LOGINSuara mesin jet pribadi perlahan mereda setelah pesawat itu berhenti di landasan khusus penerbangan privat. Beberapa petugas keamanan yang telah berjaga di sekitar area segera bergerak. Mereka berdiri dalam barisan teratur di sisi landasan, sementara angin yang berembus mengibaskan ujung jas hitam yang dikenakan masing-masing pengawal. Pintu pesawat terbuka. Beberapa detik kemudian, Edward Johnson muncul dari dalam kabin. Pria itu mengenakan setelan abu-abu gelap dengan kemeja putih yang rapi. Begitu melihat Aaron berdiri tidak jauh dari tangga pesawat, senyum lebar langsung menghiasi wajahnya. “Aaron!” Edward menuruni tangga dengan langkah ringan sebelum berjalan menghampiri sang Alpha. Aaron membalasnya dengan senyum tipis. Ia mengulurkan tangan ketika Edward sudah berada di hadapannya. “Selamat datang, Edward.” Aaron menjabat tangan Edward dengan erat. “Terima kasih sudah menerima undanganku dan datang langsung ke sini.” Edward terkekeh pelan. “Kamu tidak perlu berterima ka
Benak Lira berputar cepat. Rasa sakit tiba-tiba mencengkeram hatinya.Pernikahan yang bukan hanya akan mengikat Aaron dan Fay secara resmi, tetapi juga berpotensi mengukuhkan kedudukan perempuan itu sebagai Luna dan Arsen sebagai pewaris sah di hadapan para pemimpin klan.Jemari Lira kembali mengepal. Ia tidak ingin membayangkan Aaron berdiri di hadapan semua orang bersama Fay, sementara dirinya dan semua pihak hanya bisa menyaksikan tanpa mampu melakukan apa pun.Lebih dari itu, ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa pria yang dahulu begitu dekat dengannya kini telah membangun kehidupan yang sama sekali tidak lagi memberinya tempat.Lira menarik napas perlahan, berusaha meredam gejolak yang mulai menguasai dadanya.Beberapa saat kemudian, ia menatap Marcus dengan hati-hati.“Jika pernikahan itu sudah terdaftar secara sah ... apakah kita benar-benar tidak bisa melakukan apa pun?” tanyanya.Pertanyaan itu membuat Marcus terdiam sejenak. Ia kemudian berjalan menuju meja dan meletakka
“Bukan sekadar mengundangnya.” Marcus merebut dokumen itu dari tangannya. “Dia sengaja menempatkan nama investor itu di urutan pertama agar kita tahu bahwa pria itu akan menjadi bagian penting dalam pernikahan tersebut.”Marcus menunjuk daftar nama itu dengan telunjuknya.“Jika kita datang dan mencoba mengacaukan acara, kita bukan hanya akan berhadapan dengan Aaron, tetapi juga Edward Johnson.” Marcus mengepalkan tangannya. “Kamu tahu seberapa besar pengaruh investor itu terhadap perusahaan klan kita.”Lira terdiam, sementara Marcus melanjutkan dengan suara yang semakin berat.“Jika Edward menganggap tindakan kita sebagai ancaman terhadap kepentingan bisnisnya, dia bisa menggunakan kekuatan finansial dan hak investasinya untuk menggeser kepemilikan saham pihak-pihak yang terlibat.”“Termasuk saham milik Dewan?” tanya Lira.“Bukan hanya milik Dewan.” Tatapan Marcus mengeras. “Saham milik para Tetua dan seluruh pihak yang mendukung tindakan tersebut bisa dipindahkan melalui kesepakatan
Gebrakan meja terdengar keras ketika tinju Tetua Marcus menghantam permukaan meja kerjanya.Surat undangan pernikahan yang baru saja dibacanya tergeletak di hadapannya. Lambang keluarga Aaron tercetak jelas pada bagian atas, disertai pesan resmi dari utusan pribadi Sang Alpha.Namun, bukan undangan itu yang membuat amarahnya memuncak. Melainkan lampiran berisi daftar tamu yang telah dipersiapkan Aaron.Marcus meraih lembaran tersebut dan membacanya sekali lagi, seolah berharap nama yang tertera di urutan paling atas akan berubah.Tetapi nama itu tetap sama.Edward Johnson.Investor terbesar dan terkuat yang kini begitu diagung-agungkan oleh klannya.Seorang pengusaha asal Singapura yang telah menyuntikkan dana fantastis ke perusahaan Aaron, memperkuat posisi bisnisnya sekaligus memperluas pengaruhnya di antara para pemimpin klan.Dan sekarang, pria itu tercantum sebagai tamu terpenting dalam pesta pernikahan Aaron yang akan diselenggarakan besok.Marcus meremas kertas di tangannya.Se
Aku merasa seperti sedang bermimpi.Sosok pria yang berdiri beberapa meter di hadapanku terlihat begitu nyata, tetapi pikiranku seolah menolak mempercayainya.Beberapa kali aku mengerjapkan mata, mencoba membuktikan bahwa ini hanya ilusi. Namun, pria itu tak kunjung lenyap.Wajah yang begitu kukenal. Senyum yang selama ini kurindukan.“Ayah...?” ucapku ragu.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan senyum khasnya, lalu merentangkan kedua tangan kepadaku.Detik itu juga, aku langsung berlari.“Ayah!”Aku menghambur ke dalam pelukannya.Begitu kedua lengannya memeluk tubuhku, seluruh pertahananku runtuh. Tangisku pecah begitu saja. Aku menangis sangat keras.Ayah mengusap punggungku perlahan.“Fay ... tenang. Ayah sudah di sini.”Namun, aku tidak peduli.Aku terus menangis dalam pelukannya, meluapkan seluruh emosi atas segala hal yang harus kulalui tanpa kehadiran Ayah di sampingku.“Sudah, Fay.” Suara Ayah terdengar sabar. “Ayah minta maaf.”Aku tetap tidak
Beberapa hari terakhir terasa begitu sibuk bagiku. Sejak Aaron mengatakan bahwa pernikahan kami akan segera dilangsungkan, mansion seolah berubah menjadi tempat persiapan sebuah acara besar. Hampir setiap hari ada orang baru yang datang membawa berbagai keperluan pernikahan. Aku bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk sekadar duduk santai. Para desainer terkenal didatangkan Aaron langsung ke mansion untuk mempersiapkan gaun pernikahanku. Mereka membawa begitu banyak pilihan gaun hingga aku sendiri kesulitan menghitungnya. Ada gaun dengan rok panjang yang menjuntai hingga lantai, gaun dengan detail renda yang begitu rumit, sampai gaun dengan hiasan yang berkilauan di bawah cahaya lampu. Semuanya indah. Semuanya terlihat seperti gaun yang hanya pantas dikenakan seorang putri. Masalahnya, Aaron selalu punya pendapat lain. "Yang itu terlalu sederhana." Aku menoleh kepadanya dengan tidak percaya. "Ini sederhana?" Aaron hanya menggeleng. "Untuk calon Luna-ku, itu belum cukup." Ak
Aaron menarik kursi di hadapannya, memaksaku duduk tepat di bawah sorot lampu kerja yang membuatnya tampak seperti hakim yang sedang menginterogasi orang pesakitan.Ia membuka kotak perak itu. Aroma daging panggang yang diperkaya rempah-rempah menyeruak, aroma yang anehnya membuat perutku yang mual
"Aaron, saya hanya ingin resign," kataku, mencoba terdengar tegas meski kakiku sudah seperti jeli."Dan aku adalah CEO-nya, Fay. Keputusanku mutlak," sahutnya datar. Kilatan emas di matanya meredup, kembali menjadi hitam, namun tekanan dari tubuh tegapnya tidak berkurang. "Rupanya kamu butuh waktu
Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela."Fok
Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil







