Share

Bab 3

Penulis: Aline
Setelah lukanya selesai diperban, Denise berniat pergi. Namun, di depan ruang operasi dia justru bertemu dengan Hernan.

Seorang perawat berlari keluar dengan tergesa-gesa. "Pak, pasien mengalami pendarahan hebat. Golongan darahnya RH negatif, termasuk golongan darah langka. Apa ada anggota keluarga yang bisa mendonorkan darah?"

Wajah Hernan langsung memucat. Saat matanya menyapu sekeliling, dia melihat Denise. Seketika, matanya berbinar. Dia berjalan cepat menghampiri dan langsung menggenggam pergelangan tangan Denise.

"Denise, aku ingat golongan darahmu juga RH negatif, 'kan? Keiko terluka karena menolongku. Tolong selamatkan dia."

Seluruh tubuh Denise terasa dingin. Hernan jelas tahu bahwa dia mengidap anemia. Tahun lalu, saat dia pingsan karena anemia, pria itu sampai panik setengah mati.

Sekarang, Hernan justru memintanya menolong wanita lain ....

"Cuma sedikit." Nada bicara Hernan terdengar mendesak sementara genggamannya makin kuat. "Dia nggak punya banyak waktu lagi!"

Tanpa menunggu jawaban, pria itu sudah memaksanya masuk ke ruang donor darah. Denise hanya bisa memejamkan mata saat jarum menembus pembuluh darahnya.

Enam ratus cc darah diambil dengan cepat. Wajahnya makin lama makin pucat.

Hernan berdiri di sampingnya, menatap ke arah ruang operasi dengan cemas. Pria itu bahkan tidak melirik Denise sekali pun.

Setelah donor darah selesai, kedua kaki Denise terasa lemas hingga dia hampir terjatuh. Barulah Hernan tersadar dan segera menopangnya.

"Maaf, Denise .... Aku tahu kamu khawatir sama anak kita. Tenang saja, perawat pasti tahu batas aman saat mengambil darah. Kalau kamu masih khawatir, aku akan minta dokter periksa kamu sekarang juga."

Tanpa memberinya kesempatan menolak, Hernan langsung membawanya ke ruang pemeriksaan.

Tak lama kemudian, dokter keluar sambil membawa hasil pemeriksaan. Hernan pun segera menghampiri. "Gimana keadaan anaknya?"

Dokter tampak terkejut. "Anak? Nggak ada anak ...."

"Pak Hernan!" Tiba-tiba, seorang perawat berlari masuk. "Pasien terus memanggil nama Anda selama operasi. Bisa Anda masuk dan temani pasien? Itu mungkin akan memperkuat keinginannya untuk bertahan hidup."

Tanpa ragu sedikit pun, Hernan langsung berbalik dan berjalan cepat menuju ruang operasi.

Dokter pun memandang Denise dengan ragu-ragu. "Bu Denise, Pak Hernan nggak tahu kamu sudah menggugurkan kandungan?"

Denise hanya tersenyum dan menggeleng. "Nggak tahu. Ke depannya, dia juga nggak perlu tahu."

Saat keluar dari rumah sakit, matahari senja baru saja mulai tenggelam. Dengan wajah pucat, Denise menatap langit yang dipenuhi semburat jingga.

Tiba-tiba, dia teringat bahwa saat kuliah dahulu, Hernan pernah berkata akan mengajaknya melihat matahari terbenam paling indah di dunia. Kini, matahari terbenam itu masih ada, tetapi mereka sudah tidak mungkin kembali seperti dahulu lagi.

Denise beristirahat di rumah selama seminggu. Setelah donor darah itu, kondisi tubuhnya langsung drop. Dia sering merasa pusing dan berkunang-kunang, bahkan turun dari tempat tidur pun terasa sulit.

Para pelayan begitu cemas hingga ingin menelepon Hernan. Namun, dia menghentikan mereka.

"Nggak perlu." Dia bersandar dengan lemah di kepala tempat tidur. "Dia lagi sibuk."

Denise tahu pria itu sedang sibuk apa .... Sibuk merawat Keiko.

Di media sosial, setiap hari Keiko mengunggah bagaimana baiknya Hernan kepadanya. Pria itu menyuapinya sup, menemaninya menjalani pemeriksaan kehamilan, bahkan menyetir tengah malam demi membelikan plum asam yang ingin dimakannya.

Hernan begitu baik sampai lupa siapa sebenarnya istrinya.

Hingga akhirnya suatu hari, Hernan pulang.

"Ada temanku yang adain pesta satu bulan kelahiran anaknya," katanya sambil memilih dasi di ruang ganti. "Denise, ikut aku ya."

Denise tidak berkata apa-apa. Dia berganti pakaian dalam diam, lalu keluar bersama Hernan.

Namun, ketika membuka pintu kursi penumpang depan, dia melihat Keiko sudah duduk di sana.

"Kak Denise." Keiko tersenyum canggung. "Aku bosan di rumah sakit terus, jadi aku minta Kak Hernan ajak aku. Karena aku gampang mabuk di jalan, aku duduk di depan ya. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

Jari-jari Denise membeku di udara. Beberapa saat kemudian, dia menarik tangannya kembali. "Nggak kok."

Dia pun duduk dengan tenang di kursi belakang sambil memandangi dua sosok di depan yang terlihat begitu akrab.

Hernan menurunkan suhu AC dengan penuh perhatian untuk Keiko, lalu memberinya sebuah bantal sandaran.

Perhatian yang dahulu hanya miliknya, kini diberikan kepada orang lain.

Di pesta itu, Hernan terus-menerus menjaga Keiko, sama sekali tidak menyadari tatapan orang-orang terhadap Denise. Bisik-bisik terus masuk ke telinganya.

"Kasihan sekali Pak Hernan. Dia begitu mencintai istrinya, tapi istrinya malah mengandung anak para penculik ...."

"Katanya, dia diperkosa ya."

"Diperkosa apanya? Keiko juga ikut diculik, 'kan? Kenapa dia nggak diperkosa? Jelas-jelas Denise sendiri yang doyan."

"Aku sudah curiga dia bukan wanita baik-baik. Demi menyelamatkan diri, dia pasti merayu para penculik. Gara-gara itu Pak Hernan sangat menderita. Setelah mabuk, dia menghabiskan malam bersama Keiko hingga membuatnya hamil ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 23

    Setelah terdengar sedikit suara berisik dari rekaman, suara Declan yang hati-hati terdengar."Jadi kamu benar-benar sudah melupakannya?"Begitu kalimat itu terdengar, tubuh Hernan yang berada di atas ranjang rumah sakit langsung menegang. Dia bahkan menahan napas, takut melewatkan satu kata saja.Tak lama kemudian, suara Denise yang tegas dan mantap masuk ke telinganya. "Ya."Satu kata itu bagaikan petir yang menyambar dari langit. Darah di seluruh tubuh Hernan seolah membeku seketika.Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram seprai erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya seperti dipaku di atas ranjang, tak mampu bergerak sedikit pun.Pikirannya kosong. Semua kesadarannya seakan tersedot habis dalam sekejap, seolah seluruh dunianya runtuh tepat pada saat itu.Bunyi denging yang makin nyaring di telinga membuatnya hampir tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Denise setelah itu.Namun, dia sebenarnya tidak perlu mendengar lebih jauh. Satu kata itu saja sudah memberinya jawaban.

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 22

    Hingga pameran lukisan berakhir, Hernan tetap tidak berhasil mengucapkan sepatah kata pun kepada Denise.Saat dia hendak mengejar Denise keluar, ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat tulisan "Ayah" di layar, Hernan akhirnya memilih mengangkat telepon itu.Tak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Mereka hanya diam mendengarkan napas satu sama lain.Akhirnya, ayah Hernan yang lebih dahulu memecah kesunyian. "Waktumu hampir habis. Kamu masih nggak mau pulang?"Hubungan Hernan dan ayahnya sebenarnya biasa saja. Ditambah lagi, sejak kecil ayahnya jarang menemaninya, sehingga mereka hampir tidak memiliki topik pembicaraan bersama.Ayah Hernan juga sosok yang keras dan tidak suka berinisiatif berkomunikasi dengan anaknya. Jurang di antara ayah dan anak itu pun makin lama makin lebar.Karena itu, mendengar ayahnya tiba-tiba bertanya seperti ini membuat Hernan sedikit tidak terbiasa.Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Aku akan pulang. Tapi aku ingin menemukan jawaba

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 21

    Menjelang malam, kembang api mulai bermekaran di seluruh penjuru kota. Cahaya berwarna-warni menerangi separuh langit.Di balkon vila keluarga Denise, dia menjadi pusat perhatian para tamu yang mengelilinginya.Dari dalam mobil yang terparkir jauh di sana, Hernan hanya bisa samar-samar melihat senyuman di wajah Denise. Senyum itu masih sama seperti dahulu. Masih memiliki pesona yang mampu menular kepada orang lain.Dia pun diam-diam ikut tersenyum."Selamat ulang tahun."'Denise-ku ....'Ketika kembang api terakhir menghilang di langit malam, para tamu mulai berpamitan dan pulang.Mobil-mobil mewah satu demi satu melaju meninggalkan vila. Rumah yang semula ramai kembali menjadi lengang. Hanya tersisa beberapa pelayan yang masih membersihkan aula.Namun, mobil Hernan tetap tidak bergerak. Baru setelah lampu terakhir di vila itu dipadamkan, Hernan menyuruh asistennya menyalakan mesin mobil.Namun, tepat saat itu seseorang mengetuk pelan jendela di sampingnya. Orang yang datang adalah kep

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 20

    Kalau Denise bilang dia tidak kecewa saat mengetahui hal itu, tentu itu bohong. Namun, dia tetap memaksakan senyuman dan berkata kepadanya tidak apa-apa.Karena merasa bersalah, Hernan segera memeluknya dan membujuknya dengan lembut. Dia mengatakan bahwa pada ulang tahunnya yang berikutnya, dia akan membuatkan kalung yang lebih indah untuknya.Kemudian, dia benar-benar membuatnya. Kalung bernama Cinta Sejati itu akhirnya selesai dibuat. Sayangnya, pemilik yang seharusnya mengenakannya sudah tidak berada di sisinya lagi.Hernan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangan dan mengetuk jendela mobil.Tak lama kemudian, jendela perlahan turun dan seorang pria berwajah asing segera menjulurkan kepala dengan sikap penuh hormat. "Pak Hernan."Hernan menyerahkan hadiah di tangannya kepada pria itu sambil tersenyum. "Maaf merepotkanmu."Hari ini Keluarga Andora mengundang banyak tamu. Kebetulan di antara mereka ada seseorang yang masih dikenalnya dan belum memutus hubungan dengannya. Kare

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 19

    Sambil menelepon, ibu Denise berjalan makin jauh.Di dalam kamar, Denise menutup mulutnya erat-erat agar isaknya tidak terdengar. Dia tahu kedua orang tuanya sangat mencintainya.Meskipun saat itu mereka tidak mengatakan apa pun di toko, dia tahu mereka pasti akan membelanya dan membalaskan semua ketidakadilan yang pernah dialaminya.Setelah itu, semua orang secara diam-diam sepakat untuk tidak lagi membicarakan masalah itu.Baru setelah puas berlibur di Kota Sudan bersama kedua orang tuanya, Denise kembali naik pesawat menuju Kota Hadil.Pada hari kedua setelah kepulangannya, tibalah ulang tahunnya yang ke-26. Sebagai putri Keluarga Andora yang sejak kecil selalu dimanjakan dan disayangi, setiap kali ulang tahunnya tiba, seluruh kota akan menyalakan kembang api untuk merayakannya.Kali ini, Keluarga Andora mengadakan pesta ulang tahun yang jauh lebih meriah dari biasanya.Pada hari pesta, tokoh-tokoh ternama dari berbagai kalangan datang untuk memberikan ucapan selamat. Mobil-mobil me

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 18

    Mungkin karena menyadari suasana hati Denise sedang kurang baik, Declan langsung mengambil keputusan dan mengirim Denise serta kedua orang tuanya ke kampung halaman ibu mereka untuk berlibur dan menenangkan diri.Awalnya dia juga ingin meminta istrinya untuk menemani mereka. Namun, istrinya mendadak kurang sehat sehingga terpaksa beristirahat di rumah.Declan sendiri tentu tidak bisa ikut karena harus merawat istrinya. Meski begitu, dia tetap berusaha menghalangi Hernan yang terus mencari Denise.Karena informasi dari asistennya terlambat, Hernan kembali pergi ke berbagai tempat yang sebelumnya biasa didatangi Denise.Pertama, dia menunggu semalaman di alun-alun sambil diterpa angin dingin. Alih-alih bertemu Denise yang katanya akan datang menonton kembang api, dia justru kehujanan hingga seluruh tubuhnya basah kuyup.Seperti yang diduga, Hernan jatuh sakit. Namun, kali ini tidak ada lagi wanita yang dengan sabar menjaga dan mengelap tubuhnya sepanjang malam.Kedua kalinya, dia pergi k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status