Share

Bab 6

Author: Delf
last update publish date: 2026-04-09 21:46:35

“Besok aku berangkat.” Ucap seorang pria pada Calvin ketika Anna membuka pintu kamar Calvin.

“Ma.. maaf..” ucap Anna sungkan.

“Enggak apa-apa kok, Sus. Jadwal minum obat ya?” tanya pria tampan tersebut ramah.

Anna mengangguk, “Sekalian mau ganti infus.”

“Kenapa tiba-tiba berangkat?” tanya Calvin pada pria tersebut dengan wajah mengkerut, tanpa mempedulikan kehadiran Anna.

“Aku mengambil beasiswa di Swiss.” Jawab pria itu ringan.

“Secepat itu? Padahal aku sangat senang kamu di sini.” Ucap Calvin dengan raut wajah kecewa.

Pria tersebut tersenyum, “Aku pasti kembali. Toh ada Steffany dan Olivia, kamu pasti enggak akan kesepian.”

Anna yang mau tak mau ikut mendengar percakapan mereka, mengerutkan keningnya. Dua wanita disebutkan sekaligus, astaga...

“Aku hanya bosan menjadi yang paling ganteng di antara mereka berdua.” Jawab Calvin asal sambil menggidikkan bahunya.

Anna yang sedang mengganti infus ikut tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan pasiennya yang ganteng tersebut.

“I know. Tapi aku juga tidak tega melihatmu kalah bersaing melawan ketampanan seorang Ivander Elio jika aku tetap berada di sini.” balas pria tadi.

“Ck.. kamu terlalu percaya diri.”

“Aku bicara fakta.”

“Belum ada bukti.”

Anna menyemburkan tawanya, tidak tahan mendengar percakapan dua pemuda tampan yang sangat absurd itu. “Ma.. maaf.” Ucapnya sambil menutup mulutnya ketika mendapatkan tatapan dari dua pasang mata yang meliriknya tajam.

“Menurut Sus Anna, lebih tampan aku atau dia?” tanya Calvin, membuat Anna gelagapan.

Ivan terkekeh melihat wajah pucat Anna, “Jangan digoda susternya, takutnya jadi salah tusuk.” Goda Ivan yang membuat wajah Anna semakin merah padam.

***

Sudah hampir satu minggu Calvin berada di rumah sakit untuk menjalani beberapa terapi sambil menunggu donor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya, walau rasanya seperti menunggu keajaiban.

Selama itu juga dia terus menghindari pesan singkat dan telpon dari gadis yang dicintainya sejak dulu, Olivia Cristy.

“Sampai kapan kamu mau menghindari Olivia?” ucap Steffany yang sibuk mengupas apel.

Calvin menghembuskan nafas berat, “Aku belum siap.”

“Mungkin jika Olivia tau...”

“Justru itu yang aku hindari. Aku tidak mau dia menerimaku hanya karena umurku sudah tidak panjang lagi.”

“Sssttt... jangan berbicara seperti itu!” Ucap gadis cantik itu sambil menyerahkan sepotong apel yang telah dikupasnya. “Bagaimana pun Olivia harus tau.”

Hembusan nafas berat kembali terdengar, “Aku pengen dicintai dengan tulus, bukan karena rasa kasihan.”

Steffany tersenyum, tanpa tau harus berkata apa. “Aku capek berbohong terus padanya.”

“Kamu bilang saja kalau kamu juga susah menghubungiku.”

“Susah menghubungi kan tidak berarti hilang begitu saja, Vin. Setidaknya kamu balas pesannya. Kasihan dia juga khawatir sama kamu, nanya-nanya aku terus.”

“Aku akan membalas pesannya nanti. Ivan kenapa tiba-tiba pergi?” Calvin mengalihkan pembicaraan.

Steffany terdiam dan kemudian menggedikkan bahunya, “Kak Ivan ambil beasiswa di Swiss.”

“I know, tapi tidak seperti biasanya dia pergi mendadak. Dia selalu merencanakan dengan matang segala sesuatunya sebelum mengambil keputusan. Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” sebelah alis Calvin terangkat penuh selidik.

Wajah Steffany sedikit pucat, namun kemudian dia tersenyum untuk menutupi kegugupannya. “Kak Ivan... dia balikan dengan Kak Callista.”

“Balikan dengan Callista? Tapi dia bilang ke aku kalau dia tidak cinta sama Lista.” Calvin sedikit heran.

“Ya.. cinta kan susah ditebak.” Ucap gadis cantik itu sambil menggigit apel di tangannya. “Mau enggak? Manis loh apelnya.” Ucap Steffany berusaha mengalihkan pembicaraan.

Calvin mengangguk sambil menerima apel tersebut, namun di benaknya masih ada sejuta pertanyaan yang belum puas atas jawaban Steffany.

***

“Semua sudah kembali normal, obatnya tetap dilanjutkan. Makanan tetap dijaga, tidak ada pantangan tapi kurangi makan gorengan. Untuk sementara jangan melakukan kegiatan yang berat dulu."

"Kalau berhubungan seks, dok?" ucap Calvin tersenyum jail dan membuat Steffany tersedak jus jeruknya, hingga memerlukan bantuan Anna untuk menepuk-nepuk punggungnya. Anna pun sama terkejutnya dengan pertanyaan Calvin yang di luar dugaan. Tidak tau malu!

Vino terkekeh mendengar pertanyaan itu, entah Calvin bertanya serius atau bercanda, dia tetap harus menjawab. "Olahraga ringan boleh saja, asal jangan sampai kelelahan." ucapnya tersenyum. "Dan.. siang nanti sudah boleh pulang. Nanti kita akan kabari jika sudah ada pendonor yang cocok.” Lanjut Vino sambil menatap catatan medis yang ada di tangannya.

“Terima kasih, dok.” Calvin tersenyum. Akhirnya setelah seminggu lebih dirinya harus merasakan kebosanan di rumah sakit, akhirnya dia bisa pulang juga. Tapi terutama dia sangat merindukan Olivia. Baginya senyum Olivia adalah obat termanjur dan alasan terkuat membuatnya tetap bertahan.

“Tiap minggu saya jadwalkan untuk tetap terapi dan cek darah ya. Tetap harus dalam pemantauan.” Lanjut Vino sebelum keluar ruangan.

“Siap dok.”

Vino tersenyum, “Terutama.. hindari stres. Pikirkan dan lakukan hal yang menyenangkan saja.”

“Terima kasih banyak, dok.” Jawab Calvin. Kemudian Vino permisi dan keluar ruangan.

“Pfiuuh akhirnya pulang juga. Aku tidak harus berbohong pada Olivia lagi.” Ucap Steffany sambil membantu Calvin membereskan barang ke dalam tas ranselnya.

“Thanks, Stef. Aku berutang sama kamu.”

“Eits, bukan berutang, tapi berutang banyak.” Gerutu Steffany dan disambut tawa Calvin.

Anna yang selama seminggu lebih merawat Calvin mulai terbiasa dengan candaan absurd di ruangan itu, membuatnya ikut tersenyum.

“Pak Calvin, ini obat yang harus diminum. Semua sudah ditulis untuk dosis penggunaannya, dan juga setiap hari Senin bapak dijadwalkan untuk datang kontrol.”

Calvin mengangguk, “Terima kasih, Sus.” Jawab pria tersebut sambil tersenyum tulus.

Namun tiba-tiba pintu ruangan Calvin terbuka tanpa ketukan. Calvin dan Steffany sangat terkejut manakala melihat sosok yang muncul dari balik pintu tersebut.

“Olivia?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antidote   Bab 152 (Ending)

    “Itu bibir disengat tawon apa dihisap calon suami? Ganas banget ampe bengkak begitu.” Goda Feny ketika melihat Anna yang masuk ke dalam ruang istirahat perawat.Anna dengan panik langsung mengambil cermin kecil di tasnya dan mengarahkannya ke wajahnya. Feny tertawa terbahak melihat kepanikan Anna. Anna mengerucutkan bibirnya, dalam hati dia merutuki Calvin yang memang tidak henti-hentinya mencumbu dirinya. Untung saja dia sudah mewanti-wanti pria itu untuk tidak melakukannya di lehernya karena bisa dipastikan dia akan menjadi bulan-bulanan Feny dan teman-teman lainnya.“Ck.. aku masih menuntut penjelasan loh.” Ucap Anna sinis mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membuat secangkir cappucino untuknya.Ya bukan hanya keluarga Calvin, keluarganya, Victor, dan Vika yang hadir dalam acara kemarin di sana, tapi juga Feny yang tiba-tiba muncul dengan senyum sumringah di hadapannya.Feny terkekeh sambil menyesap kopinya, “Iya, aku ngaku. Soal hasil lab itu memang udah direncanakan.”Anna men

  • Antidote   Bab 151

    “It’s okay...”“Gimana aku bisa menerima lamaranmu jika kamu tidak memberiku cincin?” ucap Anna sebelum Calvin melanjutkan ucapannya.Mata Calvin terbelalak dan segera melirik ke arah Ivan. Ivan yang sadar segera menurunkan Dariel dari gendongannya dan bocah tampan tersebut berlari ke arah Calvin sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.“Om.. maaf Dariel lupa.” Ucapnya polos dan disambut gelak tawa yang lain.“Jadi?” Calvin segera membuka kotak itu dan menunjukkannya pada Anna, “Will you be my soulmate?”Anna mengarahkan tangannya ke Calvin, “Kenapa baru sekarang? Yes I do.” Ucap Anna dan kemudian mendapat sorakan dan tepukan tangan dari semua orang yang hadir di sana. Calvin segera memasangkan cincin bertahta berlian ke jari manis Anna dan memeluk gadis itu dengan erat, bahkan saking senangnya Calvin menggendong Anna sambil berputar membuat Anna berteriak ketakutan dan kedua orangtua mereka menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak mereka yang dimabuk asmara.Satu per

  • Antidote   Bab 150

    Calvin menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya dam seketika gadis itu menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Calvin menghela nafas panjang, sedikit menyesal membuat Anna sedih namun setidaknya dia kini tau bahwa Anna memang menaruh hati padanya.“Maaf...” hanya kata itu yang mampu diucapkan oleh Calvin.Anna tidak menjawab namun tangisnya masih pecah di dalam pelukan Calvin. Calvin semakin mengeratkan pelukannya dan membelai lembut punggung gadis itu.Pelukan itu pada akhirnya terlepas ketika handphone Anna kembali berdering, Anna bahkan lupa kalau dia menyuruh Victor menunggunya.“Ha.. halo Kak, maaf aku..” Anna mencoba menstabilkan suaranya dan menghapus air matanya.“Na, aku tunggu kamu di rooftop ya.”“Rooftop?”“Iya, tadi aku nunggu kamu di lobby dan kata petugas di sini ada rooftop. Bagus deh viewnya. Kamu ke atas ya, aku tunggu.” Ucap Victor dan menutup sambungan telpon itu.Anna masih bergeming memandang handphonenya, rasa bingung mendera dirinya.“Kenapa, Na?”“Kak Victor,

  • Antidote   Bab 149

    Sebuah gambar karikatur sepasang angsa yang sedang berenang. Walau Anna tau gambarnya tidak sebagus gambar yang dilihatnya sekarang, namun gadis itu tau bahwa gambar ini terinspirasi dari gambar yang pernah dibuatnya dulu saat.. astaga Calvin menggambar ulang sketsa yang pernah dibuatnya ketika dia tidur dengan menghasilkan cairan bernama iler, toh tercetak jelas di bawah gambar itu nama Calvin dan tulisan inspired by suster cantik. Wajah Anna seketika memerah hanya membaca tulisan Calvin yang menyebutnya suster cantik.Anna kemudian beralih ke lembaran kedua di mana tulisan tangan Calvin memenuhi seluruh isi surat tersebut.Hai kamu yang sedang membaca suratku,Aku tau mungkin aku terlalu pengecut hanya berani menulis surat tanpa mengungkapkannya langsung padamu. Tapi percayalah, sudah lama ingin aku ungkapkan namun begitu sulit ketika harus menatap wajahmu.Pertemuan kita memang tidak pernah terduga. Jujur saat itu dalam benakku hanya mujizat yang mampu membuatku bertahan, rasanya se

  • Antidote   Bab 148

    Detik itu juga Victor langsung menoleh pada Anna, “Kenapa?”Anna menggigit bibir bawahnya, dia tau bahwa tindakannya ini akan membuat Victor kecewa, atau bahkan marah. Tapi Anna tidak bisa membohongi hati nuraninya bahwa bagaimanapun dia mengkhawatirkan Calvin.“Hmm.. tadi Steffany telpon dan.. katanya Calvin tidak bisa dihubungi dari kemarin.”“Lalu?”“Aku.. pengen ngecek ke apartemennya. Siapa tau dia ada di sana.” Ucap Anna pelan.“Ya udah kalau gitu kita ke sana aja.” Jawab Victor enteng.Anna membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pria yang sedang duduk di sebelahnya. Anna cukup tau bagaimana emosi Victor yang sering meledak jika ada yang menyentil egonya.“Kak Victor mau ngantar aku ke apartemen Calvin?” tanya Anna memastikan.“Iya, kita ke sana aja daripada kamu khawatir.”“Tapi.. aku bisa sendiri Kak naik taksi.”“Aku yang khawatir kalau kamu sendirian malam-malam gini naik taksi, pakaianmu cukup terbuka, Na.”Benar yang dikatakan Victor, “

  • Antidote   Bab 147

    “Papa dan Mama mau ke mana?” Anna terkejut ketka membuka pintu rumah dan mendapati kedua orangtuanya sudah berpakaian rapi bahkan mamanya bisa dikatakan sudah dandan maksimal layaknya orang-orang yang mau ke kondangan.Cecilia berdehem, “Ada kondangan.”“Siapa yang nikah?” Anna mengerutkan keningnya karena seingatnya dia tidak melihat ada penampakan kartu undangan dalam minggu ini, yang biasanya sang mama akan menunjukkan pada dirinya.“Bukan nikah, lagi reuni aja sama teman SMA.” Jawab Adrian.“Oh. Ih mama ganjen banget reuni aja sampai dandan cantik gini.” Goda Anna.Cecilia terkekeh, “Itu wajib dong, biar nggak kalah cantik sama mantan papa kamu.”Adrian langsung memeluk sang istri dengan mesra, “Kamu wanita tercantik di dunia, sayangku.” Ucapnya sambil mengecup kening sang istri.Anna memutar bola matanya malas, “Mulai deh...”“Ntar kamu bakal gitu juga Na kalau ketemu sama yang pas.” ucap sang papa.Anna tersenyum nanar, “Dan entah kapan ketemunya.”“Kamu di rumah aja kan, Na?” t

  • Antidote   Bab 7

    “Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa be

  • Antidote   Bab 5

    “Oxymeter.” Vino segera menjepit alat tersebut ke jari Calvin begitu diterimanya dari Anna. “Sus, tolong siapkan tabung oksigen.”Anna mengangguk dengan wajah panik dan segera menghubungi bagian persediaan alat rumah sakit. Kemudian dia menyerahkan jarum suntik yang telah berisi obat anti kejang pa

  • Antidote   Bab 2

    Hari ini adalah jadwal libur Anna, dan gadis imut itu memilih untuk berjalan-jalan ke mall seorang diri dan berencana ke toko buku untuk membeli buku sketsa. Sebenarnya Anna ingin menjadi seorang design grafis, dan keluarganya sudah mendukung karena bakat menggambarnya memang sudah terlihat sedari

  • Antidote   Bab 1

    Bunyi sirene ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit, dengan secepat kilat Anna bersama dengan perawat lainnya segera berlari ke arah pintu Instalasi Gawat Darurat, bersiap untuk menyambut pasien yang baru saja datang.“Kecelakaan tunggal, diperkirakan ada tulang yang patah. Pasien mengalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status