LOGIN"Gila,"ucap Dyandra singkat padat dan jelas. "Ayolah Dy. Kamu sekarang sudah jadi Nyonya Chandra Aklarta Maurya,"ucap Chandra. "Oh,"balas gadis itu. "Es berapa truk kamu makan Dek. Atau kamu lagi sariawan?,"tanya Chandra. "So?,"ucapnya santai. "Dek kamu ngomong singkat sekali lagi, ku cium di depan semua mahasiswa mu,"ucap Chandra tak membuatnya gentar dengan ancaman belaka. "Dek kalo kamu sengaja dingin untuk membuat ku menyesal. Kamu sudah berhasil Dek. Malam itu setelah putus dengan Divyan, setiap ada kesempatan, selalu ke bandara Adisutjipto berharap kedatangan mu di tahun saat aku juga sudah siap meminangmu. Sampai akhirnya pindah tugas ke Skuadron 21 masih saja tetap menunggu kedatangan mu. Ujungnya tanpa terduga malam itu kita bertemu lagi. That's more than a chance,"ucap Chandra tersenyum lebar. "Jadi maksudnya aku pelampiasan?,"tanyanya tersenyum miring. Dyandra, gadis cerdas tanpa sejengkal niat dipaksa menikah dengan pria yang menghancurkan masa muda bewarnanya saat rinai hujan turun. Membekukan semua senyum dan tawa riang menjadi gunung es abadi.
View More"Bagaimana, Nay?" tanya ibu yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Aku menelan ludah dengan susah payah sambil memberikan sebuah benda kecil dengan dua garis merah terpampang jelas di sana. Aku baru saja melakukan cek urine dengan menggunakan tespek, dan hasilnya positif. Aku hamil lagi. "Ya ampun, Naya! Kenapa kamu ceroboh begini! Bisa-bisanya hamil lagi!"Ada yang berdenyut nyeri kala mendengar ucapan ibu. Namun sebisa mungkin tak kumasukan ke hati. Aku sudah tahu ini akan terjadi. Setelah melempar taspek, ibu berjalan keluar rumah. Aku tak tahu ke mana beliau pergi. "Ini, di minum!" "Apa ini Bu?""Obat pelancar haid. Kamu telat satu minggu kan?"DEGTubuhku luruh di lantai keramik. Dadaku terasa sesak mendengar ucapan wanita yang telah melahirkan suamiku tiga puluh tahun yang lalu. Mataku terasa panas hingga bulir bening nan hangat mengalir begitu saja. Ku cubit tangan kiri berulang kali, berharap apa yang baru saja ku dengar hanya keliru. "Tak usah khawatir,anak Bu Hani saja telat sepuluh hari langsung mens kok. Ibu yakin obat itu ampuh!"Ya Robb, ternyata aku tak salah dengar. Bahkan dengar jelas ibu memintaku meminum obat pelancar haid padahal aku tengah mengandung. "Ta-tapi Naya sudah positif Bu.""Halah baru telat satu minggu saja, belum tentu positif."Sesak. Hanya itu yang memenuhi dadaku. Untuk bernafas saja terasa begitu berat. Bagaimana bisa beliau berkata seperti itu, sedang tadi pagi beliau sendiri yang memintaku melakukan tespek. Dan beliau menyaksikan dua garis merah tergambar jelas di sana. Ya Allah... Bagaimana bisa beliau berkata demikian? Bukankah beliau juga seorang ibu?Bukankah janin yang aku kandung adalah cucu kandungnya? Berbagai petanyaan memenuhi pikiranku. Apa aku seorang menantu yang tak diharapkan? Hingga ibu begitu tega berkata demikan padaku. "Naya sudah hamil,bu. Meski baru telat satu minggu, tapi usia kandungan sudah lima minggu," ucapku lirih mencoba memberi penjelasan kepada beliau. Usia kehamilan di hitung dari hari pertama haid terakhir. Kira-kira usia kandunganku saat ini sekitar lima sampai enam minggu. Itu yang ku tahu cara menghitung usia kandungan. Bidan desa yang mengajariku saat aku hamil si kembar. "Belum ada nyawanya kan?" Enteng beliau bicara seakan janin dalam kandunganku tak berarti apapun untuknya. "Besok, ibu belikan nanas. Kamu makan yang banyak!" Lagi beliau bicara tanpa menghargai bagaimana perasaanku saat ini. Baru pertama aku mendengar ada nenek yang tega ingin menggugurkan cucu kandungnya. Entah alasan apa yang membuat ibu memiliki ide g*la seperti itu. "Naya tidak mau, Bu! Janin yang Naya kandung adalah titipan Allah. Naya tidak akan menggugurkannya!" ucapku parau sambil menitihkan air mata. Hanya air mata yang mewakili rasa sakit hati ini. Ingin ku maki tapi aku sadar diri. Di rumah ini aku hanya seorang pendatang yang harus menghormati tuan rumah. Meski kenyataannya statusku adalah seorang menantu. Namun tak pernah sedikitpun mengurangi penilaian ibu, jika aku hanya orang asing. yang masuk ke dalam keluarganya"Apa kamu tidak mikir! Salwa dan Salma masih berumur dua tahun dan kamu hamil lagi. Mau di kasih makan apa? Rendi hanya bekerja di pabrik, mana cukup gajinya untuk membiayai hidup kalian!"Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Mas Rendi memang hanya bekerja di pabrik. Gaji dua juta lima ratus ribu selalu habis padahal kami tindak mengontrak. Itu lantaran gaji itu untuk biaya makan ibu, mas Rendi, aku dan anak kembarku. Bukankah anak membawa rejeki masing-masing. Aku yakin Allah akan menambah rejeki untuk kami. Hanya kenapa ibu seolah takut jika anak yang aku kandung akan menambah beban hidup kami. Astagfirullah... "Ibu sudah katakan berulang kali untuk ikut program keluarga berencana (KB) tapi kamu kekeh tak mau. Sekarang lihat sendiri kan akibatnya! Anak kamu masih kecil Nay, butuh kasih sayang dan materi bukan butuh seorang adik!" Ibu masih menyudutkanku. Apa Ibu lupa, aku sudah mencoba KB berbagai jenis. Entah itu pil dan suntik. Bahkan yang terakhir aku memasang iud tapi iud begeser dan terpaksa harus melepasnya. "Naya sudah coba KB, bu. Tapi tidak ada yang cocok.""Alasan saja kamu!"Aku diam tak menjawab. Percuma membela diri, kalau pada kenyataannya aku selalu di salahkan. Apa karena aku anak seorang butuh tani hingga ibu Atau karena aku hanya diam diri di rumah tak bekerja hingga hinaan selalu ibu lontarkan kepadaku? "Ibu antar ke dukun sekarang juga!" Ibu masih kekeh ingin menggugurkan janin yang aku kandung. Salah apa janin yang tak berdosa ini? Aku memang belum siap memiliki anak lagi. Namun Allah telah memberikannya. Tak, aku tak mungkin membuang janin yang bedosa ini. Dia adalah amanah yang Allah berikan untukku. Aku akan menjaga dan melindunginya hingga akhir hayat. "Naya tidak mau, Bu!" Ibu segera mencengkeram tangan kiriku. Menarik paksa tubuh ini. Ibu menang sudah berusia lima puluh empat tahun tapi tenaganya masih begitu kuat. Tolong Ya Robb, aku tak ingin melakukan dosa besar itu. "Naya tidak mau!" Ku singkirkan tangan ibu yang mencengkeram. Namun aku tak bisa. Tubuh ini terlalu lemah karena sudah dua hari selalu muntah. "Naya! Turuti kata orang tua! Mau jadi anak durhaka kamu!" teriaknya lantang. Menangis, hanya itu yang bisa ku lakukan saat ini. Aku tak kuat melawan ibu. Kekuatan beliau seperti berlipat ganda. Entah setan apa yang merasukinya? "Bu... Mmm...," tangisan Salma begitu nyaring terdengar. Ibu diam sesaat memastikan suara Salma atau Salwa yang menangis. Tak membuang kesempatan ku tepis tangan ibu. Aku segera berlari menuju kamar. Tak ku perdulian ibu yang menatap nyalang ke arahku. Di dalam kamar Salma menangis karena saat membuka mata aku tak ada di sampingnya. Segera ku kunci pintu agar ibu tak bisa memaksaku pergi ke dukun. Ku gendong Salma menepuk perlahan pundaknya.Menenangkan putriku meski aku sendiri masih meneteskan air mata. Sesak masih memenuhi dada. Perkataan ibu masih begitu jelas terngiang di telinga. Bagaimana bisa beliau berkata demikian sedang beliau sendiri memiliki empat orang anak yang jaraknya dekat. Astagfirullah... Jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan komen.Suasana ramai yang tengah begitu semarak tidak mengindahkan ku dari tatapan tajam pada Daffa. Pria itu hanya menatapku dengan tatapan tenang. Seolah memang dirinya tidak ada sangkut pautnya dengan para taruna itu."Siapa kamu,"Mataku menelisik berusaha mencari kebenaran dari setiap gerak-geriknya. Aku pernah membaca sedikit artikel tentang gerakan seseorang. Lagipula aku memang tidak terbiasa mudah percaya dengan setiap pria sepertinya."Apa Mbak? Saya dosen yang Anda kenal,"ucap Daffa masih membela diri. "Aku mungkin tidak pernah menjalani pendidikan di bawah naungan Swa Bhuwana Paksha. Tapi jangan lupakan satu hal, Pak Daffa. Aku mengenal Chandra dari semenjak SMA sampai lulus pendidikan. Taruna tidak banyak mengenal tentara yang sudah aktif dan dilantik.Bahkan hanya beberapa saja yang dihormati dan kamu? Katakan siapa kamu sebenarnya atau aku cari tau sendiri?"tanyaku menodongkan pulpen membuat dagunya terangkat. Meskipun pahit rasanya kembali menyebut pria brengsek itu. Saat i
Detik jam yang berbunyi begitu lirih di keheningan malam masih saja membuatku terjaga. Di depan ku gadis kecil yang tengah asyik terlelap begitu tenang tak bisa membuatku begitu heboh. Ingatanku masih berkeliaran pada pria itu.Bukan Chandra tentunya tapi Daffa. Mengapa akhir-akhir ini tanpa sengaja malah banyak kalimat seolah begitu sengaja merujuk pada kode yang bisa ku pahami secara jelas maksudnya. Apa dia tidak malu jika mengatakan itu secara serius? Masalahnya aku itu janda dan sudah punya anak dari pria lain. Bagaimana dia bisa berpikir demikian?Seperti beberapa menit lalu saat dirinya mengantar makanan. Aku tidak bermasalah tentang makanannya hanya dengan kedekatan kami terutama masalah ku dan Chandra baru juga usai itu terlalu memancing bahan pembicaraan orang lain. Mungkin dia tidak salah mendekati jika ingin membantu ku mengasuh Alandra. Hanya saja ini Indonesia yang kental dengan budaya dan tata krama."Bu Dya
Tangisan Alandra memecah keheningan malam. Semenjak tadi sore sepertinya dirinya terlalu sensitif. Hanya menangis dan enggan menyusu. "Boleh saya yang gendong Mbak,"tanya Daffa sedari tadi melihat Alandra yang terus menangis di gendongan ku."Eh udah nanti cantiknya hilang loh. Cantiknya Om udah ya,"ucap Daffa mulai kehilangan akal. Namun justru kalimat itu yang seolah magnet membuat Alandra tenang hingga perlahan mereda. "Alandra capek ya?,"tanya Daffa hanya ku gelengkan sejenak.Dia masih lajang tapi ilmu parenting nya sudah mumpuni. "Mbak sudah makan?,"tanya Daffa ku gelengkan pelan. "Alandra dari tadi nangis gimana mau makan?,"tanyaku. "Nah itu. Menyusui harus rajin makan Mbak,"ucap Daffa membuka rantang berisi makanan dari Mayang."Mas sudah makan?,"tanyaku di angguki mantap membuatku kembali melanjutkan makan malam ku. "Mbak saya masih belum bisa memenuhi kualifikasi jadi suaminya kah?,"tanya Daffa mencairkan suasana
Daffa POV"Bercanda mu Mas,"ucap perempuan di depan ku yang kembali tersenyum lebar. Entahlah kejujuran ku mungkin belum tampak nyata di matanya. Mayor Chandra, apapun alasan mu membawa pulang wanita lain. Tetap saja kau lupa ada berlian yang kau sia-sia kan.Melihatnya harus berjuang untuk orang yang paling dia benci sampai bertaruh nyawa itu sudah sangat hebat. Aku yang terlambat menemukannya. Seharusnya aku menemukan saat dirinya masih kabur di Bandara Adisutjipto. Namun sayang sekalipun aku menemukannya yang selalu tertulis dalam benaknya hanya Chandra.Tidurnya tampak begitu tentram sama saat dirinya jatuh koma. Ku naikkan selimut yang membalut tubuhnya, sembari membenarkan letak selang infus sebelum bermasalah. "Aneh kamu Mas. Dia sekarang masih istri orang tapi jauh lebih memilih dia,"ucapan itu membuatku menghentikan kegiatan ku.Ku tatap wanita dengan perut sedikit membuncit yang tengah mena
"Dek punya sopan santun sama dosen?,"Riuh dari belakang tak ku hiraukan sembari terus melangkah ke depan. "Maaf Kak tapi saya memang telah mengenal Bu Dyan sebelumnya,"ucap Firly terus mengikuti ku berjalan. "Demi bayi Ibu. Kalo memang bukan Dyandra jangan berhenti,"ucap Firly membuatku be
Asap mengepul dari teh melati yang ku seduh menemani jam istirahat tercium begitu hangat. Hari ini hanya ada jam lagi di jam 3 sedangkan sekarang masih jam setengah satu. "Mau salad buah Mbak?,"tanya Daffa memberi ku sekotak salad buah."Terimakasih tapi saya sudah makan Mas,"u
Alunan bising kendaraan bersama beberapa riuh lalu lalang di sepanjang jalan Malioboro mengusir sepi dalam benak ku. Air mata ku sudah lupa caranya harus menitik lagi. Apa aku terlalu lemah dengan memilih pergi seperti ini?Hidung yang mulai terasa memanas membuatku sege
Rumah yang biasanya hanya di isi gombalan dari satu jenis suara seolah tengah bermonolog kini telah berganti menjadi sepasang manusia yang tengah sibuk berdiskusi. "Dek menurut ku konsepnya kurang sesuai. Soalnya kan dalam satu mahasiswa bisa liat soal temannya,"ucap Chandra memberi sar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore