Início / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 76. Bidak yang Mulai Bergerak

Compartilhar

76. Bidak yang Mulai Bergerak

Autor: malapalas
last update Data de publicação: 2026-05-11 13:32:53

Beberapa jam setelah matahari naik....

Lorong rumah sakit mulai jauh lebih sepi dibanding pagi tadi. Langkah kaki perawat hanya terdengar sesekali, samar dan cepat, lalu kembali tenggelam dalam kesunyian bangunan yang dipenuhi aroma obat-obatan.

Di dalam kamar rawat itu, Jessi masih duduk di atas ranjangnya. Perban di wajahnya sudah dilepas sepenuhnya. Garis tipis di pipinya kini terlihat jelas saat cahaya siang menyentuh sisi wajahnya. Bekas itu tidak besar. Bahkan bagi orang lain, mungkin nya
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Anak Rahasia Sang Alpha   254. Langkah Sang Alpha

    Begitu pintu kembali tertutup, seluruh kekuatanku mendadak menguap. Lututku lemas dan tubuhku meluncur turun. Sebelum aku menyentuh lantai, tangan kekar Aaron menangkap pinggangku, menahan tubuhku dengan cekatan.“Kamu terluka, Fay? Katakan padaku, mana yang sakit?”Aku menggelengkan kepala cepat, mencoba menahan air mata yang mendadak menetes di pipi.“Aku nggak apa-apa, tapi dia hampir saja—”“Aku tahu,” potong Aaron pelan, menyapukan ibu jarinya untuk menghapus air mataku. “Aku berjanji, hal seperti ini nggak akan terulang lagi.”Aku mendekap Arsen lebih erat ke dadaku. Tubuh kecil itu terasa hangat dan bernapas dengan teratur, pertanda dia baik-baik saja.Namun, kata-kata Lira terus menggema dan menancap dalam di kepalaku bagai taring yang beracun.“Serahkan anak itu dengan sukarela, atau Dewan Klan akan turun tangan mengambilnya.”Aku memejamkan mata erat-erat dengan dada yang sesak.“Nggak, Aaron ... nggak,” bisikku histeris. “Aku nggak akan pernah menyerahkan Arsen pada monster

  • Anak Rahasia Sang Alpha   253. Peringatan Lima Hari

    Tubuhku jatuh tersungkur. Bahu kiriku menghantam lantai dengan keras hingga rasa nyeri menjalar ke seluruh lengan. Namun refleks bertahanku bekerja cepat, aku memeluk Arsen mati-matian, menjadikan tubuhku sendiri sebagai bantalan agar dia tidak tersentuh sedikit pun.“FAY!”Aku mendengar Aaron memanggilku dengan panik dan khawatir.Dalam sekejap, tubuhku sudah diangkat dari lantai. Aaron meraih tubuhku dan menarikku ke dalam pelukannya, sementara tanganku masih erat memeluk Arsen.“Fay, kamu terluka?”Aku menggeleng cepat meski bahu kiriku masih terasa nyeri.“Aku nggak apa-apa.”Aaron menatapku beberapa detik, memastikan tidak ada luka serius pada tubuhku.Di saat yang sama, aku melihat Lucien meninggalkan posisinya di depan pintu dan langsung mencengkeram leher Lira.Tubuh wanita itu terdorong mundur hingga punggungnya hampir menghantam dinding.“Jangan bergerak.”Suara Lucien terdengar rendah dan mengancam.Tangannya tetap mencengkeram leher Lira dengan kuat, tetapi ia masih menaha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   252. Jangan Sentuh Mereka

    Tanganku semakin erat memeluk Arsen.Belum sempat aku mengatakan apa pun, terdengar langkah kaki dari lorong.Sosok lain muncul di ambang pintu.Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan ekspresi dingin. Lucien berada beberapa langkah di belakangnya, memasang wajah kaku.Aku menatap pria itu dengan waspada. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.Lucien segera menundukkan kepala kepada Aaron.“Alpha, semua tim prajurit di lantai bawah sudah berhasil menahan rombongan utusan Dewan Tetua di tempat. Hanya saja, Silas berhasil menerobos sampai ke lantai atas.”Nama itu membuatku terdiam sejenak.Silas?Aaron sudah mengenalnya. Dari cara Aaron menatapnya, jelas pria itu bukan orang asing baginya.Aaron hanya memberikan satu jawaban.“Keluar.”Suaranya singkat dan dingin.Cakar Aaron perlahan muncul dari jemarinya. Kilatan tajamnya langsung membuat udara di kamar terasa berat.Silas tetap berdiri di tempat.“Kalian tidak bisa menghalangi kami,” katanya tenang. “Kami adalah utusan resmi dar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   251. Mereka Datang untuk Arsen

    Aku mendengar ada suara dari luar pintu.Awalnya hanya terdengar samar, seperti percakapan yang tertahan di balik dinding. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu semakin jelas.Suara prajurit dan seorang wanita.Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar sambil menggendong Arsen yang masih berada dalam pelukanku.“Tidak, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”Suara prajurit itu terdengar tegas.Aku mengernyit."Siapa wanita itu?" bisikku lirih.Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Arsen kugendong lebih erat, memastikan tubuh kecilnya tetap nyaman dalam pelukanku.“Aku sudah mengatakan bahwa aku perlu masuk,” ujar wanita itu dengan nada dingin.“Maaf, Nona. Kami tidak menerima perintah dari Alpha Aaron untuk membuka pintu ini.”“Aku tidak membutuhkan izin dari Aaron.”Jantungku berdegup lebih cepat.Aaron?Wanita ini mengenal Aaron?“Aku datang membawa perintah langsung dari Tetua Utama dan Dewan Klan,” lanjutnya. “Apa kalian pikir aku akan berdiri di depan pintu hanya kare

  • Anak Rahasia Sang Alpha   250. Hukum Klan yang Terlarang

    Aaron menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Baginya, kedatangan para tamu itu tak lebih dari embusan angin lalu yang tidak berarti.Wajah tampannya tampak datar tanpa ekspresi. Namun, begitu tiba di ruang tamu, tatapan dinginnya langsung menyorot tajam. Beberapa orang berdiri di sana mengenakan pakaian formal dengan lambang klan terpasang di dada. Di belakang mereka, sejumlah pengawal berdiri dengan sikap kaku.Dan di antara rombongan itu, manik mata Aaron mengunci satu sosok di barisan belakang.​Stanley.Tubuh pria paruh baya itu kini tampak sedikit membungkuk dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan kemarin.Kehancuran finansial yang menghantam keluarganya dalam satu malam telah mengikis hampir seluruh kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya.Pria yang dulu membanggakan diri sebagai penguasa klan luar sekaligus investor terkaya, kini berdiri seperti seekor anjing kurus yang baru dibuang pemiliknya.Setelah mencoret Jessi dari garis keturunan dan menolak men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   249. Tamu yang Tak Diundang

    Pagi itu terasa jauh lebih tenang di kediaman pribadi Aaron.Sebelum berangkat ke kantor, Aaron menyempatkan diri menemui Arsen dan Fay.Sang Luna tampak duduk bersandar di kepala ranjang sambil menggendong Arsen. Bayi kecil itu sedang menyusu dengan tenang dalam pelukannya, sementara Aaron tampak berdiri gagah. Pria itu sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, setelan kemeja dipadu jas kantor berkualitas tinggi yang terukur sempurna di tubuh atletisnya.​Setiap kali melihat Aaron berpenampilan seperti itu, Fay tidak bisa memungkiri bayangan masa lalu saat ia masih bekerja di kantor Aaron selalu berputar di ingatan.Penampilan elegan itu selalu berhasil melipatgandakan ketampanannya, memancarkan pesona maskulin yang begitu khas dari dirinya. Pembawaan Aaron yang tetap tenang, dingin, dan berwibawa dalam balutan jas kantor selalu sukses membuat jantung Fay berdebar kencang, sama seperti pertama kali ia mengagumi pria itu dari kejauhan."Dia makin mirip kamu kalau lagi tidur begini," gum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   55. Kembalinya Sang Predator

    Udara di lantai eksekutif pagi itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Aaron terdengar tenang namun mematikan, menggema di lorong yang sunyi. Di belakangnya, Aldrick dan Lucien berjalan dalam diam, memberikan aura perlindungan yang sangat kuat. Tidak ada satu pun staf atau karyawan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   49. Lolongan yang Mencari

    ​Aku tidak tahu pasti kapan percakapan penuh ketegangan semalam berakhir. Yang teringat di benakku hanyalah sisa-sisa tatapan Aaron yang terlalu dalam, napasnya yang hangat menerpa wajahku, dan debaran jantungku yang terasa semakin keras, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.Saat kesadarank

  • Anak Rahasia Sang Alpha   45. Antara Takut dan Cemburu

    “Aku ... nggak suka—""Nggak suka apa?" potongnya. Nada suaranya tetap terkendali, seolah ia tahu aku tidak akan bisa lari dari pertanyaan itu kali ini.Aku meneguk ludah kasar, sembari tatapanku beberapa kali melihat bibirnya yang semakin dekat denganku. Jantungku kembali berdegup liar. Aku berusa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   44. Tidak Ada Jalan Keluar

    Aku tahu dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban itu. Mempertimbangkan bagaimana keadaannya sekarang dengan luka di perutnya yang masih berada dalam tekanan tubuhku, aku tidak punya pilihan selain mengatakannya sekarang.Dan terpaksa aku harus mengaku.Aku berusaha mencari kosakata yang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status