Home / Thriller / Antara Cinta dan Misi Sang Assassin / Part 2 : Sensasi Menggelitik

Share

Part 2 : Sensasi Menggelitik

Author: ETI KUSMAWATI
last update publish date: 2023-12-05 00:00:06

"Kau akan segera mati, jadi tidak ada gunanya bertanya" tutur pria yang ada dibelakangnya.

"Dasar pengecut, jadi kau tidak bergerak sendiri." cecar Sam, dia sadar nyawanya terancam dan mengarahkan pandangannya ke arah Zora.

Sesaat sebelum benda tajam itu menembus kulitnya lebih dalam, tiba-tiba orang yang memegang senjata itu terhenti karena melihat Zora memberikan isyarat untuk berhenti.

Melihat kesempatan itu Sam dengan cepat memberontak, ia memegang tangan dari orang yang mengancamnya lalu merebut senjata yang ia pegang. Setelah ia berhasil merebut senjatanya ia menyundulkan kepalanya kebelakang.

"Aarrggghhh" teriaknya, sesaat kemudian hidung pria itu bercucuran darah. Benturan yang dia dapatkan dari sundulan kepala Sam cukup parah.

Zora yang melihat itu hanya diam tanpa mengambil tindakan apapun, Zora berpikir bahwa sekalipun agen informasi berada ditingkat rendah mereka tetap memiliki kemampuan untuk melindungi nyawa mereka.

Walaupun sebenarnya Sam bukanlah agen tingkat rendah seperti yang Zora pikirkan, dia mampu menempatkan dirinya menjadi ketua cabang informasi di bagian barat, itu artinya agen informasi tersebut memiliki keterampilan yang tidak bisa diremehkan.

Tetapi semua itu hanya omong kosong bagi Zora, selain orang yang setara atau setingkat di atasnya dimata Zora orang seperti Sam tetaplah agen tingkat rendah.

"Hehe, aku sudah tau kau membawa seekor tikus." ledek Sam.

Sam merasa sudah berhasil selamat karena dia sudah merebut senjata mereka, kini ia sudah bisa bertahan dan melindungi dirinya.

"Aku tanya sekali lagi, dimana kamu menyebunyikan informasinya?" lagi-lagi suara datar tanpa emosi keluar dari mulut Zora.

“A-aku tidak tau. DASAR ANJING!” seperti orang yang sudah kehilangan akal Sam menyerang dan berlari kearah zora dengan memegang posisi gagang pisau terbalik dan mata pisau diarahkan kesamping.

Tanpa bergerak sedikitpun, Zora berniat menerima serangan itu tanpa menghindar. Dengan cepat Sam mendekat lalu mengarahkan mata pisau dan akan menusuk Zora, arah pisau tepat berada diposisi dada.

Ketika Zora berniat menahan pisau dengan kedua tangannya, Sam memperlambat gerakannya dan melepaskan pisau dari tangan kanan lalu mengoper ketangan kiri, merubah arah tusukannya dari dada ke bagian keperut.

Dengan gerakan tipu daya yang berubah arah dia bisa menipu pertahanan dari Zora, tapi sayang Zora sudah cukup berpengalaman menghadapi serangan tipu daya semacam itu. Dengan cepat Zora menahan dengan cara mengapit pisau yang hampir menggapainya lalu memutar ke arah yang berlawanan.

Sam tidak memiliki waktu yang cukup untuk menghindari arah pisau yang tiba-tiba beruba, dan kini mengarah padanya, seakan dia akan menusuk dirinya sendiri. Gerakan Zora terlalu cepat.

"Kheukkhhh, s-sial." erang Sam.

Perlahan Zora menambah tekanan pada tusukannya dan pisau masuk semakin dalam, ia mundur selangkah dan melihat pria itu tak berdaya. Sam memuntahkan darah sambil menekan perutnya yang tertusuk, dia tidak bisa menarik pisau itu untuk meringankan rasa sakitnya.

"A-ampuni aku." ucap sam memohon, ia sudah tergeletak dilantai.

"Kamu tau Sam? aku sangat senang menyaksikan darah mengalir, darah yang merambat keluar akibat luka dan perlahan memadat. Itu membuatku merasakan sensasi menggelitik disekujur tubuhku, kerena menyukai hal seperti itu, apakah menurutmu aku aneh Sam?" tanya Zora menatap luka yang diderita Sam tanpa mengedipkan mata.

'Apa wanita ini sudah gila? dari awal dia datang dengan niat untuk membunuhku. Tapi kenapa?' batin Sam.

"K-kenapa kau membunuhku?" tanya Sam yang tidak mau mati penasaran.

"Hmm, sebagai hadia karena tidak mati dengan cepat aku akan memberi taukannya padamu."

"Itu karena kamu menjual informasi tentang diriku, sebenarnya aku datang untuk bertanya kenapa kamu menjualnya. Tapi aku terlalu naif, aku sudah tau tapi aku selalu menyangkalnya." ungkap Zora.

"Akibat dari perbuatannmu beberapa kelinci Nyonya Clara mengejarku, aku tidak marah hanya sedikit kesal karena tidak bisa tidur nyenyak." lanjut Zora.

'Pemandangannya kurang indah' gumam Zora.

Zora mendekati Sam dan mencabut pisaunya, lalu berjalan kearah kaki Sam dan mengangkat salah satu kakinya. Zora menyayat pergelangan kaki kiri Sam, darah mulai mengalir perlahan.

"Ini pemandangan yang lumayan sempurna" ucap Zora dengan santai.

"D-dasar wanita gila" ucap Sam terbata-bata, sudah tak sanggup menahan sakit dan merasa pusing akibat kehilangan banyak darah.

Beberapa saat setelah menyaksikan penderitaan dari kematian Sam yang perlahan kehabisan darah, Zora mengalihkan pandangannya kepada orang yang datang bersamanya. 

"Apa yang harus kulakukan padamu?" tanya Zora.

"Ap-apa maksud nona?" tanya pria itu gugup, ia tidak bisa berkata-kata dan membeku ditempatnya karena menyaksikan Zora yang menikmati kematian seseorang layaknya hiburan.

"Kau bahkan tidak bisa menangani satu orang sepertinya? aku tidak memiliki alasan untuk membawamu lagi." tutur Zora.

"Ampuni saya nona, lain kali saya akan melakukan yang terbaik!" kata pria itu memohon, dengan cepat ia membungkuk sadar akan kesalahannya.

"Lain kali?" ucap Zora mengulangi.

"Sa-ya mohon nona, tolong beri saya keesempatan. Sa-ya janji akan melakukan yang terbaik." ucak pria itu gugup dan berusaha meyakinkan.

"Hahhh, seperti yang kau dengar tadi aku sangat senang melihat darah mengalir." ujar Zora.

"Dan kau tau, kita ini pembunuh bukan pengusaha. Kenapa kau berusaha meyakinkanku dengan omong kosong itu?" lanjut Zora.

"Kalau kau memang menyesal karena tidak berguna, maka tembak kepalamu sendiri dengan begitu aku akan memafkanmu." tawar Zora sambil mengeluarkan pistol di holster pinggangnya yang ditutupi sweater oversize yang ia kenakan.

"Ayo lakukan" pinta Zora menyodorkan pistol miliknya.

"A-ampuni saya nona, saya tidak mau mati." ucap pria itu putus asa.

"Hahh" Zora menghela nafas dengan kesal.

Cklikk..

Zora menarik pelatuk, tanpa pikir panjang ia langsung menembak. Pistol yang sudah dilengkapi dengan suppressor awalnya di arahkan tepat dibagian kepala, tetapi pada detik-detik terakhir di belokan kearah leher.

Demi melihat hiburannya tidak mungkin dia membiarkan orang mati dengan cepat karena kepalanya tertembak, lebih baik Zora menyaksikan bagaimana mereka perlahan-lahan meregang nyawanya.

'Haahhh, senjata api memang tidak cocok untukku' gumam Zora.

Kedua tangannya bergetar karena tak mampu menahan tekanan dari pistol yang ia gunakan beberapa waktu lalu.

Dua orang tergeletak sedang meregang nyawa disekitar Zora, darah yang perlahan mengalir membanjiri lantai. Zora mengabaikan itu, dia lalu mengacak-acak seisi meja yang ada di depannya, dia mencari sesuatu yang menjadi alasannya datang ketempat lusuh itu, tetapi ia tak kunjung menenemukannya.

Setelah beberapa saat, Zora mulai lelah dan berhenti mencari. Dia berniat membakar tempat itu, lalu kembali kemobilnya untuk mengambil bahan bakar.

"Jangan maafkan aku." ucap Zora melipat kedua tanganya layaknya orang yang berdoa. Itu merupakan kebiasaan yang dilakukan Zora setiap kali dia membunuh seseorang.

Sebelum ia membakar tempat, dia melepaskan sarung tangan yang ia kenakan dan meninggalkan pistol itu bersama disamping kedua mayat. Zora berjalan keluar lalu menyalakan pematik api dan melemparnya.

Perlahan api mulai merambat masuk, beberapa saat Zora melangkahkan kaki terdengar bunyi ledakan, wajah Zora yang datar tanpa penyesalan karena telah menghilangkan dua nyawa dalam waktu singkat bukanlah sesuatu yang baru.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 28: Pencuri Ulung

    Di pinggir kolam renang luas, dengan cahaya lampu yang redup. Air kolam yang jernih memantulkan bayangan sosok Han yang berbadan kekar, dengan rambut basah yang sudah memutih di bagian dan pelipisnya. Mengenakan kemeja coklat tua dengan kancingnya dibiarkan terlepas, memperlihatkan dadanya yang dipenuhi bekas luka jahitan dan sayatan.Han duduk santai menyilangkan kedua kakinya sambil menyesap wine yang berwarna merah darah.Di sampingnya berdiri seorang pemuda yang memakai jas formal berwarna gelap, tidak lain adalah Agra. Ia berdiri menatap lurus tanpa bergerak sedikitpun layaknya sebuah patung. Fokus arah pandangannya tidak bergerak dari pantulan cahaya bulan yang dikelilingi bintang kecil di tengah kegelapan malam. Ia berdiri diam, pikirannya menjadi misteri. Ketika ia mendengar suara serak dari Han yang sudah beralih menghisap rokok.“Tidak biasanya anak itu tidak menghubungiku.” Asap terlihat mengepul di udara, membentuk bulatan sempurna lalu menghilang ditelan udara.“Seperti

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 27: Mencurigakan

    Kegelapan mulai menyelimuti semesta, jalan kota yang tidak pernah sepi. Lampu jalanan dengan segala warna yang cerah mulai berkelap-kelip menghiasi jalanan. Di dalam kamar luas bernuansa kelabu, pandangan Satya fokus menatap lurus, menembus cahaya temaram lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit kamarnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir, ia bisa bernapas dan menenangkan pikirannya. Beberapa waktu lalu saat ia tertidur karena kelelahan, sebuah pesan singkat dari Andika telah membangunkanya. Pesan itu mengatakan bahwa operasi Gea berjalan dengan lancar dan ia telah melewati masa kritis, kini tengah dirawat intensif di rumah sakit. Kabar itu membuat Satya sedikit merasa lega. Namun kelegaan itu tak datang sendiri. Bahagia atas masa krisis telah berlalu, rasa bersalah atas situasinya yang telah menyeret Gea dalam bahaya. Serta perasaan lega karena nyawa gadis itu masih tertolong, semuanya membuncah, saling berbenturan dalam dadanya membu

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 26: Mimpi

    Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup lama, Satya akhirnya sampai di rumah sakit.Tepat di depan lobi mereka disambut oleh beberapa dokter yang siap dengan perannya masing-masing.Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Zora langsung dibawa masuk ke ruang IGD. Satya dengan setia menemaninya sampai akhir, ia benar-benar tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang yang diarahkan padanya. Beberapa dokter yang mengenali dirinya merasa heran kenapa seorang Direktur terlihat sangat berantakan, dan ikut berlari bersama mereka mendorong tandu bersama mereka. Namun satu hal yang terlintas dipikiran para dokter, bahwa orang yang akan mereka tangani adalah orang yang sangat penting bagi Satya. Fakta itulah yang membuat semua dokter yang merawat Zora semakin fokus dan penuh dengan kehati-hati selama mereka berlari dan hingga sampai ke ruang IGD.Dengan rambut acak-acakan, kemeja penuh bercak darah Satya menghela napas kasar. Dia sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya.“T

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 25 : Penyesalan

    'Sial, aku lengah...' batinnya, getir."Ukhhh..." ringisnya Zora, suara nyaris tak terdengar. Darah mengucur deras dari luka di sisi kanan perutnya. Telapak tangannya berusaha aliran darahnya, tapi itu sia-sia cairan merah kental yang hangat itu terus mengalir, menodai kemeja putih polosnya yang tidak lagi bersih. Dengan sisa tenaganya, ia mendongak. Pandangannya buram tapi ia masih bisa melihat Satya sudah mendekat dan berlutut di depannya.“J-jangan.. jangan mendekat. Bodoh, kau bisa ikut tertembak…” tak lagi memiliki tenaga untuk bicara, kata-kata Zora terhenti di ujung lidah, terkubur bersama rasa sakitnya. "G-gea." panggil Satya. Suaranya Satya gemetar, ia menunduk perlahan hingga berlutut di sisi Zora, tangannya ikut menekan luka Zora mencoba membantu untuk menghentikan darah yang mengalir tak terkendali. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan gadis yang terkulai lemas dengan wajah pucat di depannya, tangannya tidak berhenti gemetar, rasa dingin dari tubuh gadis itu membua

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 24: Tertembak

    "Sekarang, apa yang harus kulakukan?" Zora memutar tubuhnya di tengah teriknya matahari menyapa, matanya menyapu area sekitar yang diliputi kesunyian mencekam. Tidak satu pun kendaraan melintas, tak ada tanda keberadaan orang-orang. Tempat ini nyaris seperti lukisan mati tanpa sentuhan kehidupan. Kesunyian yang mengelilingi Zora hingga ia meragukan bahwa dirinya sedang berhalusinasi. Ia menghela napas kasar, rambutnya yang lurus tergerai acak-acakan, pipinya tertoreh luka sayatan yang nyaris kering membuat Zora merasakan pipinya seolah ditarik oleh benang kasar. Rasa sakit tidak membuatnya berhenti berpikir. Sekali lagi Zora mengamati sekelilingnya, iris matanya yang tajam menangkap sosok yang menyerangnya, masih menggeliat dan merintih kesakitan dalam sisa nyawa mereka yang tertinggal. Mereka memegangi luka yang masih mengucurkan darah merah pekat tanpa henti membasahi aspal. Zora sengaja tidak mengakhiri mereka, hidup mereka akan menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Zora dari

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 23 : Penyerangan

    Kaca mobil hampir pecah akibat pukulan, memperlihatkan retakan-retakan halus yang siap meledak menjadi serpihan-serpihan tajam. Zora memutar sorot matanya dengan tajam, masih belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk melawan.Rasa penyesalan menghampiri hati Zora, penyesalan terbesar yang menggerogoti dirinya. Ia ceroboh, menjadi terlena dalam kehidupan yang tampak normal dan cerah hanya dalam waktu 1 bulan. Seharusnya ia tidak pernah melupakan bayangan kehidupan gelapnya yang penuh darah.Nafas berat masih bergema di sebelahnya, mengisyaratkan bahwa Satya belum sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Namun, kedipan matanya semakin lambat dan terasa berat, rasa sakit di dahinya seakan menusuk dan menjalar diseluruh bagian kepalanya.Darah yang keluar dari luka di dahinya terus mengalir tak terbendung, menyusul saat Zora merobek lengan kemeja putih polos yang ia pakai untuk menutupi luka tersebut. Setelah memberikan pertolongan pertama, ia kembali fokus mencari objek yang b

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 9 : Mimpi Buruk

    Satya kembali sibuk dengan urusan kantor, dan ada Andika yang membantunya dengan setia keluar masuk ruangan setiap kali Satya memanggil. Lagi-lagi pikiranya terbayang-bayang tentang Zora yang ia lihat tadi pagi. Alasan Satya memanggil Zora untuk interview karena dia sedikit penasaran tentang dirinya

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 8 : Diremehkan

    Klikkk... Ada 3 orang memasuki ruang tunggu, diantara nya ada Satya yang akan mewawancarai para pelamar, Zora memperhatikan orang-orang yang memasuki ruangan. Mata Zora langsung tertuju kepada satu orang yaitu Satya, dia terlihat mencolok dan sangat mudah menarik perhatian dengan penampilannya. Wib

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 7 : Interview kerja

    Pagi hari yang cerah menyambut matahari dan seolah mengusir gelapnya malam, Zora bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan untuk interview. Dia memakai baju formal yang sesuai dengan kriteria seorang karyawan kantoran. Zora menghadap cermin memperhatikan pantulan dirinya dari atas sampai bawah, d

  • Antara Cinta dan Misi Sang Assassin   Part 6 : Makan Malam

    Satu persatu anggota keluarga memasuki kediaman, tuan dan nyonya rumah belum menunjukan diri. Kedua orang tersebut masih sibuk dengan urusan masing-masing, tuan besar sibuk dengan pekerjaan dan nyonya besar sibuk dengan kegiatan sosialita. "Halo tuan, para tuan muda sudah datang. Mereka sedang men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status