Share

Bab 4

Author: Monal
Cekikan dari Lukas membuatku tidak bisa bernapas. Dengan panik, aku memukul-mukul tangan Lukas.

“Uhuk … Haris siapa ….”

Lukas marah besar, dia melepaskan cengkeramannya pada leherku lalu menendang meja kopi hingga terbalik.

“Wendy sudah memberitahuku. Sore tadi kamu mengamuk seperti orang gila dan memukulnya!”

“Wendy ke apotek untuk membalut lukanya dengan membawa anak itu, tapi saat berbalik, Haris menghilang.”

“Siapa lagi yang bisa nekat menculik anak berusia tiga tahun itu kalau bukan kamu?”

Aku terbatuk dengan parah sambil melihat pria yang sedang marah di depanku ini dengan tatapan tidak percaya.

“Aku bahkan tidak keluar rumah! Lukas, kamu sudah gila, ya?”

“Kamu yang gila!”

Lukas terlihat sangat cemas dan kalut, matanya memerah, dia berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Selama enam bulan ini, kamu setiap hari menyemprotku dengan alkohol! Kamu sudah lama sakit mental! Sekarang kamu bahkan mengincar anak yang tidak bersalah!”

“Cepat bawa orang suruhan kamu ke sini!”

Aku mengertakkan gigiku dan mundur. “Aku sudah bilang kalau aku tidak tahu! Kalau kamu tidak tahan denganku, kita bercerai saja!”

Aku berjalan berbalik dan mengambil surat cerai di meja.

“Kalau kamu tidak bilang di mana keberadaan anak itu, kamu tidak akan bisa pergi ke mana pun!”

Tiba-tiba Lukas menarik kerah bajuku dari belakang dengan kuat.

Suara robekan kain seketika terdengar.

Kekuatan Lukas yang besar itu otomatis merobek kemejaku, kancing-kancingnya terlepas, jatuh berserakan di lantai.

Tubuh bagian atasku langsung terekspos.

Tanpa menunggu reaksiku, Lukas sudah mencengkeram pergelangan tanganku, lalu menarikku dengan paksa seperti seorang tahanan menuju kamar mandi.

“Lukas, apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku!”

Aku ketakutan dan menjerit histeris.

Tangan Lukas sekarang terasa seperti tangan para pria di gang saat aku berusia enam belas tahun itu, rasanya benar-benar menyatu dalam ingatanku.

“Kalau kamu tidak mau menyerahkan anak itu, hari ini aku harus membuatmu sadar!”

Lukas menendang pintu kamar mandi sampai terbuka, lalu membanting tubuhku ke dalam bathtub yang dingin.

“Byur ….”

Shower dinyalakan, dan air dingin yang menusuk langsung menghantam kepalaku.

“Uhuk … tolong ….”

Aku terbatuk karena tersedak air sambil terus berjuang mencoba memanjat keluar dari bathtub.

Lukas menarik sabuk kulit yang melingkar di pingganggnya, lalu memutar kedua tanganku ke belakang dan mengikat tanganku pada pegangan logam bathtub dengan sabuknya itu.

Aku meronta dengan panik, seluruh tubuhku gemetar hebat terendam air dingin.

Lukas berbalik, lalu mengambil satu jerigen besar disinfektan dengan kadar alkohol yang tinggi dari bawah wastafel.

Dia membuka tutupnya, lalu langsung menyiramkan alkohol itu ke kepalaku.

“Bukankah kamu suka menyiksa orang dengan alkohol? Katakan! Di mana anak itu?”

Bau alkohol yang menyengat membuatku sulit bernapas, mataku juga terasa sangat perih sampai seperti terbakar.

Namun Lukas tidak peduli, dia mencelupkan kepalaku ke dalam air di bathtub yang sudah tercampur dengan disinfektan.

Aku tersedak dan hanya bisa mengeluarkan suara-suara yang tidak jelas, sementara perutku mengalami kejang hebat.

“Sakit .…”

Belum selesai aku berbicara, tiba-tiba perut bagian bawahku terasa sangat sakit seperti ditusuk pisau.

Kemudian, cairan hangat berwarna merah mengalir di sepanjang bagian dalam pahaku.

Rasa hangat itu bercampur dengan air dingin di dalam bathtub, menyebar dan menjadikan air di sana berwarna merah yang mencolok.

Aku menatap kosong ke persebaran darah di dalam air itu sampai lupa untuk meronta.

Pada saat yang sama, ponsel yang tadi Lukas lempar di atas wastafel tiba-tiba berdering.

Setelah melihat siapa yang menelepon, Lukas tertegun sejenak sebelum akhirnya menjawab panggilan telepon itu.

Dari telepon terdengar suara polisi dengan nada sedikit pasrah.

“Apa ini Tuan Lukas? Anak Anda tidak hilang.”

“Anak itu pergi sendirian ke lantai atas pusat perbelanjaan untuk bermain perosotan. Saat kami menemukannya, dia sedang makan es krim.”

“Ini adalah kelalaian orang tua yang tidak menjaga anak dengan baik, tapi Anda malah melaporkan ada penculikan dan percobaan pembunuhan. Ini jelas membuang-buang sumber daya kepolisian.”

Saat itu langsung hening, di dalam kamar mandi hanya tersisa suara air dari shower yang terus mengalir.

“Brak!”

Ponsel di tangan Lukas jatuh bersamaan dengan jerigen alkohol.

Lukas menoleh, raut wajahnya langsung berubah pucat pasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 10

    Aku menoleh ke sumber suara.Ternyata Lukas.Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, dia terlihat seperti sudah sangat tua.Sudut matanya dipenuhi kerutan yang dalam, rambutnya juga sudah banyak yang memutih.Tubuhnya bertumpu pada sebuah tongkat logam, sementara kaki kanannya tampak agak kaku.Dia berdiri sambil menatapku dengan sorot mata yang gelisah dan kepahitan yang tidak mampu ia sembunyi.“Sudah lama tidak bertemu.”Aku tidak menghindarinya, reaksiku hanya mengangguk dengan tenang.“Ya, sudah lama kita tidak bertemu.”Udara di antara kami terasa sedikit membeku.Jari-jari Lukas yang menggenggam tongkat memucat karena cengkeramannya yang terlalu kuat.“Aku ... aku dipindahkan ke sini untuk bekerja di bagian administrasi dan logistik.”Nada suara Lukas terdengar sedikit bergetar.“Kamu ... apa kabarmu baik-baik saja?”“Cukup baik.” Jawabku.Bibir Lukas bergerak-gerak, seolah masih ingin bertanya sesuatu.“Ibu!”Sebuah sosok kecil berlari keluar dari area bermain dan langsung memelu

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 9

    Ternyata itu adalah Wendy.Wanita itu mengenakan jaket tua yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan, kulit wajahnya pucat kekuningan, sama sekali tidak terlihat anggun dan mencolok seperti penampilannya setengah tahun yang lalu.Begitu melihatku, Wendy langsung berlutut di hadapanku meskipun sedang di tengah keramaian.Rekan-rekan kerjaku yang juga baru pulang kantor dan para pejalan kaki di sekitar langsung menghentikan langkah mereka dan menoleh dengan penasaran.“Kak Sasa! Aku mohon, tolong selamatkan aku!”Wendy menangis sambil berteriak, tangannya bergerak hendak meraih ujung celanaku, tapi aku langsung mundur selangkah untuk menghindarinya.“Kak Lukas sudah tidak peduli pada kami. Semua hartanya diberikan kepadamu! Penyakit gagal ginjal Bibi Mirah semakin parah, sekarang dia sedang dirawat di ICU dan membutuhkan biaya yang sangat besar setiap harinya!”Dia menangis tersedu-sedu sampai ingus dan air matanya bercampur, penampilannya tampak sang

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 8

    Lukas berhenti tiga langkah di depanku, tidak berani mendekat lagi.Aku menatapnya dengan ekspresi tenang.“Kamu sudah membaca surat cerai? Kalau tidak ada masalah, tolong tanda tangani. Kalau kamu punya tuntutan, kamu bisa membicarakannya dengan pengacaraku.”“Aku tidak akan tanda tangan!”Dia menatapku dengan menggebu.“Sasa, jangan tinggalkan aku. Aku akui, enam bulan terakhir ini aku melakukan banyak kesalahan. Tapi semua yang dikatakan Wendy padamu, aku benar-benar tidak pernah mengatakannya!”“Aku sudah cek rekaman CCTV. Di malam saat aku berhubungan intim dengannya, sebenarnya Wendy memberiku obat bius...”Dia menatapku sambil bicara dengan suara yang penuh permohonan.“Sasa, selama ini aku diperalat. Dari awal sampai akhir, di hatiku hanya ada kamu saja.”Angin bertiup, menerbangkan daun-daun kering di tanah.Aku mendengarkan semua pengakuannya dengan tenang, dan hanya merasa hal ini sedikit lucu.“Apa kamu sudah selesai bicara?”Lukas tertegun sejenak, lalu mengangguk dengan b

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 7

    Setelah pintu ruangan tertutup, Lukas kembali berjalan ke sisi ranjangku.“Sasa, maaf. Aku tidak tahu ibuku akan bisa berkata seperti itu. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan mereka mengganggumu lagi. Ayo kita mulai dari awal. Aku bakal nurut semua kata-katamu mulai sekarang, ya?”Nada bicara Lukas seperti memohon dengan putus asa.Aku menundukkan pandanganku dengan tenang, tidak lagi mengangkat kepala untuk melihat wajahnya.“Lukas, tolong tanda tangani surat cerai.”Dari belakang tubuhku, terdengar suara napas yang tertahan.“Aku tidak mau menandatanganinya.”Suaranya terdengar goyah.“Aku tidak menyetujui perceraian ini. Soal anak itu, memang aku yang salah. Seumur hidupku akan aku gunakan untuk menebus kesalahanku. Kondisimu sekarang juga sedang tidak bagus, kamu butuh seseorang untuk merawatmu.”“Aku tidak membutuhkanmu.”Aku meraba ponselku yang berada di bawah bantal, lalu menelepon perusahaan penyedia perawat untuk menyewa perawat yang bisa berjaga selama 24 jam.Selama ak

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 6

    Saat aku sedang bicara, pintu ruang pasien tiba-tiba terbuka.Ibu mertuaku masuk dengan tergopoh, dibantu oleh Wendy.“Lukas! Ibu dengar Sasa masuk rumah sakit, apa yang sebenarnya terjadi?”Wendy melihat sekilas ke arahku yang terbaring di ranjang, sorot matanya sempat terlintas seperti ada rasa senang di sana.Namun Wendy dengan cepat mengganti ekspresinya menjadi penuh kekhawatiran, matanya merah saat menatap Lukas.“Kak Lukas, apa Kak Sasa baik-baik saja? Haris sudah ditemukan, ini semua hanya salah paham.”“Kak Lukas jangan sampai marah pada Kak Sasa karena Haris. Kak Sasa juga pasti tidak sengaja.”Begitu mendengar suara Wendy, Lukas tiba-tiba beranjak.Dia menatap Wendy dengan tajam dan dingin.Ibu mertua masih terus ikut menimpali, “Iya, Lukas. Sasa memang agak keras kepala. Tapi karena dia tidak bisa punya anak, jadi wajar kalau dia cemburu sama Wendy. Kamu tegur dikit aja cukup.”Kedua tangan Lukas mengepal sangat erat hingga sendi-sendi jarinya mengeluarkan suara gemeretak.

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 5

    Melihat darah yang terus menyebar mewarnai air di dalam bathtub, dia baru tersdar dan seperti terbangun dari mimpi, lalu berkata, “Sasa … darah … kenapa ada darah?”Lukas berjalan terhuyung ke arah bathtub, seluruh tubuhnya gemetar tanpa bisa ia kendalikan.Dengan panik, Lukas berusaha melepaskan ikatan sabuk di pergelangan tanganku, tetapi gesper logam sabuk itu diikat terlalu erat sampai macet.Setelah beberapa kali percobaan, Lukas tetap tidak berhasil membuka ikatan itu, suaranya pun bergetar karena panik.Aku melihat kepanikan Lukas yang tidak terkendali, sementara rasa sakit luar biasa di bagian perut bawahku menyeruak ke seluruh tubuh.“Pergi .…”Dengan lemah aku mengucapkan sepatah kata itu, bahkan bernapas saja terasa sangat menyakitkan.Kesadaranku mulai hilang, aku hanya bisa merasakan akhirnya dia berhasil melepaskan ikatan itu.Lukas mengangkatku keluar dari rendaman air dingin itu, lalu memelukku dengan erat.Tangannya menyentuh darah hangat yang masih mengalir di antara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status