Compartir

7. Gairah Membakar

Autor: malapalas
last update Fecha de publicación: 2026-04-01 13:45:59

Aaron menarik kursi di hadapannya, memaksaku duduk tepat di bawah sorot lampu kerja yang membuatnya tampak seperti hakim yang sedang menginterogasi orang pesakitan.

Ia membuka kotak perak itu. Aroma daging panggang yang diperkaya rempah-rempah menyeruak, aroma yang anehnya membuat perutku yang mual mendadak tenang.

​"Makan," perintahnya singkat.

​Aku mengambil sendok dengan tangan bergetar. Setiap suapan yang masuk ke mulutku diawasi tanpa berkedip. Aaron bersedekap, matanya yang berkilat keema
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Anak Rahasia Sang Alpha   158. Mundur untuk Menikam

    Keheningan di dalam ruang kerja itu terasa begitu mencekik. Pertanyaan Jessi menggantung di udara, menjadi cerminan dari jurang kehancuran yang kini terbentang tepat di depan kaki mereka.Jessi masih duduk membeku di sofa. Pikirannya kacau. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.Semua yang selama ini ia yakini sedang runtuh di depan matanya.Aaron tidak jatuh.Tidak hancur.Tidak kehilangan apa pun.Sebaliknya, pria itu justru menjadi jauh lebih kuat."Aku membencinya." Suara Jessi terdengar lirih.Namun beberapa detik kemudian, emosinya kembali mengambil alih dengan kemarahan yang liar dan tak terkendali."Aku membencinya!" ulangnya lebih keras. Ia bangkit berdiri dengan napas memburu. "Kenapa selalu seperti ini?!"Stanley mengawasinya dalam diam.​"Ini tidak adil! Kenapa Aaron selalu mendapatkan apa yang dia inginkan?!" teriak Jessi, memukul permukaan meja kerja Stanley dengan kedua tangannya hingga berkas-berkas di atasnya bergetar.​"Jessi, jaga suaramu—"​"Aku tidak bisa dia

  • Anak Rahasia Sang Alpha   157. Riak Badai dari Utara

    "Diam!"​Kata itu keluar dari mulut Stanley bukan sebagai teguran, melainkan sebagai perintah yang memotong kalimat Jessi dengan sangat kejam. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk bantahan.​Jessi terpaku, mulutnya yang setengah terbuka mendadak kaku. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sorot mata penuh kasih atau kelembutan seorang ayah yang biasa memanjakannya.Wajah Stanley mengeras seperti batu karang, dengan urat-urat di pelipis yang berdenyut tegang. Tatapan Stanley menyapu koridor rumah, melihat para pelayan yang bergerak gelisah di sekitar mereka.​"Ikut aku ke ruang kerja. Sekarang!" perintahnya tanpa basa-basi.Tidak ada nada lembut. Tidak ada kesabaran. Tidak ada perlakuan istimewa yang biasa diberikan Stanley kepadanya.Hanya perintah. Dingin dan keras.Jessi seketika menelan ludah."Baik, Ayah."Beberapa menit kemudian pintu ruang kerja yang terbuat dari kayu jati tebal itu dibanting menutup, mengisolasi mer

  • Anak Rahasia Sang Alpha   156. Retaknya Perhitungan

    ​Layar televisi besar di dinding ruang tengah masih menyala, menampilkan ulang cuplikan konferensi pers yang sudah ia tonton berkali-kali. Namun setiap kali melihatnya, dadanya kian bergemuruh hebat hingga membuatnya sulit bernapas.Kenyataan yang terpampang di layar benar-benar menghantam Jessi bagai petir di siang bolong.“Dengan ini kami mengumumkan bahwa pihak investor Singapura secara resmi telah menandatangani kontrak kerja sama eksklusif.”Di layar televisi itu, Marcus berdiri dengan senyum kepuasan yang sulit disembunyikan. Puluhan wartawan mengelilinginya, sementara kilatan lampu kamera terus menyambar tanpa henti.“Proyek Wilayah Utara akan resmi dijalankan mulai hari ini sebagai kawasan hunian termewah yang tidak ada duanya, didukung penuh oleh investasi finansial dalam jumlah luar biasa.”Kata-kata yang keluar dari bibir Marcus terdengar seperti lonceng kematian bagi rencana-rencana Jessi.Lalu....Klik.Jessi langsung mematikan televisi.Namun itu tidak membantu.Suara Ma

  • Anak Rahasia Sang Alpha   155. Akhirnya Pulang

    Aku kembali menunduk menatap jas mahal berwarna gelap yang kini menutupi tubuhku dengan sempurna. Lalu tanpa sadar aku tersenyum kecil."Aku suka kamu cemburu. Itu berarti ... kamu benar-benar mencintaiku."Entah kenapa suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya.Mungkin karena malu, mungkin juga karena aku terlalu bahagia.Saat aku mengangkat kepala kembali, Aaron sedang menatapku. Tatapan itu membuat jantungku berdegup lebih cepat.Matanya terlihat begitu hangat. Begitu lembut dan penuh perasaan. Seolah di dunia ini hanya ada aku dan dirinya.Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa gugup ketika menerima tatapan seperti itu. Karena kini aku tahu apa arti sorot mata tersebut.Cinta.Murni dan tanpa keraguan.Sudut bibir Aaron perlahan terangkat. Melihat reaksiku rupanya cukup untuk membuat suasana hatinya membaik.Aku langsung memalingkan wajah karena merasa semakin malu.Di belakang kami, Lucien berdeham pelan. "Tuan."Aaron tidak menoleh. "Apa?""Kami masih ada di sini."A

  • Anak Rahasia Sang Alpha   154. Warna Cemburu

    Mesin jet menderu halus, memotong lapisan awan tebal dan meninggalkan wilayah pegunungan kabut Aldhen di belakang mereka. Di dalam kabin yang senyap, Aaron langsung mengambil posisi di kursi tepat di sebelah Fay.​Tak sedetik pun tangan kekar Aaron melepaskan jemari Fay. Ia menggenggamnya erat, ibu jarinya bergerak mengusap punggung tangan Fay dengan ritme yang menenangkan, seolah terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa sang mate kini benar-benar sudah kembali ke pelukannya.Fay menoleh ke luar jendela besar di sampingnya. Di bawah sana, hamparan hijau hutan yang luas bergradasi dengan warna jingga keemasan dari matahari yang mulai terbenam. Pemandangan itu begitu megah dan damai.​"Indah sekali," gumam Fay pelan, memecah keheningan. "Dari atas sini, bumi terlihat sangat tenang."​Fay menempelkan jemarinya ke kaca jendela, matanya berbinar menatap semburat senja."Lihat itu, Aaron. Sungai di bawah sana terlihat seperti benang perak yang berkilau. Dan hutan itu ... rasanya nggak percaya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   153. Sayap Perlindungan

    Setelah gerbang utama Benteng Batu menghilang di balik kabut pegunungan, rombongan Aaron terus bergerak menjauh dari wilayah Aldhen.Angin pegunungan berembus semakin kencang, membawa aroma tanah basah dan dingin yang menusuk tulang. Namun, di dalam barisan pasukan klan dominan, ketegangan yang sebelumnya mencengkeram kini telah mencair, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi untuk mengawal kepulangan sang Luna.Jalur berbatu yang mereka lalui menurun perlahan mengikuti lekuk lereng gunung. Di beberapa bagian, tebing-tebing tinggi menjulang di sisi jalan, sementara hamparan lembah luas terlihat membentang jauh di bawah sana.Fay berjalan di sisi Aaron dengan tangan yang tidak pernah benar-benar dilepaskan oleh pria itu.Jemari besar Aaron menggenggam tangannya erat namun hangat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia lengah sedetik saja.Bahkan setiap kali jalur yang mereka lalui sedikit tidak rata, Aaron otomatis memperlambat langkahnya agar Fay tidak kesulitan mengikuti

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status