แชร์

136. Ego yang Terkoyak

ผู้เขียน: malapalas
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-06 07:46:33

​Tiba-tiba, pintu ruang kerja tersentak terbuka tanpa ketukan formal.

Brak!

​Adrian kembali melangkah masuk dengan napas memburu. Ekspresi asisten pribadinya itu tidak lagi dipenuhi kelelahan, melainkan ketegangan yang amat sangat. Di kedua tangannya, Adrian membawa sebuah kotak kayu hitam berukir kuno yang tampak kontras di antara kemewahan modern kantor itu.

​"Tuan," panggil Adrian, suaranya bergetar samar. "Dua menit lalu, sebuah kurir tak dikenal menerobos barisan pengamanan lobi bawah. Mer
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Anak Rahasia Sang Alpha   182. Perburuan Dimulai

    ​Keheningan yang menyelimuti ruang kerja itu mendadak terasa begitu pekat, seolah oksigen di dalam ruangan telah tersedot habis. Tidak ada satu pun dari mereka yang segera menanggapi kesimpulan Aaron.Bukan karena mereka meragukan ketajaman insting sang Alpha, melainkan karena besarnya dampak dari satu nama yang baru saja disebut.​Marcus.​Nama itu seketika mengubah seluruh arah penyelidikan yang selama ini mereka lakukan.​Aldrick akhirnya mengangkat kepalanya perlahan. Ketegangan terlihat jelas pada garis rahangnya yang mengeras."Tuan," panggilnya dengan suara rendah, memastikan Aaron bersedia mendengarkan analisisnya.​Aaron yang sudah beralih ke jendela kaca besar, terlihat tidak menoleh sedikit pun. Tatapannya masih berfokus pada satu titik di luar sana.​"Kalau Marcus memang dalang sesungguhnya," ujar Aldrick hati-hati, "berarti Hendra sudah dikirim untuk mendekati keluarga Nona Fay sejak belasan tahun yang lalu. Semuanya sudah direncanakan dengan sangat rapi sejak awal."​Aar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   181. Dalang Sesungguhnya

    Selama ini semua orang menganggapnya sebagai kecelakaan yang gagal dijelaskan. Bahkan Lucien, dengan penciumannya yang jauh melampaui manusia biasa, hanya mampu memastikan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar pada hari itu, tetapi tidak pernah menemukan bukti yang cukup untuk menunjuk pelakunya.Namun sekarang ... semua potongan itu perlahan mulai saling bertaut.Aaron menurunkan pandangannya ke foto Hendra yang berada di atas meja."Kalau Hendra memang hidup di bawah perintah pria ini ...," Suara Aaron terdengar sangat pelan, "maka nggak ada satu pun tindakannya yang bisa dianggap sebagai kebetulan."Aldrick mengangkat kepala."Tuan...."Aaron tidak langsung menjawab. Ingatannya justru kembali pada laporan Aldrick malam itu.Hendra datang tanpa pemberitahuan.Tidak lama kemudian, Fay mendadak merasakan sakit yang begitu hebat hingga ikatan darah antara dirinya dan bayi mereka sempat melemah. Bahkan dari Singapura, ia mampu merasakan jeritan naluriah anaknya yang sedang berusaha bertaha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   180. Rantai yang Mengikat

    Keheningan masih menggantung di ruang kerja pribadi Aaron, mengendap di antara dinding-dinding tinggi perusahaan pencakar langit miliknya. Di luar, hujan tipis mulai turun membasahi kota, membentur kaca jendela besar dengan suara ketukan lembut yang monoton dan terus-menerus.Aldrick meletakkan beberapa lembar foto hasil cetakan digital di atas meja milik Aaron."Ini dari rekaman CCTV lalu lintas belasan tahun lalu, Tuan. Pemerintah punya server cadangan rahasia yang menyimpan seluruh riwayat rekaman kota."​Aaron meneliti gambar yang sedikit buram itu. "Bagaimana bisa sejelas ini?""Tim dari Direktur William mengambil cuplikan video, menaikkan kontrasnya, lalu mencetak bagian terbaik. Itu Hendra, dan pria bermantel itu tepat di belakangnya."Aaron tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia memperhatikan semua bukti foto yang telah dikumpulkan Aldrick.Pola yang sama kembali berulang seperti mimpi buruk yang tercetak.Hendra dan pria bermantel itu selalu berada di lokasi yang sama. Namun,

  • Anak Rahasia Sang Alpha   179. Kepatuhan yang Tersembunyi

    ​"Ulangi ucapanmu," desis Aaron, setiap suku katanya terdengar seperti hunjaman pisau.​"Tetua Marcus datang sendiri ke kamar saya, Tuan. Hanya berselang beberapa saat setelah saya menemukan dokumen ini," ulang Aldrick dengan sisa keberaniannya.​Tatapan Aaron seketika berubah menjadi sedingin musim dingin di utara."Lanjutkan. Jangan kurangi satu detail pun."​Aldrick menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan seluruh kronologi kejadian malam itu.Ia menceritakan tentang ketukan pintu yang mendadak, tentang alasan Marcus mengenai laporan seseorang yang melihat koper hitam mencurigakan, tentang pemeriksaan yang dilakukan Marcus di dalam kamarnya, hingga upaya Tetua itu mencari sesuatu.Aldrick menjelaskan bagaimana mata tua Marcus bergerak liar, mencari sesuatu yang jelas-jelas merujuk pada berkas penyelidikan itu, serta bagaimana kecurigaannya menguat bahwa ada mata-mata yang mengawasi setiap gerak-gerik mereka di dalam klan.​Setelah Aldrick menyelesaikan kalimat terakhirnya, ti

  • Anak Rahasia Sang Alpha   178. Awal Terbukanya Konspirasi

    ​Jemari Aaron terhenti tepat pada selembar foto yang terletak di bagian tengah halaman dokumen.Itu adalah sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak yang cukup jauh, menyajikan fokus yang sedikit buram namun menyimpan detail yang mengerikan.Di depan terlihat Hendra. Namun, bukan pria itu yang menyita seluruh perhatian Aaron, melainkan sosok yang berdiri beberapa meter di belakangnya.Pria bermantel hitam.Seketika itu juga, atmosfer di dalam ruang kerja sang Alpha mendadak terasa menyusut, digantikan oleh hawa sedingin es yang merayap dari balik dinding. Aaron menatap foto itu dalam keheningan yang mencekam. Terlalu lama, hingga Lucien dan Aldrick yang berdiri di hadapannya mulai menahan napas.​"Jelaskan," perintah Aaron.Suaranya rendah, serak, dan mengintimidasi, seolah-olah getarannya sendiri adalah sebuah peringatan bahaya yang nyata.​Aldrick berdeham pelan, mencoba mengusir ketegangan yang mulai menguji naluri serigalanya.Ia segera mengangguk patuh."Saya a

  • Anak Rahasia Sang Alpha   177. Benang Merah Takdir

    Pagi itu, Aaron berdiri di depan jendela kaca ruang kerjanya yang megah di gedung pencakar langit miliknya.Dari ketinggian tersebut, hiruk-pikuk seluruh kota tampak begitu kecil dan tidak berarti. Namun, perhatian sang Alpha sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar sana.Di telapak tangannya tergeletak sebuah cincin tua bermata merah peninggalan ibunya. Kilauan batu merah itu memantulkan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela besar.Untuk beberapa saat, Aaron hanya menatap benda itu dalam diam.Logam halusnya terasa hangat di kulit Aaron, seolah menyimpan sisa-sisa memori yang sampai saat ini terekam jelas di ingatan.Ia lalu menggenggam cincin itu erat.Pikirannya melayang jauh, mengarungi garis waktu menuju masa lalu yang telah lama terkubur.Kepada ayah dan ibunya.Kepada cerita yang berulang kali ia dengar sejak kecil.Tentang seorang manusia biasa yang dengan berani menolong ayahnya ketika terluka parah di Hutan Larangan.Sebagai balasannya, sebuah liontin gio

  • Anak Rahasia Sang Alpha   5. Aroma yang Menjerat

    Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.​"Fok

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

  • Anak Rahasia Sang Alpha   2. Benih sang Alpha

    ​“A-apa maksud—ah!”​Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.​Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status