بيت / Romansa / Antara Kamu dan Putraku / Bab 1 Pertengkaran Hebat

مشاركة

Antara Kamu dan Putraku
Antara Kamu dan Putraku
مؤلف: Weneedta

Bab 1 Pertengkaran Hebat

مؤلف: Weneedta
last update آخر تحديث: 2025-12-02 15:03:37

“Plak!”

Elena Jasmine memegang pipi kanannya setelah mendapat tamparan dari Damar Setiawan―sang suami. Walaupun tidak terlalu keras, tetapi cukup terasa panas. Namun dibandingkan pipinya, dia lebih merasakan pedih di hati.

“Kenapa kamu bersikap kurang ajar terhadap ibu?” Damar masih dengan kedua mata yang melotot.

“Aku tidak bersikap kurang ajar! Aku menjawab apa adanya!” balas Elena lantang, berusaha membela diri. Dia lelah harus selalu mengalah dengan kelakuan Ratih―ibu mertuanya―yang selama bertahun-tahun selalu menjadi duri dalam daging pada kehidupan rumah tangganya.

Damar sekilas melirik ibunya, kemudian meraih tangan Elena dan menggenggamnya erat untuk dibawanya ke lantai dua.

“Sakit, Mas!” Elena berusaha melepaskan tangan Damar, tetapi usahanya sia-sia. Genggaman Damar malah semakin kuat.

Tanpa memedulikan keluhan istrinya, Damar terus membawa wanita itu hingga masuk ke kamar mereka. Dengan kasar dia mendorong tubuh sang istri ke ranjang.

“Dengar! Aku sudah berkali-kali bilang padamu, aku masih mengusahakan semuanya. Kenapa kamu tidak pernah sabar?!” Suara Damar melengking tinggi. Jari telunjuknya mengarah kepada Elena yang masih terbaring telentang di ranjang.

“Sabar? Sampai kapan aku harus bersabar?” balas Elena sembari bangkit dari ranjang, dan kini berdiri berhadapan dengan suaminya. “Di rumah sudah tidak ada apa-apa lagi. Lalu kita mau makan apa? Belum dengan tagihan lain-lain. Tagihan rumah, sekolah ….”

“Iya, iya. Aku tahu. Kamu pikir aku tidak memikirkan hal itu?” Damar menghela napas cepat sebelum melanjutkan. “Tapi aku minta sama kamu, jangan berbicara seperti itu terhadap ibu.”

“Bukan aku yang mulai, tapi ibu kamu!” sewot Elena tak terima. Matanya mendelik tajam kepada suaminya. “Kenapa ibu selalu menyalahkan aku? Aku hanya menjawab aku tidak punya uang lagi untuk belanja keperluan dapur. Kenapa ibu malah mengatai aku boros dan tidak bisa mengatur uang?”

Jelas Elena tidak terima ucapan Ratih. Selama lebih dari dua belas tahun berumah tangga, dia yang banyak keluar uang. Dia yang mengambil alih tanggung jawab mencari nafkah.

“Tapi tetap saja, ucapanmu itu kasar terhadap ibu!”

“Aku tidak akan kasar kalau ibu tidak mengataiku. Memangnya kurang apa aku selama ini? Hampir semua pembayaran tagihan dan urusan makan, semua dari uangku. Apa ibu kamu buta? Terus apa aku tidak boleh sakit hati?”

Harga diri Damar terusik dengan ucapan Elena. Sebenarnya dia mengakui memang Elena yang lebih banyak mengeluarkan uang untuk kehidupan rumah tangga mereka. Namun ucapan istrinya ini, seakan dia tidak memberi kontribusi sama sekali dan tentu hal itu menyinggung egonya sebagai laki-laki.

“Kamu jangan bicara sembarangan!” Damar menekan ucapannya karena emosi. “Dengar ya, aku juga mengeluarkan uang. Contohnya uang muka rumah ini. Kalau tidak dari uangku, apa kamu pikir kita bisa punya rumah?”

Elena memutar bola matanya malas, kemudian menatap tajam suaminya. “Iya, itu benar. Tapi cicilannya tiap bulan? Belum cicilan mobil. Itu dari mana?”

“Oh, jadi kamu mulai perhitungan?” geram Damar. Wajahnya sudah memerah terbakar emosi dan tangan kanannya mulai mengepal. “Jangan sombong kamu! Kamu beruntung karena memiliki posisi sekarang. Memang aku tidak seberuntung kamu. Seharusnya kamu mengerti itu. Tapi apa? Sebagai istri, kamu tidak ada pengertian sama sekali.”

Elena malas dengan topik keributan yang sama. Dia dituntut untuk selalu mengerti kesulitan suaminya. Sementara di sisi lain, suaminya tidak pernah berubah.

“Cukup, Mas! Menurut Mas, aku kurang pengertian apa lagi? Selama ini aku diam, terima semuanya, dan hampir tidak pernah protes. Aku hanya minta Mas Damar mau banting setir. Tidak bisa kita terus seperti ini. Ada anak yang harus kita hidupi.”

Damar mencebil. “Ngomong itu gampang. Coba kamu yang ada di posisiku.”

“Sekarang aku balik ucapan Mas,” geram Elena. “Kalau Mas Damar berada di posisiku, bagaimana? Punya suami yang jarang memberi nafkah.”

Kedua alis Damar menukik tajam. “Lama-lama kamu semakin berani kurang ajar ya.”

“Itu karena Mas tidak pernah berubah!” teriak Elena lantang.

Plakkk!

Elena memegang lagi pipi kanannya. Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, dia mendelik menatap suaminya. Hampir tak percaya, tidak sampai setengah jam dia sudah dua kali mendapatkan tamparan. Kali ini tamparannya sangat keras dan hatinya benar-benar sakit.

Rasanya sungguh hancur. Hampir sepanjang pernikahan dia berjuang sendirian memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, dan kini harus mendapat kekerasan dari suaminya.

Elena segera membalikkan tubuhnya, berjalan keluar menuju kamar mandi. Dia membiarkan dirinya menangis, mencurahkan segala kepiluan hatinya dengan duduk bersandar di lantai.

Selang setengah jam, dia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar tidur. Suaminya sudah tidak ada di sana, dan dia pun tidak peduli. Setelah mengambil tas berisi dompet dan ponsel, dia bergegas keluar dari rumah.

Di halte depan kompleks perumahan, Elena duduk dengan pipi kanan yang masih memerah. Sambil terisak, dia menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya.

Kalau hanya untuk makan dirinya sendiri, mungkin dia bisa tidak peduli. Namun dia harus memikirkan Justin―putranya yang berusia 12 tahun. Untung saja tadi Justin sedang berada di rumah temannya sehingga tidak perlu melihat keributan yang terjadi.

***

“Ayo masuk! Kenapa tetap diam di situ?” Aldo menatap wanita yang masih berdiri mematung di depan kamar kostnya.

Wanita itu tampak berantakan, dengan kedua mata sembab dan bibir yang sedikit gemetar. Aldo sempat melirik alas kaki yang digunakan Elena. Bukan sepatu, hanya sandal rumahan, yang menandakan wanita ini langsung pergi dari rumah tanpa persiapan apa pun.

Melihatnya masih bergeming, Aldo meraih bahu Elena dan membawanya masuk, tanpa melupakan untuk mengunci kamarnya

“Kamu naik apa ke sini?”

“Ojek online.”

Elena membiarkan dirinya dituntun Aldo ke arah ranjang. Sebenarnya dia tidak yakin dengan apa yang dilakukannya saat ini. Yang terlintas di benaknya tadi hanyalah ingin keluar dari rumah setelah pertengkaran hebat dengan suaminya.

“Apa kamu baik-baik saja?” Mata Aldo menyelisik kedua mata wanita yang kini sudah duduk berdampingan dengannya di ranjang. Detik kemudian tangan kanannya terangkat dan menghapus cairan bening yang tersisa di pelupuk mata wanita itu.

Elena menundukkan kepala dengan jemari tangan yang saling meremas. Desahan pelan dan berat pun meluncur dari bibirnya. Namun tak lama, wajahnya beralih menatap Aldo. “Aku tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Rasanya aku ingin lari dari semuanya, Do. Sepertinya aku tidak sanggup lagi.”

Tatapan Aldo masih melekat pada Elena. Apa yang terjadi pada wanita itu, dia tahu semuanya, sejak setahun terakhir mereka memiliki hubungan dekat. Bahkan sekitar empat bulan lalu, hubungan mereka sudah berkembang layaknya sepasang kekasih.

“Coba ceritakan apa yang terjadi. Apa kamu habis ribut dengan suamimu?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 108 Pupus Sudah

    Damar hanya menatap ibunya sebentar, kemudian melangkah masuk menuju sofa. Dia melepas sepatu, setelah itu duduk berselonjor dengan kedua kaki berada di atas meja.Ratih ikut duduk di hadapannya. Dia menggelengkan kepala sembari melihat tingkah anaknya.“Jangan tanya macam-macam, Bu,” ucap Damar sambil memejamkan mata. “Aku benar-benar capek.”“Kalau capek, kenapa setiap hari pulang malam?”Damar mendengus sebelum menjawab ibunya. “Sekarang baru jam sepuluh. Belum terlalu malam.”“Orang lain jam tujuh sudah sampai rumah, Damar. Kok kamu bisa setiap hari lembur? Memangnya pekerjaan kamu banyak banget dan tidak ada habisnya?”Lama-lama Ratih tidak percaya dengan alasan anaknya. Perusahaan mana yang mengharuskan karyawannya lembur setiap hari?“Oya, tadi siang ada collector datang. Katanya, kamu belum bayar cicilan mobil dan sudah terlambat hampir sebulan. Kenapa belum dibayar, Damar? Terus terang Ibu malu karena dilihat tetangga depan. Mana si collector suaranya keras banget.”Damar mem

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 107 Buka-bukaan

    “Apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena akhirnya.“Kamu duduk dulu,” balas Ratih dengan mata menyorot tajam. “Tidak sopan bicara dengan orang tua sambil berdiri.”“Memangnya apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena sekali lagi. “Aku harap tidak lama.”Ratih tidak menjawab, dan berpaling menatap Justin. “Kamu tunggu di atas. Nenek mau ngomong sama Mama kamu.”Justin bertatapan dengan Elena. Setelah mendapat anggukan dari ibunya, dia meninggalkan ruang keluarga.Elena duduk setelah memastikan putranya menaiki tangga. Firasatnya mengatakan ada sesuatu hal tidak enak yang akan disampaikan Ratih.“Langsung saja, Bu,” ucapnya tanpa berbasa-basi. “Apa yang ingin Ibu bicarakan?”“Ibu ingin tahu, apa kamu tidak akan kembali ke rumah ini?”Elena terkesiap. Pertanyaan yang cukup frontal. Namun dia bukanlah Elena yang dulu. Dia siap menghadapi Ratih dan membuka semuanya.“Sebenarnya aku tidak ada niat meninggalkan rumah. Aku yakin Ibu sudah mendengar ceritanya. Aku keluar karena diusir anak

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 106 Kekhawatiran Aldo

    “Justin!” Ratih memanggil dari depan kamarnya. “Kamu ngomong sama siapa?”Justin bertatapan dengan ibunya.“Kamu turun dan bilang Nenek, kalau Mama yang datang,” ucap Elena yang sudah berada di ujung tangga.“Apa Mama tidak mau menemui Nenek?”“Nanti saja. Mama mau membereskan barang-barang Mama dulu.”Justin masih menatap Elena. Terselip perasaan bersalah karena telah mengusir ibunya.Sejujurnya dia berada dalam kebimbangan, antara percaya dengan ibunya atau ucapan neneknya. Namun fakta bahwa dia melihat sendiri kemesraan ibunya dengan Aldo, masih membuatnya menyimpan kemarahan.Justin menuruni tangga, kemudian menghampiri Ratih yang masih menunggu di depan kamar.“Aku ngomong sama Mama, Nek.”“Mama?” Kedua alis Ratih terangkat. “Mama kamu di sini?”“Iya.”“Terus sekarang Mama di mana? Kok Nenek tidak lihat?”“Mama di atas, lagi membereskan baju.”Ratih terlihat bingung. “Maksud kamu, Mama pulang dan sedang merapikan baju?”“Bukan. Mama cuma mau mengambil beberapa bajunya.”“Ohh ….”

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 105 Bangkit

    Keesokan harinya Elena kembali bekerja. Kemarin dia terpaksa izin kepada Brenda, dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Biarlah, toh atasannya sudah tahu permasalahan rumah tangganya, kecuali fakta mengenai ayah kandung Justin.Elena juga menceritakan masalahnya pada Asya. Bagaimanapun, hanya Asya yang menjadi teman baiknya. Meskipun awalnya menutup diri, pada akhirnya Elena mengakui bahwa dia membutuhkan seorang teman.Asya mengembuskan napas panjang. “Ada-ada saja ya, Len. Tapi menurutku, kamu tidak bisa diam saja. Kamu harus melakukan sesuatu.”“Aku tahu, Sya. Aku harus memikirkan rencana untuk mengambil kembali kepercayaan Justin. Juga rencana untuk berpisah dari Mas Damar. Meskipun semuanya membutuhkan waktu.”“Setuju. Aku dukung sepenuhnya kamu cerai dengan Damar. Maaf ya Len, suami dan mertua kamu benar-benar toxic.”Elena mengangguk. Kali ini dia tidak akan tinggal diam. Bukan dendam, dia hanya tidak mau menjadi wanita lemah lagi. Dia harus bangkit untuk Justin dan dirinya

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 104 Meninggalkan Rumah

    Elena masih berdiri terpaku dan menatap nanar putranya. Perasaan sakit langsung menusuk ke relung hatinya.“Kamu mengusir Mama, Justin?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar. Dia tidak percaya telah diusir oleh putranya sendiri.“Iya! Lebih baik aku tidak punya ibu seperti Mama. Ayah kandungku saja tidak jelas. Kalau orang lain tahu, mereka akan mengatai aku anak haram.” “Tidak seperti itu, Justin. Di rumah sakit, Mama sudah menjelaskan semuanya sama kamu. Rangga, ayah kandung kamu, tidak pernah menolak kehadiran kamu. Seandainya Rangga tidak meninggal, kami sudah pasti menikah.”“Tidak ada gunanya Mama ngomong begitu sekarang. Kenyataannya aku bukan anak Papa Damar. Tapi Papa Damar sayang sama aku. Tidak pernah marah, dan sering mengajak aku jalan-jalan.”Justin menatap ibunya. Wajahnya memerah karena marah, dan matanya sudah berkaca-kaca.“Tapi Mama masih berhubungan dengan Kak Aldo. Padahal aku sudah minta Mama putus. Mama egois! Hanya memikirkan diri Mama sendiri! Mama tidak

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 103 Diusir

    Justin terdiam. Dia enggan membicarakan pertengkaran orang tuanya. Apalagi menceritakan pada neneknya.“Hmm, seharusnya Nenek tidak bertanya sama kamu,” ucap Ratih yang menyadari Justin tidak suka dengan pertanyaannya. “Sudah, kita lanjutkan makan.”Justin melanjutkan makan dalam diam. Begitu pun dengan Ratih. Namun benaknya penuh dengan kata-kata ancaman yang dilontarkan Avanti. Dia juga mengingat percakapan dengan anaknya.Beberapa menit berlalu. Ratih sudah tidak tahan menutup mulutnya.“Apa kamu tahu, Justin, Mama kamu punya pacar. Mama kamu selingkuh. Bahkan Nenek pernah melihat Mama kamu pulang diantar laki-laki lain.”“Waktu itu ‘kan Nenek sedang menginap di rumah Om Abram,” lanjut Ratih. “Jadi Nenek tidak tahu persis masalahnya. Sebenarnya Papa dan Mama ribut apa sih? Apa kamu tahu, Justin?”Justin menghentikan makannya yang tersisa sedikit. Wajahnya cemberut, dengan kedua alisnya menyatu.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawabnya dengan suara dingin.“Lho, kamu ‘kan ada di rumah. Ma

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status