بيت / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 50. Saat Kawanan Datang

مشاركة

50. Saat Kawanan Datang

مؤلف: malapalas
last update تاريخ النشر: 2026-04-28 21:01:52

Lolongan itu terdengar lagi, kali ini jauh lebih dekat hingga getarannya seolah merambat di kaca jendela kamar. Bahkan geraman mereka menggelegar seperti guntur. Refleks aku turun dari ranjang dengan tergesa sebelum Aaron mencoba menghalangiku.

Kakiku terasa dingin saat bersentuhan dengan lantai, namun aku tetap melangkah keluar kamar dengan napas tertahan.

Dari balik jendela, aku melihat nenek sudah berdiri di halaman rumah sambil memegang tongkat kayunya. Cahaya abu-abu fajar menyinari punggu
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Anak Rahasia Sang Alpha   65. Langkah yang Tidak Terlihat

    "Dia tidak meminta maaf," potong Jessi cepat, suaranya mulai meninggi, sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Dia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, Ayah."Cengkeraman tangan Jessi di pangkuan semakin kuat, hingga kain bajunya sedikit kusut."Dia bahkan menatapku bukan sebagai seorang wanita atau sekutu yang harus dihormati, melainkan seperti sesuatu yang tidak layak ada di dekatnya."Stanley terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit, memperhatikan setiap perubahan emosi di wajah putrinya tanpa menyela.Tatapannya perlahan turun ke sisi wajah Jessi. Bekas cakaran itu masih terlihat jelas, garis dalam yang merobek kulitnya, kini hanya tertutup perawatan sementara, namun belum sepenuhnya pulih. Jejak itu bukan sekadar luka, melainkan penghinaan. Tanda dominasi yang ditinggalkan secara sengaja.Rahang Stanley mengeras. Pemandangan itu masih terpatri di ingatan, darah di wajah Jessi, tatapan para tetua, dan keheningan yang dipenuhi tekanan. Itu bukan sekadar serangan.

  • Anak Rahasia Sang Alpha   64. Retakan di Balik Kesepakatan

    Mobil mewah berlapis kaca gelap itu meluncur mulus meninggalkan markas utama klan tanpa pengawalan yang berlebihan. Langit di luar tampak mendung, awan kelabu menggantung rendah, menekan cahaya hingga jalanan terasa redup dan dingin. Suasana itu seolah sejalan dengan kabin mobil yang sama-sama terasa menyesakkan, seolah dinding kendaraan ikut menyerap sisa tekanan yang belum sempat hilang dari aula tadi.​Stanley duduk tegak di kursi belakang, satu tangannya masih mencengkeram map hitam yang baru saja diserahkan oleh Aldrick. Buku-buku jarinya mengeras, sesekali meremas sudut dokumen itu tanpa sadar. Tatapannya lurus ke depan, namun jelas pikirannya tidak berada di jalan.​Di sampingnya, Jessi duduk diam.​Cadar hitam transparan yang menutupi separuh wajahnya sedikit bergeser, menampakkan jejak kemerahan dari luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, rasa sakit fisik itu bukanlah hal yang paling mendominasi. Ada sesuatu yang jauh lebih panas dan liar mengalir di dalam darahnya, sebuah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   63. Laporan yang Mengubah Arah

    Pintu ruangan pribadi itu terbuka tanpa suara. Aldrick melangkah keluar lebih dulu dengan langkah yang tetap terkendali, tetapi sorot matanya jauh lebih tajam dari biasanya. Tidak ada satu kata pun yang terucap saat ia menutup pintu di belakangnya. Ia hanya memberikan satu tatapan singkat yang langsung dipahami oleh Lucien.​Itu sudah lebih dari cukup. Begitu Aldrick meninggalkan posisinya di depan pintu, Lucien langsung mengambil alih tempat itu. Tanpa kata dan tanpa isyarat berlebihan, pergantian penjagaan terjadi secara alami. Kini, Aldrick berada di luar, sementara Lucien masuk ke dalam ruangan.Pintu kembali tertutup rapat, mengisolasi ruangan tersebut dari dunia luar. Suasana di dalam terasa sunyi. Aaron berdiri tepat di dekat jendela dengan punggung menghadap pintu. Sosoknya terlihat tegar dan mendominasi, tetapi ada aura berat yang masih menguar dari tubuhnya, seolah ketegangan di aula tadi belum benar-benar lepas dari benaknya.​Lucien berhenti beberapa langkah di belakang san

  • Anak Rahasia Sang Alpha   62. Bayangan yang Tak Pernah Pergi

    ​Pintu kayu itu tertutup rapat di belakang mereka, meredam segala suara dari luar, namun ketegangan yang tersisa masih terasa jelas di sekitar mereka.Aaron berdiri tepat membelakangi pintu. Tatapannya lurus ke depan, menatap kosong pada dinding di hadapannya. Pikirannya berkecamuk, mencoba menyusun kepingan-kepingan kejadian yang baru saja terjadi.​Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa menekan, seolah waktu ikut melambat di dalam ruangan tersebut.​"Mereka mulai berani," ujar Aaron memecah sunyi. Suaranya terdengar berat, menggema dan menyebar ke seluruh sudut ruangan. "Tetua Marcus benar-benar mengira dia bisa mengatur langkahku seperti boneka di atas papan catur."Aldrick berdiri tidak jauh di belakangnya, tegak dan diam bagaikan bayangan. Ia tidak menyela. Sebagai tangan kanan yang paling setia, ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan.​"Bukan hanya soal perintah tadi," lanjut Aaron pelan, hampir terdengar seperti gumaman. "Ada sesuatu yang lebih

  • Anak Rahasia Sang Alpha   61. Garis yang Tidak Bisa Disatukan

    Keheningan di aula itu belum benar-benar mereda. Tatapan di antara mereka masih saling mengunci, dan tekanan yang menyesakkan masih menyelimuti ruangan. Namun kali ini, arah pembicaraan berubah ke arah yang jauh lebih personal dan berbahaya.Sang tetua menghela napas perlahan, seolah menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perdebatan tentang kekuasaan atau keputusan finansial. Tatapannya kembali mengeras, bukan kepada klan ataupun proyek, melainkan kepada satu nama yang sejak tadi belum disebut secara langsung.​"Masih ada satu hal yang belum kita selesaikan, alpha," ucap sang tetua. Suaranya kembali rendah dan terkendali, namun kali ini terasa jauh lebih dingin.​Kedua tetua lain langsung menundukkan kepala sedikit. Mereka seolah sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini akan berujung. Sang tetua melangkah perlahan, jubahnya menyapu lantai dengan suara halus yang justru menambah ketegangan di dalam ruangan.​"Perempuan itu," katanya.Sang tetua tidak menyebut nama. N

  • Anak Rahasia Sang Alpha   60. Dua Penguasa, Satu Takhta

    Perintah itu keluar tanpa ragu. Sang tetua berdiri tegak di tengah aula utama, jubahnya jatuh lurus menyapu lantai yang dingin. Tatapannya mengeras, jauh berbeda dari ketenangan yang ia perlihatkan sebelumnya di hadapan Stanley dan Jessi.​"Panggil dia," ucapnya.Suaranya rendah, namun mengandung tekanan yang membuat udara di sekitarnya terasa berat dan menyesakkan. Seorang utusan khusus segera maju, menundukkan kepala dalam-dalam. Ia tidak bertanya, tidak juga menunjukkan ekspresi apa pun. Dalam satu gerakan cepat, ia berbalik dan menghilang dari aula.Perintah itu sangat sederhana. Namun maknanya jelas, yaitu pemanggilan langsung terhadap sang alpha. Bukan undangan, melainkan sebuah perintah.Tidak butuh waktu lama hingga mereka merasakan kehadirannya. Aura sang alpha datang lebih dulu sebelum sosoknya benar-benar terlihat. Tekanan yang familiar, namun jauh lebih tajam.Pintu aula terbuka lebar. Aaron melangkah masuk dengan tenang, mantap, dan sepenuhnya dalam kendali. Di belakangny

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status