Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 237. Napas Terakhir Sang Penjaga

Share

237. Napas Terakhir Sang Penjaga

Author: malapalas
last update publish date: 2026-08-19 21:02:30

Aaron melangkah mendekat dengan mata memancarkan kematian murni. Namun tepat sebelum cakar Aaron merobek leher Jessi, sesosok tubuh bayangan melesat dengan kecepatan tinggi.

"Jessi!"

Sosok Stanley melesat keluar dari kegelapan. Barisan prajurit elit yang mengepung dari kejauhan refleks menghunuskan belati gading mereka, siap menyerang, tetapi tertahan oleh kibasan tangan tenang sang Alpha.

Stanley muncul dari balik pepohonan. Dalam sekejap, ia meraih putrinya dan menariknya menjauh.

"Ayah...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   255. Titah Tanpa Ragu

    Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung utama perusahaan.Aaron turun dengan langkah tenang, mengenakan setelan hitam yang rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya tetap datar seperti biasa, sementara Lucien turun beberapa detik kemudian dan langsung berjalan di belakangnya.Aaron tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berjalan menuju pintu utama. Begitu ia melangkah masuk, seketika itu juga suasana berubah.Udara seolah membeku. Percakapan terhenti tepat di tengah kalimat, dan kesibukan pagi terserap ke dalam keheningan yang mendadak.Seluruh karyawan yang berada di lantai bawah, terutama para staf wanita, menghentikan aktivitas mereka secara serentak.Tatapan mereka langsung tertuju kepada satu orang yang baru saja memasuki gedung.Aaron.Tidak ada yang benar-benar terkejut melihatnya berada di sana. Bagaimanapun, dia adalah CEO mereka. Namun, setiap kali Aaron muncul, reaksi yang sama selalu saja terjadi.Mereka tetap sulit mengalihkan pandangan.Wajah tampan itu seolah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   254. Langkah Sang Alpha

    Begitu pintu kembali tertutup, seluruh kekuatanku mendadak menguap. Lututku lemas dan tubuhku meluncur turun. Sebelum aku menyentuh lantai, tangan kekar Aaron menangkap pinggangku, menahan tubuhku dengan cekatan.“Kamu terluka, Fay? Katakan padaku, mana yang sakit?”Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba menahan air mata yang mendadak menetes di pipi.“Aku nggak apa-apa, tapi dia hampir saja—”“Aku tahu,” potong Aaron pelan, menyapukan ibu jarinya untuk menghapus air mataku. “Aku berjanji, hal seperti ini nggak akan terulang lagi.”Aku mendekap Arsen lebih erat ke dadaku. Tubuh kecil itu terasa hangat dan bernapas dengan teratur, pertanda dia baik-baik saja.Namun, kata-kata Lira terus menggema dan menancap dalam di kepalaku bagai taring yang beracun.“Serahkan anak itu dengan sukarela, atau Dewan Klan akan turun tangan mengambilnya.”Aku memejamkan mata erat-erat dengan dada yang sesak.“Nggak, Aaron ... nggak,” bisikku histeris. “Aku nggak akan pernah menyerahkan Arsen pada monster

  • Anak Rahasia Sang Alpha   253. Peringatan Lima Hari

    Tubuhku jatuh tersungkur. Bahu kiriku menghantam lantai dengan keras hingga rasa nyeri menjalar ke seluruh lengan. Namun refleks bertahanku bekerja cepat, aku memeluk Arsen mati-matian, menjadikan tubuhku sendiri sebagai bantalan agar dia tidak tersentuh sedikit pun.“FAY!”Aku mendengar Aaron memanggilku dengan panik dan khawatir.Dalam sekejap, tubuhku sudah diangkat dari lantai. Aaron meraih tubuhku dan menarikku ke dalam pelukannya, sementara tanganku masih erat memeluk Arsen.“Fay, kamu terluka?”Aku menggeleng cepat meski bahu kiriku masih terasa nyeri.“Aku nggak apa-apa.”Aaron menatapku beberapa detik, memastikan tidak ada luka serius pada tubuhku.Di saat yang sama, aku melihat Lucien meninggalkan posisinya di depan pintu dan langsung mencengkeram leher Lira.Tubuh wanita itu terdorong mundur hingga punggungnya hampir menghantam dinding.“Jangan bergerak.”Suara Lucien terdengar rendah dan mengancam.Tangannya tetap mencengkeram leher Lira dengan kuat, tetapi ia masih menaha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   252. Jangan Sentuh Mereka

    Tanganku semakin erat memeluk Arsen.Belum sempat aku mengatakan apa pun, terdengar langkah kaki dari lorong.Sosok lain muncul di ambang pintu.Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan ekspresi dingin. Lucien berada beberapa langkah di belakangnya, memasang wajah kaku.Aku menatap pria itu dengan waspada. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.Lucien segera menundukkan kepala kepada Aaron.“Alpha, semua tim prajurit di lantai bawah sudah berhasil menahan rombongan utusan Dewan Tetua di tempat. Hanya saja, Silas berhasil menerobos sampai ke lantai atas.”Nama itu membuatku terdiam sejenak.Silas?Aaron sudah mengenalnya. Dari cara Aaron menatapnya, jelas pria itu bukan orang asing baginya.Aaron hanya memberikan satu jawaban.“Keluar.”Suaranya singkat dan dingin.Cakar Aaron perlahan muncul dari jemarinya. Kilatan tajamnya langsung membuat udara di kamar terasa berat.Silas tetap berdiri di tempat.“Kalian tidak bisa menghalangi kami,” katanya tenang. “Kami adalah utusan resmi dar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   251. Mereka Datang untuk Arsen

    Aku mendengar ada suara dari luar pintu.Awalnya hanya terdengar samar, seperti percakapan yang tertahan di balik dinding. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu semakin jelas.Suara prajurit dan seorang wanita.Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar sambil menggendong Arsen yang masih berada dalam pelukanku.“Tidak, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”Suara prajurit itu terdengar tegas.Aku mengernyit."Siapa wanita itu?" bisikku lirih.Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Arsen kugendong lebih erat, memastikan tubuh kecilnya tetap nyaman dalam pelukanku.“Aku sudah mengatakan bahwa aku perlu masuk,” ujar wanita itu dengan nada dingin.“Maaf, Nona. Kami tidak menerima perintah dari Alpha Aaron untuk membuka pintu ini.”“Aku tidak membutuhkan izin dari Aaron.”Jantungku berdegup lebih cepat.Aaron?Wanita ini mengenal Aaron?“Aku datang membawa perintah langsung dari Tetua Utama dan Dewan Klan,” lanjutnya. “Apa kalian pikir aku akan berdiri di depan pintu hanya kare

  • Anak Rahasia Sang Alpha   250. Hukum Klan yang Terlarang

    Aaron menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Baginya, kedatangan para tamu itu tak lebih dari embusan angin lalu yang tidak berarti.Wajah tampannya tampak datar tanpa ekspresi. Namun, begitu tiba di ruang tamu, tatapan dinginnya langsung menyorot tajam. Beberapa orang berdiri di sana mengenakan pakaian formal dengan lambang klan terpasang di dada. Di belakang mereka, sejumlah pengawal berdiri dengan sikap kaku.Dan di antara rombongan itu, manik mata Aaron mengunci satu sosok di barisan belakang.​Stanley.Tubuh pria paruh baya itu kini tampak sedikit membungkuk dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan kemarin.Kehancuran finansial yang menghantam keluarganya dalam satu malam telah mengikis hampir seluruh kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya.Pria yang dulu membanggakan diri sebagai penguasa klan luar sekaligus investor terkaya, kini berdiri seperti seekor anjing kurus yang baru dibuang pemiliknya.Setelah mencoret Jessi dari garis keturunan dan menolak men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   67. Ketika Pemburu Mulai Saling Membaca

    ​​Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.​Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa la

  • Anak Rahasia Sang Alpha   58. Api yang Dibawa Pulang

    Jessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak se

  • Anak Rahasia Sang Alpha   55. Kembalinya Sang Predator

    Udara di lantai eksekutif pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Aaron terdengar tenang namun mematikan, menggema di lorong yang sunyi. Di belakangnya, Aldrick dan Lucien berjalan dalam diam, memberikan aura perlindungan yang sangat kuat. Tidak ada satu pun staf atau karyawan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status