LOGIN"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Leo!" Dua hari kembali berlalu dan Leo akhirnya diijinkan pulang ke rumah. Leo bernapas lega karena ia sudah tidak sabar lagi tidur di rumahnya sendiri. Sebelum pulang, ia pun menjenguk Nila yang masih harus mendapat perawatan intensif karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Rahmat dan Nila yang melihat Leo pun tidak berhenti berterima kasih karena Leo tidak hanya memberikan kamar terbaik, tapi juga perawatan terbaik yang tidak akan sanggup Rahmat bayar. "Bekerja seumur hidup saja tidak akan bisa membayar hutangku pada Anda, Pak Leo," seru Rahmat lagi. "Istriku sangat berharga. Katakan apa saja yang bisa kulakukan untuk melunasi semuanya, aku pasti akan melakukannya." Leo menepuk bahu Rahmat. "Tidak perlu memikirkannya, Pak Rahmat. Yang paling penting tugasmu adalah merawat dan menemani istrimu, memberinya rasa aman dan tenang yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Buat dia bahagia. Melihat kalian bahagia, itu sudah cukup untukku.
Malam itu menjadi momen yang sangat manis untuk Elisa dan Leo. Elisa memang sudah diijinkan pulang, tapi Elisa menolak pulang dan ingin menemani Leo di rumah sakit. Leo sendiri mengambil kamar VIP sehingga ada ranjang khusus untuk orang yang menginap. Selain itu, Gary juga menginap sehingga Elisa tidak perlu kesulitan bangun hanya untuk melayani Leo. "Pulanglah, Elisa! Kau harus istirahat yang benar karena kau sedang hamil," seru Leo saat Elisa sudah sibuk merapikan ranjangnya. "Aku tidak mau, aku mau tidur di sini. Di rumah sendirian akan membuat aku kepikiran." "Kau tidak sendiri, Elisa. Bibik dan Rara menemanimu di apartemen," sahut Bik Imah. "Aku tahu, Bik. Tapi biarkan aku menemani Leo di sini." Awalnya Leo menolak, tapi Elisa memaksa hingga akhirnya Leo mengijinkan Elisa menginap. "Ah, baiklah, jadi karena ranjangnya hanya ada satu, Bu Elisa tidur di ranjang saja dan aku akan tidur di sofa," seru Gary yang memang selalu menginap sejak Leo opname. Leo mengangguk. "Sebenar
Beberapa hari berlalu dan kondisi Elisa sudah benar-benar pulih. Ia sempat mengalami syok berat dan terlalu banyak terkena asap, tapi ia pulih dengan cepat dan ia sudah diijinkan keluar dari rumah sakit. Sedangkan Leo sendiri merasakan yang sama, Leo sudah tidak bisa diam di rumah sakit dan terus minta keluar dari sana. "Aku sudah sehat, Dokter, aku sudah bisa bergerak bebas, sisa sakitnya hanya sedikit." "Kami mengerti, Pak. Tapi Anda belum boleh keluar dari rumah sakit karena kami masih harus memantau kondisi Anda." Leo pulih dengan cepat, lebih cepat dibanding orang lain. Mungkin imun tubuh Leo lebih bagus, mungkin juga keahlian bertahan hidup membuatnya lebih cepat pulih. Luka bakar Leo sudah tidak terlalu mengganggunya, tapi meninggalkan sedikit bekas."Sudah kubilang aku baik-baik saja, Dokter." "Tolong hormati prosedur rumah sakit, Pak, kami tidak bisa mengijinkan Anda keluar sekarang, tapi beberapa hari lagi kalau semua sudah stabil, kita akan bicarakan lagi." Leo menge
"Turut berduka cita untuk kakekmu, Elisa." Setelah hubungannya dengan Leo membaik dan setelah tahu bayi di kandungannya baik-baik saja. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama setelah mendengar Darmawan tewas dalam kebakaran itu. Air matanya menetes lagi, sedih karena harus kehilangan satu anggota keluarga lagi. "Terima kasih, Pak Handi." "Aku juga turut berduka, Bu Elisa," sahut Daisy. "Bibik juga, Elisa."Elisa sudah bisa duduk di ranjangnya dan Bik Imah langsung memeluknya. Elisa balas memeluk sambil mengangguk, tapi air matanya tidak berhenti mengalir.Sejahat apa pun Darmawan, nyatanya pria itu masih kakeknya. Pria yang selama ini ada dalam kenangan hidupnya. Walaupun ia sudah tidak tinggal dengan kakeknya lagi, tapi ditinggal meninggal rasanya berbeda, sangat berbeda. "Terima kasih! Terima kasih! Aku ...." Elisa menatap satu persatu orang di sana. Untuk sesaat, terlihat ragu, tapi akhirnya ia bicara. "Maafkan aku yang terlalu egois meminta ini, tapi tolong maafkan Grand
"Bangunlah, Sayang. Bangunlah, demi aku dan anak kita." Suara itu memanggil Elisa jauh di alam bawah sadarnya. Elisa seolah masih terperangkap di sana, di gudang yang terbakar. Gudang yang sama, kejadian yang sama. Ia sudah mengalaminya dua kali. Bukan Dejavu lagi, tapi ini sungguh-sungguh terjadi. Ketakutan itu sangat nyata, gemetarnya sangat nyata, bahkan rasa panas apinya sangat nyata. "Tolong, Ayah! Panas!" Dalam mimpinya, seolah Elisa masih kecil dan kembali ke 18 tahun yang lalu. Ia pikir ia akan mati di sana, tapi sepasang tangan mendadak terulur padanya. Lily menggendongnya dan menyelamatkannya. Lalu Elisa terlempar ke masa kini di mana ia juga terperangkap di sana. Elisa pikir lagi-lagi ia akan mati dalam kebakaran itu, tapi tiba-tiba Leo datang. Tangannya terulur padanya, Leo menggendongnya, menembus api demi dirinya. Lalu Elisa mendengar panggilan itu. Leo menyuruhnya bangun. Seperti orang yang baru saja tenggelam ke dasar laut, lalu tiba-tiba ia terlempar kembali k
"Bos, kau sudah sadar?" Leo akhirnya membuka matanya setelah mimpi indahnya. Ia mengernyit sejenak, berusaha memahami di mana dirinya berada sekarang. Ia ada di ruangan putih dengan bau obat yang menyengat. Rumah sakit. "Gary ...." Leo baru akan bangun, tapi Gary mencegahnya. "Sabar dulu, Bos! Kau baru saja sadar." "Syukurlah akhirnya kau sadar, Leo. Bibik cemas sekali." Bik Imah juga tersenyum menatap Leo. Leo meringis karena rasa panas menjalar dari tengkuk ke punggungnya. Leo terkena pisau dan pukulan di beberapa titik tubuhnya, tapi semua itu tidak sebanding dengan luka bakar yang menyengat. Ia sampai tidak bisa tidur telentang dan harus menyamping. Leo pun menatap semua orang yang ada di sana. Gary, Bik Imah, Handi, Daisy, bahkan Albert. Dan saat ia tidak menemukan wanita yang ia cari, kedua matanya pun membelalak. "Mana Elisa? Bagaimana Elisa?" Leo ingin bangkit lagi, tapi lagi-lagi Gary mencegahnya. "Sabar dulu, Bos! Bu Elisa ada, tenang saja!" "Bagaimana dia, Gary? B
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya







