"Pantas Denis nggak suka sama kamu! Kamu bukan ibu yang baik!"
Kalimat Dafa jatuh seperti palu godam. Tajam, dingin, dan menghancurkan. Ia menatapku dengan sorot mata yang belum pernah kulihat selama tujuh tahun pernikahan kami. Sorot mata seorang hakim yang sudah menjatuhkan vonis. Lengannya mengeratkan pelukan pada putra kami, seolah aku adalah bahaya yang harus ia lindungi.
Mendengar itu, hatiku hancur. Hancur berkeping-keping, bagai kaca yang dilempar ke lantai marmer. Rasanya seperti tertusuk pisau belati, tapi pisaunya tidak ditarik. Ia dibiarkan menancap, berdenyut setiap kali jantungku berdetak.
Aku bukan ibu yang baik, katanya. Tiga kata itu berputar di kepalaku. Selama ini aku membesarkan Denis dengan penuh kasih sayang dan perjuangan. Kasih sayang yang tidak pernah kutimbang, perjuangan yang tidak pernah kutuntut balas. Apa aku tidak boleh meluapkan kekesalan sebentar saja?
Air mataku hampir jatuh. Bendungan di pelupuk mata itu bergetar, tapi aku tahan. Aku menahannya dengan gigi dan harga diri. Kalau aku menangis sekarang, berarti aku kalah. Berarti tuduhan Dafa benar.
Pikiranku melayang, ditarik paksa tiga tahun ke belakang. Malam itu, langit pekat tanpa bintang. Denis demam 38,5°C. Termometer digital di tanganku berkedip merah seperti lampu peringatan. Mas Dafa lagi dinas luar kota, di Balikpapan. Pesawat terakhir sudah lepas landas. Ia tidak bisa pulang.
Jam 2 pagi. Denis rewel, menangis kencang, suaranya serak, badannya panas. Aku gendong dia keliling kamar sampai kaki ini pegal, betis ini bergetar. Lantai ubin dingin di bawah kaki telanjangku jadi saksi bisu. Kompres air hangat kutempelkan di dahinya tiap 15 menit. Bacain Al-Fatihah berkali-kali, napasku tersengal, lalu berbisik di telinganya yang panas, "Cepat sembuh ya sayang, Mama di sini. Mama nggak akan ke mana-mana."
Tangan ini kapalan. Kapal yang terbentuk bukan dari satu malam, tapi dari ribuan malam. Kapalan karena tiap hari nyuci baju dan popok Denis saat ia masih bayi. Punggung ini pegal karena tiap malam gendong dia tidur sampai ia lelap. Bahu ini jadi bantal, dada ini jadi tempat berlindung.
Dan sekarang, setelah semua itu... setelah doa-doa yang kubisikkan di atas ubun-ubunnya yang panas... aku dibilang bukan ibu yang baik? Hanya karena aku marah lima menit? Hanya karena aku hancur melihat gambar "nenek sihir" di samping rumah di kertas gambarnya?
Dadaku sesak. Udara di kamar itu tiba-tiba menipis. Rasanya pengen teriak: "Mas, kamu tahu nggak perjuanganku?! Kamu tahu nggak rasanya begadang sendirian sementara suami jauh di seberang pulau?!" Tapi bibirku kelu. Lidahku kelu. Kata-kata itu mati di ujung lidah, membeku jadi es.
Dafa menatapku dingin. Dingin seperti musim dingin yang belum pernah singgah di kota ini, tapi kurasakan sekarang.
Denis sudah mulai terdiam. Isak tangisnya melemah, digantikan napas yang tersengal-sengal. Dafa membopong Denis ke kasur kecilnya. Langkahnya hati-hati, seperti membawa benda paling rapuh di dunia. Ia menyuruhnya tidur dan membisikkan sesuatu di telinganya. Bisikan yang tidak untukku dengar. Bisikan yang membuat jarak di antara kami semakin lebar.
Tak lama setelah Denis terlelap, Dafa menarikku ke luar bersamanya, ke kamar kami. Genggamannya kuat, tapi tanpa kehangatan.
"Ayo kita tidur!" ajak Dafa padaku. Suaranya datar, seperti perintah.
Tapi aku menepis sentuhan tangannya. Tangan yang tadi mengelus kepala Denis dengan lembut, kini terasa asing saat menyentuhku.
"Kamu nggak mau menjelaskan sesuatu padaku, Mas? Tentang arti dari gambar buatan Denis?" tanyaku. Suaraku rendah, tapi setiap kata kutekan. Aku butuh jawaban. Butuh secercah kejelasan di tengah kabut ini.
Dafa tersenyum sinis. Senyum yang miring, yang tidak sampai ke matanya. "Cuma masalah imajinasi anak kecil aja kamu permasalahkan. Kamu tuh terlalu berlebihan."
"Itu bukan sekadar imajinasi. Udah jelas-jelas ada dua wanita di gambar itu. Yang satu sedang genggam tangan Denis dan yang satu jadi nenek sihir. Jelas-jelas Denis bilang penyihir itu...."
"Stop! Jangan bicara lagi." Potongnya cepat, tajam seperti pisau. "Kamu introspeksi diri. Mungkin kamu bukan sosok ibu yang baik... makanya dia bikin gambar kayak gitu. Lalu dia ciptakan sosok ibu idaman lain. Namanya anak, berimajinasi. Toh, cuma gambar."
"Kok kamu malah nyalahin aku sih, Mas?" Suaraku naik setengah nada. Perih dan tidak percaya.
"Hari ini aku kecewa banget sama kamu. Perkara gambar anak aja malah ribut-ribut. Apa nggak bisa kamu lebih sabar sedikit! Masih banyak hal lain yang harus diurus. Aku tuh pulang kerja capek, malah diajak debat masalah gambar."
"Baru kali ini, loh aku marah sebesar ini. Aku cuma minta penjelasan. Kenapa Denis bisa bilang punya dua ibu? Lalu, kamu bilang aku harus introspeksi. Selama ini aku merasa udah bener merawat dan menyayangi Denis. Masa aku tidak boleh protes, tidak boleh bertanya."
"Iya itu menurutmu. Kamu sendiri yang merasa udah merawat Denis dengan baik. Pada kenyataannya... Denis nggak nyaman sama kamu, kan? Buktinya tadi kamu bikin dia takut."
Aku terdiam. Kata-kata Dafa menggantung di udara. Aku merenung, menimbang-nimbang setiap kata. Apa benar aku yang salah? Apa benar gambar dua orang ibu itu hanya imajinasi anak kecil saja? Imajinasi yang kebetulan terlalu spesifik? Imajinasi yang kebetulan menyebut "nenek sihir" tepat saat aku bertanya?
Aku berbaring di kasur. Kasur yang biasanya hangat karena ada Dafa di sampingku, kini terasa dingin dan luas seperti padang es. Tapi aku tidak tertidur. Sulit rasanya terlelap jika pikiran kacau seperti ini. Pikiran berlari maraton tanpa garis finish. Setiap kali aku memejamkan mata, wajah Denis yang menangis dan gambar nenek sihir itu muncul bergantian.
Aku bangkit dari kasur. Gerakanku pelan, takut membangunkan Dafa. Aku memastikan napasnya sudah teratur, dadanya naik-turun dalam irama tidur. Ia benar-benar terlelap dalam mimpi. Atau berpura-pura tidur.
Aku mencari ponsel Mas Dafa yang tergeletak di nakas. Jantungku berdebar seperti drum. Baru pertama kalinya aku penasaran dengan isi di dalamnya. Baru pertama kalinya rasa curiga mengalahkan rasa percaya.
Kugenggam erat ponsel itu. Dingin dan licin di telapak tanganku. Sial, ponselnya sudah ganti password. Empat digit angka yang dulu kuhafal di luar kepala—tanggal lahir Denis—kini tidak berfungsi. Bahkan aku tidak tahu kapan dia ganti password. Kapan kepercayaanku dicabut tanpa pemberitahuan?
Kubuka laptopnya di meja kerja. Layarnya menyala biru, memantulkan wajahku yang pucat. Aku melihat-lihat beberapa folder, membuka file-file dengan nama samar, tapi tidak ada. Hanya laporan kerja, presentasi, foto liburan keluarga. Rapi. Terlalu rapi.
Setelah itu, aku mulai membuka laci pribadinya. Laci kayu jati yang selalu dikunci. Kunci cadangannya kusimpan di balik buku. Di dalamnya ada dokumen, buku tabungan, paspor. Tidak ada sesuatu yang aku dapatkan. Tidak ada surat, tidak ada foto, tidak ada bukti. Apa karena kebohongannya terlalu rapi, seperti file yang disusun per folder? Atau memang selama ini aku yang salah, menuduh angin?
Kembali aku pegang HP-nya. Layarnya menyala, menantangku. Aku berusaha menebak-nebak password. Mulai dari tanggal ulang tahun Denis, tanggal ulang tahun pernikahan kami, tanggal kami pertama kali ketemu. Tapi semuanya percuma. Layar hanya bergetar dan menulis "Password salah" dengan dingin.
Ada pilihan buka kunci menggunakan fingerprint scan. Ide gila menyambar kepalaku. Aku pun meraih tangan Dafa yang sedang terlelap tidur. Jemariku gemetar saat meletakkan jari telunjuknya di sensor. Kulitnya hangat, tapi bagiku terasa seperti es.
Namun, yang terjadi dia malah terperanjat bangun. Matanya terbuka lebar, menatapku dengan kaget dan marah. Ia menarik tanganku kuat-kuat.
"Ada apa, Sayang?" tanyanya, suaranya serak karena kaget.
Aku menggelengkan kepala. Tapi raut wajahku pasti tidak bisa disembunyikan. Cemas yang begitu nyata terpampang di sana, seperti tulisan besar di dahiku.
Dafa melirik ke arah tanganku yang masih menggenggam ponselnya. Matanya menyipit, menelisik.
"Aku mau cas HP kamu tadi," aku mencari-cari alasan. Nada suaraku kaku. Alasan yang bahkan aku sendiri tidak percaya.
Dia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya lagi. Lalu ia mengetik password pada ponsel dengan cepat, tanpa ragu, dan memperlihatkannya kepadaku. "Lihat, masih 100 persen!" katanya, seolah mengejek kecurigaanku.
Aku terdiam, bingung. Antara lega dan semakin curiga.
"Cek aja semuanya! Tidak ada yang aku sembunyikan, kok!" ucap Dafa menyodorkan ponsel yang sudah terbuka. Layar utamanya bersih. Wallpaper foto kami bertiga di Pantai Kejawanan. Aku menerimanya dengan ragu-ragu, segan. Takut Dafa tersinggung, tapi ternyata tidak. Ia malah duduk di sampingku, menonton.
Aku memeriksa ponsel sambil diperhatikan oleh pemiliknya. Jelas saja aku tak bisa konsen. Jari-jariku kaku saat membuka W******p, Galeri, riwayat panggilan. Tapi aku masih bisa memastikan tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada nama aneh, tidak ada chat yang diarsipkan.
Tak lama setelah itu, ada panggilan masuk. Layar menyala terang di tengah malam. Tertulis "Tukang Service".
"Mas, ada yang telepon," kataku.
"Siapa?" Dafa menoleh, masih santai.
"Tukang Service? Service apa malam-malam gini, Mas?" Alisku berkerut. Logikaku menolak.
Dafa tersenyum tipis. Senyum yang terlalu cepat. "Oh, itu temanku sendiri, paling iseng!"
Dafa mengambil ponsel miliknya, ia mengangkat teleponnya. "Nanti saja telepon lagi," katanya singkat, lalu menutup telepon. Tanpa "halo", tanpa basa-basi.
Tunggu dulu! Ini tidak seperti seseorang yang becanda dengan temannya. Biasanya Dafa akan mengumpat tidak jelas, "Ih gila lu, jam segini telpon!", jika temannya menjahili. Tapi ekspresinya tadi datar. Datar seperti permukaan danau tanpa riak. Serius.
"Kok gaya bicaranya nggak seperti sama temen, Mas?" tanyaku pelan.
Dafa menarik napas berat. "Huh, mulai lagi! Apa belum cukup kamu bikin ribut tadi? Mau perpanjang masalah?"
"Maafkan aku!" Aku tertunduk lesu. Kata maaf itu pahit di lidahku.
"Ya, udah buruan tidur!" perintahnya, lalu ia membalikkan badan.
***
Keesokan paginya, hari Sabtu. Matahari masuk dari celah gorden, membuat garis-garis emas di lantai. Dafa dan Denis berada di rumah karena libur. Aku menyiapkan sarapan di dapur. Aroma bawang putih dan mentega menguar, tapi tidak bisa menutupi rasa asam di hatiku.
Sementara itu, Dafa sedang menemani Denis di ruang tengah. Aku mengintip sedikit dari balik dinding dapur. Mereka sedang tertawa bersama sambil video call. Tawa Denis renyah, tawa Dafa dalam. Hal yang biasa terjadi tiap akhir pekan. Tapi baru kali ini aku penasaran, apa benar suara yang sedang melakukan panggilan video itu adalah tantenya Denis? Selama ini aku selalu yakin itu suara Lisa, adik kandung Dafa. Suara perempuan yang ceria.
Aku menghampiri mereka sambil tersenyum. Senyum pura-pura yang kupasang seperti topeng. Aku ingin ikut bergabung. Padahal, hanya ingin memuaskan rasa penasaran yang mulai mengganggu ini. Rasa penasaran yang menggerogoti.
Saat aku mendekat, panggilan video itu mati. Layar ponsel Dafa langsung hitam. Seolah disengaja. Seolah aku adalah tamu yang tidak diundang.
"Mamah mana sarapannya?" tanya Denis polos, tanpa curiga.
"Belum jadi, Sayang!" jawabku, suaraku serak.
"Yah, aku kira udah siap!" Denis tertunduk lesu, lalu kemudian menatap ke arah Dafa. "Ayah, ayo telepon lagi! Sarapannya belum jadi, kok."
"Nanti saja, Sayang!" jawab Dafa tenang. Terlalu tenang.
"Yah, ayah gimana!" rengek Denis.
Aku yang rendah diri merasa jadi pengganggu. Jadi orang asing di rumahku sendiri. Bingung harus berbuat apa. Jika marah pada Denis, malah akan membuatnya semakin takut padaku. Jika bertanya pada Dafa, ia akan menuduhku overthinking lagi. Aku pun kembali ke dapur lalu menyelesaikan pekerjaanku. Mengaduk telur orak-arik dengan gerakan kaku.
Selang beberapa menit, aku membawa sarapan ke ruang makan. Nampan di tanganku bergetar pelan. "Sarapan sudah siap!" aku berteriak dengan ceria. Setidaknya, terpaksa dibuat ceria.
Denis dan Dafa menghampiri. Kursi diseret, piring diletakkan. Namun, belum sempat kami sarapan, ada yang menekan bel dari luar. Tin... ton... Suara itu memecah keheningan yang canggung.
Aku menghampiri pintu depan, dan Denis mengikuti di belakangku. Langkah kecilnya berlari-lari, seolah-olah dia yakin yang datang adalah orang yang dia kenal. Ya, Sabtu pagi kadang-kadang neneknya Denis, mertuaku, akan berkunjung membawa makanan kesukaan Dafa dan Denis. Rendang, opor, kue lapis.
Aku menarik napas, lalu membuka pintu. Engsel pintu berderit pelan. Dan benar saja, mertuaku Bu Sinta datang mengunjungi anak dan cucunya. Wajahnya berseri, membawa kantong plastik berisi aroma masakan rumah.