Share

Bab 4

Author: Delf
last update publish date: 2026-04-09 19:11:53

Knock..knock..

“Permisi, Saya mau mengantarkan obat untuk pasien.” Ucap Anna ketika membuka pintu kamar pasien dan ternyata terdapat pengunjung lain di dalamnya.

Anna melangkah masuk setelah mendapat anggukan dari pengunjung tersebut. Diletakkannya nampan berisi kantong bius dan juga beberapa butir obat.

“Kalau gitu kita balik dulu ya, Vin.” Ucap pria muda yang engga kalah tampan dengan pasien tersebut.

“Kamu janji harus sembuh. Aku engga bisa hidup tanpa kamu.” Ucap seorang gadis cantik yang kemudian memeluk dan mencium kening pasien tersebut.

Anna mengerutkan keningnya. Cewek ini berbeda dengan cewek yang membantunya di toko buku, siapa dia?

“Janji, aku pasti sembuh.” Ucap pasien tersebut dengan senyum dipaksakan, dan kemudian kedua pengunjung tersebut keluar dari kamar pasien.

Anna tersenyum dan kemudian mengambil jarum infus yang cukup panjang, “Hai Pak Calvin, Saya Anna. Gimana rasanya sekarang? Sudah merasa enakan?”

Calvin telah sadar dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kini dia memandang perawat yang ada di hadapannya dengan senyum yang masih terlihat dipaksakan karena kondisinya yang masih lemah.

“Sedikit membaik.” Jawabnya singkat.

“Masih terasa pusing?”

“Sedikit.”

“Saya pasang infusnya dulu ya. Permisi. Enggak takut jarum kan?” ucap Anna berusaha mencairkan suasana sambil memegang tangan kiri Calvin, meraba-raba posisi nadinya.

“Kalau saya bilang takut, memangnya boleh enggak pasang infus?” canda Calvin.

Anna tersenyum, “Tetap harus sih kalau mau cepat sembuh.”

“Jadi saya enggak punya pilihan lain dong walau saya takut jarum.”

Anna terdiam dan tampak berpikir, “Ya, tapi ada beberapa orang yang sangat takut jarum, jadi itu perlu penanganan khusus.”

“Contohnya?”

“Hmm salah satunya manggil beberapa sekuriti untuk membantu memegangi tubuh pasien biar tidak memberontak.” Ucap Anna sambil tertawa geli.

Calvin terbahak, “Serius, ada yang seperti itu?”

Anna tersenyum, “Tentu saja ada. Tiap orang punya ketakutan masing-masing, walau kadang dirasa tidak masuk akal bagi orang lain. Tapi saya yakin Pak Calvin tidak takut pada jarum. Sudah selesai.” ucap Anna kemudian menusukan kantong infus pada jarum dan menggantungkannya di tiang infus.

Calvin terkesiap, sejak kapan jarum masuk ke dalam nadinya? Dia tidak merasakan apapun juga.

“Wow, bisa magic ya?”

Anna tertawa renyah, “Anggap saja begitu. Sebenarnya pasien hanya butuh rileks. Saya masukan obat ya ke infusnya.” Ucapnya sambil menyuntik sebotol obat ke dalam kantong infus. “Dan ini ada dua macam obat untuk diminum.” Ucap gadis itu sambil menuangkan air ke dalam sebuah gelas. Kemudian membantu Calvin memposisikan duduk dan menyerahkan obat tersebut untuk diminum olehnya. “Minum dulu.”

Calvin mengindahkan perkataan Anna layaknya prajurit yang mematuhi perintah komandannya.

“Aku seperti pernah melihatmu.” Ucap Calvin sambil menyerahkan gelas yang telah dikosongkannya pada Anna.

Anna tersenyum, “Kita pernah ketemu di toko buku.”

Calvin mengerutkan alisnya nampak berpikir.

“Waktu itu, teman Pak Calvin menolongku mengambil buku.”

Calvin mengangguk, “Oo iya aku ingat. Ternyata kamu seorang perawat. Enggak nyangka.”

“Enggak cocok ya?” Anna kembali tertawa.

“Aku pikir kamu masih anak kuliahan.”

Kali ini Anna tertawa, “Saya anggap itu sebagai suatu pujian. Ya, banyak yang mengira saya masih kuliah, mungkin karena tubuhku mungil. Baiklah, Pak Calvin istirahat dulu. Saya akan kembali sekitar dua jam lagi sambil mengecek infus.”

“Terima kasih, Sus.”

Anna tersenyum kemudian berjalan meninggalkan ruangan Calvin.

***

Anna sibuk berseluncur di situs Be The Match untuk mencari pendonor sukarela yang kemungkinan cocok dengan HLA (Human Leukocyte Antigen) Calvin. Ya setelah mencari data keluarga dan melakukan pengujian terhadap kedua orangtua Calvin, ternyata HLA mereka tidak cocok. Pun Calvin ternyata tidak memiliki saudara kandung. Jadi yang bisa Anna lakukan hanya mencoba mencari dari situs tersebut.

“Anna, kamu sudah makan?”

“Kak Vino, belum Kak, lagi bentar. Aku lagi cari-cari data.”

Vino yang berada tepat di belakang Anna melihat sekilas pada layar yang menjadi fokus adiknya dalam beberapa hari ini.

Vino menghembuskan nafasnya kemudian menepuk-nepuk pundak Anna, “Menolong orang itu baik, tapi terpenting kamu harus menjaga kesehatanmu juga. Gimana kabar Calvin?”

“Sejauh ini cukup stabil, sekarang dia lagi istirahat, jadi aku mampir ke sini.”

Anna menyetujui tawaran Vino untuk menjadi perawat khusus untuk Calvin. Jadi sementara tugasnya hanya memperhatikan satu pasien, tidak lagi turut menjaga di ruang IGD ataupun kamar operasi, kecuali keadaan mendesak.

Anna mengambil tawaran itu karena dia pikir ini salah satu cara membalas kebaikan “pacar” Calvin, walau gadis tersebut hanya membantunya mengambil sebuah buku dari rak paling atas, namun itu sangat berarti bagi Anna, karena tidak semua orang memiliki empati yang tinggi terhadap hal-hal kecil di sekitar mereka.

Sedangkan Vino memberikan tawaran pada Anna tentu mempunyai maksud tersendiri. Walau terkesan jahat, tapi Vino tidak ingin Anna terlalu dekat dan sering bertemu Victor. Dia tidak ingin adik sepupunya terluka terlalu dalam, walau Vino tidak yakin apakah Anna sudah mengetahui bahwa Victor sudah jadian dengan Sherly atau belum.

Walau tugas ini hanya sementara, tetapi setidaknya bisa membantu Anna menghindari melihat kemesraan pasangan baru. Dengan menjaga Calvin, Anna akan fokus seratus persen pada pasiennya, dan mungkin tidak menyadari bahwa harapannya pada Victor sudah pupus.

Vino mengangguk, “Ini kamu makan dulu, nasi ayam hainan kesukaanmu.”

“Wah, terima kasih.” Ucap Anna dengan mata berbinar.

“Dok, pasien kamar 203 tiba-tiba kejang-kejang.” Pintu tiba-tiba terbuka dan wajah panik seorang perawat muncul dari balik pintu.

“Calvin!!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antidote   Bab 152 (Ending)

    “Itu bibir disengat tawon apa dihisap calon suami? Ganas banget ampe bengkak begitu.” Goda Feny ketika melihat Anna yang masuk ke dalam ruang istirahat perawat.Anna dengan panik langsung mengambil cermin kecil di tasnya dan mengarahkannya ke wajahnya. Feny tertawa terbahak melihat kepanikan Anna. Anna mengerucutkan bibirnya, dalam hati dia merutuki Calvin yang memang tidak henti-hentinya mencumbu dirinya. Untung saja dia sudah mewanti-wanti pria itu untuk tidak melakukannya di lehernya karena bisa dipastikan dia akan menjadi bulan-bulanan Feny dan teman-teman lainnya.“Ck.. aku masih menuntut penjelasan loh.” Ucap Anna sinis mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membuat secangkir cappucino untuknya.Ya bukan hanya keluarga Calvin, keluarganya, Victor, dan Vika yang hadir dalam acara kemarin di sana, tapi juga Feny yang tiba-tiba muncul dengan senyum sumringah di hadapannya.Feny terkekeh sambil menyesap kopinya, “Iya, aku ngaku. Soal hasil lab itu memang udah direncanakan.”Anna men

  • Antidote   Bab 151

    “It’s okay...”“Gimana aku bisa menerima lamaranmu jika kamu tidak memberiku cincin?” ucap Anna sebelum Calvin melanjutkan ucapannya.Mata Calvin terbelalak dan segera melirik ke arah Ivan. Ivan yang sadar segera menurunkan Dariel dari gendongannya dan bocah tampan tersebut berlari ke arah Calvin sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.“Om.. maaf Dariel lupa.” Ucapnya polos dan disambut gelak tawa yang lain.“Jadi?” Calvin segera membuka kotak itu dan menunjukkannya pada Anna, “Will you be my soulmate?”Anna mengarahkan tangannya ke Calvin, “Kenapa baru sekarang? Yes I do.” Ucap Anna dan kemudian mendapat sorakan dan tepukan tangan dari semua orang yang hadir di sana. Calvin segera memasangkan cincin bertahta berlian ke jari manis Anna dan memeluk gadis itu dengan erat, bahkan saking senangnya Calvin menggendong Anna sambil berputar membuat Anna berteriak ketakutan dan kedua orangtua mereka menggelengkan kepala melihat tingkah laku anak mereka yang dimabuk asmara.Satu per

  • Antidote   Bab 150

    Calvin menarik tubuh Anna ke dalam pelukannya dam seketika gadis itu menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Calvin menghela nafas panjang, sedikit menyesal membuat Anna sedih namun setidaknya dia kini tau bahwa Anna memang menaruh hati padanya.“Maaf...” hanya kata itu yang mampu diucapkan oleh Calvin.Anna tidak menjawab namun tangisnya masih pecah di dalam pelukan Calvin. Calvin semakin mengeratkan pelukannya dan membelai lembut punggung gadis itu.Pelukan itu pada akhirnya terlepas ketika handphone Anna kembali berdering, Anna bahkan lupa kalau dia menyuruh Victor menunggunya.“Ha.. halo Kak, maaf aku..” Anna mencoba menstabilkan suaranya dan menghapus air matanya.“Na, aku tunggu kamu di rooftop ya.”“Rooftop?”“Iya, tadi aku nunggu kamu di lobby dan kata petugas di sini ada rooftop. Bagus deh viewnya. Kamu ke atas ya, aku tunggu.” Ucap Victor dan menutup sambungan telpon itu.Anna masih bergeming memandang handphonenya, rasa bingung mendera dirinya.“Kenapa, Na?”“Kak Victor,

  • Antidote   Bab 149

    Sebuah gambar karikatur sepasang angsa yang sedang berenang. Walau Anna tau gambarnya tidak sebagus gambar yang dilihatnya sekarang, namun gadis itu tau bahwa gambar ini terinspirasi dari gambar yang pernah dibuatnya dulu saat.. astaga Calvin menggambar ulang sketsa yang pernah dibuatnya ketika dia tidur dengan menghasilkan cairan bernama iler, toh tercetak jelas di bawah gambar itu nama Calvin dan tulisan inspired by suster cantik. Wajah Anna seketika memerah hanya membaca tulisan Calvin yang menyebutnya suster cantik.Anna kemudian beralih ke lembaran kedua di mana tulisan tangan Calvin memenuhi seluruh isi surat tersebut.Hai kamu yang sedang membaca suratku,Aku tau mungkin aku terlalu pengecut hanya berani menulis surat tanpa mengungkapkannya langsung padamu. Tapi percayalah, sudah lama ingin aku ungkapkan namun begitu sulit ketika harus menatap wajahmu.Pertemuan kita memang tidak pernah terduga. Jujur saat itu dalam benakku hanya mujizat yang mampu membuatku bertahan, rasanya se

  • Antidote   Bab 148

    Detik itu juga Victor langsung menoleh pada Anna, “Kenapa?”Anna menggigit bibir bawahnya, dia tau bahwa tindakannya ini akan membuat Victor kecewa, atau bahkan marah. Tapi Anna tidak bisa membohongi hati nuraninya bahwa bagaimanapun dia mengkhawatirkan Calvin.“Hmm.. tadi Steffany telpon dan.. katanya Calvin tidak bisa dihubungi dari kemarin.”“Lalu?”“Aku.. pengen ngecek ke apartemennya. Siapa tau dia ada di sana.” Ucap Anna pelan.“Ya udah kalau gitu kita ke sana aja.” Jawab Victor enteng.Anna membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pria yang sedang duduk di sebelahnya. Anna cukup tau bagaimana emosi Victor yang sering meledak jika ada yang menyentil egonya.“Kak Victor mau ngantar aku ke apartemen Calvin?” tanya Anna memastikan.“Iya, kita ke sana aja daripada kamu khawatir.”“Tapi.. aku bisa sendiri Kak naik taksi.”“Aku yang khawatir kalau kamu sendirian malam-malam gini naik taksi, pakaianmu cukup terbuka, Na.”Benar yang dikatakan Victor, “

  • Antidote   Bab 147

    “Papa dan Mama mau ke mana?” Anna terkejut ketka membuka pintu rumah dan mendapati kedua orangtuanya sudah berpakaian rapi bahkan mamanya bisa dikatakan sudah dandan maksimal layaknya orang-orang yang mau ke kondangan.Cecilia berdehem, “Ada kondangan.”“Siapa yang nikah?” Anna mengerutkan keningnya karena seingatnya dia tidak melihat ada penampakan kartu undangan dalam minggu ini, yang biasanya sang mama akan menunjukkan pada dirinya.“Bukan nikah, lagi reuni aja sama teman SMA.” Jawab Adrian.“Oh. Ih mama ganjen banget reuni aja sampai dandan cantik gini.” Goda Anna.Cecilia terkekeh, “Itu wajib dong, biar nggak kalah cantik sama mantan papa kamu.”Adrian langsung memeluk sang istri dengan mesra, “Kamu wanita tercantik di dunia, sayangku.” Ucapnya sambil mengecup kening sang istri.Anna memutar bola matanya malas, “Mulai deh...”“Ntar kamu bakal gitu juga Na kalau ketemu sama yang pas.” ucap sang papa.Anna tersenyum nanar, “Dan entah kapan ketemunya.”“Kamu di rumah aja kan, Na?” t

  • Antidote   Bab 7

    “Calvin?” Olivia terkejut, raut wajahnya campur aduk, antara marah, sedih, dan juga khawatir. “Ka.. kamu?” ucapnya masih bergeming di tempatnya.“Liv..” ucap Calvin terbata, terkejut dengan kehadiran Olivia.Pandangan Olivia mengarah tajam ke Steffany, membuatnya menundukkan kepala karena merasa be

  • Antidote   Bab 6

    “Besok aku berangkat.” Ucap seorang pria pada Calvin ketika Anna membuka pintu kamar Calvin.“Ma.. maaf..” ucap Anna sungkan.“Enggak apa-apa kok, Sus. Jadwal minum obat ya?” tanya pria tampan tersebut ramah.Anna mengangguk, “Sekalian mau ganti infus.”“Kenapa tiba-tiba berangkat?” tanya Calvin pa

  • Antidote   Bab 5

    “Oxymeter.” Vino segera menjepit alat tersebut ke jari Calvin begitu diterimanya dari Anna. “Sus, tolong siapkan tabung oksigen.”Anna mengangguk dengan wajah panik dan segera menghubungi bagian persediaan alat rumah sakit. Kemudian dia menyerahkan jarum suntik yang telah berisi obat anti kejang pa

  • Antidote   Bab 3

    “Thanks ya, kok kamu bisa tau sih aku suka baca novel?” suara Sherly terdengar dari balik pintu ruangan Victor yang tidak tertutup rapat.“Aku hanya menebak saja, syukurlah kalau kamu suka.” Suara bas terdengar membalas perkataan si dokter koas tersebut.“Kamu yang milih novel ini?”“Ya iya dong, t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status