Se connecter"Selamat datang di rumah!" Elisa dan Leo akhirnya tiba kembali ke apartemen mereka, apartemen yang sudah mereka tinggalkan sejak kejadian itu. Sebenarnya Elisa punya banyak agenda setelah keluar dari rumah sakit. Semua menyangkut keluarga Wijaya, termasuk mengurus jasad Darmawan yang akhirnya dikremasi tanpa kehadiran Elisa. Kondisi Elisa tidak memungkinkan waktu itu. Karena itu, Elisa menunjuk Handi dan Albert untuk mengatur semuanya. "Ya ampun, mendadak meriah sekali di rumah," seru Elisa. Terlihat Handi, Daisy, Rara, dan Albert sudah ada di dalam apartemen. Banyak balon, confeti, dan aneka makanan sudah tersaji di atas meja, makanan yang membuat perut Elisa berbunyi. "Sungguh, aku tidak sedang ulang tahun," imbuh Elisa lagi. "Anda memang tidak sedang berulang tahun, Bu Elisa. Tapi semua orang bahagia sekali melihat Anda dan Pak Leo akhirnya pulang dari rumah sakit," seru Daisy antusias. "Terima kasih, Daisy. Terima kasih, Pak Handi. Terima kasih, Pak Albert." "Syukur Anda
Elisa terus melirik Leo saat mereka melangkah bersama keluar dari kamar Rahmat. Elisa bangga, sangat bangga pada Leo yang berhati sangat besar. Leo yang merasakan tatapan itu langsung balas melirik. "Apa aku begitu tampan sampai kau terus menatapku?" Elisa tersenyum. "Hatimu membuatmu terlihat makin tampan." Leo menaikkan alisnya. "Memangnya kau pernah melihat hatiku?" "Itu terpancar dari wajahmu, Leo." Elisa melangkah sambil menatap Leo manja. Leo pun balas menatap dan mereka saling melempar senyum penuh cinta sampai Gary tidak tahan lagi. Gary dan Bik Imah melangkah di belakang mereka sambil membawa barang. "Uhuk! Uhuk! Ada suster tidur di depan, tolong perhatikan jalannya!" Elisa dan Leo tersentak kaget dan langsung menatap ke arah depan. Elisa pun mengulum senyumnya malu sendiri. Tapi Leo tidak tahu malu. "Ah, aku takut tersandung suster tidur, Sayang. Sepertinya punggungku masih sakit, aku harus dipapah," seru Leo dengan sengaja. Elisa makin tergelak dan langsung memeluk
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Leo!" Dua hari kembali berlalu dan Leo akhirnya diijinkan pulang ke rumah. Leo bernapas lega karena ia sudah tidak sabar lagi tidur di rumahnya sendiri. Sebelum pulang, ia pun menjenguk Nila yang masih harus mendapat perawatan intensif karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Rahmat dan Nila yang melihat Leo pun tidak berhenti berterima kasih karena Leo tidak hanya memberikan kamar terbaik, tapi juga perawatan terbaik yang tidak akan sanggup Rahmat bayar. "Bekerja seumur hidup saja tidak akan bisa membayar hutangku pada Anda, Pak Leo," seru Rahmat lagi. "Istriku sangat berharga. Katakan apa saja yang bisa kulakukan untuk melunasi semuanya, aku pasti akan melakukannya." Leo menepuk bahu Rahmat. "Tidak perlu memikirkannya, Pak Rahmat. Yang paling penting tugasmu adalah merawat dan menemani istrimu, memberinya rasa aman dan tenang yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Buat dia bahagia. Melihat kalian bahagia, itu sudah cukup untukku.
Malam itu menjadi momen yang sangat manis untuk Elisa dan Leo. Elisa memang sudah diijinkan pulang, tapi Elisa menolak pulang dan ingin menemani Leo di rumah sakit. Leo sendiri mengambil kamar VIP sehingga ada ranjang khusus untuk orang yang menginap. Selain itu, Gary juga menginap sehingga Elisa tidak perlu kesulitan bangun hanya untuk melayani Leo. "Pulanglah, Elisa! Kau harus istirahat yang benar karena kau sedang hamil," seru Leo saat Elisa sudah sibuk merapikan ranjangnya. "Aku tidak mau, aku mau tidur di sini. Di rumah sendirian akan membuat aku kepikiran." "Kau tidak sendiri, Elisa. Bibik dan Rara menemanimu di apartemen," sahut Bik Imah. "Aku tahu, Bik. Tapi biarkan aku menemani Leo di sini." Awalnya Leo menolak, tapi Elisa memaksa hingga akhirnya Leo mengijinkan Elisa menginap. "Ah, baiklah, jadi karena ranjangnya hanya ada satu, Bu Elisa tidur di ranjang saja dan aku akan tidur di sofa," seru Gary yang memang selalu menginap sejak Leo opname. Leo mengangguk. "Sebenar
Beberapa hari berlalu dan kondisi Elisa sudah benar-benar pulih. Ia sempat mengalami syok berat dan terlalu banyak terkena asap, tapi ia pulih dengan cepat dan ia sudah diijinkan keluar dari rumah sakit. Sedangkan Leo sendiri merasakan yang sama, Leo sudah tidak bisa diam di rumah sakit dan terus minta keluar dari sana. "Aku sudah sehat, Dokter, aku sudah bisa bergerak bebas, sisa sakitnya hanya sedikit." "Kami mengerti, Pak. Tapi tetap saja Anda belum boleh keluar dari rumah sakit karena kami masih harus memantau kondisi Anda." Leo pulih dengan cepat, lebih cepat dibanding orang lain. Mungkin imun tubuh Leo lebih bagus, mungkin juga keahlian bertahan hidup sejak kecil membuatnya lebih cepat pulih. Luka bakar Leo sudah tidak terlalu mengganggunya, tapi meninggalkan sedikit bekas."Sudah kubilang aku baik-baik saja, Dokter." "Tolong hormati prosedur rumah sakit, Pak, kami tidak bisa mengijinkan Anda keluar sekarang, tapi beberapa hari lagi kalau semua sudah stabil, kita akan bicar
"Turut berduka cita untuk kakekmu, Elisa." Setelah hubungannya dengan Leo membaik dan setelah tahu bayi di kandungannya baik-baik saja. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama setelah mendengar Darmawan tewas dalam kebakaran itu. Air matanya menetes lagi, sedih karena harus kehilangan satu anggota keluarga lagi. "Terima kasih, Pak Handi." "Aku juga turut berduka, Bu Elisa," sahut Daisy. "Bibik juga, Elisa."Elisa sudah bisa duduk di ranjangnya dan Bik Imah langsung memeluknya. Elisa balas memeluk sambil mengangguk, tapi air matanya tidak berhenti mengalir.Sejahat apa pun Darmawan, nyatanya pria itu masih kakeknya. Pria yang selama ini ada dalam kenangan hidupnya. Walaupun ia sudah tidak tinggal dengan kakeknya lagi, tapi ditinggal meninggal rasanya berbeda, sangat berbeda. "Terima kasih! Terima kasih! Aku ...." Elisa menatap satu persatu orang di sana. Untuk sesaat, terlihat ragu, tapi akhirnya ia bicara. "Maafkan aku yang terlalu egois meminta ini, tapi tolong maafkan Grand
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







