Início / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 255. Titah Tanpa Ragu

Compartilhar

255. Titah Tanpa Ragu

Autor: malapalas
last update Data de publicação: 2026-09-08 20:39:10

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung utama perusahaan.

Aaron turun dengan langkah tenang, mengenakan setelan hitam yang rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya tetap datar seperti biasa, sementara Lucien turun beberapa detik kemudian dan langsung berjalan di belakangnya.

Aaron tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berjalan menuju pintu utama. Begitu ia melangkah masuk, seketika itu juga suasana berubah.

Udara seolah membeku. Percakapan terhenti tepat di tengah kalimat, dan kesi
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Anak Rahasia Sang Alpha   255. Titah Tanpa Ragu

    Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung utama perusahaan.Aaron turun dengan langkah tenang, mengenakan setelan hitam yang rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya tetap datar seperti biasa, sementara Lucien turun beberapa detik kemudian dan langsung berjalan di belakangnya.Aaron tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berjalan menuju pintu utama. Begitu ia melangkah masuk, seketika itu juga suasana berubah.Udara seolah membeku. Percakapan terhenti tepat di tengah kalimat, dan kesibukan pagi terserap ke dalam keheningan yang mendadak.Seluruh karyawan yang berada di lantai bawah, terutama para staf wanita, menghentikan aktivitas mereka secara serentak.Tatapan mereka langsung tertuju kepada satu orang yang baru saja memasuki gedung.Aaron.Tidak ada yang benar-benar terkejut melihatnya berada di sana. Bagaimanapun, dia adalah CEO mereka. Namun, setiap kali Aaron muncul, reaksi yang sama selalu saja terjadi.Mereka tetap sulit mengalihkan pandangan.Wajah tampan itu seolah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   254. Langkah Sang Alpha

    Begitu pintu kembali tertutup, seluruh kekuatanku mendadak menguap. Lututku lemas dan tubuhku meluncur turun. Sebelum aku menyentuh lantai, tangan kekar Aaron menangkap pinggangku, menahan tubuhku dengan cekatan.“Kamu terluka, Fay? Katakan padaku, mana yang sakit?”Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba menahan air mata yang mendadak menetes di pipi.“Aku nggak apa-apa, tapi dia hampir saja—”“Aku tahu,” potong Aaron pelan, menyapukan ibu jarinya untuk menghapus air mataku. “Aku berjanji, hal seperti ini nggak akan terulang lagi.”Aku mendekap Arsen lebih erat ke dadaku. Tubuh kecil itu terasa hangat dan bernapas dengan teratur, pertanda dia baik-baik saja.Namun, kata-kata Lira terus menggema dan menancap dalam di kepalaku bagai taring yang beracun.“Serahkan anak itu dengan sukarela, atau Dewan Klan akan turun tangan mengambilnya.”Aku memejamkan mata erat-erat dengan dada yang sesak.“Nggak, Aaron ... nggak,” bisikku histeris. “Aku nggak akan pernah menyerahkan Arsen pada monster

  • Anak Rahasia Sang Alpha   253. Peringatan Lima Hari

    Tubuhku jatuh tersungkur. Bahu kiriku menghantam lantai dengan keras hingga rasa nyeri menjalar ke seluruh lengan. Namun refleks bertahanku bekerja cepat, aku memeluk Arsen mati-matian, menjadikan tubuhku sendiri sebagai bantalan agar dia tidak tersentuh sedikit pun.“FAY!”Aku mendengar Aaron memanggilku dengan panik dan khawatir.Dalam sekejap, tubuhku sudah diangkat dari lantai. Aaron meraih tubuhku dan menarikku ke dalam pelukannya, sementara tanganku masih erat memeluk Arsen.“Fay, kamu terluka?”Aku menggeleng cepat meski bahu kiriku masih terasa nyeri.“Aku nggak apa-apa.”Aaron menatapku beberapa detik, memastikan tidak ada luka serius pada tubuhku.Di saat yang sama, aku melihat Lucien meninggalkan posisinya di depan pintu dan langsung mencengkeram leher Lira.Tubuh wanita itu terdorong mundur hingga punggungnya hampir menghantam dinding.“Jangan bergerak.”Suara Lucien terdengar rendah dan mengancam.Tangannya tetap mencengkeram leher Lira dengan kuat, tetapi ia masih menaha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   252. Jangan Sentuh Mereka

    Tanganku semakin erat memeluk Arsen.Belum sempat aku mengatakan apa pun, terdengar langkah kaki dari lorong.Sosok lain muncul di ambang pintu.Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan ekspresi dingin. Lucien berada beberapa langkah di belakangnya, memasang wajah kaku.Aku menatap pria itu dengan waspada. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.Lucien segera menundukkan kepala kepada Aaron.“Alpha, semua tim prajurit di lantai bawah sudah berhasil menahan rombongan utusan Dewan Tetua di tempat. Hanya saja, Silas berhasil menerobos sampai ke lantai atas.”Nama itu membuatku terdiam sejenak.Silas?Aaron sudah mengenalnya. Dari cara Aaron menatapnya, jelas pria itu bukan orang asing baginya.Aaron hanya memberikan satu jawaban.“Keluar.”Suaranya singkat dan dingin.Cakar Aaron perlahan muncul dari jemarinya. Kilatan tajamnya langsung membuat udara di kamar terasa berat.Silas tetap berdiri di tempat.“Kalian tidak bisa menghalangi kami,” katanya tenang. “Kami adalah utusan resmi dar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   251. Mereka Datang untuk Arsen

    Aku mendengar ada suara dari luar pintu.Awalnya hanya terdengar samar, seperti percakapan yang tertahan di balik dinding. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu semakin jelas.Suara prajurit dan seorang wanita.Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar sambil menggendong Arsen yang masih berada dalam pelukanku.“Tidak, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”Suara prajurit itu terdengar tegas.Aku mengernyit."Siapa wanita itu?" bisikku lirih.Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Arsen kugendong lebih erat, memastikan tubuh kecilnya tetap nyaman dalam pelukanku.“Aku sudah mengatakan bahwa aku perlu masuk,” ujar wanita itu dengan nada dingin.“Maaf, Nona. Kami tidak menerima perintah dari Alpha Aaron untuk membuka pintu ini.”“Aku tidak membutuhkan izin dari Aaron.”Jantungku berdegup lebih cepat.Aaron?Wanita ini mengenal Aaron?“Aku datang membawa perintah langsung dari Tetua Utama dan Dewan Klan,” lanjutnya. “Apa kalian pikir aku akan berdiri di depan pintu hanya kare

  • Anak Rahasia Sang Alpha   250. Hukum Klan yang Terlarang

    Aaron menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Baginya, kedatangan para tamu itu tak lebih dari embusan angin lalu yang tidak berarti.Wajah tampannya tampak datar tanpa ekspresi. Namun, begitu tiba di ruang tamu, tatapan dinginnya langsung menyorot tajam. Beberapa orang berdiri di sana mengenakan pakaian formal dengan lambang klan terpasang di dada. Di belakang mereka, sejumlah pengawal berdiri dengan sikap kaku.Dan di antara rombongan itu, manik mata Aaron mengunci satu sosok di barisan belakang.​Stanley.Tubuh pria paruh baya itu kini tampak sedikit membungkuk dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan kemarin.Kehancuran finansial yang menghantam keluarganya dalam satu malam telah mengikis hampir seluruh kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya.Pria yang dulu membanggakan diri sebagai penguasa klan luar sekaligus investor terkaya, kini berdiri seperti seekor anjing kurus yang baru dibuang pemiliknya.Setelah mencoret Jessi dari garis keturunan dan menolak men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

  • Anak Rahasia Sang Alpha   81. Ancaman dari Dalam Rahim

    "Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.​Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."​Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   77. Saat Bulan Merah Naik

    Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   73. Predator yang Terbangun

    Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.​Ia bisa merasakannya dengan jelas

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status