Compartir

BAB 4 Topeng Retak

Autor: Mira Restia
last update Fecha de publicación: 2026-06-29 17:25:58

Pagi itu udara masih basah oleh sisa hujan semalam. Aku sibuk di dapur, tangan ini bergerak tanpa henti. Menyiapkan baju ganti, melipat jaket, memasukkan sepatu kecil Denis ke dalam tas. Satu persatu. Seolah dengan kesibukan, aku bisa menahan sesak yang sejak semalam mengendap di dada.

Lanjut ke kompor. Memasak ayam teriyaki, menuang susu, membungkus bekal. Aromanya seharusnya menenangkan. Tapi tidak pagi ini.

Dari teras, suara tawa kecil itu pecah, cerah seperti matahari yang belum berani muncul sempurna.

"Mamah! Mamah!"

Tanpa sadar aku menjawab, suaraku terlalu cepat, terlalu berharap.

"Apa, Sayang! Bentar, Mamah masih di dapur!"

Aku pikir dia memanggilku. Aku pikir untuk sesaat, aku masih jadi "Mamah" yang dia cari. Aku buru-buru menghampiri, jantungku berdetak lebih kencang dari langkahku. Mengintip dari sela jendela.

Ternyata Denis sedang menggenggam ponsel. Layar menyala. Di seberang sana, wajah seorang perempuan tersenyum. Bukan aku.

Tanganku meremas celemek di pinggang sampai buku-buku jariku memutih. Marah? Iya. Kecewa? Lebih dari itu. Tapi aku menelan semuanya. Aku menarik napas, merapikan senyum di bibir, lalu berjalan keluar seperti tidak terjadi apa-apa.

Dafa menoleh cepat. Tangannya buru-buru mematikan panggilan itu.

"Nenek tadi video call," katanya, suaranya dibuat paling ringan sedunia.

Aku tersenyum. Senyum yang bahkan aku sendiri tak percaya.

"Oh... ya sudah," jawabku pelan. Pura-pura percaya. Pura-pura buta.

Dafa lalu menunduk, berbisik sesuatu di telinga Denis. Aku tak mendengar katanya, tapi aku tahu maksudnya. Kode. Perintah kecil.

Dan benar saja, Denis berlari ke arahku, memeluk kakiku, suaranya manja seperti biasa.

"Mamah... Mamah..."

Tubuhku menegang. Tanganku sempat terangkat, ingin membalas pelukannya. Tapi entah kenapa, ia berhenti di udara. Aku menghindar. Bukan karena benci pada Denis. Tapi karena setiap sentuhannya kini mengingatkanku pada kebohongan yang sedang mereka jaga bersama.

Wajah Dafa berubah. Cemas. Ia buru-buru mendekat, suaranya melunak, tapi memaksa.

"Rin... Denis kan cuma anak kecil. Jangan marah cuma karena imajinasinya. Manjain dia kayak biasanya, ya! Seperti dulu, kamu hampir setiap hari beli Denis mainan di toko daring."

Aku menatap Denis. Mata itu polos. Tidak tahu apa-apa. Aku memaksa bibirku melengkung.

"Iya, Sayang. Mamah sayang Denis kok," bisikku, walau dadaku sesak.

Dafa tampak lega sesaat. Lalu ia bertanya, nada bicaranya terlalu santai untuk ukuran pagi yang berisik ini.

"Hari ini kamu ke mana, Rin?"

"Ke rumah Ayah. Silaturahmi," jawabku singkat.

Dafa tersenyum. Senyum yang dulu membuatku luluh. Sekarang membuatku mual.

"Wah, kebetulan, tuh. Coba kamu tanya pelan-pelan sama Ayah, ya! Soal kenaikan jabatan buatku. Siapa tahu beliau bisa bantu."

Aku menatapnya lama. Lelaki ini. Suamiku. Yang dulu masuk ke perusahaan Ayah karena namaku. Yang dulu berjanji akan membuktikan dirinya lewat kerja kerasnya sendiri.

"Ayahku menilai orang dari kinerja nyata, Daf. Bukan dari hubungan kekeluargaan," kataku, suaraku tenang.

Dafa mengerutkan dahi. "Masa, sih, Rin? Dulu saja Ayahmu bisa membantuku masuk kerja. Kenapa sekarang tidak bisa bantu naik jabatan?"

Dalam hati aku tertawa. Tawa getir yang tidak berani keluar dari bibir.

Sudah tahu dulu masuk kerja karena Ayahku. Tidak pernah mengandalkan kemampuan sendiri. Sekarang malah banyak tingkah. Jangan-jangan... dulu kamu mendekatiku juga karena ini?

Aku mengangkat dagu, menatapnya lurus.

"Lain dulu, lain sekarang, Daf. Ayah bisa membantumu masuk, tapi selanjutnya tergantung kamu sendiri. Kalau mau cepat naik jabatan... biar aku saja yang kerja. Kamu urus rumah. Aku jamin, dalam setahun aku bisa kasih untung berkali lipat untuk perusahaan Ayah. Aku yakin aku lebih berkompeten daripada kamu. Aku dulu juga mahasiswi berprestasi, kalau mau gantian kerja, ayo! Kamu jaga rumah."

Wajah Dafa menegang.

"Kamu kok malah meledek suamimu sendiri? Dulu sih iya, kamu memang mahasiswi pintar, tapi sekarang udah 7 tahun kamu di rumah terus, emangnya bisa kerja?" suaranya meninggi, tapi ia cepat menurunkan nada saat melihat Denis.

Denis hanya berdiri di antara kami, menatap bergantian. Bocah tujuh tahun itu mungkin tidak mengerti pertengkaran orang dewasa. Tapi ia merasakan dinginnya udara di antara kami.

Tiba-tiba ia menarik lengan Dafa, suaranya polos tanpa beban.

"Ayo, Ayah... kapan kita berangkat? Denis mau ketemu Mamah."

Dunia berhenti sedetik.

Dafa langsung berjongkok, menutup mulut Denis dengan tangannya, lalu tertawa canggung.

"Maksudnya... mau cepat ketemu Nenek, ya? Iya, Nenek. Denis salah bicara."

Aku memalingkan wajah. Pura-pura tidak mendengar. Pura-pura sibuk merapikan bekal. Tapi di dalam, dadaku panas. Sekaligus... aku menertawakan kebodohanku sendiri. Bertahun-tahun aku percaya, ternyata aku hanya figuran di rumah ini.

Akhirnya aku berbalik, suaraku serendah mungkin.

"Sarapan dulu kalian berdua. Aku naikkan barang-barang ke mobil."

Langkahku menjauh. Tapi telingaku tetap mendengar bisikan Dafa yang panik menenangkan Denis.

Aku menaikkan koper dan tas Denis ke bagasi mobil. Tanganku kaku, tapi gerakanku tetap rapi. Di dalam rumah, tawa Dafa dan Denis terdengar samar. Suara sarapan yang seharusnya hangat, kini terasa seperti sandiwara.

Sambil menunggu mereka selesai, aku masuk ke kamar. Mengganti baju dengan blus sutra warna gading. Memakai lipstik merah tipis. Merapikan rambut. Lebih dari biasanya. Bukan untuk Dafa. Tapi untuk diriku sendiri. Untuk mengingatkan dunia, dan mengingatkan dia, bahwa perempuan yang ia remehkan ini punya nama, punya status, punya harga diri yang tak bisa ia injak seenaknya.

Selesai berdandan, aku menekan nomor Alif. Adikku satu-satunya.

"Alif, jemput Kakak sekarang!" perintahku tanpa basa-basi.

"Sekarang juga, Kak? Baru aja aku sampe ke rumah temenku, rencananya aku sama Bang Rey mau tenis bareng."

"Iya, sekarang, urgent! Kan semalam Kakak udah bilang sama kamu buat jemput pagi-pagi, lupa, ya? Kebiasaan kalau punya janji sama Kakak suka lupa?"

"Oh, iya ya! Maaf ya, Kak. Aku pikir tidak sepenting itu, kirain masih bisa ditunda dulu." Alif menjauhkan telepon dan berkata pada temannya. "Bang Rey, sorry gua harus pergi dulu ada urusan, besok aja kita tenisnya."

"Santai aja, gak masalah!" ucap temannya Alif terdengar dari seberang sana.

Aku berkata, "Alif, Kakak minta tolong satu lagi, ya! Tolong, tukar mobilmu sama mobil temanmu. Atau kalau temanmu keberatan, sewa aja dulu, nanti uangnya Kakak transfer!"

"Kok, gitu sih, Kak? Alif kan ada mobil."

"Kita 'kan mau nguntit. Kalau ketahuan mobilmu orangnya bakal curiga."

"Jadi, beneran Kak, Kak Dafa selingkuh? kaya yang Kakak bilang tadi malam lewat chat?"

"Makanya Kakak harus pergoki sekarang. Kakak harus punya bukti dulu, biar gak dibilang asal nuduh. Kalau Kakak protes sekarang tanpa bukti, mereka bisa ngeles lalu balik menuduh Kakak yang gila."

"Oh gitu, Kalau gitu aku gercep ke rumah Kakak sekarang! Pokoknya urusan membela Kakak aku nomor satu. Masalah mobil bisa langsung tuker, kebetulan gua lagi sama Bang Rey, dia pasti mau bantuin."

"Oke, bilang makasih juga buat temanmu ya, maaf banget harus repotin kalian."

"Siap, Kak! Gua langsung OTW ke rumah Kak Ririn, ya!"

"Ya udah, hati-hati di jalan, Al!"

Alif menutup telepon, dan aku sekarang menunggu Alif sampai.

Semalam, saat Dafa menelepon ibunya di kamar, aku tidak tidur. Aku mendengar setiap kata. Mereka akan ke resort Bluey, dan Denis minta ke minizoo yang ada di situ.

Mobil Dafa melaju, aku pura-pura sedang menunggu grabcar menuju rumah Ayah. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah aku dan adikku Alif akan mengikuti mereka.

Sampai di resort, udara terasa lebih sejuk. Tapi langkahku tidak ringan. Mataku mengedar, mencari. Orang-orang lalu lalang. Keluarga bahagia. Pasangan berpelukan. Semua terlihat normal. Kecuali aku.

Alif melirik ke deretan parkiran. "Kak, itu mobilnya Dafa. Platnya B 1234 XYZ."

Jadi mereka sudah masuk.

Alif menoleh bingung. "Resort segede gini, kita cari ke mana, Kak?"

Aku menarik napas. Menutup mata sebentar. Lalu membuka lagi. "Minizoo. Denis pasti merengek ke sana duluan sebelum ke tempat lain. Itu firasat seorang ibu, Alif."

Alif langsung bertepuk tangan, berlebihan seperti anak kecil. "Keren Kak! Pasti firasat Kakak gak bakal meleset, ayo sekarang kita ke minizoo."

Aku hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. Lalu berjalan mengikuti papan petunjuk arah. Alif mengikuti di belakangku, gayanya sok cool, seperti detektif di film.

Tak lama, pagar kayu minizoo muncul di depan. Suara burung dan tawa anak-anak bercampur jadi satu. Jantungku berdetak lebih kencang. Kami bersembunyi di balik pohon palem, mengintip.

Dan di sanalah mereka.

Dafa. Denis. Dan seorang wanita asing. Berdiri terlalu dekat. Terlalu nyaman. Wanita itu menyuapi Denis es krim, lalu mengelus kepalanya seperti seorang ibu.

Tenggorokanku tercekat.

"Neneknya mana, Kak?" bisik Alif polos. "Katanya ngajak cucu main sama nenek."

Aku menggeleng pelan. "Lisa dan nenek tidak ada, Alif. Cuma mereka bertiga. Seolah ini jalan-jalan khusus ayah, ibu, dan anak."

Alif langsung membuka W******p. Jemarinya gesit. "Lihat, Kak. Status Lisa. Dia lagi di luar kota. Check-in di Bandung. Nggak mungkin ada di sini."

Darahku mendidih. Tapi aku menahan lengan Alif yang sudah mau maju.

"Jangan, Alif."

"Lah, kenapa? Langsung labrak aja, Kak."

"Foto saja," kataku, suaraku dingin, tapi setiap kata terasa tajam di lidahku. "Sebanyak-banyaknya. Lebih mesra, lebih bagus. Aku mau membuka topengnya di depan semua orang. Termasuk Ayah. Labrak sekarang percuma, Dafa ngelesnya pinter, nanti yang ada Kakak kehilangan bukti."

Aku menatap Dafa dari kejauhan. Lelaki itu sedang tertawa, lengannya merangkul bahu wanita itu. Ia pikir ia aman. Ia pikir aku bodoh.

"Biarin aja dia senang sejenak," bisikku pada Alif. "Lalu, kita buat dia jatuh dari ketinggian sampai hancur sehancur-hancurnya."

Alif menelan ludah, lalu mengangkat ponselnya. Klik. Klik. Klik.

Alif berhenti memotret. "Gua bakal tunggu momen mesra mereka, supaya gak bisa ngelak, Kak."

"Iya, bukti foto bakal Kakak pakai buat ajukan perceraian."

Setiap jepretan adalah paku yang aku tancapkan ke peti mati pernikahan ini. Bukti. Senjata. Alasan untuk pergi.

Topeng Dafa sudah retak sejak pagi. Hari ini, aku akan meremukkannya sampai berkeping.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (2)
goodnovel comment avatar
Syantik bingit
puas banget kak
goodnovel comment avatar
Baca Novel
gak kerasa bacanya saking serunya serius
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 27 Luka Azka

    Hari berganti hari dengan ritme yang sederhana, tapi menenangkan. Pagi aku membuat sarapan, mengantar Denis dan Azka ke sekolah. Siang aku duduk di depan laptop, menerjemahkan novel asing halaman demi halaman. Sore menjemput mereka, mengantar mengaji pada Pak Ustadz, lalu pulang mengajak mereka bermain, menemani belajar, dan membacakan dongeng sebelum tidur.Alif sedang sibuk live streaming gamenya, jarang menghubungi. Rey juga belum muncul lagi sejak sore di Alun-Alun itu. Dari status WhatsApp-nya, ia sedang menangani perkara orang lain di luar kota. Foto ruang sidang, tumpukan berkas, dan secangkir kopi hitam.Aku sedikit rindu momen itu. Tawa Denis dan Azka, Rey yang jadi kiper dadakan, kaosnya yang melar ditarik anak-anak.Pukul 19.00 malam, aku di dapur, anak-anak menghampiri. Denis dan Azka masuk bersama, rambut mereka masih basah setelah mandi. "Mah," Denis bertanya duluan. "Kapan Om Rey ajak main lagi?"Azka mengangguk cepat di sampin

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 26. Sweet Memory

    Satu minggu berlalu. Rumah yang dulu sepi kini dipenuhi suara. Penuh warna, penuh tawa. Denis dan Azka kadang akur, kadang bertengkar. Alasannya sederhana. Siapa yang paling dulu dibuatkan susu oleh Mamah. Siapa yang tubuhnya lebih tinggi. Siapa yang hafalan suratnya lebih banyak. Aku hanya memantau dari dapur. Ketika suara mereka mulai meninggi, aku menengahi dengan satu kalimat. "Stok susu di rumah cukup untuk berdua, jangan rebutan. Tinggi kalian sama-sama akan bertambah. Surat yang kalian hafal, pahalanya sama di mata Allah. Lalu mereka saling pandang. Denis mencubit pipi Azka. Azka mencubit balik. Tiga detik kemudian mereka berlari lagi, main kejar-kejaran seperti tidak pernah bertengkar. Di sela mengurus mereka, aku mulai membuka laptop lagi. Orderan terjemahan novel bahasa asing masuk dari penerbit lama. Aku menerjemahkannya bab demi bab, mengirimkannya sebelum tenggat. Rasanya seperti menemukan diriku yang dulu. Yang sempat padam

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 25. Tiramisu dari Rey

    Pagi berikutnya, rumah terasa berbeda. Ada suara sendok beradu dengan piring, ada tawa kecil, ada langkah kaki berlari dari kamar ke dapur.Aku bangun lebih awal. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku memasak dengan hati yang tenang. Aku membuat nasi goreng, telur dadar, dan sayur bening. Menu sederhana. Menu rumah.Denis sudah duduk rapi di meja makan sejak aku selesai menata piring. Matanya berbinar menatap sarapan. Sementara Azka duduk di sebelahnya. Tubuhnya kaku. Punggungnya tegak seperti sedang berada di panti. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Ia tidak berani menyentuh sendok sebelum dipersilakan.Aku menuang nasi ke piring mereka. Porsiku sama untuk keduanya. Porsi anak yang sedang tumbuh.Azka menatap piringnya. Alisnya berkerut pelan. "Mamah... kenapa porsi Azka banyak sekali?" Suaranya pelan, ragu. "Apa boleh Azka makan sebanyak ini?"Pertanyaan itu menghantam dadaku. Tujuh tahun ia hidup dengan jatah yang terb

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 24. Sidang

    Pukul 11.00, sidang dimulai. Ruang Sidang 2. Hakim yang sama seperti saat sidang hak asuh Denis dulu. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya tegas. Dafa duduk di kursi pesakitan, mengenakan baju oranye tahanan. Wajahnya pucat, matanya merah seperti kurang tidur berhari-hari. Bu Sinta duduk di sebelah pengacaranya, kepala menunduk dalam. Maya tidak datang. Katanya "sakit". Rey, Alif, Bidan Sri, aku, Denis, dan Azka duduk di kursi penggugat. Azka duduk di sampingku, jemarinya menggenggam tanganku erat. Denis duduk di sebelah, lengan kanannya memeluk Azka dari samping, seperti perisai kecil. Hakim membuka map tebal di hadapannya. "Sidang penetapan hak asuh dan gugatan penipuan penukaran bayi, Ny. Ririn Riadi melawan Dafa Wibowo. Saya akan membacakan hasil DNA dari Laboratorium RS Hasan Sadikin." Seluruh ruangan hening. Hanya terdengar detak jam dinding. Azka mendongak, berbisik ke telingaku. "Mamah, DNA itu apa, Mah

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 23. Azka dari Dekat

    Pintu ruang tamu panti terbuka pelan. Bu Siti menuntun seorang anak kecil keluar. Tubuhnya kurus, rambutnya dipotong asal, baju kebesaran melorot di bahu. Tapi matanya... matanya sama persis dengan mataku waktu kecil. Jantungku berhenti sedetik. Napasku tercekat di tenggorokan. Itu Azka. Tujuh tahun aku membayangkan wajahnya dari foto USG yang pudar. Tujuh tahun aku mengarang-ngarang bentuk hidungnya, bentuk dagunya. Tapi tidak ada yang sama dengan kenyataan. Ia berhenti dua langkah di depanku. Tidak langsung lari memeluk. Hanya menatapku dari bawah, ragu-ragu, seperti anak kucing yang takut diusir lagi. Aku ingin berlari memeluknya. Ingin menjerit "Azka, aku ibumu!". Tapi tubuhku terpaku. Lututku lemas. Tanganku gemetar di sisi tubuh, menahan diri agar tidak menakutinya. "Azka..." suaraku keluar serak. Aku berjongkok, menyamakan tinggi mataku dengan matanya. Menjaga jarak, memberi dia ruang.

  • Anak Selingkuhan Suamiku   BAB 22. Azka Nama Anakku

    Pukul 07.00 pagi, notifikasi WhatsApp masuk dari Rey. Pesannya singkat, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup lebih cepat. Rey: "Ririn, hari ini kami mengurus penetapan hakim ke Dinas Sosial dan tiga panti asuhan terbesar di kota ini. Target kami: bayi laki-laki dengan berat badan 3,2 kg yang masuk tanggal 12-20 Agustus 2019. Bidan Sri ikut bersama kami. Doakan, ya."Aku membalas sambil menemani Denis sarapan bubur ayam. "Baik, Rey... Hati-hati di jalan. Aku di rumah saja menjaga Denis.""Mamah enak banget buburnya.""Iya, yang lahap ya makannya, jangan lupa dihabiskan jangan ada sisa.""Iya, mah. Mamah juga yang lahap, ya. Biar gemoy kaya Denis. Dan biar gak gampang lagi kaya kemarin-kemarin. Soalnya, Denis khawatir.""Duh, baiknya anak mamah. Iya deh mamah lahap biar sehat biar bisa temenin Denis belajar dan main."Aku mencium pipinya yang chubby."Tapi kok mamah kelihatan sedih, sih?""Gak sedih ko

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status