공유

Bab 2

작가: Monal
Keesokan paginya, saat Lukas masih lelap, aku sudah membawa termos dan pergi keluar rumah.

Meski pernikahan ini sudah penuh retakan dan hampir hancur, aku tetap menjalani rutinitasku untuk pergi ke rumah sakit di pusat kota.

Ibu mertuaku mengalami gagal ginjal yang cukup parah dan sudah satu setengah tahun dirawat di rumah sakit. Dia sepenuhnya bergantung padaku untuk merawatnya.

Anggaplah ini sebagai bakti terakhirku, sekaligus penutupan untuk hubungan yang terjalin selama 12 tahun ini.

Saat membuka pintu kamar pasien, aku mendapati ibu mertuaku sedang memegang tangan keluarga pasien lain sambil memujiku.

“Aku sangat bergantung pada menantuku, Sasa. Dia jauh lebih berbakti daripada anakku sendiri.”

Melihat kedatanganku, dia tersenyum lebar dan menyuruhku cepat duduk untuk beristirahat.

Aku menuangkan sup ikan yang aku buat semalaman lalu aku sodorkan kepadanya.

“Ibu, makanlah selagi hangat. Lukas demam semalam, aku masih harus pulang untuk merawatnya.”

Saat ibu mertuaku sedang makan sup, ponsel yang sedang memutar video di meja kecil itu tiba-tiba berdering.

Itu dering ponsel untuk notifikasi panggilan video, di layar muncul nama ‘Wendy’.

Tangan ibu mertuaku sedang memegang mangkok sup, jadi dia tidak bisa memegang ponselnya. Ia pun menunjuk dengan dagunya.

“Sasa, tolong bantu ibu mengangkat telepon. Sepertinya itu sepupunya Lukas.”

Aku tidak berpikir banyak dan langsung menerima panggilan telepon itu.

Saat melihat wajah muda yang begitu aku kenal itu, ekspresi wajahku langsung menegang.

Ternyata si penelepon itu adalah wanita yang enam bulan lalu melakukan hubungan hina dengan Lukas saat mabuk, Wendy Bray.

Dari layar ponsel, dia terlihat sedang menggendong seorang anak laki-laki yang berusia sekitar tiga tahun.

Anak itu dengan manis memandang ke arah kamera dan berseru, “Nenek! Lihatlah mobil-mobilan yang dibelikan ayah untukku!”

Wendy kemudian memasang ekspresi manja dan penuh keluhan ke arah layar.

“Bu, Kak Lukas tadi malam minum sangat banyak di sini sampai dia demam, jadi aku menyuruhnya tidur lebih lama.”

“Wanita gila itu tidak mengamuk karena Kak Lukas pulang terlambat, kan?”

Suasana di kamar pasien itu langsung menjadi sunyi mencekam.

Ibu mertuaku terkejut sampai tangannya gemetar dan menumpahkan sup yang ia makan ke selimut.

“Sa … Sasa! Dengarkan penjelasan ibu!”

Tanpa memedulikan tangannya yang terbakar karena sup, dia cepat-cepat menerjang untuk merebut ponselnya di tanganku.

Aku mundur selangkah, menatap lekat layar ponsel yang menampilkan seorang anak yang wajahnya sangat mirip dengan Lukas. Aku hanya bisa merasakan tubuhku yang dingin dan bergetar.

“Sepupu? Apa dia yang kamu sebut sepupunya Lukas?”

Setelah tepergok secara langsung, ibu mertua akhirnya menghela napas dan mengakhiri sandiwaranya.

Dia menarik tanganku, nada bicaranya serius, wajahnya penuh rasa iba dan tak berdaya.

“Sasa, jangan salahkan Lukas karena melakukan semua ini di belakangmu. Selama empat tahun ini, Wendy telah mengalah dan tidak pernah menuntut status resmi.”

Empat tahun?

Kepalaku seketika berdengung, seluruh organ dalamku terasa seperti diacak, sakit sampai sulit bernapas.

Ternyata keberadaan wanita ini sama sekali bukan kesalahan karena mabuk setengah tahun lalu?

Punggung tanganku ditepuk pelan oleh ibu mertuaku, lalu dia berbisik menenangkan.

“Kamu tumbuh besar di depan mataku, ibu menyayangimu. Tapi kamu juga harus mengerti posisi Lukas.”

“Karena kamu punya trauma itu, minggu-minggu kamu tidak membiarkannya menyentuhmu sekali pun. Dia adalah pria dewasa normal yang penuh gairah.”

“Hanya karena traumamu itu, kamu tidak mungkin membuatnya menjadi biarawan seumur hidup, kan?”

“Wendy juga sudah bilang, nanti anak itu tetap akan memanggilmu Bibi. Kamu tetap menantu resmi Keluarga Mahatir.”

“Tidak akan ada yang berubah, Wendy tidak akan mengusik kalian sedikit pun. Bukankah itu bagus?”

Seketika kedua kakiku kehilangan kekuatannya, aku jatuh terduduk pada kursi di belakangku.

Aku sudah tidak sanggup mencerna perkataan ibu mertuaku setelahnya, seperti sudah tidak terdengar.

Dalam benakku, kenangan dan kenyataan saling mencabik, seolah-olah merobekku menjadi dua bagian.

Empat tahun.

Setiap kali Lukas ada misi penyelamatan di luar kota, dia selalu meneleponku sepanjang malam.

Dia tahu kalau aku sedang merasa tidak aman karena aku takut gelap, hanya dengan mendengar suara napasnya aku bisa tertidur pulas.

Pernah suatu kali, saat dia dalam bahaya di area kejadian bencana, bahkan saat nyawanya dipertaruhkan untuk mencari baterai cadangan, dia tetap tersambung dalam telepon denganku sepanjang malam.

Aku sama sekali tidak menyangka, perhatiannya yang menggebu-gebu, yang kupikir bentuk dari cintanya, ternyata hanyalah sebuah kebohongan.

Semua panggilan telepon yang dia lakukan sepanjang malam denganku untuk menenangkanku itu, apakah di saat yang sama selalu ada Wendy di sisinya?

Atau bahkan, apakah anak itu juga sedang tertidur dengan tenang di sampingnya?

Dia menenangkanku lewat telepon sambil berbaring bersama wanita lain dan anaknya. Sedangkan aku tidak tahu apa-apa seperti orang bodoh.

Perasaan absurd yang luar biasa menenggelamkanku.

Aku beranjak, tidak lagi memedulikan ibu mertuaku, lalu terhuyung-huyung keluar dari ruang rawat.

Dalam kebahagiaan yang didambakan semua orang ini tidak ada tempat untuk namaku, maka status istri ini akan aku serahkan kepada orang lain.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 10

    Aku menoleh ke sumber suara.Ternyata Lukas.Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, dia terlihat seperti sudah sangat tua.Sudut matanya dipenuhi kerutan yang dalam, rambutnya juga sudah banyak yang memutih.Tubuhnya bertumpu pada sebuah tongkat logam, sementara kaki kanannya tampak agak kaku.Dia berdiri sambil menatapku dengan sorot mata yang gelisah dan kepahitan yang tidak mampu ia sembunyi.“Sudah lama tidak bertemu.”Aku tidak menghindarinya, reaksiku hanya mengangguk dengan tenang.“Ya, sudah lama kita tidak bertemu.”Udara di antara kami terasa sedikit membeku.Jari-jari Lukas yang menggenggam tongkat memucat karena cengkeramannya yang terlalu kuat.“Aku ... aku dipindahkan ke sini untuk bekerja di bagian administrasi dan logistik.”Nada suara Lukas terdengar sedikit bergetar.“Kamu ... apa kabarmu baik-baik saja?”“Cukup baik.” Jawabku.Bibir Lukas bergerak-gerak, seolah masih ingin bertanya sesuatu.“Ibu!”Sebuah sosok kecil berlari keluar dari area bermain dan langsung memelu

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 9

    Ternyata itu adalah Wendy.Wanita itu mengenakan jaket tua yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Rambutnya berantakan, kulit wajahnya pucat kekuningan, sama sekali tidak terlihat anggun dan mencolok seperti penampilannya setengah tahun yang lalu.Begitu melihatku, Wendy langsung berlutut di hadapanku meskipun sedang di tengah keramaian.Rekan-rekan kerjaku yang juga baru pulang kantor dan para pejalan kaki di sekitar langsung menghentikan langkah mereka dan menoleh dengan penasaran.“Kak Sasa! Aku mohon, tolong selamatkan aku!”Wendy menangis sambil berteriak, tangannya bergerak hendak meraih ujung celanaku, tapi aku langsung mundur selangkah untuk menghindarinya.“Kak Lukas sudah tidak peduli pada kami. Semua hartanya diberikan kepadamu! Penyakit gagal ginjal Bibi Mirah semakin parah, sekarang dia sedang dirawat di ICU dan membutuhkan biaya yang sangat besar setiap harinya!”Dia menangis tersedu-sedu sampai ingus dan air matanya bercampur, penampilannya tampak sang

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 8

    Lukas berhenti tiga langkah di depanku, tidak berani mendekat lagi.Aku menatapnya dengan ekspresi tenang.“Kamu sudah membaca surat cerai? Kalau tidak ada masalah, tolong tanda tangani. Kalau kamu punya tuntutan, kamu bisa membicarakannya dengan pengacaraku.”“Aku tidak akan tanda tangan!”Dia menatapku dengan menggebu.“Sasa, jangan tinggalkan aku. Aku akui, enam bulan terakhir ini aku melakukan banyak kesalahan. Tapi semua yang dikatakan Wendy padamu, aku benar-benar tidak pernah mengatakannya!”“Aku sudah cek rekaman CCTV. Di malam saat aku berhubungan intim dengannya, sebenarnya Wendy memberiku obat bius...”Dia menatapku sambil bicara dengan suara yang penuh permohonan.“Sasa, selama ini aku diperalat. Dari awal sampai akhir, di hatiku hanya ada kamu saja.”Angin bertiup, menerbangkan daun-daun kering di tanah.Aku mendengarkan semua pengakuannya dengan tenang, dan hanya merasa hal ini sedikit lucu.“Apa kamu sudah selesai bicara?”Lukas tertegun sejenak, lalu mengangguk dengan b

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 7

    Setelah pintu ruangan tertutup, Lukas kembali berjalan ke sisi ranjangku.“Sasa, maaf. Aku tidak tahu ibuku akan bisa berkata seperti itu. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan mereka mengganggumu lagi. Ayo kita mulai dari awal. Aku bakal nurut semua kata-katamu mulai sekarang, ya?”Nada bicara Lukas seperti memohon dengan putus asa.Aku menundukkan pandanganku dengan tenang, tidak lagi mengangkat kepala untuk melihat wajahnya.“Lukas, tolong tanda tangani surat cerai.”Dari belakang tubuhku, terdengar suara napas yang tertahan.“Aku tidak mau menandatanganinya.”Suaranya terdengar goyah.“Aku tidak menyetujui perceraian ini. Soal anak itu, memang aku yang salah. Seumur hidupku akan aku gunakan untuk menebus kesalahanku. Kondisimu sekarang juga sedang tidak bagus, kamu butuh seseorang untuk merawatmu.”“Aku tidak membutuhkanmu.”Aku meraba ponselku yang berada di bawah bantal, lalu menelepon perusahaan penyedia perawat untuk menyewa perawat yang bisa berjaga selama 24 jam.Selama ak

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 6

    Saat aku sedang bicara, pintu ruang pasien tiba-tiba terbuka.Ibu mertuaku masuk dengan tergopoh, dibantu oleh Wendy.“Lukas! Ibu dengar Sasa masuk rumah sakit, apa yang sebenarnya terjadi?”Wendy melihat sekilas ke arahku yang terbaring di ranjang, sorot matanya sempat terlintas seperti ada rasa senang di sana.Namun Wendy dengan cepat mengganti ekspresinya menjadi penuh kekhawatiran, matanya merah saat menatap Lukas.“Kak Lukas, apa Kak Sasa baik-baik saja? Haris sudah ditemukan, ini semua hanya salah paham.”“Kak Lukas jangan sampai marah pada Kak Sasa karena Haris. Kak Sasa juga pasti tidak sengaja.”Begitu mendengar suara Wendy, Lukas tiba-tiba beranjak.Dia menatap Wendy dengan tajam dan dingin.Ibu mertua masih terus ikut menimpali, “Iya, Lukas. Sasa memang agak keras kepala. Tapi karena dia tidak bisa punya anak, jadi wajar kalau dia cemburu sama Wendy. Kamu tegur dikit aja cukup.”Kedua tangan Lukas mengepal sangat erat hingga sendi-sendi jarinya mengeluarkan suara gemeretak.

  • Angin membawa kenangan cinta 12 tahun   Bab 5

    Melihat darah yang terus menyebar mewarnai air di dalam bathtub, dia baru tersdar dan seperti terbangun dari mimpi, lalu berkata, “Sasa … darah … kenapa ada darah?”Lukas berjalan terhuyung ke arah bathtub, seluruh tubuhnya gemetar tanpa bisa ia kendalikan.Dengan panik, Lukas berusaha melepaskan ikatan sabuk di pergelangan tanganku, tetapi gesper logam sabuk itu diikat terlalu erat sampai macet.Setelah beberapa kali percobaan, Lukas tetap tidak berhasil membuka ikatan itu, suaranya pun bergetar karena panik.Aku melihat kepanikan Lukas yang tidak terkendali, sementara rasa sakit luar biasa di bagian perut bawahku menyeruak ke seluruh tubuh.“Pergi .…”Dengan lemah aku mengucapkan sepatah kata itu, bahkan bernapas saja terasa sangat menyakitkan.Kesadaranku mulai hilang, aku hanya bisa merasakan akhirnya dia berhasil melepaskan ikatan itu.Lukas mengangkatku keluar dari rendaman air dingin itu, lalu memelukku dengan erat.Tangannya menyentuh darah hangat yang masih mengalir di antara

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status