LOGINBayang-Bayang yang Menyusup ke SwissBan mobil Mateo berdecit nyaring saat ia membelokkan kendaraannya dengan tajam, memanfaatkan kelokan tajam di ujung jalan pelabuhan untuk memecah formasi mobil yang membuntutinya. Dengan mematikan lampu utama dan menghafal setiap sudut tikungan di bawah kegelapan malam, ia berhasil mengecoh para penguntit itu. Mateo terus menekan pedal gas, menerobos masuk ke dalam terowongan panjang yang sepi, meninggalkan bayangan mobil hitam penumpangnya jauh di belakang.Begitu keluar dari terowongan, ia menepi di bahu jalan yang sunyi. Mateo mematikan mesin, menyandarkan kepalanya pada kemudi, dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang memburu.Pesan Bibi Park terngiang kembali di benaknya: Mereka yang bermain di belakang layar akan terus berusaha menutupi permainan ini.Mateo tahu waktu yang dimilikinya semakin tipis. Ia tidak boleh terus-menerus bermain kucing-kucingan tanpa pegangan yang kuat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia me
Bayangan di Pelabuhan IncheonSuasana Pelabuhan Incheon terasa begitu sunyi, jauh berbeda dengan kesibukannya di siang hari. Yang terdengar hanyalah suara deburan ombak besar yang menghantam keras bibir dermaga, memecah keheningan malam yang pekat. Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan dingin yang menusuk tulang.Mateo mematikan mesin mobilnya. Ia keluar dari kendaraan, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara api kecil menyala di dalam kegelapan, menerangi sebagian wajahnya yang tampak lelah namun penuh tekad. Ia bersandar di kap depan mobilnya, matanya tajam menyapu sekeliling, memperhatikan setiap sudut bayangan yang tercipta di antara tumpukan kontainer raksasa."Keluarlah, aku tidak suka main kucing-kucingan!" teriak Mateo tegas, suaranya memantul di dinding-dinding gudang tua yang kosong.Beberapa detik berlalu dalam sunyi, hingga akhirnya suara langkah kaki terdengar menyeret di atas kerikil basah. Dari arah sebuah gudang solar yang terbengkalai, sesosok pria mu
Di Antara Kabut Rahasia dan Mual yang MenyiksaPegunungan Alpen Swiss yang biasanya tenang kini terasa menjadi saksi bisu bagi perubahan besar dalam hidup Annora. Memasuki trimester pertama kehamilan, Annora diserang oleh morning sickness yang cukup parah. Setiap pagi, ia merasa dunia berputar dan perutnya terus bergejolak, membuat aroma masakan atau sekadar bau kopi di pagi hari menjadi musuh terbesarnya.Di kamar utama yang luas, Annora meringkuk di atas tempat tidur dengan wajah pucat. Jae Won, yang biasanya tangkas mengurus strategi bisnis bernilai jutaan dolar, kini tampak kewalahan namun sangat antusias dengan perannya yang baru. Ia mondar-mandir membawa baskom air hangat, handuk bersih, dan segelas jahe hangat yang ia racik sendiri setelah menghabiskan waktu berjam-jam membaca artikel di internet tentang cara mendampingi ibu hamil."Coba minum ini pelan-pelan," bisik Jae Won lembut, membantu Annora duduk dengan menyandarkan beberapa bantal di punggungnya.Annora menyesap ai
Langkah Mateo terasa berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak di Seoul ini menyimpan beban dari masa lalu yang belum terselesaikan. Kantor pusat administrasi rumah sakit tempat otopsi jenazah korban kebakaran hotel dilakukan lima belas tahun lalu tampak angkuh dan dingin. Gedung itu sudah direnovasi berkali-kali, namun bagi Mateo, tembok-temboknya masih menyisakan bau anyir darah dan keputusasaan.Ia telah menghabiskan dua hari terakhir dengan berpura-pura menjadi mahasiswa hukum yang sedang meneliti kasus kebakaran bersejarah, sebuah alibi yang ia gunakan untuk mendekati staf kearsipan. Namun, keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya.Di lorong arsip yang pengap, ia bertemu dengan seorang perawat muda bernama Hana. Saat Mateo menyebutkan nama "Lee Soman", mata Hana sedikit menyipit."Kenapa kau mencari berkas Lee Soman?" tanya Hana, suaranya sarat dengan kecurigaan. "Kasus itu sudah ditutup lima belas tahun lalu. Tidak ada lagi yang berani mengungkitnya. Apalagi b
Matahari sudah meninggi di ufuk Swiss, menyinari kamar utama vila Jae Won dengan cahaya keemasan yang hangat, namun Annora masih meringkuk di bawah selimut tebal. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah ada palu yang memukul-mukul bagian dalam tempurung kepalanya. Tubuhnya terasa begitu berat, seakan setiap inci ototnya telah kehilangan tenaga.Pintu kamar terbuka perlahan. Jae Won melangkah masuk dengan langkah ringan, membawa senampan kayu berisi roti panggang, buah-buahan segar, dan segelas susu hangat. Saat melihat Annora yang masih belum bergerak, raut wajahnya yang tadinya tenang berubah menjadi cemas."Sayang?" Jae Won meletakkan nampan itu di meja nakas dan duduk di tepi ranjang. Ia menyentuh dahi Annora dengan punggung tangannya. "Ya Tuhan, kau demam. Wajahmu pucat sekali."Annora membuka matanya perlahan, menatap Jae Won dengan pandangan sayu. "Aku tidak tahu... tiba-tiba saja aku merasa sangat lemas. Kepalaku terasa ringan sekali, Jae Won.""Kita ke dokter," putus Jae
Waktu terasa berjalan lebih lambat bagi mereka yang menyimpan rahasia, namun berlari kencang bagi mereka yang sedang mengejar kebenaran. Satu bulan telah berlalu sejak kepergian Jae Won dan Annora ke Swiss, meninggalkan kekosongan yang memicu keruntuhan di Seoul.Keluarga Choi, yang memegang otoritas kunci atas pembangunan pulau, akhirnya mengambil langkah tegas. Tanpa peringatan, mereka memutuskan kontrak kerja sama dan secara resmi menolak memberikan pengesahan tanah. Bagi Mark Young, ini adalah bencana. Proyek ambisius yang ia bangun di atas fondasi kebohongan itu kini retak di hadapannya sendiri.Di dalam ruang kerja pribadinya yang mewah, Mark Young tampak seperti singa yang terluka. Ia menyapu bersih deretan piala dan guci keramik mahal dari atas meja mahogani dengan satu sentakan tangan. Suara pecahan kaca memecah kesunyian malam yang mencekam. Napasnya memburu, matanya memerah menahan amarah yang meledak-ledak."Jae Won!" teriaknya pada dinding kosong. "Kau pikir dengan be
Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun
Langkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor
Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang
Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;







