LOGINKnock..knock..
“Permisi, Saya mau mengantarkan obat untuk pasien.” Ucap Anna ketika membuka pintu kamar pasien dan ternyata terdapat pengunjung lain di dalamnya.
Anna melangkah masuk setelah mendapat anggukan dari pengunjung tersebut. Diletakkannya nampan berisi kantong bius dan juga beberapa butir obat.
“Kalau gitu kita balik dulu ya, Vin.” Ucap pria muda yang engga kalah tampan dengan pasien tersebut.
“Kamu janji harus sembuh. Aku engga bisa hidup tanpa kamu.” Ucap seorang gadis cantik yang kemudian memeluk dan mencium kening pasien tersebut.
Anna mengerutkan keningnya. Cewek ini berbeda dengan cewek yang membantunya di toko buku, siapa dia?
“Janji, aku pasti sembuh.” Ucap pasien tersebut dengan senyum dipaksakan, dan kemudian kedua pengunjung tersebut keluar dari kamar pasien.
Anna tersenyum dan kemudian mengambil jarum infus yang cukup panjang, “Hai Pak Calvin, Saya Anna. Gimana rasanya sekarang? Sudah merasa enakan?”
Calvin telah sadar dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kini dia memandang perawat yang ada di hadapannya dengan senyum yang masih terlihat dipaksakan karena kondisinya yang masih lemah.
“Sedikit membaik.” Jawabnya singkat.
“Masih terasa pusing?”
“Sedikit.”
“Saya pasang infusnya dulu ya. Permisi. Enggak takut jarum kan?” ucap Anna berusaha mencairkan suasana sambil memegang tangan kiri Calvin, meraba-raba posisi nadinya.
“Kalau saya bilang takut, memangnya boleh enggak pasang infus?” canda Calvin.
Anna tersenyum, “Tetap harus sih kalau mau cepat sembuh.”
“Jadi saya enggak punya pilihan lain dong walau saya takut jarum.”
Anna terdiam dan tampak berpikir, “Ya, tapi ada beberapa orang yang sangat takut jarum, jadi itu perlu penanganan khusus.”
“Contohnya?”
“Hmm salah satunya manggil beberapa sekuriti untuk membantu memegangi tubuh pasien biar tidak memberontak.” Ucap Anna sambil tertawa geli.
Calvin terbahak, “Serius, ada yang seperti itu?”
Anna tersenyum, “Tentu saja ada. Tiap orang punya ketakutan masing-masing, walau kadang dirasa tidak masuk akal bagi orang lain. Tapi saya yakin Pak Calvin tidak takut pada jarum. Sudah selesai.” ucap Anna kemudian menusukan kantong infus pada jarum dan menggantungkannya di tiang infus.
Calvin terkesiap, sejak kapan jarum masuk ke dalam nadinya? Dia tidak merasakan apapun juga.
“Wow, bisa magic ya?”
Anna tertawa renyah, “Anggap saja begitu. Sebenarnya pasien hanya butuh rileks. Saya masukan obat ya ke infusnya.” Ucapnya sambil menyuntik sebotol obat ke dalam kantong infus. “Dan ini ada dua macam obat untuk diminum.” Ucap gadis itu sambil menuangkan air ke dalam sebuah gelas. Kemudian membantu Calvin memposisikan duduk dan menyerahkan obat tersebut untuk diminum olehnya. “Minum dulu.”
Calvin mengindahkan perkataan Anna layaknya prajurit yang mematuhi perintah komandannya.
“Aku seperti pernah melihatmu.” Ucap Calvin sambil menyerahkan gelas yang telah dikosongkannya pada Anna.
Anna tersenyum, “Kita pernah ketemu di toko buku.”
Calvin mengerutkan alisnya nampak berpikir.
“Waktu itu, teman Pak Calvin menolongku mengambil buku.”
Calvin mengangguk, “Oo iya aku ingat. Ternyata kamu seorang perawat. Enggak nyangka.”
“Enggak cocok ya?” Anna kembali tertawa.
“Aku pikir kamu masih anak kuliahan.”
Kali ini Anna tertawa, “Saya anggap itu sebagai suatu pujian. Ya, banyak yang mengira saya masih kuliah, mungkin karena tubuhku mungil. Baiklah, Pak Calvin istirahat dulu. Saya akan kembali sekitar dua jam lagi sambil mengecek infus.”
“Terima kasih, Sus.”
Anna tersenyum kemudian berjalan meninggalkan ruangan Calvin.
***
Anna sibuk berseluncur di situs Be The Match untuk mencari pendonor sukarela yang kemungkinan cocok dengan HLA (Human Leukocyte Antigen) Calvin. Ya setelah mencari data keluarga dan melakukan pengujian terhadap kedua orangtua Calvin, ternyata HLA mereka tidak cocok. Pun Calvin ternyata tidak memiliki saudara kandung. Jadi yang bisa Anna lakukan hanya mencoba mencari dari situs tersebut.
“Anna, kamu sudah makan?”
“Kak Vino, belum Kak, lagi bentar. Aku lagi cari-cari data.”
Vino yang berada tepat di belakang Anna melihat sekilas pada layar yang menjadi fokus adiknya dalam beberapa hari ini.
Vino menghembuskan nafasnya kemudian menepuk-nepuk pundak Anna, “Menolong orang itu baik, tapi terpenting kamu harus menjaga kesehatanmu juga. Gimana kabar Calvin?”
“Sejauh ini cukup stabil, sekarang dia lagi istirahat, jadi aku mampir ke sini.”
Anna menyetujui tawaran Vino untuk menjadi perawat khusus untuk Calvin. Jadi sementara tugasnya hanya memperhatikan satu pasien, tidak lagi turut menjaga di ruang IGD ataupun kamar operasi, kecuali keadaan mendesak.
Anna mengambil tawaran itu karena dia pikir ini salah satu cara membalas kebaikan “pacar” Calvin, walau gadis tersebut hanya membantunya mengambil sebuah buku dari rak paling atas, namun itu sangat berarti bagi Anna, karena tidak semua orang memiliki empati yang tinggi terhadap hal-hal kecil di sekitar mereka.
Sedangkan Vino memberikan tawaran pada Anna tentu mempunyai maksud tersendiri. Walau terkesan jahat, tapi Vino tidak ingin Anna terlalu dekat dan sering bertemu Victor. Dia tidak ingin adik sepupunya terluka terlalu dalam, walau Vino tidak yakin apakah Anna sudah mengetahui bahwa Victor sudah jadian dengan Sherly atau belum.
Walau tugas ini hanya sementara, tetapi setidaknya bisa membantu Anna menghindari melihat kemesraan pasangan baru. Dengan menjaga Calvin, Anna akan fokus seratus persen pada pasiennya, dan mungkin tidak menyadari bahwa harapannya pada Victor sudah pupus.
Vino mengangguk, “Ini kamu makan dulu, nasi ayam hainan kesukaanmu.”
“Wah, terima kasih.” Ucap Anna dengan mata berbinar.
“Dok, pasien kamar 203 tiba-tiba kejang-kejang.” Pintu tiba-tiba terbuka dan wajah panik seorang perawat muncul dari balik pintu.
“Calvin!!”
“Kamu pakai jas aja.” ucap Calvin akhirnya.Anna mengerutkan keningnya merasa bingung karena seharusnya dia tidak perlu lagi memakai jas karena dia sudah berganti pakaian kering.“Dada kamu kelihatan karena kamu tidak pakai bra.” Ucap Calvin terus terang. Lebih baik dia langsung jujur daripada berbelit-belit, karena dia tidak mampu menahan rasa nyeri yang mulai terasa di bawah tubuhnya.Mata Anna terbelalak karena kaget dan melihat ke arah dadanya. Wajahnya berubah merah padam dan segera memakai jas tersebut dan mengancingnya. “Ma.. maaf saya..”“Aku yang minta maaf hanya bisa meminjamkan baju, karena aku tidak punya pakaian wanita.” Kekeh Calvin bernafas cukup lega setelah Anna mengancing jasnya. “Kamu kenapa hujan-hujanan ke sini?”“Saya ingin bertemu kamu.”Calvin menyenderkan tubuhnya di sofa, “Anna, aku minta maaf, jika kamu ingin aku membantumu seperti kemarin, jawabanku masih sama. Aku tidak bisa,”Anna menggeleng, “Saya hanya butuh teman bicara.”Calvin menarik nafas panjang,
Di luar hujan dan Anna datang dengan pakaian basah kuyup dan juga wajah penuh air mata. Calvin segera melepas jas yang dipakainya lalu menyampirkannya pada bahu Anna. Selain karena takut Anna terkena flu, pria itu juga cukup risih melihat pemandangan di hadapannya. Anna mengenakan kemeja putih yang mencetak jelas branya yang berwarna merah. Calvin sempat menelan salivanya melihat cetakan dada yang cukup besar di balik kemeja basah itu. Bagaimanapun Calvin tetaplah seorang pria normal. Astaga, apakah Pak Ilham juga melihatnya? Pantas saja Pak Ilham sedikit grogi ketika tadi ke ruangannya.Calvin memandang gadis yang sekarang duduk di sampingnya masih terisak. Jika itu Olivia, Calvin tentu langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Namun ini Gianna, Calvin tidak mungkin melakukan hal itu, apalagi Gianna sudah mempunyai tunangan dan mereka memang tidak memiliki hubungan apapun selain pasien dan perawat.“Ini..” Calvin menyerahkan selembar tisu pada Anna. Gadis ini menerimanya
Calvin terdiam mendengar ucapan Steffany. Sepupunya yang satu ini memang Calvin akui sangat cerdik. Dia sepertinya sangat menguasai ilmu psikologi, hingga tau bagaimana teknik memancing dengan membuat hati seseorang melambung tinggi seolah mendapatkan harapan baru, namun kemudian memberitahu bahwa harapan itu tidak mudah digapai karena ada halangan berat lainnya. Calvin ingin mengumpat dalam hati namun tidak dia lakukan. Pantas saja Steffany dengan sangat mudahnya menggonta-ganti pasangan.“Hallo, Vin.. Are you still there?” suara Steffany kembali terdengar setelah sekian detik Calvin tidak bersuara.“Ah ya, sori tadi ada karyawan yang masuk minta tandatangan.” Ucapnya berbohong. “Ivan mau balik? Bagus dong sebelum dia berniat mengganti kewarganegaraannya.” Lanjut Calvin terkekeh menutupi rasa canggungnya.Steffany terkekeh, “Itu yang aku takutkan.”“Dia kesambet apa tiba-tiba mau pulang?”“Mungkin mau cari jodoh.”“Loh, kita nggak jadi punya ipar bule dong?” pancing Calvin.Steffany
“Liv, Dariel di mana?”Olivia meletakkan laptopnya kembali ke meja ketika melihat Calvin kembali muncul di rumahnya. “Baru aja tidur, kayaknya kelelahan, tapi dia senang banget main sama kamu. Aku pikir kamu nggak jadi balik ke sini.”“Aku uda janji balik, so aku akan balik. Tadi aku ngobrol bentar dengan Anna. Jadi agak lama.” Calvin tersenyum kemudian duduk di sofa samping Olivia.Olivia tersenyum, “Anna gadis yang baik.”Calvin tersenyum simpul, “Ya dia baik, perhatian, dan..”“Cantik.” Lanjut Olivia dengan senyum menggoda Calvin, membuat pria tersebut salah tingkah.“Ya, harus aku akui, dia cantik.”Olivia tertawa renyah, “So.. aku rasa ini akhir penantianmu.”Calvin terdiam menatap dalam Olivia, “Bagaimana menurutmu?”“Aku rasa Anna mencintaimu dengan tulus. Semangatnya melebihi dokter untuk melihatmu sembuh. Bahkan dia yang bekerja keras mencarikanmu donor sumsum.” Ucap Olivia sambil menepuk-nepuk pundak Calvin.Calvin menghela nafas panjang, “I know. Tapi rasanya aneh ketika ha
Calvin belum sempat mengeluarkan pendapatnya namun tiba-tiba handphonenya bordering.“Halo Liv?” ucap Calvin begitu sambungan telpon tersebut terhubung.“Halo Vin, aku menganggu nggak?”Calvin terkekeh, “Kamu ini kayak sama orang lain aja. Ada apa, Liv?” Calvin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting sehingga Olivia menelponnya.“Hmm.. kamu ada acara malam ini?” Tanya Olivia ragu-ragu.Calvin kemudian memandang gadis cantik di hadapannya yang terlihat salah tingkah namun tetap bertahan untuk menunggu jawabannya, padahal jelas-jelas Calvin sudah menolaknya. Sebenarnya dia masih bersama Anna tapi Calvin berpikir bahwa pertemuan ini akan segera berakhir sebentar lagi.“Enggak ada. Kamu mau ngajakin aku kencan?” goda Calvin.Olivia berdecak namun tertawa, “Kamu ini nggak berubah. Aku ada meeting sangat penting malam ini dengan klien besar. Hanya saja Dariel tidak ada yang jaga. Randy…” suara Olivia terdengar berat.“Aku akan menjaga Dariel.” Calvin memotong ucapan Olivia. Dia t
Calvin terbahak mendengar ucapan Anna, “Kamu lagi sakit atau ngeprank aku?”Anna terdiam sambil memainkan jemarinya, “Saya serius, Pak Calvin.”Calvin menggelengkan kepala, menatap Anna dengan lekat, lalu mengangkat cangkir kopinya dan meneguk cappucino hangatnya. Pria itu kembali meletakkan cangkirnya ke atas meja lalu menatap Anna yang masih menatapnya dengan serius dengan wajah polos penuh harap.Kali ini Calvin menarik nafasnya dalam, dia tau ternyata gadis di depannya ini tidak main-main dengan ucapannya yang sangat konyol.“Aku pikir kamu menghubungiku karena tertarik dengan tawaranku menjadi seorang desain grafis. Malahan kamu yang sekarang nawarin aku pekerjaan.” Kekeh Calvin.Anna menghela nafas panjang, “Cuma Pak Calvin satu-satunya harapan saya.”“Maaf, aku rasa kamu salah orang.”Saat ini Anna bersama Calvin sedang duduk di sebuah café seusai pulang kerja. Sebenarnya Anna ada jadwal untuk jaga malam, namun dia memilih untuk menukar shift dengan perawat lainnya karena dia h







