Home / Rumah Tangga / Antara Mencintai dan Melupakan / Bagian 1 Anugerah Terindah

Share

Antara Mencintai dan Melupakan
Antara Mencintai dan Melupakan
Author: Zizizaq

Bagian 1 Anugerah Terindah

Author: Zizizaq
last update publish date: 2024-05-28 12:58:14

Merupakan anugerah terindah bagi seorang perempuan jika memiliki suami berwajah tampan paripurna dan pewaris tunggal dari keluarga kaya. Paket komplit dengan sifatnya yang pengertian dan bertanggung jawab.

Hanya satu hal yang belum membuat Celine puas, yaitu kata 'Aku mencintaimu' yang belum pernah ia dengar selama dua tahun pernikahannya. Ia memiliki segalanya dari Evan, kecuali hatinya. Hak dan kewajiban sebagai istri terpenuhi, tapi perasaan Evan bukan miliknya. Ia tidak pernah melihat cinta di mata Evan.

Ia juga ingin tahu siapa yang memiliki hati suaminya, tapi ia takut jika faktanya memang ada orang lain. Pada akhirnya, ia hanya bisa bersabar dan berharap suatu saat hati Evan berpihak padanya, sekaligus bersiap-siap seandainya tidak sesuai harapannya.

"Aku akan ke luar negeri besok," ucap Evan seperti biasanya, seolah luar negeri bukan perjalanan jauh lagi baginya. Hampir setiap bulan ia mengatakan itu pada Celine, bahkan pernah hanya berselang seminggu saja.

"Untuk apa?"

"Untuk pekerjaan dan ada hal lainnya." Evan berkata jujur. Hal itu cukup membuat Celine bungkam dan bersikap tampak penurut. Takut jika banyak bertanya membuatnya kecewa, ia hanya bisa mengelabui perasaannya dengan berpura-pura sibuk. Ia sebenarnya adalah gadis yang ceria dan energik dua tahun lalu, entah sejak kapan ia berubah menjadi penurut.

"Oke, akan kusiapkan kebutuhanmu."

"Heem!" gumam Evan.

Celine sedang berkutat dengan koper dan baju-baju Evan, saat Evan tiba-tiba berada di belakangnya.

"Kali ini aku agak lama, aku harus mengurus seseorang," ucap Evan dengan aura dinginnya. Celine berhenti sejenak dari aktivitasnya untuk memandangi Evan dan memberikan seulas senyum, lalu kembali melanjutkan.

"Kamu tidak penasaran siapa orangnya?"

Celine menggeleng, lalu berkata,

"Bukan urusanku, kan?" Lebih tepatnya ia takut kalau itu nama seorang perempuan.

"Aku akan penuhi kewajibanku sebagai suami sebelum pergi," Evan mendekat, lalu memeluk pinggang Celine. Ia tahu maksud Evan.

"Tidak perlu," tolak Celine cepat. Sayangnya Evan tidak membiarkannya. Ia sangat pandai membuat Celine menyerah. Evan sangat lihai memainkan perannya di atas tubuh Celine. Ia juga menikmati desahan dan erangan yang terdengar dari mulut Celine, hanya saja tatapannya seolah hanya memenuhi tuntutan nafsunya. Seperti sebuah rutinitas terencana dan harus dilakukan. Mereka tertidur setelahnya.

Keesokan harinya...

"Aku pergi dulu," ucap Evan sebelum masuk ke dalam mobil. Tidak ada sentuhan selamat tinggal, hanya sebuah senyuman yang dipaksakan. Celine membalas seperlunya. Ia memandang nanar kepergian Evan yang entah akan kembali kapan. Suaminya selalu seperti itu, datang dan pergi seenaknya. Saat ia berkata akan pergi lama, Celine tidak bisa menghitung berapa lamanya. Ia sudah terbiasa dengan itu. Ia akan bekerja agar mengurangi beban pikirannya.

Celine bekerja sebagai desainer grafis di sebuah perusahaan. Ia melakukan itu bukan karena kekurangan uang, hanya kebetulan ia berbakat di bidang itu dan menjadikannya sebagai pelarian dari rasa kesepiannya. Selain itu, agar kuliahnya selama empat tahun tidak terasa sia-sia.

"Celine, tolong buat flyer periklanan untuk proyek ini," ucap seseorang membuyarkan konsentrasinya. Ia menerima berkas yang disodorkan kepadanya.

"Baik," balasnya.

"Karyamu yang terbaik," pujinya sebelum meninggalkan Celine.

"Terima kasih!"

Ya, Celine yang terbaik saat membuat desain grafis. Idenya cemerlang dan desainnya selalu hidup, seperti kepribadiannya yang ceria. Tapi itu dulu. Sekarang ia hanya menuangkan semuanya ke dalam karyanya.

Dua bulan berlalu. Evan sudah pergi selama itu. Mereka tidak pernah benar-benar saling berhubungan. Mereka hanya berbicara sebentar dan mengabarkan hal-hal yang biasa, tidak sampai membuat hati Celine berbunga-bunga karena sebuah ucapan rindu atau sekadar sapaan layaknya suami yang sedang bepergian.

Hari ini, saat pulang kantor, ia menyaksikan hal yang paling menyakitkan di sepanjang pernikahannya. Evan sudah berada di rumah bersama seorang perempuan yang tengah duduk di atas kursi roda. Ia sangat cantik. Evan memandangnya penuh cinta.

"Celine!" seru Evan begitu melihatnya.

"Kapan kamu datang?" Celine membawa kakinya yang terasa berat untuk masuk. Ia tidak mau menyinggung tentang wanita itu.

"Tadi pagi," jawab Evan.

"Oh." Entah sejak kapan hubungan mereka sekaku ini. Semua karena Evan tidak pernah membalas perlakuan Celine.

"Kau tidak penasaran siapa dia?" tanya Evan. Ia menunjuk wanita yang sedang duduk di kursi roda. Wanita itu tidak berekspresi dan tatapannya kosong.

"Nanti saja, aku sedang lelah," Celine tidak mau memberi Evan kesempatan.

Celine tidak membiarkan pikiran apa pun hinggap di benaknya. Ia segera masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.

"Aku mau bicara." Ternyata Evan sudah menyambutnya saat keluar dari kamar mandi.

"Biarkan aku berpakaian dulu." Celine mencoba menghindar, tapi Evan sepertinya sudah terdesak untuk membahasnya. Tapi setelah melihat penampilan Celine yang hanya menggunakan handuk setinggi paha dengan bagian dada yang terbuka, ia urungkan niatnya sementara.

Entah kenapa ia merasa gugup. Apa karena ia tidak berhubungan selama dua bulan? Ia bisa saja melakukannya sekarang, tapi waktunya sedang tidak tepat.

"Berpakaianlah dulu," ucap Evan. Celine menurut.

Evan memandangi Celine yang sedang sibuk mengurus tubuhnya. Terbayang kembali bagaimana wajah ceria Celine saat ia datang melamar. Di awal pernikahan, wanita itu sangat aktif dan riang, namun perlahan ia berubah. Wajah ceria itu terlihat tertekan, tingkahnya juga menjadi lebih tenang.

"Kamu ingin bicara apa?" Celine berbalik dan berjalan ke arahnya. Evan buru-buru membuang muka ke samping.

"Apa kau tidak penasaran dengan perempuan yang bersamaku?" Lagi-lagi menanyakan itu.

"Katakan saja, tidak usah bertele-tele."

"Dia Jenny, dia adalah istriku," ucap Evan dengan entengnya.

Bagai petir yang menyambar di telinga Celine. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dadanya sakit dan sesak. Evan melirik untuk melihat keadaannya.

"Aku harus menjelaskannya, kau bukan satu-satunya istriku."

"Dan aku mencintainya."

Jadi perempuan itu yang mengisi hati Evan? Hancur luluh lantak sudah perasaan Celine. Ia tiba-tiba beku tak berdaya. Dua tahun menunggu kata itu keluar dari mulut Evan, tapi begitu keluar ternyata bukan untuk dirinya.

"Aku sudah lelah, Van," ucap Celine dengan tenggorokan yang terasa tercekat. Akhirnya ia menyerah. Ia beranjak dari duduknya, lalu pergi begitu saja.

"Kamu mau ke mana?!" Evan segera mengejarnya sambil terus menahannya.

"Aku belum selesai bicara," Evan sedikit putus asa menghentikannya.

"Masih ada yang harus aku katakan, kau pasti bisa mengerti." Evan masih berusaha, meski Celine sudah masuk ke dalam mobilnya. Celine tidak ingin banyak bicara, ia hanya ingin segera pergi. Marah dan mengamuk juga tidak ada gunanya, melakukannya hanya akan tampak sia-sia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Qiazaf
kasian Celine, huhu.
goodnovel comment avatar
Ara putri
wah ceritanya bagus banget. jika berkenan mampir juga keceritaku yuk kk. Terpaksa jadi pelakor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 78 Terlambat Menyadari (End)

    "Ya, kamu pantas menertawakan kebodohanku," Evan merasa kesal dengan dirinya yang dulu. "Semua sudah berlalu," Celine berucap sambil mendekati Evan. "Terima kasih," Evan menatapnya penuh perhatian. "Untuk?" "Untuk semuanya, kalau dipikir-pikir sebenarnya cintaku sangat besar untukmu," "Oh iya?" "Aku sudah ditahap hampir gila demi mempertahankan hubungan pernikahan yang kamu tidak inginkan lagi, sampai Danil yang jelas-jelas rival bisnisku, aku mintai tolong untuk mengawasimu dan sempat-sempatnya aku cemburu setiap kali kamu mengobrol dengannya," "Mengawasiku?" "Aku menjadi sepecundang itu karena cinta, aku takut kamu pergi jadi aku menyuruhnya memberimu pekerjaan agar kamu tetap berada di sekitarku," "Kamu yang melakukan itu?" "Iya," "Ternyata kamu berjuang untukku?" Celine merasa terharu. "Aku melakukannya meski kekanak-kanakan?" "Aku suka, tapi ini kesempatan yang paling terakhir." "Iya, aku janji tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan membuatmu bahagia set

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 77 Di Hatiku Cuma Kamu

    Evan dan Celine akhirnya pulang ke rumah, Evan terlihat begitu segar dan kembali mendapatkan aura berwibawa yang selalu menjadi ciri khasnya, sebelumnya ia seperti pria yang selalu takut kehilangan dan tidak pernah tenang. Sekarang apa lagi yang ia takutkan? Apa yang ia benar-benar inginkan sudah berada di tangannya, sementara Celine terkesan lebih pemalu dan mudah tersenyum tidak seperti sebelumnya, ia selalu memaksa dirinya untuk tegas dan terkesan dingin, ia sungguh memaksakan diri untuk menahan semua perasaannya. Bi Asih yang melihat keduanya datang bersama sambil bergandengan tangan sampai tersenyum-senyum sendiri, ia juga bisa menilai perubahan dari sikap dan ekspresi keduanya. "Ada apa ini?" goda Bi Asih. "Bi, bantu Celine mengangkat barang-barangnya ke kamar," ucap Evan, sebelumnya mereka sudah ke kos tempat tinggal Celine untuk mengambil barang-barang Celine, tentu saja setelah perdebatan panjang dan negosiasi yang tidak ada habisnya. "Bu Celine kembali tinggal di si

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 76 Celine Dian, Jadilah Istriku

    *Versi Revisi Good Novel - Bagian Lanjutan* "Kamu bisa menomorsatukan aku, Van?" Celine ingin meyakinkan dirinya. Evan meraih tangan Celine dan menggenggamnya untuk membuatnya yakin, kemudian ia mulai bercerita, "Sekarang di hatiku cuma kamu, Celine. Jenny sudah menjadi kenangan, Mita hanya kesalahan. Kamu yang memenuhi hatiku sekarang, misiku tentang cinta saat ini dan seterusnya cuma ingin denganmu, aku ingin membalas semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Oke dulu aku salah, dulu aku memanfaatkan perasaanmu, waktumu, tubuhmu bahkan menyebabkan anak kita meninggal, tolong biarkan aku memperbaikinya. Kalau perlu, kamu hukum aku, tapi jangan hukum aku dengan pergi meninggalkanku lagi, itu berat, rasanya sepi, saat Jenny pergi rasa sakit yang aku terima tidak begitu dalam, saat Mita mengatakan ingin ke luar negeri, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi saat kamu pergi, aku merasa sakit yang tidak bisa disembuhkan, aku merasa kosong sepanjang waktu, ternyata aku butuh

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 75 Pembuktian Cinta

    Evan tidak menghubungi Celine seharian, sepertinya Celine juga tidak berniat melakukannya. Evan sudah merasakan perpisahan berkali-kali tapi kenapa kali ini cukup menyiksanya, jadi ia datang ke kantor Siregar, alasannya sudah jelas. "Apa yang kalian bicarakan?" suara itu membuat Danil yang baru saja ingin berbalik pergi dan juga Celine menoleh. "Kami membicarakanmu," Danil berlalu sambil menepuk pundak Evan. Sementara Celine langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Evan tidak mengatakan apa pun, ia menarik sebuah kursi kosong lalu duduk di depan meja Celine sambil memperhatikannya. "Ayo pergi ke suatu tempat," "Aku sedang bekerja dan kamu seorang bos kamu tidak pantas duduk di sini," "Kalau Danil pantas?" "Dia bos aku, dia ke sini untuk bertanya pekerjaan dan dia tidak duduk sama sekali" "Aku tidak peduli, lagi pula aku sedang duduk di hadapan istriku." "Lakukan saja sesukamu, Evan." Celine tidak peduli lagi, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Evan memaju

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 74 Masuk Angin

    Evan sangat senang bisa mendampingi Celine pergi ke rumah sakit, berbanding terbalik dengan sebelumnya, kali ini ia tidak ingin melewatkan waktu sedetik pun, ia menanti di depan pintu kamar rumah sakit karena Celine melarangnya ikut masuk, refleks mendekati Celine saat melihatnya keluar bersama seorang dokter obgyn. "Bagaimana hasilnya?" Evan bertanya penuh harap. Celine diam saja dengan wajah tanpa ekspresi. "Bu Celine hanya masuk angin, Pak Evan." Evan tampak kecewa, ia lalu berkata, "Yakin sudah memeriksanya dengan baik, Dok?" "Sudah, Pak. Yang sabar ya, Pak. Masih banyak kesempatan kok, kebetulan Bu Celine sedang di masa suburnya, semangat Pak Evan!" ucap dokter. Celine tampak santai sementara Evan diam saja, ia tahu kesempatan itu pasti akan sulit ia dapatkan. "Mohon maaf masih ada pasien, saya lanjut bekerja dulu," "Silakan, Bu." ucap Celine lalu pergi mendahului Evan. Evan hanya memandangi punggung Celine yang semakin menjauh tapi ia segera menyusul dengan lang

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 73 Kemungkinan Hamil

    Evan terbangun karena merasakan pegal di punggungnya, ia mencoba membuka pintu kamar Celine yang ternyata tidak di kunci, ia memandang punggung istrinya beberapa saat, ia melangkah begitu saja seolah suasana di dalam kamar itu mengundangnya untuk masuk. Ia naik ke tempat tidur lalu meringkuk di atasnya tanpa berani menyentuh Celine. Ia selalu berhati-hati semenjak menyukai Celine, tapi Celine bergerak dan membalikkan badan ke arahnya, Evan secara tiba-tiba meluruskan tubuhnya untuk menyambut uluran tangan Celine yang akan memeluknya, selain tangan, kakinya juga bertengger nyaman di atas paha Evan, seluruh tubuh mereka menempel satu sama lain. Celine membuka mata sambil mengigau, "Kamu tampan sekali, Evan," ia menatap wajah Evan sebentar lalu menutup matanya kembali. "Kalau kamu begini, aku bisa memangsamu kapan saja," gumam Evan yang merasakan sensasi aneh di tubuhnya dan ia sangat mengerti apa itu. Ia mencoba menarik tubuhnya untuk melepaskan diri, untungnya ia berhasil. I

  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 71

    Evan benar-benar hebat, ia sangat mendominasi, Celine masih belum terlalu yakin bahwa ia menikahi laki-laki tampan yang sedang berbicara dan dikagumi oleh semua orang saat ini, ia belum percaya bahwa ia telah dicintai oleh orang yang tidak pernah membalas perasaannya saat kuliah dulu, ia tidak perca

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 72

    Evan menghampiri Celine setelah semua tamu penting itu pergi, dari tadi ia mengawasi Celine, seandainya istrinya itu meninggalkan acara, ia tidak segang meninggalkan semua tamu pentingnya untuk mengejar Celine, untungnya saat ia melihat gerak-gerik Celine akan kabur, ibunya datang. Ia benar-benar be

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 70

    Evan baru saja keluar dari toilet, ia melambat saat melihat Mita tampak menunggunya. Keduanya terlibat saling menatap satu sama lain, Evan menatap dingin sementara Mita tampak menantang untuk berperang. "Aku ingin bicara," ucap Mita. "Silahkan," "Ayo cari tempat sepi," "Baik," Evan berjalan men

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Antara Mencintai dan Melupakan   Bagian 25

    Celin kembali duduk di sofa sambil mengangkat kedua kakinya dan memeluk lututnya, ia tidak tau harus berbuat apa? Ia sudah sejauh ini melangkah tapi Evan tidak ingin berpisah. Perasaannya menjadi terombang-ambing. Evan di kamar menunggu Celin untuk datang, ia ingin meminta maaf karena tidak kembali

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status