Se connecter"Iya," jawab Dina. Ia sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.Suasana di sekitar mereka masih ramai oleh suara musik dan orang-orang yang berlalu-lalang. Namun entah kenapa, percakapan itu terasa jauh lebih sunyi dibanding keadaan sekitar.Doni tidak langsung bertanya lagi. Ia hanya berjalan pelan di samping Dina sambil sesekali melirik wajah perempuan itu."Kalo kamu nggak nyaman buat cerita, nggak usah juga nggak apa-apa," ucap Doni hati-hati.Dina menghela napas pelan. "Nggak apa-apa kok."Mereka berjalan melewati deretan stand makanan dan permainan yang masih ramai pengunjung."Mantan suami aku namanya Leo. Pernikahan kami bisa dibilang bukanlah pernikahan yang normal," ucap Dina. Doni langsung menoleh dan memandang lurus ke arah Dina."Dulu aku pikir semuanya bakal baik-baik aja setelah nikah. Karena Leo terlihat sangat mencintaiku. Tapi ternyata nggak sama sekali."Dina tersenyum tipis, namun senyumnya terlihat hambar."Leo selingkuh cukup lama. Awalnya a
"Lama juga," gumam Dina, pelan. Sudah lama ia tidak dijemput laki-laki. Dan entah kenapa menunggu dijemput dibandingkan dengan menunggu klien, nyatanya jauh lebih lama menunggu dijemput. Sekitar dua puluh lima menit kemudian, ponsel Dina kembali bergetar. Doni kembali menelpon dan menyatakan kalo dia udah mau sampai depan kantor. Dina langsung berdiri dari kursinya sambil mengambil tas dan ponselnya. Ia sempat merapikan rambutnya sebentar di depan kaca sebelum akhirnya keluar dari ruangan. Beberapa karyawan yang masih lembur terlihat menoleh dan menyapanya saat ia berjalan menuju lift."Ibu Dina udah mau pulang?""Iya. Kalian juga jangan terlalu malam ya," jawab Dina sambil tersenyum kecil.Is segera berjalan ke luar ruangan menuju lift. Tidak lama kemudian, lift sampai di lobby utama. Dina keluar sambil melihat ke arah pintu depan gedung. Cuaca sore itu sudah mulai lebih sejuk dibanding siang tadi.Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan lobby. Doni mem
"Akhirnya sampe juga," ucap Dina. "Padahal udah nggak jauh ya Bu, tapi macetnya bikin geleng-geleng kepala," lanjut Dina. "Iya," jawab Laras."Sesampainya di rumah, Dina dan Laras langsung masuk ke kamar masing-masing. Dina berjalan pelan menuju kamarnya sambil membawa tas kerja dan ponselnya. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung menghela napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya sebentar ke atas tempat tidur."Capek juga," gumamnya pelan.Namun beberapa detik kemudian, ia bangkit lagi dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat perlahan membuat tubuhnya terasa jauh lebih rileks dibanding sebelumnya. Sekitar dua puluh menit kemudian, Dina keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang berwarna abu muda. Rambut panjangnya masih sedikit basah saat ia mengambil ponsel di atas nakas dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Layar ponselnya langsung menyala memperlihatkan satu notifikasi pesan baru. Dari Doni. Refleks, Dina tersenyum kecil. Entah sejak kapan
"Dina.. Dina..," ucap Laras pelan. Dina hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makan malamnya tanpa menjawab ucapan Ibunya. Makan malam mereka berlanjut dengan suasana yang cukup hangat. Sesekali suara tawa kecil terdengar dari meja mereka, terutama saat Dina mulai mengomentari rasa sambal yang menurutnya kurang pedas, meskipun wajahnya sendiri sudah mulai memerah karena kepedasan."Din, minumnya ditambah aja," ucap Laras sambil menahan senyum."Aku masih kuat kok, Bu," jawab Dina cepat, walaupun tangannya sudah sibuk mengambil es teh.Doni hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Dina.Tidak terasa, makanan di meja perlahan mulai habis. Dina terlihat paling kenyang di antara mereka bertiga sampai akhirnya bersandar lemas ke kursi."Wah.. aku kayaknya nggak bisa jalan deh, habis ini," gumamnya pelan."Makanya, kalo makan secukupnya. Jangan kalap gitu, Din,” komentar Laras datar."Bukan kalap, Bu. Ini namanya menikmati hidup."Doni tertawa pelan saat me
"Iya, betul. Ini siapa ya?" tanya Laras dengan alis yang saling bertaut. "Oh, ini..." ucap Dina, sengaja memotong pembicaraan.Ia sedikit gugup sambil menoleh ke arah Laras. Dan baru sadar kalau dia belum pernah benar-benar cerita soal Doni sebelumnya.Doni langsung mengulurkan tangan kanannya ke arah Dina. "Selamat malam, Bu," ucapnya sambil tersenyum kecil. "Saya, Doni."Laras membalas senyum Doni, walaupun wajahnya masih terlihat sedikit bingung."Doni ini yang waktu itu bantu aku di hotel, Bu," jelas Dina, cepat. "Pas aku hampir jatuh habis meeting sama klien.""Oh, yang waktu itu," ucap Laras, akhirnya mulai mengerti.Doni langsung menggeleng pelan. "Ah, itu hanya kebetulan aja, Din.""Tetap aja saya harus terima kasih," balas Laras tulus. "Dina tuh kalau lagi buru-buru memang kadang suka kurang fokus. Jadi nggak lihat jalan.""Bu..." protes Dina pelan, sambil menahan malu.Doni malah tertawa kecil. "Nggak apa-apa, Bu. Untung waktu itu nggak sampai jatuh beneran."Laras mengangg
"Oh..," ucap Arya. Ia tertawa pelan dari balik ponsel. Suaranya terdengar rendah dan temang."Kalo gitu, gimana kalo kamu mulai masuk seutuhnya aja ke dunia saya?" tanya Arya, menawarkan. Laras langsung terdiam beberapa saat."Maksud kamu?" tanyanya pelan."Iya, masuk seutuhnya. Jadi istri saya. Biar kita bisa jalanin semuanya bareng-bareng setiap hari. Bukan cuma bagian sulit atau tenangnya aja, kayak akhir-akhir ini. Tapi, semuanya. "Laras otomatis memutar kursinya lagi menghadap meja kerja. Jemarinya memainkan ujung pulpen pelan."Kamu kalo ngomong gampang banget ya, Ar," ucap Laras, kepalanya menggeleng pelan. "Karena sebernarnya emang sesederhana itu, Ras. Cuma kitanya aja yang kadang buat semuanya jadi rumit."Laras menghela napas pelan. "Buat kamu emang mungkin. Tapi belum tentu buat orang lain, Ar. Kita harus sadar kalo setiap kepala memiliki pemikiran dan jalan keluar yang mungkin berbeda jauh."Arya terdengar kembali tersenyum tipis. "Itu karena kamu belum terbiasa, Ras
Dina menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, Bu. Aku paham."Ia tidak membantah. Dalam hatinya, justru ia merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tidak perlu memikirkan bagaimana reaksi Leo dan menjelaskan secara keseluruhan jika mengetahui semuanya.Laras menatap Dina lekat. "Kamu cukup jalani aja sem
"Bu," panggil Leo. Laras tidak langsung menjawab. Ia tetap berdiri di dekat kaca, menatap ke luar jendela. Pemandangan di luar jauh lebih balik dibanding dengan menatap orang yang saat ini mengajaknya bicara.Tapi, karena mereka masih berasa di ruangan yang sama, Laras berbalik. Ia kembali melihat
Leo menghela napas pelan. "Biasa."Reina tersenyum kecil. "Biasanya tuh sampe bikin pintu hampir jebol?"Leo melirik Reina sekilas. Tapi ia tidak menjawab. Reina berjalan perlahan. Ia menarik kursi dan duduk tanpa diminta oleh Leo. "Dina nggak jadi datang ya?" tanyanya santai.Leo langsung menoleh
"Baik, Bu Laras," ucap Arief. "Bisa dijelaskan lebih detail?" tanyanya. "Ada beberapa hal yang janggal. Sistem kerja yang terlalu terpusat, distribusi data yang tidak transparan, dan pola keputusan yang tidak sehat," jelas Laras. "Saya baru lihat semuanya secara langsung hari ini.""Apakah ada in







