MasukC'était la pleine lune, et mon compagnon, Alpha Étienne, a laissé tomber la répétition de la cérémonie de passage à l'âge adulte de notre fils. Tout ça parce que sa maîtresse Oméga, Stella, était en chaleur. Puis, pendant la cérémonie, notre fils Sébastien a été pris en embuscade par une meute rivale. Quand j'ai appris la nouvelle, Sébastien avait déjà été abattu. Il gisait dans une mare de sang, mort. Je me suis agenouillée à ses côtés, complètement effondrée, quand la voix d'Étienne, feignant des excuses, m'est parvenue par le lien mental : « Désolé, Stella a besoin de moi. Je suis sûr que Sébastien peut s'occuper des choses. Assure-toi juste que Sébastien se repose tôt, ne le laisse pas courir partout et gâcher la fête de demain. » J'ai regardé le corps brisé de mon fils, la voix tremblante : « Il ne courra plus nulle part. » « Bien ! » a dit Étienne, l'air satisfait. « La lignée de Stella est plus pure, elle est plus apte à donner de forts héritiers à la meute de Pierre, tu devrais comprendre. » J'ai coupé le lien. Après avoir livré le corps de mon fils aux flammes, j'ai trouvé le rituel secret permettant de rompre un lien de compagnon et j'ai contacté un loup à qui je n'avais pas parlé depuis très longtemps : « Les barrières protectrices du territoire de la meute de Pierre sont désactivés. Tu peux passer à l'action. »
Lihat lebih banyakMenantu Tegas, ipar Panas, mertua Lemas
1. Amarah Ellena
"Nggak kerja, Bang?" tanyaku pada Bang Galuh.
"Enggak, lagi males!" ucapnya santai.
"Loh, bukannya kemarin Bang Usman ngajak Abang bantuin dia panen sawit, ya?" Aku bertanya heran.
Kemarin Bang Usman memang datang ke rumahku, dan mengajak suamiku untuk membantunya memanen sawit miliknya. Karena pekerja yang biasa, sedang izin menemani istrinya melahirkan di rumah sakit.
Bang Usman adalah Abang kandungku, namun kehidupannya terlihat jauh lebih baik daripada kehidupanku. Wajar saja, sih, Bang Usman terkenal sangat ulet dan juga rajin, sehingga dia sekarang bisa memiliki beberapa hektar kebun sawit yang sudah bisa dipanen saat ini.
Sedangkan aku? Suamiku? Jangan ditanya, dia hanya bekerja serabutan. Padahal kami juga mempunyai bagian kebun sawit yang diberi oleh orang tuaku dulu. Karena Bang Usman dan juga aku mendapatkan masing-masing satu hektar kebun kosong saat menikah. Hitung-hitung untuk modal.
Saat Bang Usman menanami kebun kosongnya dengan tanaman kelapa sawit, suamiku masih ongkang-ongkang kaki. Saat Bang Usman bekerja di kebun sawitnya, suamiku juga masih belum beranjak dari dunia nyamannya.
Saat Bang Usman Sudah memanen kebun sawitnya, suamiku masih duduk santai di teras dengan secangkir teh. Bahkan saat sekarang ini Bang Usman sudah mempunyai beberapa hektar kebun sawit yang dibelinya sendiri, dan menjadi tuan tanah, suamiku masih ongkang-ongkang kaki dan menyia-nyiakan kebun pemberian orang tuaku hingga sekarang sudah menjadi semak belukar.
Padahal sudah sangat sering aku ingatkan, tanah kosong itu juga bisa menjadi kebun kelapa sawit, kebun kelapa, kebun durian, dan kebun-kebun lainnya, yang tentunya bisa menghasilkan. Kalau Bang Galuh niat untuk menanaminya.
Tapi dia selalu mempunyai banyak alasan untuk menolak, yang sukses membuatku muak bukan kepalang.
"Aku males," ucap Bang Galuh dengan santai.
"Tapi, bukannya lumayan ya, Bang? Dalam minggu ini Abang kan, belum ada kerja loh," jawabku mengingatkan dirinya, kalau-kalau dia lupa ingatan.
"Alah, uang kamu kan, masih ada, Dek!" tukasnya santai.
Aku mengelus dadaku, menahan amarah yang siap membuncah keluar. Di mana tanggung jawabnya sebagai seorang suami, sih? Bang Galuh memang benar-benar semakin keterlaluan.
"Bang, Abang itu kepala keluarga. Lupa?" ucapku mengingatkan.
"Loh, kamu kok, ngomong gitu sih, Dek?" Bang Galuh berucap tidak terima, dia duduk tegak menghadap ku. "Abang baru minggu ini tidak bekerja, ya! Kamu sudah ngomong begitu!" lanjutnya lagi.
"Ya Allah, Bang! Sadar!" teriakku dengan gemas. “Abang kerja serabutan, kadang seminggu dapat lima ratus ribu, atau bisa juga hanya dapat lima puluh ribu. Mana cukup, Bang!” lanjutku dengan ketus.
Dia memang mempunyai keahlian di bidang elektronik, makanya dia bekerja menunggu panggilan dari orang-orang desa yang barang elektroniknya rusak atau bermasalah. Entah itu televisi, parabola, ataupun laptop.
Tapi jelas saja pekerjaan itu tidak bisa diharapkan, karena tidak setiap hari barang elektronik orang rusak. Apalagi di desa ini ada beberapa orang juga yang mempunyai keahlian yang sama dengan Bang Galuh. Jadi persaingannya sedikit sengit.
Bang Usman pernah menawarkan pekerjaan menjaga dan merawat salah satu kebun miliknya, dengan gaji bulanan yang lumayan. Tapi Bang Galuh menolak, dia selalu bilang kalau tidak cocok kerja berat.
Itu juga salah satu alasannya, dia tidak mau mengolah tanah pemberian orang tuaku sampai saat ini. Sedangkan aku? Tidak mungkin aku mampu mengolahnya sendirian, mau diupahkan pada orang lain pun, aku tidak punya uang.
"Itukan juga uang, Dek! Kamunya aja yang kurang bersyukur!" sungutnya tak mau kalah.
"Kurang bersyukur?!" Suaraku naik beberapa oktaf.
Ku elus dadaku lagi, menenangkan debaran jantung yang mulai meronta-ronta seolah hendak lepas dari tempatnya. Tiga tahun kami menikah, sepertinya batas kesabaran ku sudah mulai terkikis habis.
"Sudah kubilang berulang kali, tanami tanah pemberian orang tuaku, Bang. Tapi Abang tidak mau, setidaknya kalau dari pertama kali kita menikah Abang tanami kelapa sawit, sekarang kita sudah tinggal menunggu hasilnya," geramku.
"Itu-itu saja yang kamu bahas, Dek! Muak aku mendengarnya," ucapnya sambil beranjak ke dapur. "Sudah Abang bilang, kan? Abang tidak cocok bekerja berat," lanjutnya emosi.
Lah? Kenapa pula dia yang emosi?
"Lalu, menurut Abang aku harus bagaimana?" Ku kejar langkahnya dengan cepat. "Gas sudah mau habis, beras habis, dan meteran listrik sudah berbunyi. Aku harus bagaimana Bang?" lanjutku lagi.
"Ya beli, lah!" ucapnya santai, dia membuka kulkas dan menenggak air dingin yang selalu aku sediakan di sana. "Jangan macam orang susah!" katanya lagi.
Aku menganga lebar kali ini, jangan macam orang susah katanya? Sialan, padahal kalau matanya bisa melek sedikit saja, dia akan tahu bagaimana susahnya kehidupan kami sekarang ini.
Yang hanya hidup mengandalkan gajiku sebagai seolah penjahit, dan gajinya yang pas-pasan. Bahkan sering kali gajinya tidak nampak hilalnya, akibat tertutup awan gelap yang bernama malas.
"Aku memang susah, Bang! Karena aku harus bekerja sendiri, dan menafkahi diriku sendiri, juga turut menafkahi suamiku yang tidak ada gunanya!" Emosiku naik.
Sambil terengah-engah, aku menatapnya tajam. Tapi jujur saja, aku merasa sangat amat lega saat ini karena sudah berhasil mengeluarkan unek-unek ku, yang selama ini aku pendam dalam-dalam.
"ELLEN!" Bang Galuh membentakku, dia terlihat tak terima dengan ucapanku.
"APA!?" Kubalas bentakannya, apa dia mengira aku takut padanya? "APA GALUH? APA?!" tanyaku menantang.
Dia tersentak kaget, tiga tahun kami menikah baru kali ini aku melawan dan meninggikan ucapanku padanya. Selama ini aku diam dan juga mengalah, agar rumah tanggaku baik-baik saja. Agar keluargaku taunya aku bahagia dengan pilihanku.
"Kamu membentak Abang, Dek?" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya! Kenapa? Kamu tidak terima? Jangan karena selama ini aku diam, kamu jadi seenaknya." Aku sudah tidak memanggilnya Abang lagi, biar dia tau kalau aku tengah sangat marah saat ini.
Memangnya dia saja yang bisa marah? Hanya dia yang bisa membentak? Lah, aku juga bisa. Malah sangat jago sekali!
"Jangan marah, Dek!" Bang Galuh nyengir salah tingkah. "Kamu tambah cantik kalau kamu marah begini." Tangannya menjawil dagu ku.
"Kali ini Abang maafkan, tapi jangan diulangi lagi ya. Nanti kamu tidak bisa masuk surga loh. Ingat, Dek! Surga seorang istri ada pada suaminya." Dia berucap sok bijak.
Salah satu kebiasaan buruknya, dia selalu bercanda tidak tahu waktu dan tempat. Aku sedang sangat marah saat ini, jangan dia pikir aku akan luluh seperti biasanya.
Big no!
"Aku tahu!" jawabku singkat. "Tidak kurang didikan agama yang kuterima dari orang tuaku, tidak seperti seseorang yang sepertinya tidak diajari ilmu agama," lanjutku menantang.
Apa dia kira hanya dengan pujian, maka aku akan luluh? Tidak bisa Ferguso, kali ini aku akan menyadarkan dia hingga terbangun dari mimpi panjangnya.
"Apa maksudmu, Ellen?" Bang Galuh kembali emosi.
"Kenapa? Kamu marah? Pikir pakai otak, lah!" Aku menyeringai meremehkan.
"Surgamu ada pada kakiku, Ellen!" pekik Bang Galuh. "Jangan sampai kau durhaka padaku dan masuk neraka." lanjutanya naik pitam.
"Kamu juga harus tau! Suami tidak akan masuk surga, jika tidak bisa memuliakan istrinya!" balasku lagi. "Jangan mengecewakan aku, Bang! Aku memang memilihmu saat itu, tapi aku juga bisa memilih membuangmu saat ini." Aku mendesis pelan.
Aku berniat memberikan dia sedikit shock terapi, dan sepertinya berhasil karena dia terdiam. Kata-kataku tadi berhasil membuatnya tercengang, dan menatapku tak percaya.
"Berubah, Bang! Atau kalau tidak, kamu akan menyesal!" ketusku sekali lagi sebelum beranjak.
Aku melangkah meninggalkan dapur, dan segera masuk kedalam kamar. Setelah mengunci pintunya aku segera merebahkan diriku di tempat tidur besar milikku.
Ah, nyamannya ….
Lelah di tubuh dan juga di otakku, menjadi sedikit berkurang. Semoga setelah beristirahat sebentar, aku kembali bugar.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu terdengar bersahutan, aku melengos tak peduli dan malah berubah haluan dengan berbaring menghadap dinding. Lelah sekali rasanya, ya Allah.
"Dek, buka pintunya!" Suara Mas Galuh terdengar. "Dek, buka!" katanya lagi.
"Dek, maafkan Abang!" Suaranya yang memelas, hanya aku anggap angin berlalu.
Aku tak peduli dan memejamkan mataku. Dan setelahnya aku bisa mendengar suara motor yang menjauhi rumahku, pertanda Mas Galuh sudah pergi dari sini. Aku menghela nafas, dan berusaha untuk tidur.
Kepalaku mendadak sakit, sedangkankan Bang Galuh sudah pasti tidak. Aku hafal sekali, dia akan selalu pergi dari rumah dan berkumpul dengan teman-temannya jika kami sedang cekcok.
Baru saja aku terlelap, telingaku mendengar suara seseorang yang memanggil nama suamiku. Siapa lagi, sih? Tapi mau tidak mau aku harus membuka pintu, karena bisa saja yang memanggil adalah orang yang membutuhkan jasa Bang Galuh.
Kan, lumayan, uangnya bisa digunakan untuk membeli gas dan juga beras.
"GALUH, GALUH, buka pintunya!" pekik suara di luar sana.
Aku beranjak, dan melangkahkan kakiku untuk membuka pintu kamar yang tadi kukunci. Sambil berjalan menuju pintu aku menerka-nerka siapa yang sedang berteriak di depan rumahku.
Apa memang orang yang mau membetulkan alat-alat elektroniknya? Atau ada hal lainnya?
Dan saat membuka pintu, mataku langsung menyipit heran. Kenapa dia ada di sini?
~Aksara Ocean~
Un an plus tard.« Maman, regarde vite ! Les vagues sont énormes ! »Sébastien, 18 ans, courait sur la plage, la lumière du soleil tapissant sa peau saine. La brise hawaïenne faisait bruisser ses cheveux et son rire résonnait, clair comme de l'eau de roche.« Attention, ne cours pas trop vite ! » Je me suis mise à rire en lui courant après avec la crème solaire.« Maman, on peut faire du snorkeling ? » Sébastien a pointé avec enthousiasme le récif corallien au loin. « Je veux voir les tortues de mer ! »« Bien sûr, mon chéri. » Je l'ai aidé à se mettre de la crème solaire. « Mais fais attention, ne nage pas trop loin. »« Je sais. » Sébastien a hoché la tête docilement, puis il m'a soudain entourée de ses bras. « Maman, merci de m'avoir emmené à Hawaï. C'est tellement beau ici. »Je lui ai caressé doucement les cheveux. « Quel garçon stupide. C'est ici que tu as toujours voulu venir. »« Ouais ! » Sébastien a lâché prise et s'est remis à courir sur le sable. « Maman, quand j'aurai appr
« Attends ! Régine ! »Eléa, appuyée sur sa canne, a tremblé en s'approchant de moi. « Tu ne peux pas partir comme ça ! Tu es toujours la Luna de la famille Pierre ! Tu es la femme de mon fils ! »Je me suis arrêtée et j'ai regardé la vieille femme fourbe.« Luna ? Femme ? » Je me suis moquée. « Eléa Pierre, ne disais-tu pas que ma lignée n'était pas assez pure pour ta famille ? »« C'était... c'était un malentendu... » La voix d'Eléa a baissé progressivement. « Nous pouvons recommencer... »« Recommencer ? » J'ai jeté un coup d'œil à Étienne, qui me regardait avec effroi. « Ton précieux fils vient de briser notre lien de compagnon, n'est-ce pas ? »Les membres de la meute environnante ont commencé à murmurer avec inquiétude. Ils ont commencé à se rendre compte de la gravité de la situation.Roi Maverick lui-même m'a appelée « Votre Altesse ». Qu'est-ce que ça signifiait ?« Roi Maverick », a demandé Muller, l'Alpha de la Meute de Bois Rouge, avec prudence, « excusez-moi... mais quelle
Étienne a fixé la tête de loup ensanglantée d'Yves, le visage blanc comme un linge.Mais la seconde d'après, il s'est retourné, son doigt tremblant me désignant du doigt. « C'est elle ! C'est Régine qui lui a fait faire ça ! »Silence de mort.« Quoi ? » Maverick a plissé les yeux.« Yves a toujours écouté Régine ! » La voix d'Étienne était tranchante de peur. « Il n'aurait jamais agi seul ! Ce doit être cette femme vicieuse, qui veut se venger de moi, qui a délibérément envoyé Yves pour te provoquer ! »Je n'arrivais pas à croire ce que j'entendais.L'impudeur de cet homme atteignait des sommets.Eléa a immédiatement réagi : « Oui, c'est Régine ! Elle est jalouse de Stella, alors elle a délibérément essayé de détruire notre Meute de Pierre ! »« Régine a toujours été une intrigante malveillante ! »« Elle doit vouloir que le Roi Maverick nous élimine ! »« Cette femme est trop dangereuse ! »Pour sauver leur peau, les membres des meutes environnantes se sont tous mis à m'accuser. Même
Sous le clair de lune, une grande silhouette s'est approchée lentement de la fête.Il portait un long manteau noir et ses cheveux argentés brillaient au clair de lune. Avant même qu'il n'entre dans la lumière du feu, tous les loups-garous pouvaient sentir une pression suffocante.« Roi Maverick... » a murmuré quelqu'un, tremblant.« Le chasseur de la nuit... que fait-il ici ? »« Avons-nous fait quelque chose de mal ? »La peur s'est répandue dans la foule.Roi Maverick, Valéry, chef du conseil surnaturel, hybride de vampire et de loup, chasseur de nuit connu pour son caractère impitoyable.Même les plus anciens vampires le considéraient avec admiration.Mais Étienne, lui, a affiché un sourire suffisant.« Tout le monde, ne soyez pas nerveux. » a-t-il dit d'une voix forte, en rapprochant Stella. « C'est un honneur pour la meute de Pierre que Roi Maverick en personne assiste à notre fête ! »Il s'est tourné vers moi, les yeux pleins d'esbroufe. « Luna, tu vois ça ? Voilà à quoi ressembl
« Assez ! »Une voix âgée mais autoritaire a traversé la foule. Eléa Pierre, la mère d'Étienne, est entrée en scène en s'appuyant sur sa canne.« Régine, tu as assez fait honte à la famille Pierre ! » Eléa a frappé durement le sol avec sa canne. « En tant qu'étrangère au sang impur, tu oses semer le
J'ai marché lentement dans la fête animée, en tenant la boîte d'ébène.Les Alphas de toutes les grandes meutes alliées étaient réunis avec leurs compagnes.Instantanément, toutes les conversations se sont arrêtées.« Oh mon dieu, pourquoi Régine est-elle habillée comme ça ? »« Une robe noire... ce
« Pour qui te prends-tu ? »La voix d'Étienne a résonné dans mes oreilles, mais je n'y ai plus senti de chaleur, que du dédain, que de la froideur.J'ai fermé les yeux, des douleurs aiguës ont jailli de ma marque de compagnon. Le lien de vingt ans s'affaiblissait naturellement, comme une vieille cor
Mon compagnon a abandonné notre fils avant sa cérémonie de passage à l'âge adulte, juste pour passer du temps avec sa maîtresse Oméga enceinte.Mon fils a été attaqué et tué par une meute de loups hostiles. Mais j'ai contacté le Roi Maverick que je n'avais pas contacté depuis longtemps.« Je ne prot


















Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.