Inicio / Rumah Tangga / Anak Selingkuhan Suamiku / BAB 2 Bukan Ibu yang Baik

Compartir

BAB 2 Bukan Ibu yang Baik

Autor: Mira Restia
last update Fecha de publicación: 2026-06-29 16:46:22

"Pantas Denis nggak suka sama kamu! Kamu bukan ibu yang baik!"

Kalimat Dafa jatuh seperti palu godam. Tajam, dingin, dan menghancurkan. Ia menatapku dengan sorot mata yang belum pernah kulihat selama tujuh tahun pernikahan kami. Sorot mata seorang hakim yang sudah menjatuhkan vonis. Lengannya mengeratkan pelukan pada putra kami, seolah aku adalah bahaya yang harus ia lindungi.

Mendengar itu, hatiku hancur. Hancur berkeping-keping, bagai kaca yang dilempar ke lantai marmer. Rasanya seperti tertusuk pisau belati, tapi pisaunya tidak ditarik. Ia dibiarkan menancap, berdenyut setiap kali jantungku berdetak.

Aku bukan ibu yang baik, katanya. Tiga kata itu berputar di kepalaku. Selama ini aku membesarkan Denis dengan penuh kasih sayang dan perjuangan. Kasih sayang yang tidak pernah kutimbang, perjuangan yang tidak pernah kutuntut balas. Apa aku tidak boleh meluapkan kekesalan sebentar saja?

Air mataku hampir jatuh. Bendungan di pelupuk mata itu bergetar, tapi aku tahan. Aku menahannya dengan gigi dan harga diri. Kalau aku menangis sekarang, berarti aku kalah. Berarti tuduhan Dafa benar.

Pikiranku melayang, ditarik paksa tiga tahun ke belakang. Malam itu, langit  pekat tanpa bintang. Denis demam 38,5°C. Termometer digital di tanganku berkedip merah seperti lampu peringatan. Mas Dafa lagi dinas luar kota, di Balikpapan. Pesawat terakhir sudah lepas landas. Ia tidak bisa pulang.

Jam 2 pagi. Denis rewel, menangis kencang, suaranya serak, badannya panas. Aku gendong dia keliling kamar sampai kaki ini pegal, betis ini bergetar. Lantai ubin dingin di bawah kaki telanjangku jadi saksi bisu. Kompres air hangat kutempelkan di dahinya tiap 15 menit. Bacain Al-Fatihah berkali-kali, napasku tersengal, lalu berbisik di telinganya yang panas, "Cepat sembuh ya sayang, Mama di sini. Mama nggak akan ke mana-mana."

Tangan ini kapalan. Kapal yang terbentuk bukan dari satu malam, tapi dari ribuan malam. Kapalan karena tiap hari nyuci baju dan popok Denis saat ia masih bayi. Punggung ini pegal  karena tiap malam gendong dia tidur sampai ia lelap. Bahu ini jadi bantal, dada ini jadi tempat berlindung.

Dan sekarang, setelah semua itu... setelah doa-doa yang kubisikkan di atas ubun-ubunnya yang panas... aku dibilang bukan ibu yang baik? Hanya karena aku marah lima menit? Hanya karena aku hancur melihat gambar "nenek sihir" di samping rumah di kertas gambarnya?

Dadaku sesak. Udara di kamar itu tiba-tiba menipis. Rasanya pengen teriak: "Mas, kamu tahu nggak perjuanganku?! Kamu tahu nggak rasanya begadang sendirian sementara suami jauh di seberang pulau?!" Tapi bibirku kelu. Lidahku kelu. Kata-kata itu mati di ujung lidah, membeku jadi es.

Dafa menatapku dingin. Dingin seperti musim dingin yang belum pernah singgah di kota ini, tapi kurasakan sekarang.

Denis sudah mulai terdiam. Isak tangisnya melemah, digantikan napas yang tersengal-sengal. Dafa membopong Denis ke kasur kecilnya. Langkahnya hati-hati, seperti membawa benda paling rapuh di dunia. Ia menyuruhnya tidur dan membisikkan sesuatu di telinganya. Bisikan yang tidak untukku dengar. Bisikan yang membuat jarak di antara kami semakin lebar.

Tak lama setelah Denis terlelap, Dafa menarikku ke luar bersamanya, ke kamar kami. Genggamannya kuat, tapi tanpa kehangatan.

"Ayo kita tidur!" ajak Dafa padaku. Suaranya datar, seperti perintah.

Tapi aku menepis sentuhan tangannya. Tangan yang tadi mengelus kepala Denis dengan lembut, kini terasa asing saat menyentuhku.

"Kamu nggak mau menjelaskan sesuatu padaku, Mas? Tentang arti dari gambar buatan Denis?" tanyaku. Suaraku rendah, tapi setiap kata kutekan. Aku butuh jawaban. Butuh secercah kejelasan di tengah kabut ini.

Dafa tersenyum sinis. Senyum yang miring, yang tidak sampai ke matanya. "Cuma masalah imajinasi anak kecil aja kamu permasalahkan. Kamu tuh terlalu berlebihan."

"Itu bukan sekadar imajinasi. Udah jelas-jelas ada dua wanita di gambar itu. Yang satu sedang genggam tangan Denis dan yang satu jadi nenek sihir. Jelas-jelas Denis bilang penyihir itu...."

"Stop! Jangan bicara lagi." Potongnya cepat, tajam seperti pisau. "Kamu introspeksi diri. Mungkin kamu bukan sosok ibu yang baik... makanya dia bikin gambar kayak gitu. Lalu dia ciptakan sosok ibu idaman lain. Namanya anak, berimajinasi. Toh, cuma gambar."

"Kok kamu malah nyalahin aku sih, Mas?" Suaraku naik setengah nada. Perih dan tidak percaya.

"Hari ini aku kecewa banget sama kamu. Perkara gambar anak aja malah ribut-ribut. Apa nggak bisa kamu lebih sabar sedikit! Masih banyak hal lain yang harus diurus. Aku tuh pulang kerja capek, malah diajak debat masalah gambar."

"Baru kali ini, loh aku marah sebesar ini. Aku cuma minta penjelasan. Kenapa Denis bisa bilang punya dua ibu? Lalu, kamu bilang aku harus introspeksi. Selama ini aku merasa udah bener merawat dan menyayangi Denis. Masa aku tidak boleh protes, tidak boleh bertanya."

"Iya itu menurutmu. Kamu sendiri yang merasa udah merawat Denis dengan baik. Pada kenyataannya... Denis nggak nyaman sama kamu, kan? Buktinya tadi kamu bikin dia takut."

Aku terdiam. Kata-kata Dafa menggantung di udara. Aku merenung, menimbang-nimbang setiap kata. Apa benar aku yang salah? Apa benar gambar dua orang ibu itu hanya imajinasi anak kecil saja? Imajinasi yang kebetulan terlalu spesifik? Imajinasi yang kebetulan menyebut "nenek sihir" tepat saat aku bertanya?

Aku berbaring di kasur. Kasur yang biasanya hangat karena ada Dafa di sampingku, kini terasa dingin dan luas seperti padang es. Tapi aku tidak tertidur. Sulit rasanya terlelap jika pikiran kacau seperti ini. Pikiran berlari maraton tanpa garis finish. Setiap kali aku memejamkan mata, wajah Denis yang menangis dan gambar nenek sihir itu muncul bergantian.

Aku bangkit dari kasur. Gerakanku pelan, takut membangunkan Dafa. Aku memastikan napasnya sudah teratur, dadanya naik-turun dalam irama tidur. Ia benar-benar terlelap dalam mimpi. Atau berpura-pura tidur.

Aku mencari ponsel Mas Dafa yang tergeletak di nakas. Jantungku berdebar seperti drum. Baru pertama kalinya aku penasaran dengan isi di dalamnya. Baru pertama kalinya rasa curiga mengalahkan rasa percaya.

Kugenggam erat ponsel itu. Dingin dan licin di telapak tanganku. Sial, ponselnya sudah ganti password. Empat digit angka yang dulu kuhafal di luar kepala—tanggal lahir Denis—kini tidak berfungsi. Bahkan aku tidak tahu kapan dia ganti password. Kapan kepercayaanku dicabut tanpa pemberitahuan?

Kubuka laptopnya di meja kerja. Layarnya menyala biru, memantulkan wajahku yang pucat. Aku melihat-lihat beberapa folder, membuka file-file dengan nama samar, tapi tidak ada. Hanya laporan kerja, presentasi, foto liburan keluarga. Rapi. Terlalu rapi.

Setelah itu, aku mulai membuka laci pribadinya. Laci kayu jati yang selalu dikunci. Kunci cadangannya kusimpan di balik buku. Di dalamnya ada dokumen, buku tabungan, paspor. Tidak ada sesuatu yang aku dapatkan. Tidak ada surat, tidak ada foto, tidak ada bukti. Apa karena kebohongannya terlalu rapi, seperti file yang disusun per folder? Atau memang selama ini aku yang salah, menuduh angin?

Kembali aku pegang HP-nya. Layarnya menyala, menantangku. Aku berusaha menebak-nebak password. Mulai dari tanggal ulang tahun Denis, tanggal ulang tahun pernikahan kami, tanggal kami pertama kali ketemu. Tapi semuanya percuma. Layar hanya bergetar dan menulis "Password salah" dengan dingin.

Ada pilihan buka kunci menggunakan fingerprint scan. Ide gila menyambar kepalaku. Aku pun meraih tangan Dafa yang sedang terlelap tidur. Jemariku gemetar saat meletakkan jari telunjuknya di sensor. Kulitnya hangat, tapi bagiku terasa seperti es.

Namun, yang terjadi dia malah terperanjat bangun. Matanya terbuka lebar, menatapku dengan kaget dan marah. Ia menarik tanganku kuat-kuat.

"Ada apa, Sayang?" tanyanya, suaranya serak karena kaget.

Aku menggelengkan kepala. Tapi raut wajahku pasti tidak bisa disembunyikan. Cemas yang begitu nyata terpampang di sana, seperti tulisan besar di dahiku.

Dafa melirik ke arah tanganku yang masih menggenggam ponselnya. Matanya menyipit, menelisik.

"Aku mau cas HP kamu tadi," aku mencari-cari alasan. Nada suaraku kaku. Alasan yang bahkan aku sendiri tidak percaya.

Dia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya lagi. Lalu ia mengetik password pada ponsel dengan cepat, tanpa ragu, dan memperlihatkannya kepadaku. "Lihat, masih 100 persen!" katanya, seolah mengejek kecurigaanku.

Aku terdiam, bingung. Antara lega dan semakin curiga.

"Cek aja semuanya! Tidak ada yang aku sembunyikan, kok!" ucap Dafa menyodorkan ponsel yang sudah terbuka. Layar utamanya bersih. Wallpaper foto kami bertiga di Pantai Kejawanan. Aku menerimanya dengan ragu-ragu, segan. Takut Dafa tersinggung, tapi ternyata tidak. Ia malah duduk di sampingku, menonton.

Aku memeriksa ponsel sambil diperhatikan oleh pemiliknya. Jelas saja aku tak bisa konsen. Jari-jariku kaku saat membuka W******p, Galeri, riwayat panggilan. Tapi aku masih bisa memastikan tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada nama aneh, tidak ada chat yang diarsipkan.

Tak lama setelah itu, ada panggilan masuk. Layar menyala terang di tengah malam. Tertulis "Tukang Service".

"Mas, ada yang telepon," kataku.

"Siapa?" Dafa menoleh, masih santai.

"Tukang Service? Service apa malam-malam gini, Mas?" Alisku berkerut. Logikaku menolak.

Dafa tersenyum tipis. Senyum yang terlalu cepat. "Oh, itu temanku sendiri, paling iseng!"

Dafa mengambil ponsel miliknya, ia mengangkat teleponnya. "Nanti saja telepon lagi," katanya singkat, lalu menutup telepon. Tanpa "halo", tanpa basa-basi.

Tunggu dulu! Ini tidak seperti seseorang yang becanda dengan temannya. Biasanya Dafa akan mengumpat tidak jelas, "Ih gila lu, jam segini telpon!", jika temannya menjahili. Tapi ekspresinya tadi datar. Datar seperti permukaan danau tanpa riak. Serius.

"Kok gaya bicaranya nggak seperti sama temen, Mas?" tanyaku pelan.

Dafa menarik napas berat. "Huh, mulai lagi! Apa belum cukup kamu bikin ribut tadi? Mau perpanjang masalah?"

"Maafkan aku!" Aku tertunduk lesu. Kata maaf itu pahit di lidahku.

"Ya, udah buruan tidur!" perintahnya, lalu ia membalikkan badan.

***

Keesokan paginya, hari Sabtu. Matahari masuk dari celah gorden, membuat garis-garis emas di lantai. Dafa dan Denis berada di rumah karena libur. Aku menyiapkan sarapan di dapur. Aroma bawang putih dan mentega menguar, tapi tidak bisa menutupi rasa asam di hatiku.

Sementara itu, Dafa sedang menemani Denis di ruang tengah. Aku mengintip sedikit dari balik dinding dapur. Mereka sedang tertawa bersama sambil video call. Tawa Denis renyah, tawa Dafa dalam. Hal yang biasa terjadi tiap akhir pekan. Tapi baru kali ini aku penasaran, apa benar suara yang sedang melakukan panggilan video itu adalah tantenya Denis? Selama ini aku selalu yakin itu suara Lisa, adik kandung Dafa. Suara perempuan yang ceria.

Aku menghampiri mereka sambil tersenyum. Senyum pura-pura yang kupasang seperti topeng. Aku ingin ikut bergabung. Padahal, hanya ingin memuaskan rasa penasaran yang mulai mengganggu ini. Rasa penasaran yang menggerogoti.

Saat aku mendekat, panggilan video itu mati. Layar ponsel Dafa langsung hitam. Seolah disengaja. Seolah aku adalah tamu yang tidak diundang.

"Mamah mana sarapannya?" tanya Denis polos, tanpa curiga.

"Belum jadi, Sayang!" jawabku, suaraku serak.

"Yah, aku kira udah siap!" Denis tertunduk lesu, lalu kemudian menatap ke arah Dafa. "Ayah, ayo telepon lagi! Sarapannya belum jadi, kok."

"Nanti saja, Sayang!" jawab Dafa tenang. Terlalu tenang.

"Yah, ayah gimana!" rengek Denis.

Aku yang rendah diri merasa jadi pengganggu. Jadi orang asing di rumahku sendiri. Bingung harus berbuat apa. Jika marah pada Denis, malah akan membuatnya semakin takut padaku. Jika bertanya pada Dafa, ia akan menuduhku overthinking lagi. Aku pun kembali ke dapur lalu menyelesaikan pekerjaanku. Mengaduk telur orak-arik dengan gerakan kaku.

Selang beberapa menit, aku membawa sarapan ke ruang makan. Nampan di tanganku bergetar pelan. "Sarapan sudah siap!" aku berteriak dengan ceria. Setidaknya, terpaksa dibuat ceria.

Denis dan Dafa menghampiri. Kursi diseret, piring diletakkan. Namun, belum sempat kami sarapan, ada yang menekan bel dari luar. Tin... ton... Suara itu memecah keheningan yang canggung.

Aku menghampiri pintu depan, dan Denis mengikuti di belakangku. Langkah kecilnya berlari-lari, seolah-olah dia yakin yang datang adalah orang yang dia kenal. Ya, Sabtu pagi kadang-kadang neneknya Denis, mertuaku, akan berkunjung membawa makanan kesukaan Dafa dan Denis. Rendang, opor, kue lapis.

Aku menarik napas, lalu membuka pintu. Engsel pintu berderit pelan. Dan benar saja, mertuaku Bu Sinta datang mengunjungi anak dan cucunya. Wajahnya berseri, membawa kantong plastik berisi aroma masakan rumah.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Syantik bingit
menikmati bgt ceritanya
goodnovel comment avatar
Baca Novel
love u thor
goodnovel comment avatar
Mira Restia
Bismillahirrahmanirrahim
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 77. Dafa Kembali 2

    Tiga hari berlalu, dan ia benar-benar datang. Siang itu, aku baru saja keluar dari dapur membawa dua gelas jus jeruk segar untuk Denis dan Azka yang sebentar lagi pulang sekolah. Langkahku terhenti mendadak di ambang pintu ruang tamu. Terlihat seorang pria duduk santai di sofa kami. Terlalu santai. Seolah-olah itu adalah rumah sendiri, seolah ia baru saja pulang bekerja. Rambutnya gondrong dan kusut masai. Jenggot serta kumisnya tak terawat, menutupi sebagian besar wajah yang dulu pernah kucintai. Pakaiannya tampak lusuh dan berbau jalanan serta napas ruang pengasingan. Itu Dafa. Jantungku berdegup kencang hingga terasa naik ke tenggorokan. Secara refleks, aku mundur selangkah untuk menjaga jarak. Sementara itu, Aira sedang bermain bersama neneknya di dapur. Dafa menoleh perlahan ke arahku. Matanya... penuh dengan tatapan memelas. Persis seperti anjing terluka yang sedang mencari belas kasihan orang lewat. "Rin...

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 76. Dafa Kembali

    Dua tahun. Dua tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah luka untuk menutup menjadi bekas, dan bekas itu berubah menjadi cerita yang bisa diceritakan kembali tanpa membuat dada terasa sesak lagi. Aira kini berusia dua tahun. Kakinya sudah sekuat tekad hatinya yang pemberani. Ia berlari ke sana kemari di teras rumah kami setiap pagi, rambutnya yang dikepang dua berantakan menari mengikuti langkahnya, mulutnya tak henti berseru riang, "Ma... Yah... Kak Denis, Kak Azka!" Suaranya adalah alarm pagi terindah yang pernah kumiliki seumur hidup. Denis dan Azka kini genap berusia dua belas tahun. Tinggi badan mereka hampir menyamai bahuku. Waktu seolah berjalan terlalu cepat, takut ketinggalan mengikuti alur kebahagiaan kami yang deras. Denis, anak sulungku. Ia tetap pendiam, namun matanya menyimpan kedalaman seperti kanvas yang belum selesai ia lukis. Baru saja kemarin ia meraih juara pertama lomba melukis tingkat kota. Kamarnya berbau khas cat minyak

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 75. Obat Hati

    Aku masih duduk di tepi ranjang rumah sakit, selimut menutupi tubuhku yang sesekali masih gemetar. Mataku terlihat bengkak, pipiku terasa panas karena terlalu lama terisak di kamar mandi tadi. Tidak jauh dari sana, Bang Rey duduk di sofa; ia tidak memaksaku bicara atau mendekat berlebihan. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang sama persis seperti malam pertama pernikahan kami: penuh kesabaran, kedalaman perasaan, dan pengertian yang tulus. Aira sudah terlelap kembali di dalam tempat tidur bayinya, setelah Bang Rey menggendongnya berkeliling kamar selama dua puluh menit untuk menenangkannya. Sementara itu, Denis dan Azka dibawa Bu Mira keluar sebentar untuk membeli bubur ayam. Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara detak mesin infus dan napasku yang masih tersengal-sengal menahan sisa emosi. "Rin," panggil Bang Rey pelan namun jelas. Aku tak menjawab. Rasa malu masih menyelimuti hatiku saat hendak menatapnya. Aku merasa rendah diri—sebag

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 74. Baby Blues

    H+1 setelah persalinan. Tubuhku terasa remuk seolah baru saja dilindas truk besar. Jahitan di bagian bawah terasa perih menyayat setiap kali aku mencoba bergerak atau mengubah posisi. Namun, rasa sakit fisik itu terasa tidak seberapa dibanding kegemparan yang terjadi di dalam kepalaku sendiri. Aira tidur pulas di dalam tempat tidur bayinya. Wajahnya tampak tenang damai, bibir mungilnya sesekali bergerak mengecup seolah sedang menyusu dalam mimpi indahnya. Di sofa, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya terulur ke arah ranjangku—seperti dalam tidur pun ia takut aku akan menghilang jika dilepaskan sekalipun. Seharusnya aku merasa bahagia. Aku sudah memiliki segala hal yang dulu kupikir mustahil untuk kudapatkan: suami yang selalu siaga, anak yang sehat, serta mertua yang penuh kasih sayang. Namun mengapa dadaku terasa begitu sesak dan berat? Pukul 02.47 dini hari. Aira terbangun lalu menangis pelan. Begitulah bayi baru lahir; tidur dua jam, terjaga,

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 73. Bayiku

    Dengan tangan gemetar, aku mengangkat lenganku untuk menyentuh pipi bayi mungil itu. Kulitnya sangat halus, hidungnya mancung persis seperti Bang Rey, bibirnya tipis menirukan milikku. Matanya masih terpejam rapat dalam tidur pertamanya. “Halo, Aira...” bisikku lirih. “Selamat datang di dunia, Nak. Maaf Mama membuatmu menunggu lama ya...” Aira mengerutkan kening mungilnya, lalu sedikit membuka matanya. Matanya hitam jernih, menatapku seolah ia sudah mengenal siapa ibunya sejak lama. Ada rasa seolah tersambar petir yang lembut namun mendalam di dadaku. Inilah cinta tanpa syarat yang sejati. Cinta yang hadir seketika, tanpa butuh waktu untuk dipelajari. Bang Rey mengambil ponselnya dengan tangan yang masih gemetar hebat. Ia merekam video dan memotret dari berbagai sudut dengan teliti. Tangannya tak henti bergetar karena emosi. “Rin, lihat. Dia mirip kamu sekali. Lihat hidungnya, manis sekali,” ucapnya bangga seolah baru saja memenangkan pertandi

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 72. Waktunya Tiba

    Malam itu, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku berbaring miring ke kiri sesuai anjuran bidan, memeluk erat guling panjang untuk menopang tubuh. Di sampingku, Bang Rey terlelap, namun satu tangannya tetap terulur menggenggam jemariku seolah tak mau terpisah sekalipun dalam mimpi. Dari kamar sebelah, terdengar dengkuran halus Bu Mira sesekali memecah keheningan. Di kasur kecil mereka, Denis dan Azka tidur berpelukan rapat, persis seperti dua anak kucing yang tak ingin terpisah. Aku memejamkan mata, berusaha mengabaikan rasa pegal yang menusuk di pinggang. Sejak diagnosa posisi sungsang dan perjuangan keras memutar Aira beberapa minggu lalu, tidur nyenyak menjadi kemewahan yang jarang kudapatkan. Namun malam ini terasa berbeda. Ada rasa berat sekaligus penuh yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Jam dinding menunjuk tepat pukul 02.15. Perlahan aku membalikkan badan, berharap menemukan posisi yang lebih nyaman bagi punggungku. Tiba-tiba, sebuah sensas

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status