Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 46. Rantai Takdir

Share

46. Rantai Takdir

Author: malapalas
last update publish date: 2026-04-26 11:02:16
Aku kembali terdiam. Sejujurnya, kepalaku masih dipenuhi banyak pertanyaan yang tak terjawab, tapi aura Aaron yang begitu dominan membuat lidahku kelu. Ia menarik napas panjang, seolah berusaha menahan kesabaran yang hampir habis.

"Seenggaknya satu hal sudah jelas sekarang," katanya.

​"Apa?"

​"Kamu nggak suka aku bersama orang lain."

​Aku memejamkan mata sesaat, meresapi pengakuan yang baru saja terlontar. "Aaron—"

​"Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup," lanjutnya, memotong upayaku untuk berk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   50. Saat Kawanan Datang

    Lolongan itu terdengar lagi, kali ini jauh lebih dekat hingga getarannya seolah merambat di kaca jendela kamar. Bahkan geraman mereka menggelegar seperti guntur. Refleks aku turun dari ranjang dengan tergesa sebelum Aaron mencoba menghalangiku.Kakiku terasa dingin saat bersentuhan dengan lantai, namun aku tetap melangkah keluar kamar dengan napas tertahan.Dari balik jendela, aku melihat nenek sudah berdiri di halaman rumah sambil memegang tongkat kayunya. Cahaya abu-abu fajar menyinari punggungnya yang tetap tegak meski usianya sudah senja.Mata beliau masih menatap depan ke arah sesuatu yang tertutup kabut tebal. Di sana, di luar pagar berdiri dua sosok serigala.Aku terpaku, bulu kudukku seketika berdiri. Bulu mereka gelap sehitam jelaga, tubuh mereka sangat besar meski tak sebesar serigala Aaron, dan aura yang mereka pancarkan begitu menekan, seolah oksigen di sekitarku mendadak menipis.​"Apa yang kalian inginkan?" Suara nenek terdengar datar, namun tegas.Kedua serigala itu tid

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kusadari bukanlah dinginnya udara fajar. Sebaliknya, aku merasakan kehangatan yang luar biasa. Perasaan hangat dan nyaman. Bahkan terlalu nyaman. Seolah suasana damai dan ketenangan ini menyatu dalam tubuhku yang membuatku lega dan juga lebih ... hidup.Tiba-tiba aku merasa ada hembusan napas seseorang yang sangat teratur, menyapu pelan tengkukku dan menciptakan sensasi meremang di sekujur tubuh.Mataku terbuka perlahan. Butuh beberapa detik bagiku untuk memahami situasi ini. Kejadian semalam ... tentang pengakuanku, cemburuku, dan bagaimana Aaron membalikkan posisi hingga mengurungku. Semua terbayang kembali seperti film yang diputar ulang. Wajahku teras

  • Anak Rahasia Sang Alpha   48. Topeng Seorang Pelindung

    Hendra hanya diam. Wajahnya datar dan tak terbaca.​"Siapa kamu?" tanya Hendra. Suaranya terdengar dingin dan penuh kewaspadaan.​Pria bermantel hitam itu tersenyum tipis. "Seseorang yang datang untuk memastikan kamu nggak lupa pada siapa kamu berutang nyawa."​"Aku nggak mengenalmu," desis Hendra.​"Nggak perlu," jawab pria itu santai sembari melangkah mendekatinya. "Yang penting, aku mengenalmu dengan sangat baik. Selama ini kamu menjalankan peranmu sebagai ayah yang hangat dengan cukup memukau. Bahkan istrimu sendiri percaya kamu adalah malaikat pelindung."Darah Hendra terasa membeku, namun ia tetap berdiri tegak. "Apa maksudmu dengan semua omong kosong ini?"Senyum pria itu melebar, tampak licik di bawah langit pagi yang mendung. "Waktunya sandiwara ini selesai, Hendra. Titah Tetua sudah turun."​Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih berat, seolah oksigen telah lenyap. Tiba-tiba ekspresi Hendra berubah, seringai muncul di wajahnya."Aku sudah melakukan semuanya. Menyamar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   47. Ayah yang Terlambat Mengetahui

    Pagi itu, rumah yang biasanya dipenuhi suara aktivitas sederhana terasa terlalu sunyi. Biasanya setiap libur kerja, Fay selalu pulang, menghabiskan waktu dengan bercerita kepada ayah dan ibunya. Namun kali ini, sang ayah merasa ada yang tidak beres.Tidak ada lagi celotehan Fay di setiap libur kerja seperti ini, tak terdengar gumaman kecilnya saat mencari sesuatu yang semalam ia lupa letakkan. Yang tersisa hanyalah denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik di meja makan, menciptakan irama kaku di tengah keheningan.Hendra duduk di sana, menatap kopi hitam di hadapannya yang mulai mendingin. Uapnya sudah lama menghilang, menyisakan cairan kental yang memantulkan bayangan wajahnya yang tenang namun penuh selidik. Sebagai pria yang sering meninggalkan rumah untuk urusan pekerjaan lapangan di luar kota, Hendra memiliki intuisi yang tajam dan sulit dikelabui. Ada insting yang berteriak di dalam kepalanya, memberitahunya bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan dengan rapi di bal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   46. Rantai Takdir

    Aku kembali terdiam. Sejujurnya, kepalaku masih dipenuhi banyak pertanyaan yang tak terjawab, tapi aura Aaron yang begitu dominan membuat lidahku kelu. Ia menarik napas panjang, seolah berusaha menahan kesabaran yang hampir habis."Seenggaknya satu hal sudah jelas sekarang," katanya.​"Apa?"​"Kamu nggak suka aku bersama orang lain."​Aku memejamkan mata sesaat, meresapi pengakuan yang baru saja terlontar. "Aaron—"​"Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup," lanjutnya, memotong upayaku untuk berkelit.​Aku langsung membuka mata, menatapnya dengan bingung. "Cukup? Apa maksudmu?"​Senyum miringnya kembali muncul di wajahnya. Tipis, penuh teka-teki, dan terlihat begitu puas. "Cukup untuk membuatku tahu bahwa kamu nggak akan pernah bisa lepas dari ikatan ini."Jantungku berdegup kencang, kali ini dengan irama yang berbeda. Ada rasa takut yang menyelinap, namun ada juga percikan gairah yang mulai membakar. "Itu bukan berarti aku—"​"Bukan berarti kamu milikku?" potongnya lagi, seolah dia bis

  • Anak Rahasia Sang Alpha   45. Antara Takut dan Cemburu

    “Aku ... nggak suka—""Nggak suka apa?" potongnya. Nada suaranya tetap terkendali, seolah ia tahu aku tidak akan bisa lari dari pertanyaan itu kali ini.Aku meneguk ludah kasar, sembari tatapanku beberapa kali melihat bibirnya yang semakin dekat denganku. Jantungku kembali berdegup liar. Aku berusaha mengalihkan pandangan, namun sulit. Tatapannya seperti menahanku di tempat.Aku menghela napas pelan seraya mengumpulkan keberanian. “Aku nggak suka lihat kamu dengan orang lain."Pengakuan itu keluar begitu saja tanpa sempat kutahan.Aku membeku sesaat setelahnya, seolah baru sadar apa yang barusan kukatakan.Aaron menatapku dengan sorot mata yang mendadak berubah drastis. Kepuasan yang sempat tersirat di wajahnya kini menguap, digantikan oleh kilat dingin yang membuat bulu kudukku meremang.Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi tatapan itu seolah membawa beban amarah yang sudah lama dia pendam. Ada kepedihan yang sangat dalam di balik mata emasnya, sebuah kemurkaan sunyi yang mengi

  • Anak Rahasia Sang Alpha   16. Dia menemukanku

    Aku mulai merasakan kehadirannya secara nyata sehari setelah percakapanku dengan nenek.​Awalnya hanya lewat mimpi.Mimpi itu membawaku ke tengah hutan pinus. Udara di sana sangat dingin dan mencekam. Setiap langkah yang aku ambil terasa lembap, licin, membuatku nyaris tergelincir. Tidak ada siapa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   13. Membawa Rahasia Pergi

    Aku turun dari taksi di sebuah halte terdekat dengan napas yang masih sedikit memburu. Di halte ini, aku berdiri di antara kerumunan orang, berharap hiruk-pikuk yang bercampur bau asap kendaraan bisa mengaburkan keberadaanku dari kejaran Aaron."Tenang, tenang, Fay. Kamu aman di sini. Banyak orang

  • Anak Rahasia Sang Alpha   11. Rencana yang Berkhianat

    ​(Malam Kejadian – Di Luar Ruang Kerja Aaron)​Di luar pintu ruang kerja CEO, langkah kaki seorang wanita cantik menggema di lorong eksekutif yang sunyi. Jessi berjalan dengan dagu terangkat, membiarkan gaun merah marun melekat sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Setiap ketukan hak sepatunya di atas

  • Anak Rahasia Sang Alpha   8. Pelarian di Ujung Tanduk

    Suara detak jam dinding di ruangan mewah ini mendadak terdengar seperti dentuman meriam di telingaku. Aku menahan napas, nyaris tidak berani membiarkan paru-paruku mengembang saat perlahan-lahan aku melepaskan diri dari dekapan hangatnya.Aku berjinjit di atas karpet bulu yang tebal, mengabaikan ras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status