Share

Bab 4

Author: Anonima
Setelah membereskan semuanya untuk waktu yang cukup lama, seluruh rumah kembali ke nuansa abu-abu dan putih khas Ivan. Tidak ada lagi sedikit pun jejak bahwa aku pernah tinggal di sini.

Tujuh tahun saling mencintai, satu tahun tinggal bersama.

Semua jejak itu, pada akhirnya hanya terkumpul menjadi satu koper kecil.

Aku bersandar pada koper itu dan duduk di atas lantai marmer ruang tamu yang dingin. Aku merasa kelelahan, baik secara fisik maupun mental.

Tanpa sadar, aku pun tertidur.

Di dalam mimpiku yang kacau itu, aku seakan kembali lagi ke musim kemarau, saat aku pertama kali mengenal Ivan ….

Hari itu begitu panas. Baru berdiri di lapangan sebentar saja, keringat sudah membasahi seragam sekolahku.

Aku tidak punya uang untuk membeli pakaian dalam yang layak. Jadi, di balik seragam itu, aku hanya memakai singlet tipis kekecilan pemberian ibuku saat masih SD dahulu.

Begitu seragam itu basah, jika tidak hati-hati, bagian tubuhku bisa terlihat dengan mudah.

Oleh karena itu, saat berlari, tanpa sadar aku terus menutupi bagian dadaku dengan lengan.

Hanya karena alasan itu, setelah jam pelajaran usai, beberapa siswi dari kelas lain tiba-tiba menjambak rambutku dan menyeretku ke toilet wanita.

"Dasar cewek murahan! Gaya larimu kegatelan banget, pasti mau godain Kak Rama lagi, 'kan?"

Aku sama sekali tidak mengenal mereka, apalagi tahu siapa Kak Rama yang mereka maksud.

Aku tidak mengerti apa alasannya sampai aku harus berurusan dengan gadis yang memimpin perundungan itu.

Aku hanya pernah mendengar orang lain memanggilnya "Ira".

Kulit kepalaku terasa begitu sakit, hingga kepalaku terasa pusing. Seperti orang yang tenggelam, aku mengayunkan lenganku secara serampangan, mencoba meraih siapa pun siswa asing yang lewat di sepanjang jalan, memohon bantuan mereka.

Namun, tidak ada seorang pun yang berani berhenti untuk menolongku.

Sesampainya di depan pintu toilet wanita, aku tersungkur di lantai dan memeluk sepatu orang terakhir yang ada di sana.

"Tolong … tolong panggilkan guru … selamatkan aku …."

Kejadian seperti ini sudah sering terjadi.

Aku tahu meskipun guru datang, mereka paling hanya akan memberi sedikit teguran dan tidak akan benar-benar menuntut pertanggungjawaban mereka.

Namun, setidaknya, aku tidak akan terlalu menderita di dalam toilet nanti.

Dengan kondisi berantakan, aku pun menengadah. Anak laki-laki yang kakinya kupeluk itu juga sedang menunduk menatapku.

Cahaya matahari di tengah hari menyapu wajahnya dan jatuh tepat di mataku. Layaknya jarum bius, seketika itu juga, aku lupa akan rasa sakitku.

"Anak napi, jangan sok ikut campur!"

Seorang siswi di belakangku mengenalnya dan mengumpat dengan kasar. Rambutku kembali dijambak dan aku diseret masuk ke toilet.

Laki-laki itu menarik kakinya.

Aku kira, dia akan berlari menjauh seperti yang lain.

Namun, ternyata tidak.

Dia melangkah maju dengan cepat, mengangkat kakinya dan menendang semua siswi yang merundungku itu hingga mereka semua tersungkur.

Para anak buah yang terkapar di lantai itu berteriak dengan malu dan marah, "Ivan, kamu gila ya?"

"Berani-beraninya kamu memukul kami? Tamatlah riwayatmu! Tunggu saja sampai kamu dikeluarkan dari sekolah, lalu dipenjara bersama ayahmu!"

Angin sepoi-sepoi di musim kemarau mengibarkan ujung baju pemuda itu. Pemuda itu pun tersenyum dengan gaya yang sangat angkuh.

"Oke, kita lihat saja nanti, siapa yang lebih dulu nggak bisa bertahan di sekolah ini."

Si Ira yang menjadi pemimpin mereka justru terduduk di lantai. Dia menatap sosok pemuda itu dengan tatapan yang rumit.

Bukannya marah, Ira malah tampak terpesona.

Aku yang masih terkapar di lantai, menatap rambutnya yang menari ditiup angin serta butiran keringat halus di dahinya dan ikut tertegun.

Sejak saat itu, nama "Ivan" pun terukir dalam di hatiku.

"Kuncinya berhasil dibuka."

Suara pintu yang berhasil terbuka itu langsung menarikku keluar dari mimpi kenangan itu dan kembali ke realita.

Pukul tiga pagi, Ivan akhirnya pulang.

Dia tidak menyalakan lampu dan tidak menyadari diriku yang sedang duduk di lantai ruang tamu.

Sampai akhirnya aku tiba-tiba berdiri dan membuatnya tersentak kaget.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 11

    Di bawah pengelolaan kami secara bersama-sama selama setahun ini, perusahaan Rama berhasil menembus jajaran teratas di tingkat nasional.Rama pun kini menjadi CEO dengan kekayaan bersih puluhan triliun, yang namanya terkenal di daftar orang terkaya.Tidak ada seorang pun yang berani mengabaikan kata-katanya.Media-media ini awalnya berniat memanfaatkan momen rekonsiliasi Ivan untuk mendapatkan berita eksklusif yang menghebohkan.Namun, setelah menyadari rencana tersebut tidak akan berhasil, mereka langsung membubarkan diri bagai kawanan burung yang terkejut. Dalam waktu kurang dari setengah menit, mereka sudah menghilang dari perusahaan kami.Beberapa petugas keamanan perusahaan juga datang di saat yang tepat. Mereka memapah Ivan yang tampak seperti kehilangan jiwanya menyerupai mayat hidup, lalu mengusirnya keluar pintu.Belakangan, berkat kegigihan dan bujukan Rama yang tanpa henti, aku pun dengan berat hati menyetujui permintaannya untuk mengadakan pesta pernikahan susulan.Di atas

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 10

    Rama tidak membohongiku.Setelah aku mulai bekerja di perusahaannya, karena cakupan bisnisnya yang sangat mirip, program yang kubuat hampir tidak memerlukan revisi dan langsung bisa diterapkan.Pada kuartal tersebut, pendapatan perusahaan meningkat dua kali lipat, memecahkan rekor pertumbuhan terbesar sejak perusahaan itu didirikan.Melalui seleksi terbuka dan pemungutan suara anonim dari rekan-rekan kerja, aku langsung dipromosikan menjadi Manajer Umum Departemen Pemasaran.Setahun kemudian, pekerjaan dan hidupku secara bertahap mulai kembali ke jalur yang benar ….Tepat di saat aku mengira aku dan Ivan tidak akan pernah lagi bersinggungan di kehidupan ini ….Tak disangka, di suatu pagi, sesaat setelah aku masuk ke kantor, aku melihat sekretarisku berlari ke arahku dengan panik sambil membawa tablet untuk melapor."Bu Dinda, berita di internet hari ini heboh banget, itu …."Belum sempat sekretarisku itu menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara keributan di pintu masuk perusahaan. Bah

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 9

    "Rama …. Bonekaku hilang! Boneka peninggalan ibuku hilang! Aku harus cari …."Tiba-tiba, seruan manja yang antusias di belakang memotong ucapanku, "Kak Rama! Kenapa Kakak di sini? Kapan Kakak kembali ke negara ini?"Rama tidak melepaskan dekapannya padaku. Dia hanya mengerutkan kening sambil menoleh ke arah sumber suara.Maira langsung menanggalkan wajah angkuhnya yang sebelumnya, lalu kembali memasang ekspresi malu-malu yang seperti biasa."Kak Rama, Kakak nggak ingat aku?""Aku adik kelasmu, Ira! Waktu SMA, aku lama banget ngejar kamu sebelum akhirnya pindah sekolah."Suara Rama yang sedingin es terdengar dari atas kepalaku."Nggak kenal dan nggak tertarik untuk kenal."Dekapan Rama pada tubuhku makin erat dan nada bicaranya kembali lembut seperti biasa."Dinda, barang ibumu itu hilang di mana? Aku akan bantu cari.""Di tempat sampah koridor luar …."Tanpa ragu sedikit pun, Rama berbalik menemaniku ke koridor, lalu mengaduk-aduk tempat sampah umum satu per satu.Keringat bercucuran d

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 8

    "Kalian semua dengarkan baik-baik! Aku tanya sekali lagi, di mana boneka badutku?!""Aduh, kok kamu galak banget sih! Bonekamu ada padaku, Dinda sayang!"Suara manja, tetapi bernada menantang itu terdengar di belakangku.Lantaran terlalu fokus mencari barang peninggalan ibuku, aku tidak menyadari sejak kapan Maira masuk ke kantor.Di belakangnya, berdiri Ivan yang terlihat begitu kuyu.Ivan yang semula berjalan di belakang dengan kondisi kuyu, langsung terlihat bersemangat begitu mendengar namaku.Dia berlari menghampiriku dan hendak menarik tanganku seperti biasa, tetapi secara refleks aku langsung menghindar.Tubuhnya sangat kotor, aku tidak sudi lagi menyentuhnya.Setelah tangannya hanya meraih udara kosong, tatapan mata Ivan terlihat kosong untuk sesaat, sementara mulutnya terus bergumam tiada henti, "Sayang, ini nggak seperti yang kamu bayangkan! Aku dan Maira ….""Semalam, aku juga ada di Bar Ziva!"Aku tidak memberi Ivan kesempatan untuk terus merangkai kebohongan dan langsung t

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 7

    Aku langsung tertegun untuk sesaat.Adik perempuan yang belum pernah kulihat ini, bagaimana bisa mengenalku?Rama terbatuk beberapa kali di belakangku, lalu menambahkan, "Ehem, aku sudah bilang lewat WhatsApp ke adikku kalau kamu akan menginap di sini untuk sementara waktu. Mungkin dia masih linglung karena baru bangun tidur, jadi dia lupa.""Bohong! Tadi pagi waktu cek ponsel, aku cuma lihat Kakak mentransfer 100 juta dan menyuruhku pergi liburan bareng teman-teman!"Rama yang kebohongannya terbongkar di tempat, langsung terlihat pucat pasi.Namun, adiknya terus saja mengoceh dan berniat terus mengadu kepadaku, "Kak Dinda, Kakak nggak tahu ya kalau kakakku ini sejak SMA sudah suka ….""Bicara sembarangan lagi, transferannya akan langsung kubatalkan sekarang juga!"Hanya dengan kalimat itu, Rama berhasil membuat adiknya terdiam dan langsung berubah menjadi terlihat patuh."Ah, aku salah ingat! Kakakku baru tadi pagi memperkenalkanku padamu, Kak Dinda!""Namaku Caca Hastanta. Tenang saj

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 6

    "Sayang, dengan kemampuanku sekarang, aku cuma bisa kasih kamu berlian satu karat ini.""Tapi, aku janji, di hari lamaran nanti, aku akan melamarmu dengan cincin berlian yang paling besar dan paling berkilau!""Dinda, selamanya aku cuma akan mencintaimu. Aku pasti akan membuatmu hidup bahagia sebagai istri orang kaya!"Saat ini, janji manis dan cincinnya … sudah kulepaskan.Aku memilih untuk pergi tanpa menoleh lagi ke belakang ….Aku menyeret koper yang berat, berjalan menyusuri jalanan pada jam empat pagi tanpa tujuan.Sejak SD, aku sudah tidak punya keluarga. Sekarang, setelah kehilangan satu-satunya orang yang kucintai, aku tidak tahu lagi ke mana harus pulang.Setelah berjalan cukup lama, tanpa sadar, aku tiba di depan sebuah hotel.Sepertinya, aku hanya bisa menginap di hotel.Baru saja hendak melangkah masuk, seseorang berjalan keluar dan memanggil namaku."Dinda!"Aku tersadar dari lamunanku dan mendapati orang itu ternyata musuh bebuyutan Ivan, Rama Hastanta.Sejak Ivan mulai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status