Share

Bab 5

Author: Anonima
Aku sudah lama berada di ruangan yang gelap gulita itu.

Lewat pantulan cahaya redup dari jendela besar itu, aku bisa melihat dengan jelas bahwa Ivan tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang panik itu.

"Dinda! Sayang? Kamu … kok belum tidur?"

Di depanku, Ivan yang berusia 24 tahun itu memanggil namaku dengan rasa bersalah.

Ivan sekarang sudah tidak lagi sama dengan Ivan berusia 17 tahun yang menarikku berdiri di depan toilet wanita dan menanyakan namaku di dalam mimpi itu ….

Aku tetap diam, tidak menanggapinya.

Ivan berpura-pura tenang dan mulai menjelaskan sendiri, "Sahabatmu itu gila banget kalau mabuk! Aku sampai harus memanggil teman-teman kantorku ke Bar Ziva cuma untuk menahannya!"

"Begitu dia sampai rumah, aku minta mereka menjaganya, lalu aku langsung pulang duluan …."

"Ah … aku ngantuk banget …. Aku mandi dulu ya, Sayang. Jangan khawatir. Di luar dingin, ayo cepat masuk kamar!"

Setelah berkata seperti itu, Ivan berbalik dan masuk ke kamar mandi.

Ivan begitu terburu-buru hingga tidak melihat koper berisi seluruh barang-barangku yang tergeletak di ruang tamu.

Namun, aku justru melihat cupang di balik kerah baju Ivan, bekas percintaan penuh gairah yang tidak bisa disembunyikan.

Aku menggertakkan gigi, mengambil ponsel, lalu membuka pembaruan status Maira di media sosial.

Tepat satu menit yang lalu, Maira baru saja mengunggah sesuatu.

[Cuma aku yang bisa memberimu yang terbaik.]

Foto yang menyertainya adalah foto pakaian dalam renda hitam yang jatuh di samping sepatu hak tinggi.

Aku memberikan tanda suka pada unggahan itu.

Tak lama kemudian, Maira mengirimkan pesan kepadaku.

[Dinda sayang, kamu belum tidur?]

[Aku mau bilang, aku dan pacarku sudah balikan!]

Maira mengirimkan foto lehernya yang juga penuh dengan cupang, yang begitu mencolok itu.

[Habisnya, aku masih belum bisa ngelupain dia ….]

Maira bukan hanya tidak bisa melepas pacarku, tetapi juga tidak bisa melepas "mainan" bodoh sepertiku.

Sayangnya, aku sudah memutuskan untuk berhenti bermain dengan mereka.

[Benarkah? Selamat, ya! Tapi, aku sudah putus sama pacarku.]

[Hah, apa? Kok bisa! Bukankah Ivan sangat mencintaimu?]

Melalui layar, aku bisa membayangkan wajahnya yang penuh kemenangan sekaligus nada bicaranya yang pura-pura terkejut.

Jariku bergerak lincah, mengetik dengan cepat.

[Tapi, aku sudah nggak lagi mencintainya! Aku sudah bosan main-main sama dia.]

[Kamu mau? Ambil aja untukmu!]

Aku sudah tidak lagi berminat untuk bermain sandiwara sebagai "sahabat palsu" dengan Maira.

Setelah mengirim pesan terakhir, aku langsung memblokirnya.

Sambil menarik koper, aku melangkah keluar dari rumah Ivan.

Tepat di depan pintu, aku sempat merasa ragu untuk sesaat.

Aku berbalik, melepas cincin di jari tengahku dan meletakkannya perlahan di atas rak sepatu di depan pintu.

Cincin ini adalah hadiah dari Ivan pada tahun pertama setelah dia lulus.

Malam itu, setelah momen yang begitu hangat, aku meringkuk dalam pelukannya dengan rasa puas dan bahagia hingga hampir terlelap.

Dalam kondisi setengah sadar, aku merasa ada sesuatu yang dingin melingkar di jariku.

Lalu, terdengar suara lembut Ivan ….
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 11

    Di bawah pengelolaan kami secara bersama-sama selama setahun ini, perusahaan Rama berhasil menembus jajaran teratas di tingkat nasional.Rama pun kini menjadi CEO dengan kekayaan bersih puluhan triliun, yang namanya terkenal di daftar orang terkaya.Tidak ada seorang pun yang berani mengabaikan kata-katanya.Media-media ini awalnya berniat memanfaatkan momen rekonsiliasi Ivan untuk mendapatkan berita eksklusif yang menghebohkan.Namun, setelah menyadari rencana tersebut tidak akan berhasil, mereka langsung membubarkan diri bagai kawanan burung yang terkejut. Dalam waktu kurang dari setengah menit, mereka sudah menghilang dari perusahaan kami.Beberapa petugas keamanan perusahaan juga datang di saat yang tepat. Mereka memapah Ivan yang tampak seperti kehilangan jiwanya menyerupai mayat hidup, lalu mengusirnya keluar pintu.Belakangan, berkat kegigihan dan bujukan Rama yang tanpa henti, aku pun dengan berat hati menyetujui permintaannya untuk mengadakan pesta pernikahan susulan.Di atas

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 10

    Rama tidak membohongiku.Setelah aku mulai bekerja di perusahaannya, karena cakupan bisnisnya yang sangat mirip, program yang kubuat hampir tidak memerlukan revisi dan langsung bisa diterapkan.Pada kuartal tersebut, pendapatan perusahaan meningkat dua kali lipat, memecahkan rekor pertumbuhan terbesar sejak perusahaan itu didirikan.Melalui seleksi terbuka dan pemungutan suara anonim dari rekan-rekan kerja, aku langsung dipromosikan menjadi Manajer Umum Departemen Pemasaran.Setahun kemudian, pekerjaan dan hidupku secara bertahap mulai kembali ke jalur yang benar ….Tepat di saat aku mengira aku dan Ivan tidak akan pernah lagi bersinggungan di kehidupan ini ….Tak disangka, di suatu pagi, sesaat setelah aku masuk ke kantor, aku melihat sekretarisku berlari ke arahku dengan panik sambil membawa tablet untuk melapor."Bu Dinda, berita di internet hari ini heboh banget, itu …."Belum sempat sekretarisku itu menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara keributan di pintu masuk perusahaan. Bah

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 9

    "Rama …. Bonekaku hilang! Boneka peninggalan ibuku hilang! Aku harus cari …."Tiba-tiba, seruan manja yang antusias di belakang memotong ucapanku, "Kak Rama! Kenapa Kakak di sini? Kapan Kakak kembali ke negara ini?"Rama tidak melepaskan dekapannya padaku. Dia hanya mengerutkan kening sambil menoleh ke arah sumber suara.Maira langsung menanggalkan wajah angkuhnya yang sebelumnya, lalu kembali memasang ekspresi malu-malu yang seperti biasa."Kak Rama, Kakak nggak ingat aku?""Aku adik kelasmu, Ira! Waktu SMA, aku lama banget ngejar kamu sebelum akhirnya pindah sekolah."Suara Rama yang sedingin es terdengar dari atas kepalaku."Nggak kenal dan nggak tertarik untuk kenal."Dekapan Rama pada tubuhku makin erat dan nada bicaranya kembali lembut seperti biasa."Dinda, barang ibumu itu hilang di mana? Aku akan bantu cari.""Di tempat sampah koridor luar …."Tanpa ragu sedikit pun, Rama berbalik menemaniku ke koridor, lalu mengaduk-aduk tempat sampah umum satu per satu.Keringat bercucuran d

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 8

    "Kalian semua dengarkan baik-baik! Aku tanya sekali lagi, di mana boneka badutku?!""Aduh, kok kamu galak banget sih! Bonekamu ada padaku, Dinda sayang!"Suara manja, tetapi bernada menantang itu terdengar di belakangku.Lantaran terlalu fokus mencari barang peninggalan ibuku, aku tidak menyadari sejak kapan Maira masuk ke kantor.Di belakangnya, berdiri Ivan yang terlihat begitu kuyu.Ivan yang semula berjalan di belakang dengan kondisi kuyu, langsung terlihat bersemangat begitu mendengar namaku.Dia berlari menghampiriku dan hendak menarik tanganku seperti biasa, tetapi secara refleks aku langsung menghindar.Tubuhnya sangat kotor, aku tidak sudi lagi menyentuhnya.Setelah tangannya hanya meraih udara kosong, tatapan mata Ivan terlihat kosong untuk sesaat, sementara mulutnya terus bergumam tiada henti, "Sayang, ini nggak seperti yang kamu bayangkan! Aku dan Maira ….""Semalam, aku juga ada di Bar Ziva!"Aku tidak memberi Ivan kesempatan untuk terus merangkai kebohongan dan langsung t

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 7

    Aku langsung tertegun untuk sesaat.Adik perempuan yang belum pernah kulihat ini, bagaimana bisa mengenalku?Rama terbatuk beberapa kali di belakangku, lalu menambahkan, "Ehem, aku sudah bilang lewat WhatsApp ke adikku kalau kamu akan menginap di sini untuk sementara waktu. Mungkin dia masih linglung karena baru bangun tidur, jadi dia lupa.""Bohong! Tadi pagi waktu cek ponsel, aku cuma lihat Kakak mentransfer 100 juta dan menyuruhku pergi liburan bareng teman-teman!"Rama yang kebohongannya terbongkar di tempat, langsung terlihat pucat pasi.Namun, adiknya terus saja mengoceh dan berniat terus mengadu kepadaku, "Kak Dinda, Kakak nggak tahu ya kalau kakakku ini sejak SMA sudah suka ….""Bicara sembarangan lagi, transferannya akan langsung kubatalkan sekarang juga!"Hanya dengan kalimat itu, Rama berhasil membuat adiknya terdiam dan langsung berubah menjadi terlihat patuh."Ah, aku salah ingat! Kakakku baru tadi pagi memperkenalkanku padamu, Kak Dinda!""Namaku Caca Hastanta. Tenang saj

  • Antara Janji dan Pengkhianatan   Bab 6

    "Sayang, dengan kemampuanku sekarang, aku cuma bisa kasih kamu berlian satu karat ini.""Tapi, aku janji, di hari lamaran nanti, aku akan melamarmu dengan cincin berlian yang paling besar dan paling berkilau!""Dinda, selamanya aku cuma akan mencintaimu. Aku pasti akan membuatmu hidup bahagia sebagai istri orang kaya!"Saat ini, janji manis dan cincinnya … sudah kulepaskan.Aku memilih untuk pergi tanpa menoleh lagi ke belakang ….Aku menyeret koper yang berat, berjalan menyusuri jalanan pada jam empat pagi tanpa tujuan.Sejak SD, aku sudah tidak punya keluarga. Sekarang, setelah kehilangan satu-satunya orang yang kucintai, aku tidak tahu lagi ke mana harus pulang.Setelah berjalan cukup lama, tanpa sadar, aku tiba di depan sebuah hotel.Sepertinya, aku hanya bisa menginap di hotel.Baru saja hendak melangkah masuk, seseorang berjalan keluar dan memanggil namaku."Dinda!"Aku tersadar dari lamunanku dan mendapati orang itu ternyata musuh bebuyutan Ivan, Rama Hastanta.Sejak Ivan mulai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status