로그인"Akhirnya, kita harus pulang sekarang, ya?" tanya Laras, yang merasa tidak rela harus meninggalkan desa sekarang. "Iya, mau gimana lagi. Kerjaan di kantor pasti udah padet banget sekarang."Satu minggu pertama setelah pernikahan Laras dan Arya berlalu jauh lebih tenang dibanding beberapa bulan sebelumnya.Bulan madu mereka di desa kecil itu ternyata menjadi pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dari yang dibayangkan Arya. Tidak ada jadwal rapat, telpon pekerjaan yang datang setiap satu jam sekali, dan agenda yang datang mendadak.Hanya pagi yang tenang, udara segar, dan warga desa yang sesekali datang berkunjung untuk mengobrol.***Sementara itu, di kota, kehidupan Dina juga berjalan dengan ritme yang berbeda. Awalnya ia mengira setelah pernikahan Laras selesai, semuanya akan kembali normal. Namun ternyata tidak.Karena tanpa ia sadari, hubungannya dengan Fadlan semakin dekat dari hari ke hari. Bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada momen dramatis. Hanya percakapan
"Semoga hari ini, berjalan lancar," gumam Dina pelan, penuh harap. Sore itu, hotel tempat pernikahan Laras dan Arya dilaksanakan sudah ramai sejak sebelum matahari turun sepenuhnya.Para staf hotel berjalan cepat dari satu ruangan ke ruangan lain. Tim dokumentasi mulai mempersiapkan peralatan mereka. Beberapa keluarga yang datang dari luar kota juga sudah terlihat berada di area lobi sejak pagi.Hari yang selama ini hanya ada di dalam rencana akhirnya benar-benar tiba. Di salah satu ruang persiapan, Laras duduk di depan cermin. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi pantulan dirinya sendiri. Gaun yang dikenakannya sudah hampir sempurna. Riasan wajahnya terlihat lembut dan elegan. Rambutnya ditata sederhana namun anggun.Anehnya, ia tidak merasa terlalu gugup. Mungkin karena semua proses panjang itu sudah mereka lalui sedikit demi sedikit. Atau mungkin juga karena ia sudah sangat yakin dengan keputusan yang diambilnya.Pintu ruangan terbuka perlahan. Dina masuk sambil membawa secang
"Baiklah, Ibu nggak akan goda kamu lagi..," ucap Laras, dengan suara yang masih ada tawa tersisa Dina hanya menggeleng pelan sambil kembali melanjutkan sarapannya. Laras pun tidak lagi melanjutkan godaannya sesuai dengan janjinya tadi.Meski begitu, sesekali senyum tipis masih terlihat di wajah wanita itu setiap kali matanya bertemu dengan Dina. Dan hal tersebut membuat Dina memilih untuk fokus pada makanannya daripada memberi kesempatan Ibunya untuk bisa menggoda lebih jauh.***Hari pernikahan Doni dan Lila akhirnya tiba beberapa minggu kemudian. Sejak pagi, Dina sudah bersiap di kamarnya.Gaun yang dikenakannya sederhana namun tetap elegan. Tidak terlalu mencolok untuk sebuah acara pernikahan, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat rapi dan anggun.Ia sedang memeriksa tas kecil yang akan dibawanya ketika ponselnya bergetar. Fadlan. Dina langsung tersenyum kecil dan mengangkat."Udah berangkat?" tanyanya setelah panggilan telpon tersambung."Udah. Ini, aku lagi di depan rumah
"Hah..," ucap Dina, pelan. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut."Halo.""Halo."Suara Fadlan terdengar santai dari seberang sana."Gimana? Akhirnya selesai juga acaranya?"Dina tersenyum kecil sambil menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur."Iya. Udah selesai kok," jawab Dina. "Gimana, lancar 'kan?" tanya Fadlan. "Lancar, kok.""Baguslah, kalo begitu."Ada jeda singkat. Setelah itu, Dina bisa mendengar suara pintu mobil ditutup dari seberang sambungan telpon. "Kamu baru pulang?" tanyanya."Iya.""Sekarang masih di luar?" tanya Dina lagi. "Ini baru masuk rumah."Dina mengangguk pelan meski Fadlan tidak bisa melihatnya. "Kerjaan kamu padet banget ya hari ini?""Lumayan. Dari pagi sampe sore banyak rapat di luar.""Oh, gitu.""Makanya aku baru bisa telpon kamu malam."Kalimat itu membuat Dina tersenyum tipis. "Perhatian banget, sih.""Iya 'kan aku harus menunjukkan sikap baik aku ke orang yang sp
"Siap?" tanya sang fotografer. "Sebentar, satu orang lagi ketinggalan!" seru seseorang dari belakang kamera."Masih ada lagi?" tanya Arya sambil tertawa."Masih. Ini keluarga besar belum lengkap kayaknya," ucap Laras. "Astaga.""Jangan protes! Kita harus tahan berdiri hari ini."Gelak tawa langsung terdengar di berbagai sudut ruangan.Dina yang tadi sudah berniat turun dari posisi berdirinya langsung menghela nafas panjang."Aku mulai ngerti kenapa fotografer dibayar mahal.""Kenapa?" tanya salah satu sepupunya. "Karena harus sabar menghadapi keluarga besar."Beberapa orang kembali tertawa.Laras yang berdiri di samping Arya hanya menggeleng pelan. "Kamu dari tadi ada aja komentarnya.""Kan biar nggak tegang, Bu," cetus Dina. "Memangnya ada yang tegang?" tanya Laras. Dina melirik ke calon Ayah barunya, Arya. "Ada kayaknya."Arya langsung mengangkat sebelah alis sambil menunjuk dirinya sendiri."Saya?""Iya.""Kayaknya salah orang," ucap Arya. "Hmm..," gumam Laras. Sebelum Arya
"Hati-hati, Bu," ucap Dina, pelan. Laras dan Dina menuruni tangga secara berdampingan. Percakapan yang sejak tadi memenuhi ruang tamu perlahan mereda. Beberapa pasang mata langsung beralih ke arah mereka. Keluarga yang duduk di sisi kanan dan kiri ruangan tersenyum hangat melihat keduanya.Namun di antara semua orang yang hadir, ada satu tatapan yang paling sulit disembunyikan. Arya. Pria itu berdiri di antara keluarganya dengan setelan jas berwarna gelap yang rapi. Sebelumnya ia sedang berbicara dengan salah satu pamannya. Namun begitu melihat Laras muncul di ujung tangga, kalimat yang hendak ia ucapkan seolah menghilang begitu saja."Sempurna," gumamnya, pelan. Tatapannya berhenti pada wanita itu.Laras memang selalu terlihat menarik di matanya. Arya sudah mengetahuinya sejak lama. Tetapi hari ini berbeda. Mungkin karena suasana dan pakaian yang dikenakan Laras saat ini. Atau mungkin karena kesadaran bahwa hari ini mereka benar-benar sedang melangkah menuju kehidupan baru bersam
"Din," panggil Laras.Ia menyadarkan Dina dari lamunannya. "Iya, Bu.""Udah sampe," ucap Laras lagi. "Oh, iya."Dina turun lebih dulu, disusul Laras. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Keduanya terlihat tenang. Seolah mereka sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing."Dina, Ib
"Iya, aku paham," jawab Laras. "Oh ya, terima kasih atas bantuan kamu beberapa waktu lalu karena udah bersedia datang ke kantor polisi untuk menjadi saksi," lanjutnya. "Sama-sama, Ras. Terus sekarang, kamu mau ke mana?" tanya Ferdi. "Ke kantin. Aku mau beli bubur untuk Dina." "Mau aku ban
"Sekarang?" tanyanya."Nggak harus hari ini, tapi secepatnya," jawab LarasDina menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku belum yakin, Bu. Aku memang sudah ikut bekerja sama Ibu dari masih sekolah. Tapi, untuk menjadi seorang pemimpin kayaknya agak..,""Kamu pemegang saham mayoritas, Din. Dan posisi k
"Oke," jawab Laras. Ia menganggukkan kepalanya perlahan. "Kita serahkan semua prosesnya ke pihak yang berwenang."Ia menutup pulpennya. "Pastikan semua dokumen pendukung sudah lengkap dan siap jika diminta sewaktu-waktu," lanjut Laras. "Sudah kami siapkan semuanya," jawab Andi. "Termasuk kronolog







