LOGINJessi keluar dari dalam lift dengan langkah tergesa-gesa, hampir tersandung karena pandangannya yang mengabur. Napasnya terengah-engah dan kacau, sementara sebelah tangannya masih menekan sisi wajah yang terus mengalirkan darah segar. Namun, rasa perih yang menjalar di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan kobaran api yang membakar dadanya saat ini.Jessi tidak lagi memedulikan tatapan mata dari orang-orang di lobi. Bisikan pelan, keterkejutan, hingga ekspresi ketakutan yang ditunjukkan oleh para staf, semuanya hanya terdengar seperti dengungan samar di telinganya.Dengan langkah cepat, Jessi keluar dari gedung tanpa menoleh lagi. Di depan lobi, mobil sport miliknya sudah terparkir rapi, jelas telah disiapkan oleh petugas begitu mengetahui ia akan turun. Seorang staf bahkan sempat membuka pintu untuknya, namun Jessi nyaris tidak memperhatikan, langsung berlalu dengan gerakan kaku dan terburu-buru.Tanpa ragu Jessi membuka pintu dan segera masuk ke dalam. Ia menjatuhkan tubuhnya
Pintu lift telah lama tertutup, membawa Jessi turun bersama luka dan amarah yang membara. Namun, jejak kehadirannya masih tertinggal, menyisakan bau darah, ketakutan, dan ancaman yang belum usai.Aaron tidak langsung bergerak. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri diam di tempatnya, menatap ke arah pintu dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Meski tampang tenang, otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Ia menyusun rencana, menghitung risiko, dan mengambil keputusan.Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah keluar dari ruangan Jessi. Aldrick dan Lucien langsung mengekor di belakangnya, menjaga jarak satu langkah seperti bayangan yang tidak pernah terpisah dari tuannya.Koridor eksekutif kembali hening saat mereka melintas menyusuri lorong yang membentang menuju area lift. Tidak ada satu pun staf yang berani menatap. Tidak ada yang cukup nekat untuk sekadar berbisik-bisik. Aaron melewati meja-meja kerja para staf sebelum berhenti tepat di depan ruangannya sendiri, yang berdir
"Akan apa, Jessi?" potong Aaron dengan suara yang begitu tenang hingga terasa jauh lebih menakutkan daripada sebuah teriakan.Jessi terdiam sejenak, napasnya tersengal. "Mereka akan menghancurkanmu, Aaron. Mereka nggak akan tinggal diam!"Aaron terkekeh pelan."Menghancurkanku?" Ia menatap Jessi seolah sedang menilai sesuatu yang remeh. "Kamu benar-benar masih belum mengerti posisimu sekarang."Aldrick melangkah satu langkah maju, suaranya berat dan mengintimidasi. "Nona Jessi, sebaiknya Anda berhenti mengancam sebelum situasinya menjadi lebih buruk.""Diam!" bentak Jessi, emosinya semakin tak terkendali. "Kalian semua cuma anjing peliharaannya!"Lucien tersenyum tipis, tetapi matanya dingin. "Kalau kami anjing, maka Anda saat ini sedang berdiri di hadapan pemiliknya.""Kalian pikir kalian sesuatu yang istimewa? Kalian cuma anjing yang terlalu bangga dengan rantainya."Lucien menghela napas pelan, mempertahankan senyum tipisnya yang tak pudar. Namun, ada kilatan dingin yang menyala di
Udara di lantai eksekutif pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Aaron terdengar tenang namun mematikan, menggema di lorong yang sunyi. Di belakangnya, Aldrick dan Lucien berjalan dalam diam, memberikan aura perlindungan yang sangat kuat. Tidak ada satu pun staf atau karyawan yang berani menatap atau sekadar berbisik ketika sang CEO melangkah melewati mereka.Satu per satu tubuh langsung menepi, membuka jalan tanpa diminta. Beberapa menundukkan kepala dalam-dalam, yang lain pura-pura sibuk dengan berkas di tangan meski jemarinya gemetar. Bahkan suara ketukan keyboard yang biasanya riuh kini menghilang, seolah seluruh lantai menahan napas.Tidak ada yang berani menghalangi. Tidak ada yang cukup bodoh untuk mencoba.Aaron tidak melambat. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tajam, seakan keberadaan siapa pun di sekitarnya tidak lebih dari bayangan yang lewat. Setiap langkahnya terukur, mantap, membawa tekanan tak kasatmata yang membuat udara terasa semakin berat.
Sore itu, langit di atas hutan pinus perlahan berubah menjadi kelabu pekat. Gumpalan awan mendung menggantung rendah, seolah sedang menahan beban yang jauh lebih berat daripada sekadar air hujan. Suasana hutan menjadi sunyi, menyisakan desis angin yang menyelinap di antara batang-batang pohon yang menjulang.Hendra berdiri diam di balik pohon pinus yang besar. Tubuhnya yang terbalut jaket hitam menyatu sempurna dengan bayangan. Melalui celah ranting, matanya yang tajam mengunci sebuah rumah tua di kejauhan. Rumah tersebut sangat dikenalnya, tempat di mana putrinya, Fay, kini berada. Entah sedang bersembunyi atau justru sedang menunggu takdirnya sendiri.Ia mengamati setiap jengkal halaman bangunan itu dengan teliti. Tidak ada pergerakan, tidak ada suara. Semuanya tampak tenang, namun ketenangan tersebut justru terasa mencekam bagi seseorang yang terbiasa hidup dalam intaian.Tangan Hendra bergerak perlahan masuk ke dalam saku jaketnya. Jemarinya menyentuh permukaan botol kaca kecil
Setelah melihat dan menyaksikannya sendiri salah satu bukti kekuatan yang dibawa janinku, kami semua masih takjub akan kenyataan itu."Ini adalah keajaiban yang belum pernah kulihat sebelumnya," ucap Lucien sambil tangannya bersedekap di depan dada.Tiba-tiba nenek menatapku, lalu kembali ke Aaron. "Ikatan darah itu menciptakan perisai yang sangat kuat. Bayi dalam kandungan Fay ... dia memberikan kekuatannya untuk membantu ayahnya bertahan hidup."Semua terdiam."Dia … benar-benar melindunginya?” tanyaku untuk memastikannya sekali lagi.Nenek mengangguk perlahan. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi keseriusan yang jarang kulihat. “Nggak semua ikatan darah bisa melakukan ini. Apa yang terjadi sekarang sangat langka. Janin itu bukan hanya hidup, dia sadar … dan memilih untuk melindungi.”Jantungku berdegup kencang. Ada rasa haru, tapi juga ketakutan yang merayap pelan.Aku menelan ludah, berusaha mencerna semua yang baru saja kudengar. Tanganku refleks menyentuh perutku, seolah







