Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 88. Penawar Rindu yang Singkat

Share

88. Penawar Rindu yang Singkat

Author: malapalas
last update publish date: 2026-05-15 20:16:37

Tanganku gemetar pelan saat menekan tombol hijau di layar ponsel. Panggilan itu langsung terhubung, hanya terdengar sekali sebelum suara di seberang sana menyambar dengan tidak sabar.

“Fay? Ini kamu, Nak?!”

Suara ayah terdengar begitu cepat dan panik sampai membuatku refleks menahan napas.

"Apa kamu baik-baik saja? Kamu sakit nggak? Gimana keadaanmu sekarang? Katakan pada ayah, Fay. Kenapa baru sekarang ponselmu aktif? Ayah hampir gila nunggu kabar dari kamu!"

Pertanyaan demi pertanyaan itu dat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   90. Hidupku Bukan Milikku

    Bau anyir darah yang bercampur dengan udara lembap menusuk indra penciumannya, datang jauh lebih cepat sebelum kesadarannya benar-benar pulih.​Hendra mengerang pelan, merasakan dinginnya lantai semen yang lembap menyengat kulit punggungnya. Ia tergeletak tak berdaya di sebuah gang sempit yang diapit dinding kotor penuh lumut. Di atasnya, air menetes pelan dari pipa besi yang bocor, jatuh ke dalam genangan air yang menghitam. Setiap tetesan itu seolah menghitung sisa waktu yang ia miliki.Hendra tergeletak di sana, napasnya tersengal dan terasa membakar dada. Tubuhnya dipenuhi luka lebam dan sayatan. Ada darah mengering di pelipisnya, sementara darah segar yang baru masih mengalir dari sudut bibirnya. Hendra memejamkan mata erat-erat. Ia sudah kehilangan hitungan jam, atau mungkin hari, tentang berapa lama ia telah bertahan di tempat terkutuk itu.​Satu hal yang ia yakini di dalam kepalanya, tidak akan ada yang datang menyelamatkannya. Orang-orang pinggiran seperti dirinya hanya lahir

  • Anak Rahasia Sang Alpha   89. Panggilan dari Pria Bermantel Hitam

    Hendra terdiam beberapa saat setelah panggilan itu berakhir. Tatapannya jatuh ke layar ponsel yang kini mulai menggelap perlahan.Suara Fay tadi masih tertinggal jelas di kepalanya.“Ayah, Fay kangen.”Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa mengganggu pikirannya lebih dari seharusnya.Perlahan, jemarinya mengepal di atas meja.Lalu tiba-tiba ponsel di tangan Hendra kembali bergetar.Satu nomor tidak dikenal muncul di layar.Namun, bahkan tanpa perlu berpikir panjang, Hendra sudah tahu siapa pemilik nomor itu.Rahangnya langsung mengeras samar. Ia berdiri perlahan dari kursi ruang kerjanya, lalu melangkah mendekati jendela rumah sebelum akhirnya menerima panggilan tersebut.“Ya?”Tidak ada basa-basi.Suara pria di seberang sana terdengar tenang, rendah, namun penuh tekanan yang dingin.“Bersiaplah.”Tatapan Hendra langsung berubah tajam.“Kamu berangkat siang ini juga ke rumah nenek Fay.” Hening sejenak. “Aaron sudah meninggalkan wilayah itu menuju Singapura.”Jemari Hendra perlahan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   88. Penawar Rindu yang Singkat

    Tanganku gemetar pelan saat menekan tombol hijau di layar ponsel. Panggilan itu langsung terhubung, hanya terdengar sekali sebelum suara di seberang sana menyambar dengan tidak sabar.“Fay? Ini kamu, Nak?!”Suara ayah terdengar begitu cepat dan panik sampai membuatku refleks menahan napas."Apa kamu baik-baik saja? Kamu sakit nggak? Gimana keadaanmu sekarang? Katakan pada ayah, Fay. Kenapa baru sekarang ponselmu aktif? Ayah hampir gila nunggu kabar dari kamu!"Pertanyaan demi pertanyaan itu datang tanpa jeda hingga membuat dadaku terasa hangat sekaligus nyeri.Aku bahkan belum sempat bicara sepatah kata pun. Dan anehnya ... kepanikan di suara ayah justru membuat mataku langsung memanas lagi.“Ayah,” kataku akhirnya. “Tenanglah. Fay baik-baik saja.”Hening sejenak. Hanya terdengar suara napas berat dan tidak teratur dari seberang sana, seolah ayah sedang berusaha mengatur detak jantungnya.“Fay aman di rumah nenek,” lanjutku dengan nada setenang mungkin, mencoba meyakinkannya. “Ayah ng

  • Anak Rahasia Sang Alpha   87. Kampus Berubah Menjadi Mimpi Burukku

    Aku masih ingat bagaimana semuanya berubah setelah hari itu.Setelah Arya menyatakan perasaannya di taman belakang gedung fakultas ... dan aku malah melarikan diri darinya dengan ketakutan.Keesokan harinya, rumor langsung menyebar ke seluruh kampus.Tasya memutarbalikkan semuanya seolah aku sengaja mempermainkan Arya demi mencari perhatian.Dan sejak saat itu, hidupku berubah menjadi mimpi buruk.“Jangan sok suci kamu, Fay.”“Sudah nolak, tapi masih cari perhatian Ketua BEM.”“Dasar munafik.”Aku bahkan tidak pernah menerima perasaan Arya.Aku hanya takut menjadi sasaran kebencian mereka. Namun, mereka tetap menyerangku tanpa ampun.“Itu Fay, kan?”“Yang bikin Ketua BEM nolak Tasya?”“Berani banget cari perhatian.”Aku berusaha mengabaikannya. Sampai akhirnya beberapa mahasiswi menghadangku di kantin kampus.Tasya ada di tengah mereka.“Senang sekarang?” sindirnya tajam. “Mentang-mentang Arya suka sama kamu?”“Aku nggak pernah—”“Jangan bohong!”Salah satu dari mereka mendorong bahuk

  • Anak Rahasia Sang Alpha   86. Saat Ketua BEM Mendekat

    Aku langsung membekap mulutku begitu Aaron benar-benar menghilang dari pandangan.Tubuhku gemetar hebat. Rasa sesak yang sejak tadi kutahan akhirnya runtuh begitu saja.Dengan langkah tergesa, aku berlari kembali masuk ke dalam rumah kayu nenek sebelum Lucien atau Aldrick menyadari keberadaanku.Aku menutup pintu kamar pelan, lalu bersandar di baliknya sambil menahan napas yang bergetar kacau. Dan detik berikutnya, air mataku jatuh semakin deras.Aku buru-buru mengambil bantal di atas ranjang lalu menekannya ke wajahku, meredam suara tangisku sendiri agar tidak terdengar sampai keluar kamar. Aku tidak ingin membangunkan nenek. Tangisku pecah tanpa bisa kutahan lagi.Dadaku terasa sakit. Sangat sakit.Bayangan Aaron terus berputar di kepalaku. Tatapannya, pelukannya dan cara ia berkata bahwa ia tidak tahu apakah itu cinta atau hanya ikatan mate.Dan yang paling menyakitkan ... ia tidak menyangkal ketakutanku.Aku menangis sampai tubuhku terasa lemas sendiri. Sampai akhirnya suara isakk

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk menenangkan kekacauan di dalam pikiranku.Namun, Aaron tetap membisu.Sorot mata emasnya terlihat rumit. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang dalam dan sulit dijelaskan, seolah bahkan dirinya sendiri tidak benar-benar memahami apa yang ia rasakan."Aaron—""Maaf, Fay," potongnya cepat. "Aku nggak tahu apa ini cinta ... atau hanya ikatan mate."Tubuhku seketika menegang."Tapi Aaron—""Apa itu belum cukup buatmu?" Ia kembali memotong ucapanku. Tatapannya turun tepat ke mataku, begitu intens hingga membuat dadaku berdenyut sakit. "Bayanganmu selalu mengejarku, bahkan saat aku menutup mata. Setiap detik yang aku habiskan jauh darimu hampir membuatku gila, apa itu masih belum cukup?"Kalimat itu membua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status