MasukSuara bel pintu itu memecah keheningan rumah. Aku terperanjat. Aku bangkit dari tempat duduk. Kursi kayu berderit pelan di bawah berat badanku.
Begitu pun Denis mengekor di belakangku. Langkah kecilnya cepat, antusias. Ia berlari tanpa curiga, seolah yakin yang datang itu siapa. Tentu neneknya. Rutinitas Sabtu pagi yang tak pernah meleset. Bu Sinta, mertuaku, selalu datang hari Sabtu untuk menemui Denis. Membawa rantang, membawa cerita, membawa komentar. “Klik.” Suara gagang pintu diputar. Pintu dibuka. Udara luar masuk, membawa wangi bunga melati dari halaman dan aroma masakan dari rantang yang ditenteng. “Assalamualaikum...” sapa Bu Sinta. Suaranya nyaring, penuh wibawa. “Waalaikumsalam,” jawabku. Suaraku keluar lebih pelan, lebih hati-hati. Aku tersenyum, tapi senyum itu hanya sampai di bibir. Mataku jatuh pada tangan ibu mertuaku. Tangan kanannya menenteng rantang aluminium yang berkilat, tangan kirinya menjinjing plastik berisi kue. Tapi matanya—mata Bu Sinta—tidak melihatku. Matanya langsung mencari Denis, seperti radar yang hanya bisa mendeteksi cucunya. “Nenek!” Denis langsung loncat. Tubuh kecilnya melesat seperti peluru, lalu meluk kaki Bu Sinta erat. Kepalanya membenam di lutut neneknya, mencari perlindungan. “Ya ampun cucu nenek pinter...” Bu Sinta jongkok. Lututnya berderit pelan. Ia mengecup pipi Denis berkali-kali. Suara “cium” nya nyaring, penuh sayang. Tapi saat mengangkat muka Denis, alisnya langsung bersatu. Kerutan dalam terbentuk di dahinya. Bu Sinta: “Denis, mata kamu kok sembab, Nak? Habis nangis, ya? Nangis kenapa sama mama?” Pertanyaan itu meluncur cepat, tajam, tanpa permisi. Nada menuduh yang sudah kukenal betul. Denis hanya menggeleng. Bibirnya digigit. Peluk neneknya makin kencang, seolah tubuh neneknya adalah benteng terakhir. Ia tidak menjawab. Diamnya lebih keras daripada seribu kata. Aku menyela sebelum ada drama yang dilebih-lebihkan dari Bu Sinta. Karena memang seperti itulah dia. Pemicu kecil bisa jadi kembang api besar di tangannya. Aku senyum kaku. Otot wajahku ditarik paksa. “Masuk Bu, silakan. Pas banget, sarapannya udah jadi. Denis lagi makan nasi goreng buatan mama.” Bu Sinta berdiri. Lututnya berbunyi lagi. Ia melangkahkan kaki masuk sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Matanya menyapu ruang tamu seperti petugas inspeksi yang mencari kesalahan. Seperti ingin mengomentari apa pun yang ada di rumah. Sudut meja yang miring, vas bunga yang kurang simetris. Namun, sepertinya tidak berhasil. Aku sudah menata rumah dengan pantas. Tidak ada debu, tidak ada mainan berserakan. Matanya akhirnya melirik meja makan. Di atas meja: nasi goreng sederhana. Butirannya pera, bumbunya meresap. Di sampingnya telur ceplok setengah matang, kuningnya masih lumer. Potongan timun hijau segar jadi penyegar. Menu andalan di pagi hari. Sat set, cepat, tapi membuat kenyang dan hangat. Bu Sinta melihat dari sudut mata. Bibirnya ditekuk. Kerutan di sudut bibirnya dalam. Dia berkata, nadanya setengah berbisik setengah menyindir, “Nasi goreng lagi, Rin? Telur ceplok lagi? Nggak bosen?” "Pas ibu ke sini kebetulan lagi masak nasi goreng. Kemarin lain lagi menunya kok, Bu." "Ah paling sekarang di ceplok, kemarin di dadar, kemarinnya lagi di rebus. Beli ini dong. Sosis, nugget kesukaan Denis. Fried chicken. Anak-anak sekarang sukanya yang gitu. Jangan telor lagi... telor lagi." “Denis lagi saya batasi nggak boleh sering makan junk food, Bu. Nanti kalau ada waktu saya bikinin yang homemade aja. Lebih sehat.” "Gayanya mau bikin. Beli aja sama aja, malah lebih enak beli dari pada buatan kamu, Rin." "Beda lah, Bu. Kalau beli ada pengawetnya, MSG-nya terlalu banyak, terus sosisnya pake pengenyal. Nggak murni dari daging." Bu Sinta tersenyum menyindir. Sudut bibirnya naik sebelah, matanya melirik sinis. "Kamu ini, terlalu banyak aturan yang aneh. Belajar di mana sih ilmu kayak gitu? Justru terlalu banyak pantangan tubuh anak nanti nggak kebal. Dafa tuh kebal, makan apa aja, asal dia suka." Ingin tertawa tapi takut dosa. Akhirnya aku menunduk, seperti yang sedang mengheningkan cipta. Mengubur tawa dan kesal dalam-dalam. Sementara itu, aku melirik Dafa. Ia tanpa reaksi apa pun. Sambil anteng makan nasi goreng buatanku, menyuapi Denis sesekali. Benar kata Bu Sinta, dia kasih makan Dafa pas kecil sampai kebal. Sampai hatinya pun kebal. Kebal tidak pernah peduli jika aku ditekan oleh Bu Sinta. Bu Sinta mengelus punggung Denis. Telapak tangannya besar dan hangat. "Cucuku sayang, nanti kapan-kapan nenek ajak kamu makan enak ya. Pasti bosen sama telur." Aku tersenyum tipis. Jelas-jelas Denis lahap seperti itu, sampai nambah sekali. Dibilang bosan. Dia tidak tahu saja, letak enaknya nasi goreng buatanku adalah dari racikan bumbu dan aromanya yang khas. Keluargaku, kalau masalah kuliner punya resep turun temurun yang bisa memanjakan lidah. Kakak pertama dan kedua bahkan punya restoran yang laris di Bekasi. Antreannya panjang tiap akhir pekan. Tidak mungkin juga aku membuatnya asal-asalan. Setiap ulekan, setiap tumisan, ada cerita di dalamnya. Denis sudah selesai sarapan. Pipinya mengembung, perutnya kenyang. Tiba-tiba ia berlari ke kamar. Langkahnya berisik. Tak lama kembali dengan membawa kertas gambar yang lecek. "Nenek lihat, nenek lihat! Gambar Denis bagus nggak?" "Pintarnya cucu nenek. Bagus banget gambarnya," puji Bu Sinta. Matanya berbinar. "Tapi kok kertasnya lecek gini, sih?" Alis Bu Sinta berkerut lagi. Ia membalik-balik kertas itu. Denis tertunduk. Bahunya mengecil. "Denis salah menggambar. Mamah marah dan lemparin gambar Denis." Sinta membulatkan mata. Matanya melebar seperti menemukan harta karun. Seolah menemukan bahan untuk dikomentari. Aku tahu, dia tidak benar-benar peduli dengan gambar itu. Dia peduli dengan celah yang bisa ia beri komentar. "Aduh Ririn, kok kamu gitu sih sama anak? Gambar sebagus ini, kalau cuma salah sedikit memang kenapa, sih?" Dafa mulai bicara. Suaranya menengahi, tapi tanpa tenaga. "Udahlah, Mah, nggak usah dibesar-besarkan. Cuma salah paham aja, kok." "Eh, nggak bisa gitu, dong! Anak kamu bisa kena mental kalau diperlakukan seperti itu. Denis kan cucu kesayangan nenek," Bu Sinta memeluk Denis dengan erat. Pelukannya posesif, seolah aku adalah ancaman. "Ya udah, Denis juga udah menyesal," kata Dafa. Ia mengusap kepala Denis. Bu Sinta lalu menunjuk ke arahku. Jarinya lurus, kuku merahnya mengilap. "Sekarang giliran Ririn yang minta maaf sama Denis. Denis bisa kena mental nanti kalau kamu tidak minta maaf." Aku menarik napas. Panjang. Dalam. Napas itu kutahan sebentar sebelum keluar. "Saya marah sama Denis untuk mendidik dia, Bu. Bukan buat jahat sama dia. Tolong ibu jangan ikut campur. Masalah mendidik anak itu urusan saya sama Mas Dafa." "Mendidik, kok pakai acara melempar kertas." Sinta memalingkan wajah. Dagunya terangkat. Kemudian dia mengajak Denis mengobrol entah apa yang mereka obrolkan karena setengah berbisik. Suara mereka jadi desir, seperti angin di sela daun. Gimana caranya aku mendidik Denis kalau setiap dididik selalu dibela sama neneknya? Yang ada efeknya nanti anakku sendiri tidak ada rasa segan padaku. Malah berani melawan. Aku mengelus dada. Dadaku sesak. Aku tak memperpanjang debat bersama Bu Sinta. Percuma. Dia tidak akan mau kalah. Bagi dia, dia selalu benar. Aku lanjut merapikan piring di atas meja. Satu per satu. Piring keramik beradu pelan, bunyinya nyaring di telingaku. Lalu aku menuju dapur. Air keran kubuka. Air sabun mengalir. Busa putih menutupi piring kotor. Tapi pikiranku malah melayang jauh. Melayang menembus waktu. Aku ingat Dafa yang dulu. Dafa yang tiap sore nongkrong depan rumah hanya untuk lihat aku pulang kuliah. Motor bebeknya diparkir miring, helmnya digantung di spion. Dafa yang rela kehujanan menunggu aku les sampai jam 9 malam. Jas hujannya tipis, rambutnya basah kuyup, tapi senyumnya tetap lebar saat aku keluar gerbang kursus. "Pak, saya serius sama Ririn. Saya janji bakal jagain dia. Kasih saya kesempatan Pak. Saya akan kerja keras, apapun saya usahakan, yang penting Ririn bahagia," kata dia waktu itu. Matanya nanar, suaranya ketus karena nahan grogi. Lututnya hampir lemas saat berhadapan dengan ayahku. Ayahku aja sampai iba melihatnya. Akhirnya, beliau pun mengizinkan. Dafa dulu mengejarku seperti mengejar rezeki. Telepon setiap jam, chat setiap menit. "Udah makan belum, Sayang?" "Udah sampe rumah belum?" Aku yang jutek, dia yang membujuk. Aku yang marah, dia yang minta maaf duluan. Kata "maaf" keluar dari mulutnya seperti napas. Sekarang? Sekarang Dafa yang aku kejar untuk minta perhatian. Sekarang Dafa yang setiap aku tanya "kamu di mana?" jawabnya "lagi kerja sayang". Jawaban singkat, tanpa detail. Sekarang Dafa yang genggaman tangannya berkeringat hanya gara-gara aku berkata ingin ikut jalan-jalan. Keringat dingin. Keringat yang berbohong. Laki-laki yang dulu berlutut minta restu Ayahku... sekarang berani berbohong di depan mataku. Dengan mata berkedip normal, dengan suara tenang. Aku matikan keran. Suara air berhenti. Sunyi. Air mataku hampir jatuh. Tapi aku tahan. Kutahan dengan gigitan di bibir dalam. Bu Sinta masih di luar. Aku tidak boleh kelihatan lemah di depan dia. Sesekali aku menengok ke arah Denis yang masih mengobrol dengan neneknya di ruang tamu. Mata Denis menatap lekat ke arah neneknya sambil mengangguk-ngangguk. Anggukan kecil, tapi teratur. Perasaanku jadi tidak enak. Ada firasat buruk yang merayap di tulang belakangku. Tiba-tiba, Denis melirik ke arahku sebentar. Sekilas saja. Matanya bertemu mataku, lalu ia menatap kembali ke arah neneknya. Pasti Sinta sedang membicarakan aku. Membisikkan sesuatu tentangku. Setelah itu Denis menggelengkan kepala pada neneknya. Gelengan pelan, tapi tegas. Membuat aku semakin curiga. Ada rahasia kecil yang sedang mereka bagi. Aku pun menghampiri sambil memperhatikan mereka dari kejauhan. Langkahku pelan. Tangan Sinta diam-diam mencolek lengan Denis. Colekan halus, tapi penuh maksud. Aku lihat itu, tapi pura-pura tidak tahu. Aku tidak sadar, sejak kapan Denis mulai memegang HP milik neneknya. Ponsel jadul warna hitam itu pindah ke tangan kecilnya. Denis menghampiri sambil membawa HP itu. Ia tiba-tiba manja padaku. Suaranya dilunakkan, matanya dibuat berkaca-kaca. "Mamah, mamah, aku besok pengen jalan-jalan sama nenek, boleh?" Aku tersenyum pada Denis. Senyum tulus, karena memang aku sayang dia. "Boleh, dong. Masa nggak boleh. Biasanya 'kan Denis suka main sama nenek kalau libur." "Mamah transfer ke nenek ya, Mah! Buat bekal aku pergi jalan-jalan. Kasian nenek kalau uangnya habis." Ah, dasar manula yang satu ini memang lucu sekali. Baru saja mengata-ngataiku, sekarang minta transfer. Seperti orang yang tidak mau rugi. Padahal, dia juga ada bulanan dari Mas Dafa. Setiap tanggal muda, transferan masuk. Sebenarnya, aku tidak masalah kalau memberi uang buat jalan-jalan. Uang nggak ada artinya kalau buat kesenangan Denis. Tapi momennya yang pas. Pas di saat dia julid padaku. Pas setelah dia menuduhku ibu yang buruk. "Itung-itung nebus kesalahan kamu, Rin, karena udah bikin cucu nenek nangis, takutnya Denis kena mental kalau nggak diajak healing," tiba-tiba Sinta menyahut. Suaranya lantang. Masih saja dengan egois. Seolah ia yang paling berjasa. "Oke! Gampang!" Uang tidak masalah buatku selama itu buat kesenangan Denis. Jariku cepat membuka aplikasi bank di ponsel. Tapi yang terjadi tetap saja aku disebut ibu yang tidak baik. Aku membuka ponselku untuk melakukan transfer. Sekilas aku lihat wajah Sinta kegirangan saat notifikasi dana masuk terdengar dari ponselnya. "Ting!" Suara notifikasi itu membuatnya tersenyum lebar, matanya berbinar seperti anak kecil dapat permen. Aku hanya tersenyum masam. Bahkan untuk berterima kasih saja pun dia tidak bisa. Jika libur, Denis sering main bersama neneknya. Entah ke mana perginya. Ke pantai, ke mall, ke rumah saudara. Aku tidak minat ikut serta. Aku percaya mereka. Namun, setelah kejadian kemarin—setelah gambar nenek sihir dan kata "dua ibu"—tiba-tiba aku jadi penasaran. Mereka sering pergi ke tempat seperti apa? Dengan siapa? Apa ada "ibu yang satunya lagi" di sana? "Em... Denis, Ibu juga ikut, ya!" "Jangan!" spontan Dafa berkata seperti itu. Terlalu cepat. Terlalu keras. "Kenapa?" tanyaku. Alisku naik. Dafa mematung. Tenggorokannya naik-turun menelan ludah. Otaknya bekerja keras mencari alasan. "Denis, boleh 'kan mamah ikut?" aku bertanya dengan wajah sinis. Tapi bukannya menjawab, Denis malah melirik ke neneknya. Matanya bertanya. Seolah jawaban apa pun terserah pada neneknya. Seolah aku bukan ibunya. Dafa pun berkata, suaranya dibuat setenang mungkin, "Maksudku gini, kamu nggak bakalan nyaman. Mobilnya berdesakan, nanti saja minggu depannya lagi aku ajak kamu jalan-jalan, gimana? Biar kamu leluasa. Bukannya kamu nggak suka kalau terlalu banyak orang?" Aku tak menjawab. Hanya asik melihat tikus yang sedang kebingungan membuat alasan. Mataku menatap Dafa, tapi pikiranku menerawang. Melihat kepanikannya yang tersembunyi rapi. Dafa kembali berkata, buru-buru menutup celah, "Em, adikku Lisa juga ikut. Suasananya makin rame. Kamu yang introvert kayak gini pasti tambah nggak nyaman, kan?" Aku mengangguk pelan. Bukan mengalah. Tapi aku ingin tahu apa reaksi mereka jika aku datang menyusul. Akan aku ikuti diam-diam mereka. Dari jauh. Seperti bayangan. Dafa menghampiri lalu menggenggam kedua tanganku dengan hangat. Tangannya besar, hangat seperti dulu. "Makasih, Sayang. Kamu pengertian banget. Nanti pasti akan aku ajak kamu ke tempat yang lebih indah. Janji." Tangan Dafa berkeringat saat menggenggam tanganku. Keringatnya lengket. Kalau dulu, aku selalu berpikir hal seperti ini adalah bentuk perhatiannya. Keringat karena gugup ditinggal istri. Namun, sekarang sepertinya dia bertingkah seperti ini supaya aku tenang dan tidak curiga. Keringat karena takut ketahuan. Aku mengangguk pelan, senyumku kuusahakan paling manis. "Iya, Sayang, aku ngerti kok. Kalian senang-senang aja duluan, aku gampang minggu depannya lagi bisa main sama Denis." Dafa menghela napas lega. Napas yang keluar panjang, bahunya turun. Dia kira aku udah percaya. Dia kira aku tetap Ririn yang dulu... yang nurut, yang tidak pernah curiga, yang gampang dibohongi dengan janji "nanti". Dia salah. Ririn yang dulu sudah mati malam tadi. Bersama gambar crayon yang kulempar semalam.Aku duduk perlahan di tepi ranjang, membiarkan pandanganku menyapu seluruh ruangan. Kamar ini... kamarku dulu. Cat dinding berwarna hijau muda itu masih sama persis seperti saat aku masih menuntut ilmu di bangku kuliah. Poster film kesukaanku dan foto wisuda yang belum sempat dilepas oleh Ayah masih menempel rapi di dinding. Meja belajar kecil di sudut ruangan pun tak berubah; tumpukan buku-buku tebal berjudul ilmu psikologi masih tersusun berbaris rapi di atasnya. Pembantu rumah tangga Ayah pernah bercerita bahwa kamar ini selalu dibersihkan setiap minggu. “Bersih-bersih rutin saja, Mbak. Siapa tahu suatu hari Mbak Ririn rindu suasana rumah sendiri.” Siapa sangka, kerinduan yang disiapkan dengan penuh kasih sayang itu justru menjadi tempat istirahat malam pertama pernikahanku. Di luar pintu, langkah kaki Azka dan Denis terdengar perlahan menuju kamar tamu. Alif berjalan mendampingi mereka, berbisik pelan agar tak membangunkan siapa pun. “Tidur lelap ya, pasukan kecil besok Om aja
BRAAAKK!!!" Suara itu memecah keheningan. Suara rem kendaraan yang ditarik sekuat tenaga hingga berdecit tajam di atas aspal. Disusul bunyi benturan yang keras dan memilukan. Ponsel yang digenggam Maya terlempar ke udara. Layarnya berputar tak beraturan, menangkap potongan langit malam yang bertabur cahaya lampu kota, lalu permukaan jalan yang gelap basah, hingga akhirnya jatuh menimpa rumput liar di tepi jalan. Gambar di layar berguncang hebat seakan dunia ikut berguncang. Suara riuh orang-orang segera terdengar mendekat. "Nona! Nona, hati-hati!" "Ya Tuhan, tabrakan!" "Segera panggil ambulans!" Di antara keriuhan itu terdengar suara rintih pelan dan tertahan. "Aduh... kakiku... ponselku..." Layar masih menyala selama beberapa detik. Menampilkan bayangan orang-orang yang segera berkerumun di sekelilingnya. Sinar lampu ponsel dari arah lain menyinari tubuh Maya yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan. U
Malam perlahan turun, membawa kedamaian yang sempat terasa jauh sepanjang hari yang panjang ini. Gaun pengantin yang tadi siang begitu indah kini sudah kuganti dengan pakaian rumahan berwarna biru tua yang sederhana. Riasan yang melukis wajahku dengan cantik tadi sudah dibersihkan hingga bersih kembali, menyisakan wajahku yang polos dan segar. Setelah menata diri, aku melangkah menuju ruang makan, tempat di mana aroma masakan hangat menyambut kedatanganku. Begitu pun dengan Rey. Pria yang kini telah resmi menjadi suamiku duduk di kursi tepat di sampingku, menatapku dengan tatapan lembut yang tak pernah berubah sejak pagi tadi. Tanganku bergerak menyendokkan nasi ke piringnya, lalu mengambilkan beberapa jenis lauk — setelah sebelumnya aku bertanya dengan lembut hidangan apa saja yang ia inginkan. "Terima kasih!" ucapnya, sambil menatap ke arahku dengan senyum yang hangat menyentuh hatiku. "Sama-sama." Aku pun menyendokkan nasi untuk d
Hatiku terasa perih tersayat. Begitu mudah sekali Maya memutarbalikkan keadaan dan mengaku sebagai pihak yang paling menderita. Selalu memelas mencari belas kasih.“Lalu apa lagi yang dia katakan, Nak?” tanyaku berusaha menahan agar suaraku tak ikut bergetar.Denis perlahan mendongak. Setetes air mata mulai jatuh membasahi pipinya, lalu menyusul tetesan berikutnya. “Tante Maya bilang… kalau Denis mau tinggal bersamanya, dia berjanji tak akan lagi merasa kesepian dan sakit. Dia juga berjanji akan memberikan kamar yang indah untuk Denis. Banyak mainan. Ada pendingin ruangan. Dan dia berjanji tak akan pernah meninggalkan Denis seperti… seperti dulu.”Kata-kata terakhir itu terasa tajam bagai pisau tumpul yang melukai pelan namun dalam. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang untuk menahan rasa sakit yang menyergap dada.“Namun Tante Maya meminta satu hal sebagai syarat,” lanjut Denis dengan suara nyaris tak terdengar. “Dia menyuruh Den
Aku ingin berlari menghampiri mereka secepat mungkin. Namun kakiku terasa berat seakan terpaku di lantai. Rey menahan bahuku pelan namun mantap. “Percayalah kepada Ayah, Rin. Tetaplah tenang.”Dari kejauhan aku memperhatikan Ayah berdiri tegak. Wibawa dan ketenangannya tak pernah berubah—pria yang tak banyak berbicara, namun sekali bersuara semua orang akan diam mendengar. Ayah melangkah mendekati Maya dengan tenang. Suaranya rendah namun tegas dan berwibawa. Aku tak mendengar jelas apa yang diucapkannya. Hanya melihat bibir Ayah bergerak pelan, lalu tangannya terulur menarik perlahan pergelangan tangan Denis, memisahkan anak itu dari genggaman tangan Maya.Maya pun berdiri. Bahunya naik turun tak beraturan menahan emosi. Lalu, di hadapan puluhan pasang mata tamu yang sedang memperhatikan…Ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai marmer yang licin dan mengkilap.Dengan suara lantang dan penuh tangis yang dibuat-buat, ia membungkuk rendah sea
Aku tak pernah sekalipun membayangkan pernikahanku akan terasa seindah ini. Gaun yang kupilih jatuh sempurna menuruni lekuk tubuhku. Setiap jahitan payet halusnya menangkap cahaya lampu gantung yang berkilau lembut, lalu memantulkannya kembali bagai kunang-kunang yang turun berjatuhan. Pelaminan menjulang anggun berbalut kain putih bersih berpadu dedaunan hijau segar, dihiasi rangkaian bunga eustoma dan mawar putih yang harumnya samar namun menenangkan hati. Tidak berlebihan. Tidak mencolok mata. Persis seperti apa yang selalu kuimpikan dalam diam,sewaktu aku masih terbaring di kamar kos sempit dulu: sederhana, elegan, dan terasa begitu hangat. Barisan kursi tamu terisi penuh. Suara tawa, bisik-bisik penuh haru, dan alunan lagu romantis yang dinyanyikan langsung berpadu menyatu. Penyanyinya ternyata teman kuliah Rey dulu. Suaranya merdu dan menyentuh hingga ke relung dada, membuat mata para tamu yang hadir berkaca-kaca terharu. Di sampingku, Rey berdiri tegap dan tenang. Jas hit







