LOGINPagi pertama di rumah baru mereka terasa jauh lebih hangat daripada yang Elisa bayangkan.Biasanya, pindah ke rumah baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Mencari letak barang, membiasakan diri dengan ruangan yang berbeda, bahkan terkadang membutuhkan waktu untuk benar-benar merasa bahwa tempat itu adalah rumah sendiri.Namun tidak bagi Elisa. Begitu membuka pintu kamar pagi itu, ia langsung mendengar suara-suara yang sudah begitu akrab."Bu Nila, kopinya tolong letakkan di meja makan saja." "Sudah, Bik. Sarapannya juga sebentar lagi siap.""Gary! Jangan makan dulu sebelum yang lain!""Bik Imah, aku hanya mencicipi sedikit." "Kalau mencicipi lima kali namanya sarapan!" Elisa spontan tertawa. Ia menatap suasana rumah yang sejak pagi sudah begitu hidup. Beberapa pelayan terlihat mondar mandir membawa makanan. Yang lain sedang membuka tirai dan merapikan ruang keluarga.Dari arah dapur tercium aroma masakan. Di halaman terdengar suara orang yang sedang merawat taman.Bahkan suara
Elisa dan keluarga Wijaya kehilangan segalanya, termasuk rumah besar yang ditempati Darmawan, termasuk juga rumah yang ditempati Eddy dan Elisa setelah menikah. Semuanya disita, rekening mereka diblokir, dan mereka tidak punya apa-apa. Bahkan hanya untuk memberi pesangon yang layak pada para pelayan yang sudah bekerja di sana pun Elisa tidak mampu. Elisa sendiri menghadapi banyak masalah hingga tidak bisa berpamitan dengan benar pada para pelayan yang sudah sangat berjasa baginya. Terakhir yang Elisa dengar, para pelayan itu dirumahkan tiba-tiba, mendadak menjadi pengangguran, tanpa pernah dibayarkan gajinya. Elisa sempat merasa sangat bersalah pada semua orang yang sudah terdampak dan ia berdoa agar suatu hari nanti, para pelayan itu diberikan rejeki yang lebih berlipat untuk menggantikan rejeki yang hilang. Dan Tuhan menjawab doanya saat ia melihat para pelayan lamanya berdiri berjajar di depan pintu rumah barunya saat ini. "Ini ... kalian ...." Para pelayan itu pun tersenyum
Tiga bulan pertama kehidupan Alden berlalu tanpa terasa.Setelah pesta satu bulanan yang sederhana itu, hari-hari Elisa dan Leo kembali dipenuhi rutinitas sebagai orang tua baru.Bulan kedua terasa sedikit lebih mudah. Alden mulai lebih sering terjaga di siang hari dan tidur lelap di malam hari. Bayi mungil itu mulai mengenali suara kedua orang tuanya, dan semakin sering memberikan senyum kecil yang selalu berhasil membuat Leo dan Elisa berebut perhatian."Dia tersenyum kepadaku.""Tidak, dia tersenyum kepadaku.""Jelas-jelas dia melihat Papanya." "Leo, aku yang sedang menggendongnya."Begitulah mereka hampir setiap hari. Saat bulan ketiga datang, Alden semakin gemuk, pipinya semakin berisi, dan tangannya mulai gemar meraih apa saja yang berada di dekatnya. Gary pun selalu menjadi korbannya.Seperti malam itu saat Gary sedang menggendong Alden. Bayi mungil itu tertawa sambil menepuk-nepuk wajah Gary, sebelum tangan itu mendadak mencengkeram hidungnya."Auw, Alden, itu sakit!" protes
Satu bulan pertama setelah kelahiran Alden ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang pernah dibayangkan Elisa.Leo sudah menduganya. Karena itu, sejak awal ia berniat menyewa dua pengasuh sekaligus, pengasuh bayi dan pengasuh ibunya. Bukannya Leo tidak mau mengurus anak istrinya, tapi Leo merasa seorang pengasuh pasti akan lebih paham dan melayani dengan lebih baik. Namun, Elisa menolaknya. Ia bilang punya impian untuk mengurus anaknya sendiri. Dengan bantuan Nila dan Bik Imah, pasti Elisa bisa. Tentu saja awalnya Elisa merasa sangat percaya diri, tapi ternyata ia kelelahan. Untung saja, bantuan banyak orang membuatnya tetap waras. Tidak hanya Bik Imah dan Nila, tapi Leo sendiri sangat siaga. Bahkan bisa dibilang, Leo terlalu siaga. Ranjang bayi memang diletakkan di kamar mereka. Dan satu tangisan kecil saja sudah cukup untuk membuat Leo terjaga sepanjang malam. Leo akan selalu menggendong bayinya dan menenangkannya. Terkadang saat waktunya ganti popok, Leo akan menggantikanny
Ditinggalkan orang tua sejak kecil benar-benar menjadikan Leo sangat menghargai siapa yang bersamanya. Ia tidak sendirian lagi sekarang. Tidak hanya punya Gary sebagai asisten, tapi ia juga punya Bik Imah dan Rara sebagai keluarga. Lalu ia punya istri dan ia punya anak, hal paling ajaib yang datang di hidupnya. Anaknya, darah dagingnya, miliknya. Bahkan saking takjubnya, Leo tidak bisa berhenti menatap bayi laki-laki mereka yang diberi nama Antonius Alden Hartono itu. Alden, begitu bayinya dipanggil. Alden sendiri sudah dipindahkan ke kamar Elisa agar lebih mudah disusui. Sejak itu pun, Leo seperti patung yang terus duduk di samping ranjang bayi Alden. Tentu saja saat istrinya butuh sesuatu, Leo juga sigap, tapi setelah selesai mengurus Elisa, Leo akan kembali duduk seperti patung. "Haha, kau sudah menatapnya selama satu jam nonstop, Leo!" omel Elisa yang sedang menikmati makan malamnya hari itu. "Hmm, kau makan saja, Sayang, aku sedang menjaga agar tidak ada nyamuk yang mendek
Leo langsung bergerak cepat mengetahui Elisa sudah mengeluarkan darah. Dalam sekejap, mereka pun sudah ada di mobil Leo dalam perjalanan ke rumah sakit. Tas persalinan yang selama berminggu-minggu hanya menjadi pajangan di dekat pintu akhirnya benar-benar digunakan.Leo terus melirik Elisa sepanjang perjalanan, memastikan istrinya itu baik-baik saja. Hingga tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit di mana kamarnya memang sudah disewa untuk melahirkan. Namun, mereka harus mendapati bahwa bukaan Elisa masih sangat awal. "Masih bukaan satu, prosesnya masih sangat panjang untuk melahirkan. Disarankan Bu Elisa banyak berjalan dulu agar bukaannya makin cepat." "Ah, begitu ya, baiklah, kami akan masuk ke kamar malam ini." Mereka pun masuk ke kamar rawat inap di sana dan Elisa mulai berjalan mondar-mandir. Tidak lama kemudian, Bik Imah dan Gary menyusul tiba di rumah sakit. "Bagaimana kata dokter? Kapan bayinya akan lahir?" "Sepertinya prosesnya masih lama, Bik. Masih bukaan sa
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







