Share

BAB 29. Sidak Panti

Penulis: Mira Restia
last update Tanggal publikasi: 2026-07-29 08:35:13

Pagi itu langit mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seperti ikut menahan napas. Udara berat, lembap. Wangi tanah basah yang belum jadi hujan.

Pukul 09.00, mobil SUV hitam berhenti di depan gerbang panti asuhan. Cat pagarnya mengelupas, belang seperti luka lama. Tulisan "Panti Asuhan Harapan Bunda" masih terpampang, tapi hurufnya sudah pudar. Huruf "H" dan "B" hampir hilang, seolah Tuhan sendiri yang menghapus nama itu.

Aku menggenggam tangan Azka erat. Telapaknya dingin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 62. Ayah Baru Untuk Anakku

    Aku duduk perlahan di tepi ranjang, membiarkan pandanganku menyapu seluruh ruangan. Kamar ini... kamarku dulu. Cat dinding berwarna hijau muda itu masih sama persis seperti saat aku masih menuntut ilmu di bangku kuliah. Poster film kesukaanku dan foto wisuda yang belum sempat dilepas oleh Ayah masih menempel rapi di dinding. Meja belajar kecil di sudut ruangan pun tak berubah; tumpukan buku-buku tebal berjudul ilmu psikologi masih tersusun berbaris rapi di atasnya. Pembantu rumah tangga Ayah pernah bercerita bahwa kamar ini selalu dibersihkan setiap minggu. “Bersih-bersih rutin saja, Mbak. Siapa tahu suatu hari Mbak Ririn rindu suasana rumah sendiri.” Siapa sangka, kerinduan yang disiapkan dengan penuh kasih sayang itu justru menjadi tempat istirahat malam pertama pernikahanku. Di luar pintu, langkah kaki Azka dan Denis terdengar perlahan menuju kamar tamu. Alif berjalan mendampingi mereka, berbisik pelan agar tak membangunkan siapa pun. “Tidur lelap ya, pasukan kecil besok Om aja

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 61. Tabrakan

    BRAAAKK!!!" Suara itu memecah keheningan. Suara rem kendaraan yang ditarik sekuat tenaga hingga berdecit tajam di atas aspal. Disusul bunyi benturan yang keras dan memilukan. Ponsel yang digenggam Maya terlempar ke udara. Layarnya berputar tak beraturan, menangkap potongan langit malam yang bertabur cahaya lampu kota, lalu permukaan jalan yang gelap basah, hingga akhirnya jatuh menimpa rumput liar di tepi jalan. Gambar di layar berguncang hebat seakan dunia ikut berguncang. Suara riuh orang-orang segera terdengar mendekat. "Nona! Nona, hati-hati!" "Ya Tuhan, tabrakan!" "Segera panggil ambulans!" Di antara keriuhan itu terdengar suara rintih pelan dan tertahan. "Aduh... kakiku... ponselku..." Layar masih menyala selama beberapa detik. Menampilkan bayangan orang-orang yang segera berkerumun di sekelilingnya. Sinar lampu ponsel dari arah lain menyinari tubuh Maya yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan. U

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 60 Siaran Langsung

    Malam perlahan turun, membawa kedamaian yang sempat terasa jauh sepanjang hari yang panjang ini. Gaun pengantin yang tadi siang begitu indah kini sudah kuganti dengan pakaian rumahan berwarna biru tua yang sederhana. Riasan yang melukis wajahku dengan cantik tadi sudah dibersihkan hingga bersih kembali, menyisakan wajahku yang polos dan segar. Setelah menata diri, aku melangkah menuju ruang makan, tempat di mana aroma masakan hangat menyambut kedatanganku. Begitu pun dengan Rey. Pria yang kini telah resmi menjadi suamiku duduk di kursi tepat di sampingku, menatapku dengan tatapan lembut yang tak pernah berubah sejak pagi tadi. Tanganku bergerak menyendokkan nasi ke piringnya, lalu mengambilkan beberapa jenis lauk — setelah sebelumnya aku bertanya dengan lembut hidangan apa saja yang ia inginkan. "Terima kasih!" ucapnya, sambil menatap ke arahku dengan senyum yang hangat menyentuh hatiku. "Sama-sama." Aku pun menyendokkan nasi untuk d

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 59 Tetap Bersama Ibu

    Hatiku terasa perih tersayat. Begitu mudah sekali Maya memutarbalikkan keadaan dan mengaku sebagai pihak yang paling menderita. Selalu memelas mencari belas kasih.“Lalu apa lagi yang dia katakan, Nak?” tanyaku berusaha menahan agar suaraku tak ikut bergetar.Denis perlahan mendongak. Setetes air mata mulai jatuh membasahi pipinya, lalu menyusul tetesan berikutnya. “Tante Maya bilang… kalau Denis mau tinggal bersamanya, dia berjanji tak akan lagi merasa kesepian dan sakit. Dia juga berjanji akan memberikan kamar yang indah untuk Denis. Banyak mainan. Ada pendingin ruangan. Dan dia berjanji tak akan pernah meninggalkan Denis seperti… seperti dulu.”Kata-kata terakhir itu terasa tajam bagai pisau tumpul yang melukai pelan namun dalam. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang untuk menahan rasa sakit yang menyergap dada.“Namun Tante Maya meminta satu hal sebagai syarat,” lanjut Denis dengan suara nyaris tak terdengar. “Dia menyuruh Den

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 58. Gangguan Di Hari Pernikahan

    Aku ingin berlari menghampiri mereka secepat mungkin. Namun kakiku terasa berat seakan terpaku di lantai. Rey menahan bahuku pelan namun mantap. “Percayalah kepada Ayah, Rin. Tetaplah tenang.”Dari kejauhan aku memperhatikan Ayah berdiri tegak. Wibawa dan ketenangannya tak pernah berubah—pria yang tak banyak berbicara, namun sekali bersuara semua orang akan diam mendengar. Ayah melangkah mendekati Maya dengan tenang. Suaranya rendah namun tegas dan berwibawa. Aku tak mendengar jelas apa yang diucapkannya. Hanya melihat bibir Ayah bergerak pelan, lalu tangannya terulur menarik perlahan pergelangan tangan Denis, memisahkan anak itu dari genggaman tangan Maya.Maya pun berdiri. Bahunya naik turun tak beraturan menahan emosi. Lalu, di hadapan puluhan pasang mata tamu yang sedang memperhatikan…Ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai marmer yang licin dan mengkilap.Dengan suara lantang dan penuh tangis yang dibuat-buat, ia membungkuk rendah sea

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 57 Pernikahan

    Aku tak pernah sekalipun membayangkan pernikahanku akan terasa seindah ini. Gaun yang kupilih jatuh sempurna menuruni lekuk tubuhku. Setiap jahitan payet halusnya menangkap cahaya lampu gantung yang berkilau lembut, lalu memantulkannya kembali bagai kunang-kunang yang turun berjatuhan. Pelaminan menjulang anggun berbalut kain putih bersih berpadu dedaunan hijau segar, dihiasi rangkaian bunga eustoma dan mawar putih yang harumnya samar namun menenangkan hati. Tidak berlebihan. Tidak mencolok mata. Persis seperti apa yang selalu kuimpikan dalam diam,sewaktu aku masih terbaring di kamar kos sempit dulu: sederhana, elegan, dan terasa begitu hangat. Barisan kursi tamu terisi penuh. Suara tawa, bisik-bisik penuh haru, dan alunan lagu romantis yang dinyanyikan langsung berpadu menyatu. Penyanyinya ternyata teman kuliah Rey dulu. Suaranya merdu dan menyentuh hingga ke relung dada, membuat mata para tamu yang hadir berkaca-kaca terharu. Di sampingku, Rey berdiri tegap dan tenang. Jas hit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status