LOGIN“Besok aku berangkat.” Ucap seorang pria pada Calvin ketika Anna membuka pintu kamar Calvin.
“Ma.. maaf..” ucap Anna sungkan.
“Enggak apa-apa kok, Sus. Jadwal minum obat ya?” tanya pria tampan tersebut ramah.
Anna mengangguk, “Sekalian mau ganti infus.”
“Kenapa tiba-tiba berangkat?” tanya Calvin pada pria tersebut dengan wajah mengkerut, tanpa mempedulikan kehadiran Anna.
“Aku mengambil beasiswa di Swiss.” Jawab pria itu ringan.
“Secepat itu? Padahal aku sangat senang kamu di sini.” Ucap Calvin dengan raut wajah kecewa.
Pria tersebut tersenyum, “Aku pasti kembali. Toh ada Steffany dan Olivia, kamu pasti enggak akan kesepian.”
Anna yang mau tak mau ikut mendengar percakapan mereka, mengerutkan keningnya. Dua wanita disebutkan sekaligus, astaga...
“Aku hanya bosan menjadi yang paling ganteng di antara mereka berdua.” Jawab Calvin asal sambil menggidikkan bahunya.
Anna yang sedang mengganti infus ikut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan pasiennya yang ganteng tersebut.
“I know. Tapi aku juga tidak tega melihatmu kalah bersaing melawan ketampanan seorang Ivander Elio jika aku tetap berada di sini.” balas pria tadi.
“Ck.. kamu terlalu percaya diri.”
“Aku bicara fakta.”
“Belum ada bukti.”
Anna menyemburkan tawanya, tidak tahan mendengar percakapan dua pemuda tampan yang sangat absurd itu. “Ma.. maaf.” Ucapnya sambil menutup mulutnya ketika mendapatkan tatapan dari dua pasang mata yang meliriknya tajam.
“Menurut Sus Anna, lebih tampan aku atau dia?” tanya Calvin, membuat Anna gelagapan.
Ivan terkekeh melihat wajah pucat Anna, “Jangan digoda susternya, takutnya jadi salah tusuk.” Goda Ivan yang membuat wajah Anna semakin merah padam.
***
Sudah hampir satu minggu Calvin berada di rumah sakit untuk menjalani beberapa terapi sambil menunggu donor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya, walau rasanya seperti menunggu keajaiban.
Selama itu juga dia terus menghindari pesan singkat dan telpon dari gadis yang dicintainya sejak dulu, Olivia Cristy.
“Sampai kapan kamu mau menghindari Olivia?” ucap Steffany yang sibuk mengupas apel.
Calvin menghembuskan nafas berat, “Aku belum siap.”
“Mungkin jika Olivia tau...”
“Justru itu yang aku hindari. Aku tidak mau dia menerimaku hanya karena umurku sudah tidak panjang lagi.”
“Sssttt... jangan berbicara seperti itu!” Ucap gadis cantik itu sambil menyerahkan sepotong apel yang telah dikupasnya. “Bagaimana pun Olivia harus tau.”
Hembusan nafas berat kembali terdengar, “Aku pengen dicintai dengan tulus, bukan karena rasa kasihan.”
Steffany tersenyum, tanpa tau harus berkata apa. “Aku capek berbohong terus padanya.”
“Kamu bilang saja kalau kamu juga susah menghubungiku.”
“Susah menghubungi kan tidak berarti hilang begitu saja, Vin. Setidaknya kamu balas pesannya. Kasihan dia juga khawatir sama kamu, nanya-nanya aku terus.”
“Aku akan membalas pesannya nanti. Ivan kenapa tiba-tiba pergi?” Calvin mengalihkan pembicaraan.
Steffany terdiam dan kemudian menggedikkan bahunya, “Kak Ivan ambil beasiswa di Swiss.”
“I know, tapi tidak seperti biasanya dia pergi mendadak. Dia selalu merencanakan dengan matang segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan. Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” sebelah alis Calvin terangkat penuh selidik.
Wajah Steffany sedikit pucat, namun kemudian dia tersenyum untuk menutupi kegugupannya. “Kak Ivan... dia balikan dengan Kak Callista.”
“Balikan dengan Callista? Tapi dia bilang ke aku kalau dia tidak cinta sama Lista.” Calvin sedikit heran.
“Ya.. cinta kan susah ditebak.” Ucap gadis cantik itu sambil menggigit apel di tangannya. “Mau enggak? Manis loh apelnya.” Ucap Steffany berusaha mengalihkan pembicaraan.
Calvin mengangguk sambil menerima apel tersebut, namun di benaknya masih ada sejuta pertanyaan yang belum puas atas jawaban Steffany.
***
“Semua sudah kembali normal, obatnya tetap dilanjutkan. Makanan tetap dijaga, tidak ada pantangan tapi kurangi makan gorengan. Untuk sementara jangan melakukan kegiatan yang berat dulu."
"Kalau berhubungan seks, dok?" ucap Calvin tersenyum jail dan membuat Steffany tersedak jus jeruknya, hingga memerlukan bantuan Anna untuk menepuk-nepuk punggungnya. Anna pun sama terkejutnya dengan pertanyaan Calvin yang di luar dugaan. Tidak tau malu!
Vino terkekeh mendengar pertanyaan itu, entah Calvin bertanya serius atau bercanda, dia tetap harus menjawab. "Olahraga ringan boleh saja, asal jangan sampai kelelahan." ucapnya tersenyum. "Dan.. siang nanti sudah boleh pulang. Nanti kita akan kabari jika sudah ada pendonor yang cocok.” Lanjut Vino sambil menatap catatan medis yang ada di tangannya.
“Terima kasih, dok.” Calvin tersenyum. Akhirnya setelah seminggu lebih dirinya harus merasakan kebosanan di rumah sakit, akhirnya dia bisa pulang juga. Tapi terutama dia sangat merindukan Olivia. Baginya senyum Olivia adalah obat termanjur dan alasan terkuat membuatnya tetap bertahan.
“Tiap minggu saya jadwalkan untuk tetap terapi dan cek darah ya. Tetap harus dalam pemantauan.” Lanjut Vino sebelum keluar ruangan.
“Siap dok.”
Vino tersenyum, “Terutama.. hindari stres. Pikirkan dan lakukan hal yang menyenangkan saja.”
“Terima kasih banyak, dok.” Jawab Calvin. Kemudian Vino permisi dan keluar ruangan.
“Pfiuuh akhirnya pulang juga. Aku tidak harus berbohong pada Olivia lagi.” Ucap Steffany sambil membantu Calvin membereskan barang ke dalam tas ranselnya.
“Thanks, Stef. Aku berutang sama kamu.”
“Eits, bukan berutang, tapi berutang banyak.” Gerutu Steffany dan disambut tawa Calvin.
Anna yang selama seminggu lebih merawat Calvin mulai terbiasa dengan candaan absurd di ruangan itu, membuatnya ikut tersenyum.
“Pak Calvin, ini obat yang harus diminum. Semua sudah ditulis untuk dosis penggunaannya, dan juga setiap hari Senin bapak dijadwalkan untuk datang kontrol.”
Calvin mengangguk, “Terima kasih, Sus.” Jawab pria tersebut sambil tersenyum tulus.
Namun tiba-tiba pintu ruangan Calvin terbuka tanpa ketukan. Calvin dan Steffany sangat terkejut manakala melihat sosok yang muncul dari balik pintu tersebut.
“Olivia?”
“Kamu pakai jas aja.” ucap Calvin akhirnya.Anna mengerutkan keningnya merasa bingung karena seharusnya dia tidak perlu lagi memakai jas karena dia sudah berganti pakaian kering.“Dada kamu kelihatan karena kamu tidak pakai bra.” Ucap Calvin terus terang. Lebih baik dia langsung jujur daripada berbelit-belit, karena dia tidak mampu menahan rasa nyeri yang mulai terasa di bawah tubuhnya.Mata Anna terbelalak karena kaget dan melihat ke arah dadanya. Wajahnya berubah merah padam dan segera memakai jas tersebut dan mengancingnya. “Ma.. maaf saya..”“Aku yang minta maaf hanya bisa meminjamkan baju, karena aku tidak punya pakaian wanita.” Kekeh Calvin bernafas cukup lega setelah Anna mengancing jasnya. “Kamu kenapa hujan-hujanan ke sini?”“Saya ingin bertemu kamu.”Calvin menyenderkan tubuhnya di sofa, “Anna, aku minta maaf, jika kamu ingin aku membantumu seperti kemarin, jawabanku masih sama. Aku tidak bisa,”Anna menggeleng, “Saya hanya butuh teman bicara.”Calvin menarik nafas panjang,
Di luar hujan dan Anna datang dengan pakaian basah kuyup dan juga wajah penuh air mata. Calvin segera melepas jas yang dipakainya lalu menyampirkannya pada bahu Anna. Selain karena takut Anna terkena flu, pria itu juga cukup risih melihat pemandangan di hadapannya. Anna mengenakan kemeja putih yang mencetak jelas branya yang berwarna merah. Calvin sempat menelan salivanya melihat cetakan dada yang cukup besar di balik kemeja basah itu. Bagaimanapun Calvin tetaplah seorang pria normal. Astaga, apakah Pak Ilham juga melihatnya? Pantas saja Pak Ilham sedikit grogi ketika tadi ke ruangannya.Calvin memandang gadis yang sekarang duduk di sampingnya masih terisak. Jika itu Olivia, Calvin tentu langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Namun ini Gianna, Calvin tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi Gianna sudah mempunyai tunangan dan mereka memang tidak memiliki hubungan apapun selain pasien dan perawat.“Ini..” Calvin menyerahkan selembar tisu pada Anna. Gadis ini menerimanya
Calvin terdiam mendengar ucapan Steffany. Sepupunya yang satu ini memang Calvin akui sangat cerdik. Dia sepertinya sangat menguasai ilmu psikologi, hingga tau bagaimana teknik memancing dengan membuat hati seseorang melambung tinggi seolah mendapatkan harapan baru, namun kemudian memberitahu bahwa harapan itu tidak mudah digapai karena ada halangan berat lainnya. Calvin ingin mengumpat dalam hati namun tidak dia lakukan. Pantas saja Steffany dengan sangat mudahnya menggonta-ganti pasangan.“Hallo, Vin.. Are you still there?” suara Steffany kembali terdengar setelah sekian detik Calvin tidak bersuara.“Ah ya, sori tadi ada karyawan yang masuk minta tandatangan.” Ucapnya berbohong. “Ivan mau balik? Bagus dong sebelum dia berniat mengganti kewarganegaraannya.” Lanjut Calvin terkekeh menutupi rasa canggungnya.Steffany terkekeh, “Itu yang aku takutkan.”“Dia kesambet apa tiba-tiba mau pulang?”“Mungkin mau cari jodoh.”“Loh, kita nggak jadi punya ipar bule dong?” pancing Calvin.Steffany
“Liv, Dariel di mana?”Olivia meletakkan laptopnya kembali ke meja ketika melihat Calvin kembali muncul di rumahnya. “Baru aja tidur, kayaknya kelelahan, tapi dia senang banget main sama kamu. Aku pikir kamu nggak jadi balik ke sini.”“Aku uda janji balik, so aku akan balik. Tadi aku ngobrol bentar dengan Anna. Jadi agak lama.” Calvin tersenyum kemudian duduk di sofa samping Olivia.Olivia tersenyum, “Anna gadis yang baik.”Calvin tersenyum simpul, “Ya dia baik, perhatian, dan..”“Cantik.” Lanjut Olivia dengan senyum menggoda Calvin, membuat pria tersebut salah tingkah.“Ya, harus aku akui, dia cantik.”Olivia tertawa renyah, “So.. aku rasa ini akhir penantianmu.”Calvin terdiam menatap dalam Olivia, “Bagaimana menurutmu?”“Aku rasa Anna mencintaimu dengan tulus. Semangatnya melebihi dokter untuk melihatmu sembuh. Bahkan dia yang bekerja keras mencarikanmu donor sumsum.” Ucap Olivia sambil menepuk-nepuk pundak Calvin.Calvin menghela nafas panjang, “I know. Tapi rasanya aneh ketika ha
Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t
Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h







