sekarang!"

Aku tersentak saat tiba-tiba jemarinya mencengkeram pergelanganku dengan kuat, seolah tidak menerima bantahan sedikit pun. Ia mengambil langkah lebar, memaksaku untuk setengah berlari demi mengimbangi kecepatannya menuju deretan lift khusus yang akan membawa kami langsung ke lantai 20.

​"Mbak, pelan-pelan," keluhku, tapi suaraku tertelan oleh denting lift yang terbuka.

​Di dalam kotak besi yang sempit itu, aku bisa melihat pantulan diriku di dinding lift yang mengilap. Wajahku pucat, mataku masih menyisakan warna kemerahan yang samar. Aku berusaha mengatur napas yang memburu saat lift bergerak naik.

​Ting.

​Pintu terbuka di lantai 20. Sunyi yang mencekam menyambut kami. Berbeda dengan kegaduhan di bawah, di sini segalanya tampak teratur, dingin, dan ... mengintimidasi.

​"Ingat, Fay," bisik Mbak Tari sambil melepaskan cengkeramannya tepat di depan pintu besar dan megah yang benar-benar ingin aku jauhi. "Jangan bicara kalau nggak ditanya. Pak Aaron sedang nggak ingin mendengar alasan apa pun hari ini. Auranya kali ini benar-benar sedang membunuh."

​Ia kemudian membuka pintu itu. Saat aku melangkah masuk ke ruang rapat, hawa dingin AC menyambutku dan di ujung meja panjang ... sosok itu duduk. 

Aaron.

Ia tidak menoleh, namun aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri tegak. Ia sedang menyesap kopi hitamnya, namun cara jemarinya mengetuk meja menciptakan irama yang seolah-olah sedang menghitung detak jantungku yang mulai tidak beraturan.

​"Kalian terlambat dua menit." Suaranya menggema, rendah namun penuh otoritas yang membuat nyaliku menciut seketika.

​Pandangannya perlahan terangkat, tajam seperti belati, dan tepat saat matanya mengunci mataku, aku merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu baru saja dihisap keluar.

Ada kilatan aneh di balik manik matanya yang gelap, sesuatu yang lebih dari sekadar kemarahan seorang atasan.

Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi dalam sekejap. Para peserta rapat kini hanya tertunduk, tidak ada yang berani bicara.

​Aaron meletakkan cangkir kopinya perlahan. Bunyi porselen yang beradu dengan meja kaca terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian itu. Matanya masih terkunci pada wajahku, mengabaikan Mbak Tari yang berdiri gemetar di sampingku.

​"Fay," ucapnya rendah, namun menyebut namaku dengan penekanan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.

​Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan sisa keberanianku. "I-iya, Pak?"

Aaron dengan setelan jas hitam yang membalut tubuh tegapnya bersandar ke kursi kebesaran,​ matanya menyipit, memindai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku merasa telanjang di bawah tatapan itu, seolah dia sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik kulitku.

​"Mulai detik ini, kamu nggak perlu kembali ke meja administrasi di lantai bawah," ucapnya datar, namun setiap kata yang keluar terasa seperti vonis hukuman untukku.

​Kasak-kusuk halus terdengar dari beberapa orang di meja rapat, namun langsung lenyap saat Aaron mengangkat satu tangannya.

​"Pindahkan semua barangmu ke ruangan asisten di sebelah kantor saya. Kamu akan membantu saya secara langsung untuk proyek pengembangan ini," lanjutnya.

Pandangannya beralih ke sekretaris senior di sampingnya. "Siapkan akses kartu lantai 20 untuknya sekarang juga."

​Aku terpaku. Kakiku terasa lemas. "Tapi Pak, s-saya staf magang di divisi administrasi umum. Saya rasa saya belum kompeten untuk—"

​"Saya nggak minta pendapatmu, Fay," potongnya tajam.

Aaron segera berdiri, membuat kursi di belakangnya berderit keras. Ia berjalan perlahan mengitari meja, langkahnya tenang namun penuh ancaman, persis seperti predator yang sedang mengitari mangsanya.

​Ia berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma hutan setelah hujan yang sangat tajam darinya. Entah hanya halusinasiku atau bukan, aku melihat rahangnya mengeras seolah ia sedang menahan sesuatu yang meledak-ledak di dalam dirinya.

​"Kamu akan berada di bawah pengawasanku selama dua puluh empat jam jika perlu," bisiknya, cukup rendah hingga hanya aku yang bisa mendengarnya, namun cukup dingin untuk membuat sekujur tubuhku meremang. "Jangan berpikir untuk lari lagi."

​Ia lalu berbalik ke arah forum, seolah tidak baru saja menjatuhkan bom pada hidupku yang sudah hancur.

"Rapat dimulai. Jelaskan poin pertama."

​Aku hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, sementara otakku berteriak ketakutan.

Bagaimana dia tahu aku mencoba menghindarinya? Dan apa yang harus aku lakukan sekarang?

..................***.................... 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Sang Alpha   229. Sebelum Kami Bertemu

    Aaron mengernyit. "Seberapa cepat?""Saya tidak bisa menentukan tanggal pastinya. Namun, melihat perkembangan janin yang sangat aktif dan kekuatan yang saya rasakan selama mendampingi pemeriksaan Luna, ada kemungkinan kelahirannya terjadi lebih awal."Aku menoleh kepada Aaron.Wajahnya langsung terlihat serius. Ia masih duduk di kursi dekat kepalaku, sementara jemarinya menggenggam tanganku di atas seprai."Jadi kami harus bersiap mulai sekarang?" tanyaku."Lebih baik begitu, Luna.""Apa saja yang harus kami persiapkan?""Perlengkapan bayi, tempat untuk sang pewaris, kebutuhan Luna selama masa pemulihan, dan tentu saja orang-orang yang akan membantu setelah kelahiran."Aaron langsung menyela sebelum aku sempat bertanya lebih jauh."Semua sudah disiapkan."Aku menoleh cepat. "Sudah?"Dokter Reynard hanya tersenyum kecil, seolah jawaban Aaron sama sekali tidak mengejutkannya."Saya tidak terkejut, Alpha."Aku mengerutkan kening lalu memandang Aaron. "Kamu sudah menyiapkan semuanya?""Se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   228. Sang Pewaris yang Dinanti

    Sejak aku pindah ke mansion Aaron, seluruh pemeriksaan kehamilanku dilakukan di sini. Dokter Reynard bahkan beberapa kali datang langsung ke kamar kami agar aku tidak perlu bepergian hanya untuk menjalani pemeriksaan.Aaron memang tidak suka melihatku terlalu sering keluar rumah, terlebih usia kandunganku sekarang sudah semakin besar. Gerakan bayi di dalam perutku pun semakin aktif dari hari ke hari.Seperti pagi ini.Begitu mengetahui jadwal pemeriksaanku sudah tiba, Aaron langsung membatalkan semua agenda yang seharusnya ia hadiri di kantor.Aku bahkan sempat mengira aku salah dengar ketika ia mengatakan tidak akan pergi ke mana pun hari ini."Semua rapat dibatalkan?" tanyaku sambil menatapnya.Aaron hanya mengangguk santai. Ia menggulung lengan kemejanya hingga batas siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan berotot. Gerakannya sederhana, tetapi entah kenapa aku malah terpaku beberapa detik.Aku buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari bahwa diam-diam aku sedang terpeso

  • Anak Rahasia Sang Alpha   227. Firasat dari Hutan Pinus

    Sudah lebih dari seminggu Elena tinggal di rumah ibunya yang berada di pinggir hutan pinus. Selama itu pula, kehidupan yang sempat terasa begitu jauh dari ingatannya perlahan kembali terasa akrab.Tidak ada kemewahan. Tidak ada kesibukan kota. Hanya rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan pinus, udara sejuk, dan suara alam yang menemani setiap pagi hingga malam.Elena dan ibunya melakukan hampir semuanya bersama.Mereka saling membantu memasak, mencuci pakaian, memotong rumput, hingga membersihkan rumah. Hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, kini justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Elena.Mereka juga banyak bercerita. Tentang kehidupan Elena selama bertahun-tahun. Tentang hal-hal kecil yang terjadi di rumah. Tentang masa lalu yang perlahan mereka buka kembali.Bahkan beberapa kali, mereka tertawa hanya karena mengingat tingkah Elena ketika masih kecil.Tentang bagaimana gadis kecil itu dulu sering berlari tanpa alas kaki di halaman. Tentang bagaimana ia pernah me

  • Anak Rahasia Sang Alpha   226. Sebuah Kesempatan

    Jessi tidak langsung menjawab. Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara napas pelan dari seberang telepon yang terdengar samar di telinganya."Karena sekarang ... adalah saat yang paling tepat untuk membalas dendammu."Kalimat Damian terus berputar di benaknya. Namun bersamaan dengan itu, suara lain ikut melintas dalam ingatannya."Untuk sementara waktu, kita harus berhenti." Suara ayahnya terdengar begitu jelas. "Saat ini Aaron sedang berada di puncak kekuatannya. Dia baru mendapatkan kontrak besar. Menyerangnya sekarang adalah tindakan bodoh."Jessi mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ia masih mengingat setiap kata yang diucapkan sang ayah malam itu.Aaron baru memperoleh kontrak besar. Proyek Utara berkembang pesat. Seluruh klan sedang mengagungkannya, dan menyerang Alpha itu secara terbuka sama saja dengan menyodorkan leher ke meja pembantaian."Kita menunggu," lanjut bayangan suara Stanley. "Ketika perang besar antara Aaron dan Tetua Marcus pecah ... pada waktu itulah celah itu akan t

  • Anak Rahasia Sang Alpha   225. Godaan Sang Dalang

    Sudah beberapa hari berlalu sejak pertarungan itu. Namun, luka di dada Damian belum juga menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya.Bekas tusukan cakar Aaron masih meninggalkan rasa nyeri yang seolah terus menggerogoti tubuhnya dari dalam. Setiap kali menarik napas terlalu dalam, rasa sakit itu kembali menusuk, memaksanya menunda banyak hal, termasuk menggunakan kekuatannya secara berlebihan.Untuk sementara waktu, ia harus menjalani masa pemulihan dan beristirahat total.Damian tidak menyukai keadaan itu. Ia terbiasa bergerak di balik bayang-bayang, mengatur setiap bidak dengan tangannya sendiri.Namun kali ini ... ia harus meminjam tangan orang lain.Perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu ... biarkan pionku yang bergerak lebih dulu."Sebuah nama langsung muncul di benaknya.Jessi.Beberapa jam kemudian, seorang bawahan kepercayaan Damian diam-diam meninggalkan tempat tersembunyi itu.Ia sengaja mengintai dan menunggu hingga Stanley terlihat keluar meninggalkan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   224. Malam yang Merenggut Segalanya

    Rumah kaca tenggelam dalam keheningan. Di antara rimbunnya dedaunan dan harum lembut bunga, aku bisa merasakan betapa mencekamnya suasana yang menyelimuti kami.Aaron tidak langsung menjawab. Tangan yang semula memeluk pinggangku erat perlahan terlepas.Ia berjalan melewatiku beberapa langkah, lalu berhenti. Kedua tangannya terselip di saku celana. Dengan punggung menghadap ke arahku, ia menatap hamparan bunga di hadapannya. Namun aku tahu, yang sedang dipandangnya bukanlah bunga-bunga itu.Dari tempatku berdiri, sosoknya mendadak terasa begitu jauh. Punggung yang selalu tampak kokoh itu kini seolah memikul kesepian dan kesedihan yang selama ini ia pendam sendirian.Aku hanya diam dan menunggu. Aku tidak ingin mendesaknya.Aku hanya ingin ia jujur kepadaku tentang apa pun. Namun aku juga mengerti, kepercayaan itu tidak mungkin tumbuh dalam sekejap, terlebih dunia yang selama ini Aaron jalani terasa begitu jauh dari jangkauanku.Keheningan kembali membentang di antara kami.Beberapa sa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   6. Di Bawah Kuasa Sang Predator

    "Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   5. Aroma yang Menjerat

    Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.​"Fok

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

  • Anak Rahasia Sang Alpha   2. Benih sang Alpha

    ​“A-apa maksud—ah!”​Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.​Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status