Share

Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya
Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya
Author: Andin

Bab 1

Author: Andin
Saat dokter mengabarkan bayinya tidak terselamatkan, Aldo sedang berdiri di samping ranjang.

Setelan jas yang dia kenakan masih berbau hangus sisa kebakaran, punggung tangan kanannya terbalut lapisan perban.

Tangan itu, tadi malam menggenggam erat Melly Sumardo.

Dokter membalik lembaran hasil pemeriksaan, lalu memelankan suaranya.

"Nyonya Septian mengalami luka yang cukup parah, kesempatan untuk hamil lagi di kemudian hari ... sangat kecil."

Jakun Aldo bergerak naik turun.

"Sangat kecil itu seberapa kecil?"

Dokter tidak menjawab.

Ruang rawat menjadi hening seketika.

Aku menatap langit-langit, bayangan kebakaran semalam kembali terbayang di depan mata.

Saat asap pekat memenuhi ruang istirahat, Aldo mendobrak pintu dan menerobos masuk.

Melly terduduk di dekat dinding dengan pergelangan kaki yang membengkak kemerahan.

Aku berpegangan pada tepi meja, sementara tangan yang satu lagi melindungi perutku erat-erat.

"Aldo ...."

Melly baru berucap, Aldo langsung berlari menghampiri dan menggendongnya.

Aku berdiri di posisi yang lebih dekat dengan pintu.

Hanya butuh beberapa langkah saja untuk bisa keluar.

Aldo menatapku sekilas.

"Karina, kamu jalan duluan lewat jalur evakuasi."

"Kaki Melly terluka, aku antarkan dia keluar dulu, nanti langsung balik lagi buat jemput kamu."

Dia tahu aku sedang hamil.

Seminggu yang lalu, dia bahkan menemaniku periksa kandungan.

Dokter bilang ukuran bayinya masih sebesar buah anggur.

Dalam perjalanan pulang, dia membeli satu peti penuh makanan, bilang ingin membuat si anggur kecil makan lebih banyak.

Karena itulah aku percaya pada ucapannya yang bilang "langsung balik lagi".

Namun, baru berjalan dua langkah, suara dentuman keras terdengar dari atas kepala.

Langit-langit runtuh dan menimpaku hingga tertekan ke lantai.

Aku terbaring di tengah kepulan asap pekat, memanggil namanya berulang kali.

Saat terbangun kembali, anakku sudah tidak ada.

Aldo duduk di tepi ranjang, lalu menggenggam tanganku.

"Maaf."

Matanya sangat merah, kemungkinan besar tidak tidur semalaman.

"Aku pikir kamu bisa keluar sendiri."

"Setelah menyerahkan Melly ke dokter, aku langsung kembali, tapi petugas pemadam kebakaran nggak izinin aku masuk."

Aku bertanya dengan suara pelan.

"Kalau hal itu terulang lagi, gimana?"

Jari-jarinya seketika mencengkeram makin erat.

Cukup lama kemudian, barulah dia bersuara serak.

"Nggak akan ada yang kedua kalinya."

Dia tidak menjawab pertanyaan utamaku.

Namun, aku sudah paham.

Ponsel Aldo berdering.

Dia melihat nama pemanggilnya, lalu tidak mengangkatnya.

Saat panggilan kedua berdering, dia langsung mematikan ponselnya.

"Aku nggak bakal ke mana-mana, aku bakal di sini aja temani kamu."

Kalimat ini dulunya merupakan hal yang paling ingin aku dengar.

Tujuh tahun lalu saat ibu menjalani operasi, aku sendirian jongkok di depan loket pembayaran sambil menangis.

Aldo membiayai operasi itu sebesar 740 juta, lalu menemaniku berjaga sepanjang malam.

Saat fajar tiba, dia menyodorkan susu kedelai hangat ke tanganku.

"Selagi ada aku, langit nggak bakal runtuh."

Saat itu aku mengira, dialah pelindung hidupku.

Namun, kemudian langit benar-benar runtuh.

Yang pertama kali dia lindungi, ternyata bukan aku.

Pintu ruang rawat mendadak terdorong terbuka.

Adis, Ibu Aldo masuk dengan wajah muram.

"Aldo, Melly nangis terus dari tadi."

"Dia memang takut api, ditambah trauma kecelakaan mobil waktu itu belum sembuh, masa kamu malah ninggalin dia sendirian?"

Aldo mengerutkan dahi.

"Karina baru aja selesai operasi."

"Di sini ada perawat sama dokter, memangnya dia bakal kenapa-kenapa?"

Adis melirikku sekilas.

"Melly tuh beda. Kalau bukan demi bantu kamu balik ke sini, dia juga nggak bakal kena musibah kebakaran ini."

Aldo terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri.

Dia membetulkan letak selimutku dengan gerakan yang sangat pelan.

"Aku jenguk ke sana sebentar aja, nanti cepat balik lagi."

Aku menganggukkan kepala.

"Iya."

Dia tampak bernapas lega.

"Kalau mau makan sesuatu, suruh Pak Diki beliin aja."

Setelah pintu tertutup, barulah aku mengeluarkan lembaran kuitansi pembayaran dari bawah bantal.

740 juta.

Kertasnya sudah menguning, tapi angka di atasnya masih terlihat sangat jelas.

Aku memanggil nomor telepon pengacara.

"Bantu aku hitung total nilai rumah, saham, sama perhiasan yang pernah Aldo kasih ke aku selama tahun-tahun ini ya."

Pengacara tertegun sejenak.

"Nyonya Septian, Anda mau beresin data harta?"

Aku mengelus perutku yang terasa kosong.

"Iya."

"Udah terlalu lama utang, waktunya buat balikin semuanya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 10

    Tiga tahun kemudian, aku membeli sebuah bangunan kecil di tepi pantai.Lantai satu kujadikan toko roti, lantai dua kupakai untuk mengajari anak-anak gadis sekitar membuat kue manis.Beberapa di antara mereka ada yang bernasib sama seperti diriku yang dulu.Tidak punya ijazah, tidak punya pula anggota keluarga yang bisa diandalkan.Aku memberi mereka gaji, sekaligus mengajari mereka keterampilan yang bisa dipakai untuk bertahan hidup.Tante Ica sering bilang, aku sudah banyak berubah.Tidak lagi serba hati-hati, tidak pula terbiasa melihat raut wajah orang lain terlebih dahulu.Saat berkaca barulah aku menyadari, ternyata setelah meninggalkan Aldo, aku bisa hidup jauh lebih menjadi diriku sendiri dibandingkan dulu.Rumah tua peninggalan ibu tidak kujual.Bunga bokor di pekarangan terus bermekaran setiap tahunnya.Sesekali aku duduk di bawah pohon, teringat akan calon anakku yang tidak sempat lahir ke dunia.Masih terasa sedih.Tapi, rasa sedih itu sudah tidak sanggup lagi mengurung lang

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 9

    Setahun kemudian, "Toko Roti Segar" membuka cabang kedua.Aku tidak memakai modal uang peninggalan Aldo sedikit pun.Awal memulainya sangat berat.Aku menjaminkan rumah tua ibu, lalu memangkas jam tidur harian menjadi lima jam saja.Tapi kali ini, kerja keras ini demi diriku sendiri.Doni bertanggung jawab menangani promosi, Tante Ica membantuku mengawasi cabang toko pertama.Di hari pembukaan toko baru, antrean panjang mengular di depan pintu.Aku berdiri di depan oven, menatap loyang demi loyang roti yang mengembang, hatiku pertama kalinya merasakan kepuasan yang sangat mantap.Dulu tiap kali orang membicarakanku, mereka selalu bilang kalau aku ini istrinya Aldo.Sekarang ada orang yang sengaja datang jauh-jauh cuma demi menikmati sepotong kue buatan Karina.Aku bukan lagi bayang-bayang siapa pun.Sesekali Aldo masih suka datang.Dia tidak lagi memohon padaku untuk kembali, tidak pula pasang badan menghalangi jalanku.Dia hanya duduk di sudut toko yang paling pojok, memesan secangkir

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 8

    Aldo tidak pergi meninggalkan kota kecil ini.Dia menginap di homestay sebelah.Setiap pagi sebelum pintu toko dibuka, dia sudah berdiri menanti di seberang jalan.Aku tidak memedulikannya.Dia akan terus menunggu sampai malam hari.Pernah suatu kali saat angin topan menerjang, papan nama toko terhempas jatuh.Keesokan harinya saat aku tiba di toko, papan namanya sudah selesai diperbaiki.Doni bilang Aldo menerjang hujan mengerjakannya tengah malam, sampai telapak tangannya tergores plat besi dan mendapat enam jahitan.Aku hanya menghubungi tukang untuk menggantinya dengan papan nama yang baru.Menatap papan nama lama yang dilepas, ada sorot canggung dan serba salah di mata Aldo."Kenapa harus diganti?""Aku nggak suka berutang sama orang.""Kita ini suami istri.""Sebentar lagi udah bukan."Dia tidak berkata apa-apa lagi.Sebelum persidangan cerai dimulai, Aldo akhirnya mau menandatangani surat perjanjian itu.Di hari penandatanganan, dia mengalihkan kembali seluruh aset atas namaku.

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 7

    Hari saat toko roti resmi dibuka, cuacanya sangat bagus.Aku menamainya "Toko Roti Segar".Tante Ica bilang namanya kurang elegan.Tapi, menurutku nama itu sangat bagus.Tokonya tidak besar, begitu jendela dibuka bisa langsung melihat laut.Pada awalnya pelanggan tidak terlalu banyak, setiap hari aku bangun jam empat pagi untuk menguleni adonan, lalu jam sepuluh malam baru menutup toko.Tubuhku masih suka terasa nyeri samar-samar.Dokter memintaku kontrol rutin tepat waktu, serta mengingatkanku agar tidak terlalu lelah.Aku mulai belajar cara merawat diriku sendiri.Dulu aku selalu ingat obat lambung Aldo, jadwal rapat, dan setiap hari penting baginya, tapi sering kali lupa kalau diriku sendiri juga bisa sakit.Sebulan kemudian, toko perlahan punya pelanggan langganan.Doni, pemilik homestay di sebelah, membantuku mengambil foto lalu mengunggahnya ke internet.Tepi pantai, bunga-bunga segar, dan roti yang baru matang menarik perhatian cukup banyak wisatawan.Ada orang yang mengenaliku,

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 6

    Aku menghabiskan waktu setengah bulan untuk merapikan rumah tua peninggalan ibu.Di pekarangan awalnya ada pohon jeruk yang sudah mati kering.Tante Ica membujukku untuk menebangnya saja.Tapi, aku malah menyiramnya selama beberapa hari.Belakangan tukang kebun memberitahuku bahwa akar pohonnya sudah membusuk, kalau dibiarkan cuma bakal mengundang hama.Aku berdiri di bawah pohon cukup lama."Kalau gitu tebang aja deh."Ada hal-hal yang kalau memang sudah mati, tidak akan bisa hidup kembali cuma karena disiram air berkali-kali.Setelah batang kayunya diangkut pergi, pekarangan rumah jadi terasa sangat luas.Di sana aku menanam bunga bokor putih.Lalu menggunakan tabunganku sendiri untuk menyewa sebuah ruko di tepi pantai, bersiap membuka toko roti.Sebelum menikah dengan Aldo, aku pernah bekerja mengantar minuman di kelab malam, pernah juga jadi anak magang di toko kue.Waktu ibu dirawat di rumah sakit, aku sering membawa pulang roti sisa yang tidak terjual.Ibu selalu bilang, roti bua

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 5

    Setelah pesawat mendarat, aku tidak langsung menyalakan ponsel.Di luar jendela sedang turun hujan.Lampu-lampu kota asing ini menyatu menjadi satu deretan dari balik kabut air.Sama seperti hujan malam bertahun-tahun lalu, saat pertama kali aku ikut Aldo pulang ke Keluarga Septian.Waktu itu dia memegangkan payung untukku, lalu memasangkan jasnya ke bahuku.Kini aku menyeret koper tuaku, berjalan sendirian menerobos hujan.Saat ponsel kembali menyala, di layar bermunculan puluhan panggilan tak terjawab.Aku tidak membukanya.Sopir taksi bertanya aku mau pergi ke mana.Aku menyebutkan nama sebuah kota kecil di tepi pantai.Di sana ada sebuah rumah tua peninggalan ibu.Waktu aku masih kecil, ibu selalu bilang kalau sembuh nanti, dia akan membawaku kembali ke sana untuk melihat laut.Tapi, dia tidak pernah sempat menunggu sampai hari itu tiba.Saat mobil melaju keluar dari bandara, aku mengheningkan ponsel, lalu bersandar di kaca jendela dan tertidur.Tidurku sangat lelap.Saat terbangun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status