Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 71. Sumpah dalam Keheningan

Share

71. Sumpah dalam Keheningan

Author: malapalas
last update publish date: 2026-05-09 18:51:09

​"AKU TIDAK MAU INI! AKU MAU WAJAHKU KEMBALI!"

Jessi berteriak histeris. Ia mulai mencengkeram sprei, napasnya memburu, dan matanya memerah dipenuhi campuran antara rasa takut, marah dan ketidakpercayaan.

Tangannya kembali menyentuh wajahnya. Ujung jarinya meraba kulit itu dengan panik, bukan lagi untuk memastikan apa yang ia lihat nyata, melainkan seperti ingin mengoyak dan melepaskannya dari dirinya sendiri.

​"Dia...," bisiknya tiba-tiba.

Tubuhnya menegang, perlahan tatapannya berubah. Kepani
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   252. Jangan Sentuh Mereka

    Tanganku semakin erat memeluk Arsen.Belum sempat aku mengatakan apa pun, terdengar langkah kaki dari lorong.Sosok lain muncul di ambang pintu.Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan ekspresi dingin. Lucien berada beberapa langkah di belakangnya, memasang wajah kaku.Aku menatap pria itu dengan waspada. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.Lucien segera menundukkan kepala kepada Aaron.“Alpha, semua tim prajurit di lantai bawah sudah berhasil menahan rombongan utusan Dewan Tetua di tempat. Hanya saja, Silas berhasil menerobos sampai ke lantai atas.”Nama itu membuatku terdiam sejenak.Silas?Aaron sudah mengenalnya. Dari cara Aaron menatapnya, jelas pria itu bukan orang asing baginya.Aaron hanya memberikan satu jawaban.“Keluar.”Suaranya singkat dan dingin.Cakar Aaron perlahan muncul dari jemarinya. Kilatan tajamnya langsung membuat udara di kamar terasa berat.Silas tetap berdiri di tempat.“Kalian tidak bisa menghalangi kami,” katanya tenang. “Kami adalah utusan resmi dar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   251. Mereka Datang untuk Arsen

    Aku mendengar ada suara dari luar pintu.Awalnya hanya terdengar samar, seperti percakapan yang tertahan di balik dinding. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu semakin jelas.Suara prajurit dan seorang wanita.Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar sambil menggendong Arsen yang masih berada dalam pelukanku.“Tidak, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”Suara prajurit itu terdengar tegas.Aku mengernyit."Siapa wanita itu?" bisikku lirih.Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Arsen kugendong lebih erat, memastikan tubuh kecilnya tetap nyaman dalam pelukanku.“Aku sudah mengatakan bahwa aku perlu masuk,” ujar wanita itu dengan nada dingin.“Maaf, Nona. Kami tidak menerima perintah dari Alpha Aaron untuk membuka pintu ini.”“Aku tidak membutuhkan izin dari Aaron.”Jantungku berdegup lebih cepat.Aaron?Wanita ini mengenal Aaron?“Aku datang membawa perintah langsung dari Tetua Utama dan Dewan Klan,” lanjutnya. “Apa kalian pikir aku akan berdiri di depan pintu hanya kare

  • Anak Rahasia Sang Alpha   250. Hukum Klan yang Terlarang

    Aaron menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Baginya, kedatangan para tamu itu tak lebih dari embusan angin lalu yang tidak berarti.Wajah tampannya tampak datar tanpa ekspresi. Namun, begitu tiba di ruang tamu, tatapan dinginnya langsung menyorot tajam. Beberapa orang berdiri di sana mengenakan pakaian formal dengan lambang klan terpasang di dada. Di belakang mereka, sejumlah pengawal berdiri dengan sikap kaku.Dan di antara rombongan itu, manik mata Aaron mengunci satu sosok di barisan belakang.​Stanley.Tubuh pria paruh baya itu kini tampak sedikit membungkuk dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan kemarin.Kehancuran finansial yang menghantam keluarganya dalam satu malam telah mengikis hampir seluruh kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya.Pria yang dulu membanggakan diri sebagai penguasa klan luar sekaligus investor terkaya, kini berdiri seperti seekor anjing kurus yang baru dibuang pemiliknya.Setelah mencoret Jessi dari garis keturunan dan menolak men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   249. Tamu yang Tak Diundang

    Pagi itu terasa jauh lebih tenang di kediaman pribadi Aaron.Sebelum berangkat ke kantor, Aaron menyempatkan diri menemui Arsen dan Fay.Sang Luna tampak duduk bersandar di kepala ranjang sambil menggendong Arsen. Bayi kecil itu sedang menyusu dengan tenang dalam pelukannya, sementara Aaron tampak berdiri gagah. Pria itu sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, setelan kemeja dipadu jas kantor berkualitas tinggi yang terukur sempurna di tubuh atletisnya.​Setiap kali melihat Aaron berpenampilan seperti itu, Fay tidak bisa memungkiri bayangan masa lalu saat ia masih bekerja di kantor Aaron selalu berputar di ingatan.Penampilan elegan itu selalu berhasil melipatgandakan ketampanannya, memancarkan pesona maskulin yang begitu khas dari dirinya. Pembawaan Aaron yang tetap tenang, dingin, dan berwibawa dalam balutan jas kantor selalu sukses membuat jantung Fay berdebar kencang, sama seperti pertama kali ia mengagumi pria itu dari kejauhan."Dia makin mirip kamu kalau lagi tidur begini," gum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   248. Jejak Sang Pewaris

    Atmosfer di sayap barat markas utama klan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.Pintu ruang kerja Tetua Marcus terbuka kasar.Stanley melangkah masuk dengan napas memburu. Jas mahal yang biasanya selalu dikenakannya dengan sempurna kini kusut. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan sorot matanya dipenuhi kepanikan yang sulit disembunyikan.Pria yang kemarin masih memiliki kekuasaan besar kini datang tanpa sedikit pun wibawa.Marcus tetap duduk di balik meja kerjanya.Tangannya masih memegang cangkir porselen. Ia menyesap tehnya perlahan, seolah kedatangan Stanley yang nyaris kehilangan kendali bukan sesuatu yang penting."Marcus!" Stanley menghampiri meja dengan langkah tergesa. "Kamu harus membantuku!"Marcus mengangkat pandangan dengan tenang."Aku sudah mendengarnya, Stanley.""Kalau begitu lakukan sesuatu!" bentak Stanley. "Aaron menghancurkan perusahaanku! Rekening-rekeningku dibekukan, asetku disita, jalur perdaganganku diputus, dan sahamku jatuh dalam hitungan jam!"Ia men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   247. Ketika Segalanya Runtuh

    Keesokan harinya suasana di kediaman mewah Stanley tidak lagi memancarkan keagungan sebuah klan terpandang. Pagi yang biasanya diisi dengan cangkir-cangkir teh mahal dan deretan pelayan yang membungkuk hormat, kini berubah menjadi neraka kepanikan yang menyesakkan napas.​Pintu depan kediaman dibanting kasar. Suara teriakan, jeritan tangis, dan benturan barang-barang pecah menggema dari ruang tengah hingga ke lorong utama.​"Stanley! Apa yang sebenarnya terjadi?! Bank memblokir seluruh kartu kredit kami! Rumah ini ... rumah ini ditempeli segel penyitaan!" seru seorang wanita paruh baya—salah satu kerabat senior—dengan wajah pias dan mata membelalak horor.​Di sudut ruangan lain, sepupu-sepupu Jessi yang selama ini hidup mewah dan menggantungkan seluruh gaya hidup mereka dari kucuran dana perusahaan Stanley, menangis histeris. Mereka memegangi ponsel masing-masing yang tanpa henti menayangkan berita kehancuran finansial keluarga mereka.​"Paman! Saham kita anjlok! Nilainya jatuh sampai

  • Anak Rahasia Sang Alpha   34. Serigala Putih Perak

    Lucien yang berdiri beberapa meter dari Aaron segera menyadari perubahan drastis pada pemimpinnya itu. "Tuan? Ada apa?"​"Mereka memang memancing kita ke sini," desis Aaron dengan nada suara yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Jebakan. Jessi ... dia menggunakan kekacauan ini

  • Anak Rahasia Sang Alpha   33. Ikatan yang Memanggil

    Aaron berlari menembus lebatnya hutan tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Paru-parunya terasa terbakar, namun ia tidak peduli. Udara dingin menerpa wajahnya, sementara aroma darah semakin kuat setiap kali ia mendekati perbatasan utara. Dalam hitungan menit pepohonan mulai menipis, memperlihatkan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   25. Istirahatlah, Bunga Hujanku

    Suara jangkrik di luar jendela perlahan memudar, tenggelam oleh keheningan yang terasa berat namun familier bagiku. Aku berada di antara sadar dan tidak. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah-olah aku sedang mengapung di atas awan, namun di saat yang sama, rasa lelah yang luar biasa menahan kelopak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   22. Malam Pertama Bulan Merah

    ​Aku sudah menyadarinya bahkan sebelum langit berubah warna. Ada sesuatu yang salah dengan malam ini. Udara terasa menipis, seolah oksigen ditarik paksa dari paru-paruku.​Kulitku mulai mengeluarkan hawa panas yang tidak wajar. Ini bukan demam biasa, melainkan sengatan yang merayap dari dalam sumsu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status