Share

Bab 3

Author: Monal
Keesokan harinya, aku mengambil cuti untuk membereskan barangku di rumah.

Barang-barangku tidak banyak, aku hanya membawa beberapa pakaian ganti dan dokumen-dokumen penting.

Bel pintu tiba-tiba berbunyi.

Kukira itu kurir yang mengantarkan surat perjanjian perceraian, namun saat aku membuka pintu, aku langsung terpaku.

Orang yang berdiri di luar itu adalah Wendy.

Ia mengenakan mantel kasmir putih dan menggandeng anak laki-laki yang kulihat dalam panggilan video waktu itu.

Aku menggenggam erat gagang pintu, buku-buku jariku memutih karena kuatnya genggaman.

“Kak Sasa, kamu tidak mau mempersilakanku masuk?”

Wanita itu menatap wajahku yang memucat, ekspresi penuh kemenangan miliknya sama sekali tidak dia sembunyi.

“Tadi saat di telepon aku tidak sempat menjelaskan, jadi aku sengaja membawa Haris untuk bertemu denganmu.”

Dengan sengaja dia mendorong anak itu ke depan, gerakannya penuh dengan aksi pamer.

“Sebentar lagi Haris akan masuk TK. Kak Lukas merasa iba karena anak ini tidak memiliki keluarga utuh.”

“Dia bilang Haris tetaplah cucu laki-laki pertama Keluarga Mahatir, dia ingin anak ini resmi tinggal di sini.”

Melihat wajah anak itu yang 70% mirip dengan Lukas, isi perutku serasa teraduk, aku seketika dilanda rasa mual yang hebat.

“Pergi!”

Dengan mata yang memerah, aku menunjuk ke arah lift dan berteriak marah.

“Bawa anak harammu ini pergi dari rumahku!”

Aku benar-benar tidak ingin melihat mereka lagi dan hendak membanting pintu sekuat tenaga.

Namun Wendy mengulurkan tangannya untuk menahan celah pintu dengan kuat.

Ia mencondongkan tubuhnya ke telingaku, melirihkan suaranya, lalu mencibir dengan dingin.

“Sasa, untuk apa berpura-pura menjadi yang paling bermoral? Kamu pikir Kak Lukas benar-benar mencintaimu?”

“Dia sendiri yang bilang padaku, setiap kali berbaring di ranjang yang sama denganmu, dia harus menahan rasa mualnya dengan meminum obat tidur.”

“Saat dia menyentuhmu, di kepalanya langsung memutar kejadian saat para preman itu menindihmu dulu.”

Wanita itu menatap langsung ke mataku dan terus mendekat selangkah demi selangkah.

“Dia juga bilang, kamu itu perempuan kotor, jadi dia melampiaskan hasratnya padaku. Karena hanya tubuhku yang bersih ini yang bisa membuatnya bergairah.”

Pada detik itu juga, tali kesabaran yang selama ini mati-matian kutahan di dalam kepalaku akhirnya terputus.

Mimpi burukku saat berusia enam belas tahun itu, aku sudah berusaha menyembuhkannya selama dua belas tahun ini.

Tapi ternyata Lukas menjadikannya bahan lelucon saat di ranjang dan menceritakan hal itu kapada wanita simpanannya.

“Memangnya kamu punya hak apa untuk membicarakan hal itu?”

Aku menjerit histeris, tanganku terangkat, lalu dengan semua tenaga yang kumiliki, sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Wendy.

“Plak!”

Suara tamparan itu terdengar sangat nyaring.

Tubuh Wendy sampai terhuyung, membuat dahinya membentur sudut lemari sepatu yang ada di area pintu masuk dengan keras.

Darahnya langsung mengucur.

Anaknya yang berada di samping ketakutan dan menangis keras.

Wendy menahan dahinya yang berdarah, lalu merangkak dan terhuyung mundur dengan panik.

“Wanita gila! Dasar wanita sinting! Tunggu pembalasanku!”

Wendy dengan cepat menggendong anak itu, lalu berlari menuju lift dengan langkah tergopoh.

Tubuhku tidak bertenaga dan hanya bisa bersandar pada kusen pintu, lalu perlahan meluncur duduk di lantai. Aku memejamkan mata, untuk sementara sedikit kesejukan terasa meresap ke sela-sela sanggul rambutku.

Setelah membulatkan keputusan, aku mengeluarkan hasil USG yang sudah kutunggu selama enam bulan ini dari bawah meja kopi, lalu merobeknya sampai hancur.

Ini adalah kejutan yang awalnya ingin kuberikan pada Lukas, tapi kini justru terasa seperti tamparan keras di wajahku, sangat perih membakar dan menyakitkan.

Setengah jam kemudian, pengacara datang untuk mengantarkan dokumen. Aku menandatanganinya, lalu meletakkan surat cerai itu tepat di tengah meja kopi.

Hujan deras sedang turun seperti ditumpahkan dari langit, dibarengi dengan petir yang menggelegar.

Aku menarik koperku, bersiap untuk keluar dari rumah ini.

Di saat yang bersamaan, terdengar suara “brak” yang sangat keras.

Dari luar, Lukas mendobrak pintu utama sampai terbuka.

Aku bahkan belum sempat bereaksi, tapi Lukas sudah berderap ke arahku dengan urat di dahinya yang terlihat menonjol, lalu mencekik leherku dengan kuat.

“Sasa! Ke mana kamu membawa Haris?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 10

    Aku menoleh ke sumber suara.Ternyata Lukas.Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, dia terlihat seperti sudah sangat tua.Sudut matanya dipenuhi kerutan yang dalam, rambutnya juga sudah banyak yang memutih.Tubuhnya bertumpu pada sebuah tongkat logam, sementara kaki kanannya tampak agak kaku.Dia berdiri sambil menatapku dengan sorot mata yang gelisah dan kepahitan yang tidak mampu ia sembunyi.“Sudah lama tidak bertemu.”Aku tidak menghindarinya, reaksiku hanya mengangguk dengan tenang.“Ya, sudah lama kita tidak bertemu.”Udara di antara kami terasa sedikit membeku.Jari-jari Lukas yang menggenggam tongkat memucat karena cengkeramannya yang terlalu kuat.“Aku ... aku dipindahkan ke sini untuk bekerja di bagian administrasi dan logistik.”Nada suara Lukas terdengar sedikit bergetar.“Kamu ... apa kabarmu baik-baik saja?”“Cukup baik.” Jawabku.Bibir Lukas bergerak-gerak, seolah masih ingin bertanya sesuatu.“Ibu!”Sebuah sosok kecil berlari keluar dari area bermain dan langsung memelu

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 9

    Ternyata itu adalah Wendy.Wanita itu mengenakan jaket tua yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan, kulit wajahnya pucat kekuningan, sama sekali tidak terlihat anggun dan mencolok seperti penampilannya setengah tahun yang lalu.Begitu melihatku, Wendy langsung berlutut di hadapanku meskipun sedang di tengah keramaian.Rekan-rekan kerjaku yang juga baru pulang kantor dan para pejalan kaki di sekitar langsung menghentikan langkah mereka dan menoleh dengan penasaran.“Kak Sasa! Aku mohon, tolong selamatkan aku!”Wendy menangis sambil berteriak, tangannya bergerak hendak meraih ujung celanaku, tapi aku langsung mundur selangkah untuk menghindarinya.“Kak Lukas sudah tidak peduli pada kami. Semua hartanya diberikan kepadamu! Penyakit gagal ginjal Bibi Mirah semakin parah, sekarang dia sedang dirawat di ICU dan membutuhkan biaya yang sangat besar setiap harinya!”Dia menangis tersedu-sedu sampai ingus dan air matanya bercampur, penampilannya tampak sang

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 8

    Lukas berhenti tiga langkah di depanku, tidak berani mendekat lagi.Aku menatapnya dengan ekspresi tenang.“Kamu sudah membaca surat cerai? Kalau tidak ada masalah, tolong tanda tangani. Kalau kamu punya tuntutan, kamu bisa membicarakannya dengan pengacaraku.”“Aku tidak akan tanda tangan!”Dia menatapku dengan menggebu.“Sasa, jangan tinggalkan aku. Aku akui, enam bulan terakhir ini aku melakukan banyak kesalahan. Tapi semua yang dikatakan Wendy padamu, aku benar-benar tidak pernah mengatakannya!”“Aku sudah cek rekaman CCTV. Di malam saat aku berhubungan intim dengannya, sebenarnya Wendy memberiku obat bius...”Dia menatapku sambil bicara dengan suara yang penuh permohonan.“Sasa, selama ini aku diperalat. Dari awal sampai akhir, di hatiku hanya ada kamu saja.”Angin bertiup, menerbangkan daun-daun kering di tanah.Aku mendengarkan semua pengakuannya dengan tenang, dan hanya merasa hal ini sedikit lucu.“Apa kamu sudah selesai bicara?”Lukas tertegun sejenak, lalu mengangguk dengan b

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 7

    Setelah pintu ruangan tertutup, Lukas kembali berjalan ke sisi ranjangku.“Sasa, maaf. Aku tidak tahu ibuku akan bisa berkata seperti itu. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan mereka mengganggumu lagi. Ayo kita mulai dari awal. Aku bakal nurut semua kata-katamu mulai sekarang, ya?”Nada bicara Lukas seperti memohon dengan putus asa.Aku menundukkan pandanganku dengan tenang, tidak lagi mengangkat kepala untuk melihat wajahnya.“Lukas, tolong tanda tangani surat cerai.”Dari belakang tubuhku, terdengar suara napas yang tertahan.“Aku tidak mau menandatanganinya.”Suaranya terdengar goyah.“Aku tidak menyetujui perceraian ini. Soal anak itu, memang aku yang salah. Seumur hidupku akan aku gunakan untuk menebus kesalahanku. Kondisimu sekarang juga sedang tidak bagus, kamu butuh seseorang untuk merawatmu.”“Aku tidak membutuhkanmu.”Aku meraba ponselku yang berada di bawah bantal, lalu menelepon perusahaan penyedia perawat untuk menyewa perawat yang bisa berjaga selama 24 jam.Selama ak

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 6

    Saat aku sedang bicara, pintu ruang pasien tiba-tiba terbuka.Ibu mertuaku masuk dengan tergopoh, dibantu oleh Wendy.“Lukas! Ibu dengar Sasa masuk rumah sakit, apa yang sebenarnya terjadi?”Wendy melihat sekilas ke arahku yang terbaring di ranjang, sorot matanya sempat terlintas seperti ada rasa senang di sana.Namun Wendy dengan cepat mengganti ekspresinya menjadi penuh kekhawatiran, matanya merah saat menatap Lukas.“Kak Lukas, apa Kak Sasa baik-baik saja? Haris sudah ditemukan, ini semua hanya salah paham.”“Kak Lukas jangan sampai marah pada Kak Sasa karena Haris. Kak Sasa juga pasti tidak sengaja.”Begitu mendengar suara Wendy, Lukas tiba-tiba beranjak.Dia menatap Wendy dengan tajam dan dingin.Ibu mertua masih terus ikut menimpali, “Iya, Lukas. Sasa memang agak keras kepala. Tapi karena dia tidak bisa punya anak, jadi wajar kalau dia cemburu sama Wendy. Kamu tegur dikit aja cukup.”Kedua tangan Lukas mengepal sangat erat hingga sendi-sendi jarinya mengeluarkan suara gemeretak.

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 5

    Melihat darah yang terus menyebar mewarnai air di dalam bathtub, dia baru tersdar dan seperti terbangun dari mimpi, lalu berkata, “Sasa … darah … kenapa ada darah?”Lukas berjalan terhuyung ke arah bathtub, seluruh tubuhnya gemetar tanpa bisa ia kendalikan.Dengan panik, Lukas berusaha melepaskan ikatan sabuk di pergelangan tanganku, tetapi gesper logam sabuk itu diikat terlalu erat sampai macet.Setelah beberapa kali percobaan, Lukas tetap tidak berhasil membuka ikatan itu, suaranya pun bergetar karena panik.Aku melihat kepanikan Lukas yang tidak terkendali, sementara rasa sakit luar biasa di bagian perut bawahku menyeruak ke seluruh tubuh.“Pergi .…”Dengan lemah aku mengucapkan sepatah kata itu, bahkan bernapas saja terasa sangat menyakitkan.Kesadaranku mulai hilang, aku hanya bisa merasakan akhirnya dia berhasil melepaskan ikatan itu.Lukas mengangkatku keluar dari rendaman air dingin itu, lalu memelukku dengan erat.Tangannya menyentuh darah hangat yang masih mengalir di antara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status