LOGINAldrick menegakkan punggungnya, membaca ulang nama pemilik saham yang tertera di sana."Hendra," gumamnya, matanya langsung menyipit tajam. "Ternyata seperti ini dirimu yang asli."Sudut bibir Aldrick terangkat, membentuk seringai dingin.Ia segera menyambar dokumen berikutnya dari dalam map yang sama. Itu adalah laporan utang piutang, disusul oleh surat teguran hukum dari lembaga keuangan, dan laporan penyitaan aset. Semuanya mengarah pada satu nama yang sama.Hendra.Realitas yang bertolak belakang dari apa yang ia baca satu jam lalu.Namun, sosok yang tergambar di lembaran-lembaran kumal ini sama sekali bukan Hendra yang dikenal publik saat ini. Ini adalah Hendra yang hidup belasan tahun lalu, seorang pria malang yang terlilit utang dalam jumlah yang luar biasa besar, seorang pengusaha gagal yang hidupnya hancur, dan seorang buronan yang diburu oleh para penagih utang berdarah dingin."Pria malang yang hancur," gumam Aldrick pada dirinya sendiri, matanya terus membaca baris dem
Beberapa jam kemudian, mobil milik Aldrick tampak memasuki kawasan hutan yang menjadi pembatas wilayah manusia dengan teritori utama pack. Mobil itu berhenti tepat di depan gedung batu megah yang berfungsi sebagai markas utama klan.Aldrick melangkah cepat melintasi koridor, mengabaikan beberapa prajurit penjaga yang memberikan hormat. Bahkan ia tidak membalas sapaan mereka dengan anggukan seperti biasanya. Jemarinya mencengkeram erat pegangan koper hitam di tangan kanan. Logam dinginnya seolah menyerap kehangatan tubuhnya.Sepanjang perjalanan tadi, benaknya tidak sedetik pun bisa tenang. Kalimat yang diucapkan Direktur William terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kutukan yang berbisik."Seolah seseorang dengan kekuasaan besar dan akses tanpa batas, pernah membersihkan seluruh jejak hidup pria itu secara profesional," bisik William saat itu.Kalimat itu bukan sekadar teka-teki, melainkan sebuah ancaman tersembunyi yang mengusik naluri serigalanya. Ada sesuatu yang
Langit pagi masih diselimuti awan kelabu ketika sebuah sedan hitam meluncur pelan, lalu berbelok memasuki area parkir bawah tanah sebuah gedung pemerintahan.Jam kerja belum dimulai, membuat tempat itu tampak sepi. Terlalu sepi untuk ukuran fasilitas negara. Hanya ada beberapa lampu putih yang menyala redup di sepanjang lorong, memantulkan bayangan panjang di lantai yang dingin.Pintu mobil terbuka. Aldrick turun dengan langkah tenang. Setelan hitam yang dikenakannya tampak melekat sempurna tanpa satu lipatan pun. Sorot matanya datar, namun ada ketajaman predator yang tersembunyi di balik manik gelap itu. Tatapan yang cukup untuk membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa telanjang, seolah sedang diukur dan dinilai kelayakannya untuk tetap bernapas.Di ujung lorong, dekat pilar beton besar, seorang pria paruh baya sudah berdiri menunggu sejak tadi.Direktur William.Meski secara hierarki pemerintahan manusia pria itu menduduki jabatan tinggi yang dihormati banyak orang, sik
Aku buru-buru mengalihkan pikiranku dari kekacauan yang baru saja memenuhi dada.Jika terus memikirkan jawaban Aaron, aku yakin wajahku akan semakin aneh."Ngomong-ngomong, Paman," ujarku cepat. "Kenapa sejak kami masuk ke desa tadi, hampir semua orang yang melihat kami langsung masuk rumah dan menutup pintu?"Pria itu tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaanku."Oh, itu...."Tatapannya menerawang sesaat ke kejauhan. Seolah sedang mengingat sesuatu yang sudah sangat lama."Itu memang sudah jadi kebiasaan di sini.""Kebiasaan?" ulangku bingung.Ia mengangguk."Kalau anjing-anjing kampung mulai menggonggong seperti tadi, apalagi sampai terdengar ketakutan, biasanya itu pertanda ada makhluk lain yang masuk ke desa."Aku mengernyit. "Makhluk lain?""Iya." Pria itu menurunkan suaranya sedikit. "Makhluk yang berkaitan dengan Hutan Larangan."Seketika tubuhku menegang.Hutan Larangan.Aku pernah mendengar nama itu berkali-kali dari nenek.Tentang perbatasan yang dijaga, tentang penyeimba
Beberapa bulan lalu, pria itu pernah menyapaku di depan rumah nenek. Saat itu aku sedang berdiri sendirian di halaman.Aku masih ingat jelas bagaimana ia menyapaku untuk pertama kalinya."Lho, ini Fay, kan? Yang sering ke sini waktu libur sekolah dulu?" tanyanya sembari tersenyum lebar. "Wah, sekarang sudah besar saja, sudah jadi wanita dewasa yang cantik."Aku sempat tertegun, berusaha mengingat siapa dirinya, tetapi gagal. Pada akhirnya, aku hanya membalas dengan senyum sopan."Iya, Paman. Saya Fay.""Lama sekali nggak main ke sini, ya. Senang melihatmu kembali menemani nenekmu," katanya lagi sebelum berpamitan dan melanjutkan perjalanannya.Percakapan itu memang singkat, tetapi terasa hangat. Aku bahkan masih ingat bagaimana perasaanku saat itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa senang karena masih ada seseorang yang mengingatku sebagai Fay kecil yang dulu sering datang ke rumah nenek.Dan yang lebih penting ... saat itu perutku masih rata.Kini aku melihat wa
Setelah selesai makan siang, aku memutuskan berjalan-jalan ke area kampung yang letaknya cukup jauh dari rumah nenek yang terpencil ini.Aaron berjalan di sampingku, sementara Lucien mengikuti beberapa langkah di belakang.Awalnya aku tidak ingin merepotkan mereka. Terlebih lagi, aku khawatir keberadaan Aaron dan Lucien akan menarik perhatian orang-orang biasa.Perbedaan aura mereka terlalu mencolok untuk diabaikan.Akan tetapi, Aaron tetap bersikeras menemaniku. Bahkan ketika Lucien mengusulkan agar beberapa pemburu elit ikut mengawal dari kejauhan, demi mengurangi kekhawatiranku pada kecurigaan para penduduk, Aaron langsung menolaknya.Untungnya, sepanjang perjalanan awal tidak terjadi apa-apa.Kami berjalan santai menikmati pemandangan di sekeliling dengan tenang. Sesekali aku mengobrol ringan dengan Aaron sambil menggandeng lengannya."Aaron.""Hm?""Kamu masih ingat waktu aku hampir dicelakai Jessi di jurang?"Tubuh Aaron langsung menegang samar.Aku segera mengeratkan pelukanku
Di dalam kamar sempit itu, Hendra terus mondar-mandir tanpa henti. Langkahnya terdengar pelan di atas lantai kayu, tetapi isi kepalanya terasa jauh lebih bising daripada suara apa pun.Ia harus memikirkan cara membawa Fay keluar. Bukan dengan paksaan, juga bukan dengan kekerasan, melainkan dengan a
Brak!Pintu rumah kayu itu terbuka keras hingga menghantam dinding. Aldrick dan Lucien bergerak masuk hampir bersamaan dengan kecepatan yang membuat udara di dalam rumah langsung berubah tegang.Aura keduanya menekan kuat, penuh kewaspadaan, seolah siap mencabik siapa pun yang berani menyentuh targ
Brak!Sebuah gelas kristal menghantam dinding kamar VVIP hotel dan pecah berkeping-keping di atas lantai.Aaron berdiri dengan napas berat di tengah ruangan mewah yang dipenuhi cahaya kota Singapura dari balik jendela kaca. Rahangnya mengeras kuat, sementara urat di lehernya tampak menonjol.Malam
Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya







