Share

Bab 5

Author: Delf
last update publish date: 2026-04-09 21:11:28

“Oxymeter.” Vino segera menjepit alat tersebut ke jari Calvin begitu diterimanya dari Anna. “Sus, tolong siapkan tabung oksigen.”

Anna mengangguk dengan wajah panik dan segera menghubungi bagian persediaan alat rumah sakit. Kemudian dia menyerahkan jarum suntik yang telah berisi obat anti kejang pada Vino.

“Apa kita harus memberitahu keluarga pasien?” ucap seorang perawat. Biasanya di sore hari seperti ini, di saat Calvin sedang beristirahat, keluarganya keluar sebentar untuk makan malam, mengingat kondisi Calvin yang cukup stabil.

Vino hanya mengangguk sedikit dengan tetap fokus pada Calvin. “Biarkan Sus Anna yang menyampaikan pada keluarganya.”

“A.. aku tetap di sini.”  Anna menolak dengan tegas. Vino menoleh sekilas, dia bisa melihat wajah adiknya yang begitu khawatir. Vino kemudian menoleh ke perawat lainnya sambil mengangguk, menandakan bahwa perawat tersebut yang ditugaskan memberitau keluarga pasien.

“Di.. dia ga papa kan, Kak?” ucap Anna dengan suara tegang yang tidak dapat dia sembunyikan ketika sisa mereka berdua di dalam ruangan.

“Kemungkinan ada gangguan di sarafnya. Kita tunggu sampai saturasinya membaik.” Ucap Vino setelah selesai menyuntikkan obat anti kejang.

Anna mengangguk dan segera memasangkan masker oksigen pada Calvin ketika alat tersebut telah diterimanya, “Ayo, bertahanlah. Kamu pasti bisa.” Ucapnya parau.

Vino cukup terkejut, dia menatap adiknya yang nampak begitu khawatir. Vino tau bahwa Anna, walaupun tidak bercita-cita menjadi seorang perawat, mempunyai dedikasi yang sangat tinggi pada pekerjaannya. Dia sangat bertanggungjawab dalam setiap tugas, memperhatikan setiap pasien tanpa pandang bulu, karena memang pada dasarnya gadis itu memiliki hati yang baik. Tapi baru kali ini Vino melihat perhatian Anna bukan hanya sekedar tanggungjawabnya sebagai seorang perawat, namun lebih dari itu.

Vino mengelus pundak sepupunya, “Dia akan baik-baik saja. Kejangnya sudah mulai berhenti. Dan... saturasinya mulai meningkat.” Ucap Vino menenangkan Anna sambil mengecek oxymeter yang masih menempel di jari Calvin. Anna hanya mengangguk lemah, namun jantungnya tetap berdebar kencang.

“Dok, keluarga pasien tidak berhasil saya hubungi.” Perawat yang tadi bertugas keluar kembali masuk ke dalam ruangan.

“Tidak apa-apa, pasien sudah mulai membaik. Nanti tolong dikabari saja, mungkin bisa lewat chat atau sms. Setidaknya kita tetap mengabari mereka kondisi pasien.” Ucap Vino dan mendapat anggukan dari perawat tersebut.

“Oia dok, ada jadwal operasi sebentar lagi.” Lanjut perawat tadi.

Vino melihat pergelangan tangannya, ya dia ada jadwal operasi tiga puluh menit lagi. Vino menoleh kembali pada Calvin, ada rasa galau di wajah tampan dokter muda tersebut.

“Aku bisa menjaganya sementara.” Anna bersuara.

“Kamu..”

“Aku bisa, toh aku enggak ngapa-ngapain. Setidaknya sampai keluarganya kembali.” Ucap Anna meyakinkan Vino kembali.

Vino kembali menghela nafas berat. Sebenarnya dia tidak tega menugaskan Anna, karena dia tau Anna sebenarnya sudah cukup lelah bertugas dari pagi dan seharusnya jam jaganya sudah berakhir.

“Please, Kak...” ucapnya dengan wajah memohon, mengetahui keraguan sepupunya itu.

Vino akhirnya mengangguk, “Kamu selesaikan makananmu dulu. Aku akan menjaganya sementara.”

Anna mengangguk dengan penuh semangat dan segera berlari keluar ruangan. Vino menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang adik.

***

Anna menguap mencoba menahan kantuknya. Dia mencoba membaca novel yang belum selesai dibacanya, namun semakin dia membaca, semakin matanya ingin terpejam.

Saat ini dirinya berada di dalam ruangan Calvin. Keluarga Calvin sudah berhasil dihubungi dan sudah sempat menjenguk. Namun melihat kondisi kedua orangtuanya yang kelelahan menjaga Calvin dalam beberapa hari ini, membuat Anna menawarkan diri untuk menjaga Calvin, agar orangtua Calvin bisa berisrirahat sementara waktu. Toh keadaan sudah stabil. 

Anna kemudian meletakkan novelnya kembali ke atas meja, dan mengambil buku sketsa dari dalam tasnya, mencoba menyalurkan hobbynya yang sudah lama tertunda. Gadis itu kemudian memainkan pensilnya di atas kertas sketsa, memikirkan gambar yang akan dibuatnya. Lama terdiam, akhirnya Anna memilih untuk menggambar sepasang angsa di sebuah danau yang indah.

Walau tangannya sudah tidak selentur dulu dalam menggambar, namun Anna cukup puas dengan hasil karyanya. “Ga jelek-jelek amat ternyata.” Ucapnya pada diri sendiri sambil memandang hasil gambarnya sambil tersenyum.

Sketsa gambar itu kemudian diletakkannya di atas meja, kali ini dia sudah tidak mampu menahan rasa kantuknya. Dengan sekuat tenaga, Anna kembali mengecek suhu tubuh, tensi darah, denyut jantung, dan juga saturasi Calvin. Ketika semua dirasa cukup stabil, Anna akhirnya tertidur di samping ranjang Calvin.

***

Pagi menyapa dan Calvin yang karena efek obat membuatnya terlelap sepanjang malam hingga pagi akhirnya terbangun juga. Ada rasa kram di sebelah tangan kanannya seperti tertindih oleh sesuatu yang terasa berat.

Pria tampan itu membuka matanya dan hampir saja berteriak karena terkejut melihat bulatan berbulu menindih tangannya. Untung saja dia segera sadar bahwa itu adalah sebuah kepala yang menindih tangannya.

Calvin mengerjapkan matanya, mengamati sosok yang tidur di tepi ranjangnya. Suster Anna? Gadis itu begitu lelap tertidur, bahkan tidak menyadari bahwa pasien yang ditungguinya bahkan sudah bangun.

Calvin tersenyum mengamati wajah polos Anna yang sedang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka. Hampir saja Calvin tertawa memandang wajah polos itu. Dengan jailnya, Calvin kemudian mengambil handphonenya yang terletak di samping tempat tidurnya, kemudian mengabadikan moment langka itu yang kemudian mengisi galeri foto di handphonenya. Calvin pun menyeringai puas melihat hasil tangkapan layarnya.

Merasakan sedikit getaran, Anna pun akhirnya terbangun dan seketika terkesiap ketika menyadari posisi tidurnya dan bahkan tertangkap langsung oleh Calvin.

“Ma.. maaf.. Pak Calvin.” Ucap gadis itu canggung sambil memperbaiki rambut dan juga pakaiannya agar kembali rapi.

Calvin menahan tawa sambil tangan kirinya menunjuk sudut bibirnya, memberi kode pada Anna.

“A.. apa?” Anna kebingungan.

“Ada iler di sini.” Ucap Calvin kemudian sambil menyerahkan selembar tisu, membuat wajah Anna memerah. Anna bukannya mengambil tisu tersebut dan mengelap sudut bibirnya, namun gadis manis itu langsung lari keluar ruangan dengan rasa malu yang teramat sangat.

Calvin terbahak melihat tingkah laku menggemaskan perawatnya. Usai pintu ruangannya tertutup, Calvin kemudian mengalihkan pandangannya pada meja di samping tempat tidurnya. Rupanya sang perawat karena saking malunya, melupakan dan meninggalkan barang-barangnya.

Calvin menatap sekilas kemudian mengambil buku sketsa yang tergeletak terbuka di atas meja. Di amatinya gambar itu dengan seksama, kemudian tersenyum, "Punya bakat lain rupanya, bagus juga."

Sementara Anna berlari ke arah toilet, mengabaikan semua sapaan dari rekan-rekan kerjanya.

“Sial!!” makinya ketika berada di depan cermin toilet rumah sakit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
wah seru nih ke lanjutannya..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Antidote   Bab 57

    “Kamu pakai jas aja.” ucap Calvin akhirnya.Anna mengerutkan keningnya merasa bingung karena seharusnya dia tidak perlu lagi memakai jas karena dia sudah berganti pakaian kering.“Dada kamu kelihatan karena kamu tidak pakai bra.” Ucap Calvin terus terang. Lebih baik dia langsung jujur daripada berbelit-belit, karena dia tidak mampu menahan rasa nyeri yang mulai terasa di bawah tubuhnya.Mata Anna terbelalak karena kaget dan melihat ke arah dadanya. Wajahnya berubah merah padam dan segera memakai jas tersebut dan mengancingnya. “Ma.. maaf saya..”“Aku yang minta maaf hanya bisa meminjamkan baju, karena aku tidak punya pakaian wanita.” Kekeh Calvin bernafas cukup lega setelah Anna mengancing jasnya. “Kamu kenapa hujan-hujanan ke sini?”“Saya ingin bertemu kamu.”Calvin menyenderkan tubuhnya di sofa, “Anna, aku minta maaf, jika kamu ingin aku membantumu seperti kemarin, jawabanku masih sama. Aku tidak bisa,”Anna menggeleng, “Saya hanya butuh teman bicara.”Calvin menarik nafas panjang,

  • Antidote   Bab 56

    Di luar hujan dan Anna datang dengan pakaian basah kuyup dan juga wajah penuh air mata. Calvin segera melepas jas yang dipakainya lalu menyampirkannya pada bahu Anna. Selain karena takut Anna terkena flu, pria itu juga cukup risih melihat pemandangan di hadapannya. Anna mengenakan kemeja putih yang mencetak jelas branya yang berwarna merah. Calvin sempat menelan salivanya melihat cetakan dada yang cukup besar di balik kemeja basah itu. Bagaimanapun Calvin tetaplah seorang pria normal. Astaga, apakah Pak Ilham juga melihatnya? Pantas saja Pak Ilham sedikit grogi ketika tadi ke ruangannya.Calvin memandang gadis yang sekarang duduk di sampingnya masih terisak. Jika itu Olivia, Calvin tentu langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Namun ini Gianna, Calvin tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi Gianna sudah mempunyai tunangan dan mereka memang tidak memiliki hubungan apapun selain pasien dan perawat.“Ini..” Calvin menyerahkan selembar tisu pada Anna. Gadis ini menerimanya

  • Antidote   Bab 55

    Calvin terdiam mendengar ucapan Steffany. Sepupunya yang satu ini memang Calvin akui sangat cerdik. Dia sepertinya sangat menguasai ilmu psikologi, hingga tau bagaimana teknik memancing dengan membuat hati seseorang melambung tinggi seolah mendapatkan harapan baru, namun kemudian memberitahu bahwa harapan itu tidak mudah digapai karena ada halangan berat lainnya. Calvin ingin mengumpat dalam hati namun tidak dia lakukan. Pantas saja Steffany dengan sangat mudahnya menggonta-ganti pasangan.“Hallo, Vin.. Are you still there?” suara Steffany kembali terdengar setelah sekian detik Calvin tidak bersuara.“Ah ya, sori tadi ada karyawan yang masuk minta tandatangan.” Ucapnya berbohong. “Ivan mau balik? Bagus dong sebelum dia berniat mengganti kewarganegaraannya.” Lanjut Calvin terkekeh menutupi rasa canggungnya.Steffany terkekeh, “Itu yang aku takutkan.”“Dia kesambet apa tiba-tiba mau pulang?”“Mungkin mau cari jodoh.”“Loh, kita nggak jadi punya ipar bule dong?” pancing Calvin.Steffany

  • Antidote   Bab 54

    “Liv, Dariel di mana?”Olivia meletakkan laptopnya kembali ke meja ketika melihat Calvin kembali muncul di rumahnya. “Baru aja tidur, kayaknya kelelahan, tapi dia senang banget main sama kamu. Aku pikir kamu nggak jadi balik ke sini.”“Aku uda janji balik, so aku akan balik. Tadi aku ngobrol bentar dengan Anna. Jadi agak lama.” Calvin tersenyum kemudian duduk di sofa samping Olivia.Olivia tersenyum, “Anna gadis yang baik.”Calvin tersenyum simpul, “Ya dia baik, perhatian, dan..”“Cantik.” Lanjut Olivia dengan senyum menggoda Calvin, membuat pria tersebut salah tingkah.“Ya, harus aku akui, dia cantik.”Olivia tertawa renyah, “So.. aku rasa ini akhir penantianmu.”Calvin terdiam menatap dalam Olivia, “Bagaimana menurutmu?”“Aku rasa Anna mencintaimu dengan tulus. Semangatnya melebihi dokter untuk melihatmu sembuh. Bahkan dia yang bekerja keras mencarikanmu donor sumsum.” Ucap Olivia sambil menepuk-nepuk pundak Calvin.Calvin menghela nafas panjang, “I know. Tapi rasanya aneh ketika ha

  • Antidote   Bab 53

    Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t

  • Antidote   Bab 52

    Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status